
Mendengar cerita Alex,hati Risa makin mengiba. Ia pun menawarkan bantuan pada Alex,agar ia diizinkan untuk melakukan pendekatan pada investor yang membatalkan kerjasama dengan perusahaan ayah Alex.
Alex pun memikirkan tawaran Risa. Ia melihat tubuh Risa dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Apa dia mau melakukan pendekatan dengan cara menjual tubuhnya? Kalau iya,gue yakin para investor itu akan menyetujui untuk melakukan kerjasama lagi,secara body nih cewek ngegoda banget. Tambah lagi goyangannya,makin jinak lah tuh para tua bangka." Kata Alex dalam hati. Ia masih saja salah paham dengan kebaikan Risa padanya.
"Gimana loe mau gak?" Tanya Risa sekali lagi.
Alex pun mengangguk setuju. Tak ada salahnya memanfaatkan Risa untuk sementara waktu. Karena sekarang Alex sedang menunggu Nia,pewaris tunggal Dirgantara Group yang telah menjadi janda muda membuka hati untuk Alex. Karena sudah kurang lebih empat tahun lamanya Alex menunggu Nia.
Alex yang awalnya memang menyukai seorang Nia saat pertemuannya kembali di sebuah taman setelah beberapa tahun tidak bertemu. Karena Nia adalah adik kelas Alex semasa SMP,dan dulu Nia pernah sangat menyukai Alex. Namun sayang,wajah Nia yang dulu masih kusam dan gayanya yang sedikit tomboy,membuat seorang Alex hanya memberikan harapan palsu pada Nia. Namun setelah perjumpaannya lagi dengan Nia di taman,Alex jadi menyukai Nia karena Nia yang sudah glowing dan goodlooking.
Namun sayang,harapan Alex untuk mendekati Nia pupus setelah Alex tau kalau Nia sudah bersuami saat Alex dan teman-temannya mengadakan reunian kecil-kecilan di sebuah kafe yang ternyata itu adalah kafe suami Nia. Alex pun memilih mundur untuk tidak mendekati Nia lagi,namun saat mendengar Nia dan suaminya akan bercerai karena sang suami selingkuh,Alex memantapkan hatinya lagi untuk memiliki Nia. Tapi sayangnya,Nia hanya menganggap Alex hanya sebatas teman. Tapi Alex tak mau menyerah begitu saja,apalagi setelah tau identitas Nia yang sebenarnya. Karena selama Alex mengenal Nia sejak jaman SMP,Alex hanya tau Nia adalah anak konglomerat,tapi Alex tidak tau kalau peringkat konglomerat keluarga Nia adalah peringkat nomor tiga di negaranya dan masuk sepuluh besar di Asia. Setelah tau bahwa Nia adalah pewaris tunggal salah satu perusahaan raksasa di negaranya,obsesi Alex untuk mendapatkan Nia semakin besar. Karena dengan menjadi menantu di keluarga Dirgantara,otomatis perusahaan ayahnya dapat dengan mudah berkembang. Dan ia tidak perlu lagi capek-capek mencari dan berpresentase dengan para investor,karena sudah dapat di pastikan para investorlah yang akan mengejar-ngejar perusahaan ayahnya.
"Oke,kalau gitu loe kirim aja profil para klien yang akan gue ajak negosiasi."
"Mana nomor loe,biar gue kirim lewat chat."
Risa pun memberikan nomor hp nya pada Alex.
"Oh...iya nama loe siapa?" Tanya Alex yang baru ingat kalau ia tidak mengetahui nama perempuan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Clara." Risa menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alex.
"Alex." Alex pun membalas jabatan tangan Risa.
Risa sengaja memperkenalkan dirinya sebagai Clara,bukan Risa. Karena mulai pada saat ia mengetahui Bagas hanya mempermainkannya,di saat itu juga Risa yang polos,suci,baik hati, sudah mati. Berganti menjadi Clara,wanita yang terlihat jalang,licik dan angkuh. Ia sengaja mengubah nama panggilan,penampilan dan wataknya,agar tidak ada lagi laki-laki sejenis Bagas yang bisa memanfaatkannya sebagai pemuas nafsu.
"Oke. Mulai sekarang,loe partner gue. Deal?!" Tanya Alex.
Kata partner yang ada di pikiran Alex berbeda dengan kata partner yang ada di pikiran Risa.
Jika kata partner yang di maksud Alex adalah partner kerja dan partner ranjang,berbeda dengan Risa yang hanya mengartikan kata partner sebatas partner kerja dalam hal membantu Alex bernegosiasi dengan para investor.
Mereka pun berbincang beberapa saat sebelum keluar dari hotel. Niat Alex yang ingin mengantar Risa pulang ditolak Risa,karena Risa tidak ingin Alex tau dimana tempat tinggal Risa. Risa pun pulang ke rumahnya dengan menaikki taksi yang ada didepan hotel.
Alex sudah berada di kediaman orangtuanya. Papa Alex,Abram Johnson ternyata sudah menunggu sang anak di dalam ruang kerjanya.
"Den Alex,tuan Abram sudah menunggu di ruang kerjanya." Kata asisten pak Abram.
Alex menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sudah tau kenapa dirinya di panggil keruang kerja sang papa. Dengan langkah pasrah ia melangkah menuju ruang kerja sang papa.
Ceklek. Pintu ruang kerja sang papa terbuka.
__ADS_1
Papa Abram berjalan ke arah Alex yang masih berdiri di depan pintu.
Bugh..bugh..bugh.. Dengan penuh emosi papa Abram memberikan bogem mentah pada sang anak.
"Dasar anak gak berguna!!! Yakinin investor aja gak becus!!! Buat apa papa sekolahin kamu tinggi-tinggi kalau yakinin investor aja kamu gak bisa!!" Teriak papa Abram.
Alex mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah segar.
"Maaf pah.." hanya itu kata-kata yang bisa Alex ucapkan jika sang papa sedang mengamuk seperti saat ini. Karena jika Alex lebih banyak bicara,bisa-bisa sang papa makin mengamuk dan memukulinya.
"Maaf..maaf!! Papa bosan dengar kata-kata itu dari kamu,papa gak butuh kata-kata itu!! Sekarang kamu pikirin caranya agar ada investor yang mau menanamkan modalnya untuk proyek kita. PAHAM KAMU!!!" Bentak papa Abram pada anak laki-laki satu-satunya di keluarga Johnson.
Alex adalah anak terakhir dari empat bersaudara,ia memiliki tiga kakak perempuan. Papa Abram adalah orangtua yang manganut patrilineal,atau garis keturunan harus mengikuti laki-laki,begitu juga untuk urusan warisan dan tanggung jawab yang harus jatuh pada laki-laki.
Makanya papa Abram sangat keras mendidik Alex,karena hanya Alex anak laki-laki di keluarganya yang akan meneruskan semua usahanya dan meneruskan nama Johnson.
"Baik pah."
"Keluar kamu!!! Jangan pernah menampakkan wajah kamu kalau belum dapat investor!!"
Alex pun keluar dari dalam ruang kerja sang papa. Melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dari sisa percintaannya dengan Risa sebelum ia pergi ke kantor walaupun jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
__ADS_1
Bersambung...