
Tak lama mobil yang Bagas kendarai sudah tiba di pelataran rumah sakit. Cepat-cepat Bagas turun dari dalam mobil dan memanggil tenaga kesehatan yang ada disana.
Dengan sigap para perawat pun berlarian sambil membawa brankar menuju mobil Bagas. Dengan bantuan para perawat,Bagas mengevakuasi Sheilla dari dalam mobil ke atas brankar yang perawat bawa.
Teriakan dan racauan tak hentinya keluar dari mulut Sheilla,saat perawat mendorong brankar menuju kamar bersalin.
"Gas...sakit Gas.." ringis Sheilla sambil mencengkram kuat lengan Bagas.
"Iya Sheill,tahan yah."
"Gak kuat Gas,rasanya sakit banget.!!"
"Harus kuat Sheill,bayangin aja muka si dedek biar kamu kuat.!"
Kini mereka sampai di depan kamar bersalin.
"Bapak tunggu disini dulu yah,kita periksa dulu istrinya." Salah satu perawat menahan Bagas agar tidak ikut masuk ke dalam.
"Tapi saya mau nemenin istri saya melahirkan sus." Jawab Bagas dengan nada sedikit meninggi karena ia ingin sekali menemani Sheilla melahirkan.
"Iya pak,nanti bapak kami panggil. Sekarang biar istri bapak kami periksa." Kata perawat itu lagi sambil berlalu dari hadapan Bagas.
Bagas mengusap wajahnya kasar,ia mondar-mandir di depan pintu kamar bersalin. Tiba-tiba saja ia teringat kalau ia belum memberitahu mamanya dan tuan Anderson kalau Sheilla mau melahirkan.
Bagas pun merogoh sakunya untuk mengambil hp nya dan melakukan panggilan ke nomor tuan Anderson,setelah menghubungi tuan Anderson,baru lah Bagas mengabari sang mama.
Setelah selesai menghubungi sang mama,tak lama perawat pun keluar dan mempersilahkan Bagas untuk masuk kedalam dan menemani Sheilla yang sebentar lagi menjadi pejuang mengejan,karena sekarang jalan lahir sudah di pembukaan sembilan.
__ADS_1
Melihat Sheilla yang begitu kesakitan,Bagas pun berinisiatif memeluk Sheilla dan mengelus punggungnya.
"Yang kuat Sheill,kamu pasti bisa." Bisik Bagas memberikan semangat untuk Sheilla.
"Sakit banget Gas,aku gak kuat." Ringis Sheilla.
"Harus kuat Sheill demi anak kita. Bayangin aja muka anak kita nanti,senyumnya,tangisnya. Emangnya kamu gak mau gendong dia?"
Bukannya menjawab,Sheilla malah menangis. Menangis karena membayangkan wajah anaknya,dan menangis menahan rasa sakit yang menjadi-jadi.
"Gas..." teriak Sheilla sambil mencengkram lengan Bagas.
"Auw.." rintih Bagas,karena kuku Sheilla menancap di kulit lengan Bagas.
"Aku mau buang air besar Gas...!!"
Salah satu suster pun masuk dan memeriksa jalan lahir Sheilla. Ternyata sudah pembukaan lengkap. Suster itu pun memanggil dokter yang bertugas menangani Sheilla.
Tak lama dokter pun masuk ke dalam kamar bersalin.
"Tahan yah bu,kalau saya belum suruh ngejan,jangan ngejan dulu." Perintah bu dokter pada Sheilla.
Dokter itu pun mengelus-elus perut Sheilla untuk merangsang kontraksi.
"Ayo buk,ngejan buk.." perintah dokter saat merasakan perut Sheilla mengeras tanda kalau kontraksi kembali datang.
Persalinan Sheilla tergolong cukup mudah,karena hanya dengan tiga kali mengejan,anak Sheilla dan Bagas langsung lahir.
__ADS_1
"Oeek...oeek..oeek.." suara tangis bayi yang begitu keras memenuhi kamar bersalin.
Begitu mendengar suara tangisan bayi,kaki Bagas melemas,mulutnya pun ternganga dan matanya tak berhenti menatap bayi mungil yang ada dalam gendongan dokter untuk di periksa.
"Selamat yah pak,bu. Anaknya perempuan,semua lengkap." Kata bu dokter setelah memeriksa anak Sheilla dan Bagas,dan langsung meletakkan bayi mungil nan cantik itu ke dada Sheilla untuk IMD.
Sheilla tak dapat berkata-kata melihat bayi cantik yang sedang mencari-cari sumber kehidupannya di atas dadanya. Sedangkan Bagas yang sedari tadi terpukau dengan keajaiban yang ada di depan matanya masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat mulai dari proses kelahiran putri cantiknya. Benih yang sengaja ia tanam di rahim Sheilla hanya untuk balas dendam,kini telah lahir kedunia.
Bagas mendekati Sheilla dan bayi mungil yang ada di dada Sheilla,bukannya mencium bayi mungil itu. Bagas malah memberikan ******* lembut di bibir Sheilla,sepertinya ia tidak sadar dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang.
"Makasih Sheill,makasih udah kasih aku bidadari cantik ini. Kamu wanita hebat Sheill. Makasih." Ucap Bagas sambil menangis terharu.
Jantung Sheilla berdegup kencang saat Bagas yang tiba-tiba ******* bibirnya,hatinya semakin bergetar saat mendengar ucapan terimakasih Bagas. Tapi ia tak mau berharap terlalu tinggi untuk hubungan rumah tangga mereka,ia ingat perjanjiannya dengan Bagas,kalau mereka akan bercerai disaat anak mereka sudah lahir.
"Apa kamu mau ngasih aku kesempatan untuk jadi istri yang baik Gas?" Tanya Sheilla dalam hatinya. Ia berharap Bagas mau memberikan kesempatan untuknya dan membangun rumah tangga dari nol lagi dan bisa membesarkan anak mereka bersama-sama. Tak terasa air mata pun mengalir membasahi pipi Sheilla.
🍀🍀🍀🍀🍀
Seminggu telah berlalu,Sheilla dan putrinya pun sudah pulang ke rumah tuan Anderson. Begitupun dengan Bagas,ia juga sengaja tinggal di rumah tuan Anderson yang masih sah berstatus papa mertuanya untuk membantu Sheilla mengasuh putri mereka. Walaupun Bagas dan Sheilla tinggal seatap,tapi Bagas dan Sheilla tidak tidur sekamar,Bagas tidur di kamar yang bersebelahan dengan Sheilla,dengan tujuan,kalau bayi kecil itu menangis tengah malam,Bagas bisa mendengar dan bisa cepat masuk ke kamar Sheilla dan mendiamkan bayi kecil itu.
"Sheill..." panggil Bagas saat Sheilla selesai menidurkan bayi mereka.
"Ya."
"Aku mau bicara."
Deg. Jantung Sheilla berdegup sangat kencang. Ia khawatir apa yang ingin Bagas bicarakan adalah hal yang paling ia takutkan sejak ia melahirkan putri mereka. PERCERAIAN.
__ADS_1
Bersambung...