
Di Sebuah Butik yang masih milik Dexter Group, Adry pun masuk ke butik itu. Semua orang tahu kalau Adry adalah anak dari bos mereka yaitu pak Arran Dexter.
Para pegawai itu pun menundukkan kepala mereka sebagai penghormatan untuk anak bos mereka.
“saya ingin kamu menunjukkan baju pengantin terbaik untuk calon istri saya”. Perintah Adry pada salah satu pegawai ayahnya.
“Baik pak, tapi calon istri bapak mana ya pak”. Tanya pegawai butik itu.
“oh iya saya lupa, ini...”. seru Ardy sambil menunjukkan foto Rita pada saat ia melamarnya yang ada di ponselnya.
“oke pak, silahkan di lihat pak”. Seru pegawai butik itu sambil menunjukkan gaun yang terbaik.
Adry terkagum pada satu busana pengantin yang memiliki unsur tradisional berpadu dengan modern. Adry pun memilih baju itu.
Adry hanya memilih satu baju pengantin saja tidak sama seperti waktu ia mengirim baju pada Rita pada saat Adry melamar Rita.
“kali ini aku yakin Rita pasti menyukai baju pengantin ini”. gumam Adry sambil tersenyum memegang baju pengantin itu.
Adry pun pulang ke rumahnya, ia menyuruh anak buahnya untuk mengirimkan baju pengantin itu ke rumah Rita.
Sementara itu, tiga sahabat itu pun membereskan semua peralatan bekal mereka dan bergegas untuk pulang. Rita dan Fitri sangat berterima kasih sekali pada Ana karna telah membawa mereka ke tempat itu.
Rita tlah sampai ke rumahnya dan ia pun masuk ke rumahnya. Tinggallah Ana dan Fitri dalam perjalanan pulang. Sesampainya di rumah Fitri, Ana dan fitri melihat banyak orang yang datang ke rumahnya.
“itu siapa fit”. Tanya ana pada Fitri.
“Gue juga ngga tau Na”. Seru fitri yang sebenarnya juga tidak tahu apa yang terjadi di rumahnya.
“gue ikut turun juga ya Fit”. Seru Ana yang jadi penasaran.
“eeh eeh eeh.... ngga usah Na, lo pulang aja udah sore soalnya. Kasian ntar tante eva nyariin lo”.
“tapi itu...”. ucap Ana.
“udah tenang aja ntar gue kabarin elo”. Seru Fitri membujuk Ana supaya ia pulang.
"ntar gue kabarin Lo". seru Fitri untuk meyakinkan Ana.
Ana pun pulang kerumahnya dengan perasaan yang tidak tenang. Ia pun mempercepat kecepatan mobilnya untuk cepat tiba di rumahnya. Sampai di rumah ia pun mandi dan beristirahat.
Ana mengambil Handphonenya yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya.
“Fit gimana, lo gapapa kan”. Tanya Ana di grup WA mereka.
__ADS_1
Sementara Fitri belum membalas WA dari Ana di grup.
“emang Fitri kenapa Na”. Tanya Rita penasaran.
“Rit... tadi pas gueke rumah Fitri...”. Ana pun menjelaskan semuanya pada Rita.
Tak beberapa lama kemudian Fitri membalas WA mereka.
“Sorry ya guys, gue baru buka HP”. Balas Fitri di WA.
“iya Fit gapapa, gimana, gimana Fit”. Tanya Ana yang tidak sabar menunggu penjelasan Fitri.
“Oke, gue bakalan ngejelasin semuanya ke kalian berdua. Kita video callan aja ya”. Balas Fitri.
Mereka bertiga pun video callan. Ana dan Rita kaget melihat ekspresi wajah Fitri yang tampak begitu sedih.
“Lo kenapa Fit”. Tanya Rita.
“Guys,,,, bentar lagi gue bakalan pindah ke luar negeri (india) asal tempat bokap gue di lahirkan. Seru Fitri sedih.
“Serius Lo Fit”. Tanya Ana dengan nada kaget.
