Akhir Penderitaan Clarisa

Akhir Penderitaan Clarisa
Part 90


__ADS_3

Tak terasa enam bulan sudah berlalu.


Kondisi mama Bagas sudah lebih baik,walaupun masih harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Sedangkan Bagas sudah tidak sabar menanti kehadiran anak pertamanya dengan Sheilla.


Hubungan Bagas dan Sheilla masih belum membaik,walaupun mereka masih sah sebagai pasangan suami istri tapi mereka tidak tinggal seatap. Sheilla tinggal bersama orangtuanya sedangkan Bagas tinggal dengan sang mama di rumah yang baru Bagas beli dua bulan lalu. Jangan tanya kan bagaimana kondisi papa Bagas,yang jelas papa Bagas sudah jatuh miskin,bahkan semua harta yang tersisa sudah ia jual untuk biaya hidup. Papa Bagas sekarang hidup hanya bergantung pada penghasilan menjadi tukang ojek online.


Saat bertemu Risa untuk terakhir kalinya di kota M,awalnya Bagas berniat ingin rujuk dengan Sheilla. Tapi saat di perjalanan menuju rumah tuan Anderson,tiba-tiba otak Bagas teringat kembali saat Sheilla bercinta dengan selingkuhannya di depan matanya,di tambah perlakuan Sheilla yang tidak pantas padanya,dan itu membuat Bagas mengurungkan niatnya untuk rujuk dengan Sheilla. Bagas hanya memberi waktu sampai anak yang di kandung Sheilla lahir,setelah itu baru lah ia akan melanjutkan perceraiannya dengan Sheilla.


Bagas juga telah mengakui pada tuan Anderson kalau anak yang dikandung Sheilla adalah anaknya,dan sebagai bentuk pertanggung jawaban Bagas terhadap anak yang di kandung Sheilla,tiap bulan Bagas selalu mentransfer uang sebesar dua puluh juta rupiah untuk anak yang di kandung Sheilla,Bagas juga tidak pernah absen menemani Sheilla kontrol kandungan dan mengikuti kelas ibu hamil. Semua itu Bagas lakukan semata-mata hanya untuk anak yang di kandung Sheilla.


Seperti saat ini,setelah menemani Sheilla mengikuti kelas ibu hamil,Bagas dan Sheilla singgah ke toko perlengkapan bayi yang ada di salah satu mall di kota itu untuk membeli alat pompa asi dan kantong asi untuk persediaan asi. Setelah barang yang Sheilla cari sudah di dapat dan sudah di bayar,mereka pun keluar dari toko itu.


Walaupun mereka jalan bersebelahan,tapi tak ada gandengan tangan apalagi rangkul-rangkulan,bicara pun hanya sekedarnya saja. Mereka berjalan menuju parkiran.


Kini mereka sudah berada dalam mobil,namun baru saja Bagas menyalakan mesin mobilnya,tiba-tiba saja Bagas mendengar Sheilla yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Sheill,kamu kenapa?" Tanya Bagas pada Sheilla penasaran sambil menarik wajah Sheilla yang sedang menghadap jendela mobil.


Sheilla menggeleng.


"Jangan bohong Sheill,kelihatan banget kamu lagi kesakitan. Perut kamu sakit? Si dedek nendang?" Tanya Bagas khawatir sambil mengelus perut Sheilla.


"Gak pa-pa Gas. Mending sekarang kamu nyetir aja deh." Bohong Sheilla.

__ADS_1


Sebenarnya sejak pagi tadi Sheilla sudah merasakan sakit di perutnya,namun rasa sakit itu hilang timbul dalam kurun waktu yang lama. Jadi Sheilla pikir itu adalah kontraksi palsu. Tapi semenjak,di dalam toko perlengkapan bayi,rasa sakit itu semakin sering,tapi sekuat tenaga Sheilla menahannya agar Bagas tidak melihat dirinya yang sedang kesakitan.


"Beneran gak pa-pa?"


Sheilla mengangguk.


Bagas pun menyalakan kembali mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya keluar dari area mall.


"Sshh...aaauuuww..." ringis Sheilla lagi.


Bagas melirik ke arah Sheilla saat mendengar ringisan Sheilla.


"Kamu beneran gak pa-pa? Kamu sampe keringetan gitu loh?" Tanya Bagas semakin khawatir.


Karena tak ada jawaban dari Sheilla,Bagas pun menepikan mobilnya dan menarik wajah Sheilla yang menghadap jendela,sepertinya Sheilla sengaja menyembunyikan wajahnya agar Bagas tidak melihat wajah Sheilla yang sedang kesakitan.


"Astaga Sheill,muka kamu pucat banget!! Kita kerumah sakit yah.?!" Bagas mulai panik melihat wajah Sheilla yang pucat.


"Gak usah Gas,aku mau pulang aja!" Tolak Sheilla.


"Gak!! Pokoknya kita kerumah sakit!!" Paksa Bagas. Ia pun kembali melajukan mobilnya dan kini tujuannya adalah rumah sakit terdekat.


"Aaaarrrggghh...sakit Gas..!!" Kali ini bukan ringisan lagi,melainkan teriakan yang keluar dari mulut Sheilla saat merasakan kontraksi lagi.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?" Tanya Bagas curiga.


"Aku juga gak tau!! Dari tadi pagi aku udah kesakitan,tapi sakitnya masih jarang-jarang,gak kayak sekarang. Sekarang tuh rasanya sakit banget,dan udah mulai sering." Jawab Sheilla sambil mengatur pernafasannya.


"Fiks,kamu itu mau ngelahirin Sheill!! Sabar yah dek,jangan bikin mama kamu kesakitan,kita udah mau nyampe kok.!" Kata Bagas sambil mengelus perut Sheilla dan berbicara dengan calon anaknya.


Sheilla menatap lekat wajah Bagas saat ia mengelus perut buncitnya. Ada rasa haru,bahagia sekaligus menyesal. Menyesal karena pernah memperlakukan Bagas dengan tidak layak sebagai seorang suami.


"Gas...." panggil Sheilla dengan suara yang lemah.


Bagas melirik Sheilla sesaat.


"Kenapa? Sakit lagi?"


"Maaf." Lirih Sheilla pelan namun masih bisa di dengar Bagas.


Bagas menghela nafasnya saat mendengar kata maaf yang terucap dari bibir Sheilla. Tak ingin membuat Sheilla merasa terbebani dengan masalah mereka berdua,Bagas pun membelai rambut Sheilla.


"Jangan mikir yang lain-lain dulu. Sekarang kamu fokusin pikiran kamu untuk ngelahirin anak kita." Kata Bagas dengan tangan yang masih membelai rambut wanita yang masih berstatus istrinya.


Sheilla pun menganggukkan kepalanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2