
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.
Alex pun memejamkan matanya kembali berpura-pura tidur.
Risa keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe. Ia melihat Alex yang terlihat masih tertidur pulas. Risa masih sangat penasaran dengan sosok Alex yang sudah membuat hatinya merasa hangat dan merasa sangat dicintai karena perlakuan Alex yang sangat berbeda dengan perlakuan Bagas padanya. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati Alex.
Ia menatap lekat wajah Alex,tangannya pun mulai menyusuri wajah Alex mulai dari kening,pipi dan berakhir di bibir Alex yang memberikan ciuman-ciuman hangat padanya tadi malam.
Tanpa Risa duga,Alex menangkap tangan Risa yang cukup lama singgah di bibirnya. Alex membuka matanya dan itu sukses membuat Risa terkejut dan panik. Ia jadi salah tingkah.
"Loe mau goda gue lagi?" Tanya Alex.
"Cih...ke geeran loe!!" Bantah Risa,karena memang Risa melakukan itu pada Alex bukan untuk menggoda Alex.
"Terus kalau bukan ngegoda,ngapain tangan loe nyentuh-nyentuh bibir gue?!"
Merasa kalah berdebat dengan Alex karena Risa pun tidak tau untuk apa ia melakukan itu pada Alex. Risa pun memutar langkahnya menjauhi Alex,dan memungut pakaiannya yang teronggok di lantai.
Melihat Risa yang sedang memunguti pakaiannya,Alex pun beranjak dari tempat tidur,memungut boxernya dan memakainya. Ia pun mengambil celananya dan mengeluarkan hp dari kantong celananya.
"Kasih gue nomor rekening loe.!" Kata Alex sambil membuka aplikasi m-banking hp nya.
"Buat apa?" Tanya Risa yang tidak tau maksud Alex.
__ADS_1
"Yah buat transfer uang la."
"Ia gue tau,tapi buat apa loe transfer uang ke gue?" Sepertinya Risa tidak paham,kalau wanita ons pun mendapat bayaran dari si pria teman ranjang satu malamnya. Risa pikir kalau ons itu hanya karena sama-sama dalam keadaan tidak sadar,tidak perlu tanggung jawab seperti memberi bayaran apalagi sampai menikah.
"Yah buat bayar jasa servisan loe lah!!!" Jawab Alex enteng.
Tanpa Alex sadari,bahwa kata-katanya sangat melukai hati Risa. Karena dengan begitu,Alex telah mencap dirinya sebagai wanita murahan. Risa membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Alex dan berjalan ke arah kamar mandi. Air mata yang sudah menggenang di sudut matanya,sudah tak dapat lagi terbendung mendengar penghinaan dari Alex. Walaupun Risa sadar,wajar kalau Alex menganggapnya wanita jalang karena memang dirinya sudah tidak suci lagi. Tapi bukan karena seorang wanita tidak suci lagi,lantas para lelaki seenak jidat mereka mencap wanita-wanita yang mengalami nasib sama dengan Risa dianggap sebagai wanita murahan atau jalang.
Risa menyalakan full kran air agar suara air yang deras mampu menyamarkan tangisan Risa di dalam kamar mandi.
"Apa aku sekarang sehina itu?" Tanya Risa pada dirinya sendiri didepan cermin.
"Wajar kalau laki-laki itu berpikiran aku adalah wanita jalang,karena memang sekarang aku tak jauh beda dengan jalang. Tidur dengan laki-laki yang sama sekali aku tidak kenal." Risa mulai dalam kondisi tidak percaya diri lagi.
Risa menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
Setelah merasa dirinya kuat,ia mencuci mukanya agar Alex tidak tau kalau dirinya habis menangis. Risa pun memakai pakaian yang sudah ia pungut tadi. Setelah itu ia keluar dari dalam kamar mandi.
Langkah Risa terhenti di depan pintu kamar mandi saat mendengar Alex sedang berbicara dengan seseorang di hp,Risa pun mengintip Alex yang sedang bertelepon. Entah siapa yang menelpon,Risa tak tahu. Namun dari raut wajah Alex,sepertinya Alex sangat tertekan saat berbicara dengan itu.
"Iya pah..Alex tau. Tenang aja,Alex akan yakinin para investor itu sekali lagi. Tolong papa kasih waktu Alex seminggu."
Hanya itu yang dapat Risa dengar,setelah itu Alex mengakhiri panggilannya dan melempar hp nya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
"Ooo jadi yang nelpon papanya." Akhirnya Risa tau dengan siapa Alex itu bertelepon. Risa pikir,Alex sedang menerima panggilan dari istri atau pacarnya.
"Di lihat dari wajahnya sih,pasti papa nya habis marah-marahin dia." Tebak Risa.
Risa pun melanjutkan langkahnya menuju ruang tidur tempat Alex berada. Dengan gaya yang di buat-buat seperti seorang jalang,Risa berjalan melewati Alex dan duduk di kursi di depan meja rias untuk memoles sedikit wajahnya.
Risa melihat pantulan diri Alex yang ada di belakangnya dari cermin.
"Loe kenapa? Muka loe asem banget?" Tanya Risa sambil memoleskan bedak di wajahnya.
"Mau tau aja loe!!" Jawab Alex sinis.
"Mau tau la. Abisnya muka asem loe nyakitin mata gue.! Udah cerita aja sama gue kalau loe ada masalah. Manatau gue bisa bantu." Tanya Risa sekali lagi. Tanpa Risa sadari,dirinya mulai menaruh perhatian pada Alex.
"Loe gak usah kepoin hidup gue. Kita cuma ons,jadi loe gak perlu tau kehidupan pribadi gue. Sekarang loe kasih tau ke gue nomor rekening loe, biar gue transfer sekarang uang jasa loe. Gue gak bawa duit cash soalnya." Alex menolak untuk menceritakan masalahnya pada Risa.
Risa memutar tubuhnya dan menghadap Alex yang kini tengah duduk di atas ranjang di belakangnya.
"Gue gak butuh duit loe!!! Kalau emang loe mau bayar jasa gue,loe cukup ceritain masalah loe ke gue. Dan kalau gue bisa bantu,pasti gue akan bantu. Tapi kalau gue gak bisa bantu,yah...sori aja." Risa mencoba meyakinkan Alex agar mau menceritakan masalahnya pada Risa.
Risa tidak tau mengapa dirinya sangat iba melihat wajah Alex yang sangat tertekan saat menerima panggilan telepon yang ia yakini kalau yang menelpon adalah ayah nya Alex.
Alex sejenak berpikir dan memandang wajah Risa lekat-lekat. Ia pun menghela nafasnya dan mulai bercerita tentang tekanan yang diberikan papanya selama ini. Semua yang Alex lakukan tak pernah ternilai di mata papanya. Kesalahan kecil saja yang di lakukan Alex,sang papa langsung mengatainya anak tak berguna,percuma dibesarkan dan di sekolahkan kalau tidak bisa membuat nama perusahaan semakin besar.
__ADS_1
Mendengar cerita Alex,hati Risa makin mengiba. Ia pun menawarkan bantuan pada Alex,agar ia diizinkan untuk melakukan pendekatan pada investor yang membatalkan kerjasama dengan perusahaan ayah Alex.
Bersambung...