
Di rumah sakit.
Risa terbangun tengah malam mungkin karena efek obat bius itu sudah hilang. Dua kali Risa harus di beri obat penenang,karena setiap bangun Risa kembali histeris. Namun untuk kali ini dia tidak histeris lagi. Ia hanya menangis tanpa suara saat ia teringat akan kata-kata sang dokter tadi pagi. Sudah Alex tidak mempercayai kalau anak yang ia kandung adalah anaknya,sekarang ia harus menerima kenyataan kalau anak yang sangat ia inginkan dan harapkan sebagai pemersatu dirinya dan Alex sudah tak ada lagi.
Ceklek. Perawat membuka pintu kamar Risa.
"Selamat malam bu Clara." Sapa sang perawat.
"Malam juga sus." Balas Risa lemah dengan suara serak.
Suster pun tersenyum saat melihat Risa sudah lebih tenang,ia pun mendekati Risa dan mulai memeriksa keadaan Risa.
"Sus..bisa gak di buka ikatan tangan dan kaki saya. Saya risih sus."
Suster itu sejenak berpikir.
"Tenang aja sus,saya gak akan ngamuk-ngamuk lagi. Saya udah bisa nerima kenyataannya kok sus." Lirih Risa pelan.
"Baik lah bu saya buka,tapi bu Clara janji yah jangan histeris kayak tadi lagi."
Risa pun menganggukkan kepalanya. Barulah suster itu membuka ikatan di tangan dan kaki Risa.
"Ibu yang sabar yah,saya doakan ibu dan suami bisa mendapatkan gantinya secepatnya." Doa tulus dari sang perawat yang tidak tahu tentang kondisi Risa yang sebenarnya.
Karena saat Risa masuk,Nia mengatakan pada dokter dan perawat yang menangani Risa,kalau suami Risa bekerja sebagai pelaut,jadi tidak bisa menemani Risa. Dan alasan Nia saat dokter menanyakan kenapa Risa bisa tertusuk,Nia mengatakan kalau Risa adalah sepupunya yang menjadi korban penjambretan dengan pelaku bersenjata tajam.
__ADS_1
Mendengar doa dari sang suster,hati Risa semakin perih seperti luka yang masih basah kemudian di siram air cuka,rasanya perih,sakit sekali. Tak terasa air mata mengalir dari sudut mata Risa. Perawat yang melihat itu pun menyodorkan tissue kepada Risa untuk menyeka air matanya.
"Sabar bu Clara,akan ada pelangi setelah hujan." Kata sang perawat mencoba menenangkan Risa.
"Makasih sus."
Setelah Risa lebih tenang,perawat itu pun keluar dari kamar Risa dan kembali ke pos jaga kamar VIP.
⭐⭐⭐⭐⭐
Pagi ini,kateter Risa sudah bisa di lepas,agar Risa bisa latihan berjalan. Dua orang perawat siap sedia membantu Risa untuk berjalan.
Tanpa Risa dan dua orang perawat itu sadari dokter yang menangani Risa terus memperhatikan Risa.
"Selamat pagi dok." Sapa salah seorang perawat yang baru keluar dari kamar pasien VIP lainnya,karena di lantai itu,hanya ada lima kamar pasien VIP.
Dokter Lucky yang terlalu serius memperhatikan Risa,kaget saat perawat itu menyapa dirinya.
"Eh..iya..selamat pagi juga sus." Balas dokter Lucky tergagap.
"Hayo..dokter ngelamunin siapa?! Ngelamunin bu Clara yah?!" Tanya perawat itu saat melihat dokter Lucky terus menatap Risa.
"Akh..bisa aja kamu. Saya bukan ngelamunin yang macam-macam kok,saya cuma kasihan saja melihat bu Clara,disaat dirinya baru saja kehilangan anaknya,tapi tidak ada seorang pun sanak saudara yang menjenguknya. Untung ada dua perawat itu yang mau membantu bu Clara latihan jalan,dan terus memberi semangat. Kalau tidak,mungkin saja bu Clara akan berakhir di rumah sakit jiwa sekarang."
Suster itu pun menganggukkan kepala menyetujui perkataan dokter Lucky.
__ADS_1
"Sebenarnya nih dok,dari gosip yang beredar di kalangan para perawat,keberadaan bu Clara di rumah sakit ini katanya di sembunyikan oleh keluarganya. Dokter tau gak,kalau bu Clara itu sepupunya bu Niana,pewaris tunggal Dirgantara Group. Gosip-gosipnya sih nih dok,kalau bu Clara itu hamil di luar nikah,dan katanya sih laki-laki yang menghamili bu Clara adalah laki-laki bersuami. Dan bu Clara di tusuk oleh orang suruhan istri dari laki-laki yang menghamilinya itu." Kata perawat itu sambil berbisik.
"Masa sih begitu.?!" Tanya dokter Lucky sambil mengkerutkan keningnya tidak yakin.
"Kayaknya gitu. Makanya sekarang gak ada keluarga bu Clara yang bisa di hubungi,karena sepertinya keluarga bu Clara sedang berusaha menutup aib keluarga mereka,kayaknya sih,istri si laki-laki itu mengancam keluarga bu Clara akan membeberkan kelakuan bu Clara ke media tentang statusnya sebagai pelakor." Bisik perawat itu lagi.
"Hush...semakin ngawur kamu!! Kalau memang istrinya itu mengancam,kan bisa aja keluarga bu Clara mengancam balik tentang penusukan yang terjadi sama bu Clara. Apalagi seperti yang kamu bilang kalau bu Clara adalah sepupu dari pewaris tunggal tahta Dirgantara Group. Orang kaya nomor tiga di negara ini. Apasih yang gak bisa di lakukan oleh orang kaya. Apalagi kalau urusan ancam mengancam,mereka itu ahlinya."
Perawat itu pun menggedikkan bahu.
"Entah lah dok,itu kan cuma gosip."
"Lain kali jangan menyebarkan informasi yang belum tau kepastiannya. Kalau sampai bu Clara dengar,bisa habis kalian di laporkan ke kantor polisi karena mencemarkan nama baik."
"Iya dok,maaf." Lirih perawat itu.
"Ya udah sana,kerja lagi. Bilang sama rekan-rekan kamu jangan gosipin pasien lagi.
"Baik dok." Perawat itu pun berlalu dari hadapan dokter Lucky.
Setelah perawat itu pergi,dokter Lucky kembali memperhatikan Risa. Dari sorot mata Risa,entah kenapa dokter Lucky merasa kalau Risa sedang mengalami masalah yang sangat berat. Terlepas dari perkataan si perawat tadi.
Dokter Lucky pun mendekat ke arah Risa yang sedang duduk di kursi depan kamarnya. Sepertinya ia lelah latihan jalan dengan dua perawat itu.
Bersambung...
__ADS_1