Fitri mengganggukkan kepalanya yang berarti bahwa ucapannya itu adalah benar.
“Bokap gue sekarang lebih banyak bikin projek di india dari pada di jakarta. Jadi untuk saat ini kita harus pindah ke sana”. Seru Fitri yang tidak sadar air matanya tlah menetes.
“iihh kok gitu sih Fit”. Seru Ana.
“yaaa mau gimana lagi guys”. Seru Fitri.
“kuliah Lo gmna Fit”. Tanya Ana.
“terpaksa deh gue pindah. Gue udah bilang ke Bokap-nyokap gue nyelesaiin kuliah di sini dulu baru gue nyusul pindah ke sana. Tapi yaaa.... mau gimana lagi, ngga di izinin sama bokap-nyokap gue”. Seru Fitri sambil terisak-isak tangis.
“Lo berangkatnya kapan Rit”. Tanya Ana.
“seminggu lagi guys tanggal 28 tepat di hari Rita nikah”. Jawab Fitri yang masih saja menangis.
“trus Lo ngga mau datang ke nikahannya gue Fit”. Seru Rita yang mulai menangis.
“Gue ama Bokap-nyokap gue datang kok Rit. Nah, sehabis dari nikahannya Lo kita langsung terbang ke India Rit”. Seru Fitri.
“Maafin gue ya guys”. Tambah Fitri lagi dengan nada sedih.
__ADS_1
“Guys pokoknya kita besok harus ketemu, kita buat Quality time kita sebagus-bagusnya”. Seru Ana mencoba untuk tegar menghadapj perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi.
Mereka pun bersetuju dengan semangat. Mereka pun mengakhiri Video Callannya.
Handphone Rita berdering lagi saat ia hedak tidur.
Adry menelfon Rita.
“Sayang, kok nomor kamu dari tadi sibuk terus sih”. Tanya Adry.
“eeee.... iya tadi aku Video callan sama Ana dan Fitri”. Seru fitri.
“oow gitu. Gimana sayang bajunya, kamu udah coba belum ? kamu suka ngga ? Pas kan sama kamu ?”. tanya Adry dengan banyak pertanyaan yang membuat Rita pusing di buatnya.
“Iya aku sudah mencobanya”. Jawab Rita berbohong.
Jangankan mencoba, melihat dan membuka baju aja tidak di lakukan oleh Rita.
“Baguslah kalau begitu, aku jadi semakin tidak sabar lagi melihat kamu memakai baju itu sayang”. seru Adry senang mendengar jawaban dari Rita yang menyukai baju pengantin pilihannya.
“Ohh ya sayang besok kita jalan-jalan yuk”. Ajak Adry.
“Aku ngga bisa, besok aku ada janji sama Ana dan Fitri. Lagian kan kita mau nikah sebentar lagi, untuk sementara waktu kita ngga boleh ketemu dulu. Jelas Rita mencari-cari alasan.
“Oooh gitu ya udah deh, kamu tidur yang nyenyak ya sayang”. seru Adry dengan penuh perhatian.
“emmm”. Respon Rita yang biasa saja.
Adry pun mematikan telfonnya. Rita pun juga melanjutkan untuk tidur yang sempat terganggu karna Adry.
Seminggu pun telah berlalu
Besok adalah hari pernikahan Adry dan Rita. Malam ini Ana dan Fitri menginap dan tidur di rumah Rita untuk yang terakhir kalinya sebelum Rita menikah.
Ana merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Dia akan kehilangan kedua sahabatnya sekaligus. Rita akan menikah dan sementara Fitri, ia akan pindah ke luar negeri (india) asal tempat ayahnya di lahirkan.
Mereka menggunakan waktu yang tersisa itu dengan menceritakan masa-masa yang tlah mereka lalui selama ini. Ekspresi wajah mereka pun kadang-kadang berubah-ubah.
Kadang mereka senyum-senyum malu, kadang tertawa terbahak-bahak, kadang masang muka ngambek, kadang masang muka kesal, dan yang terakhir ketika mereka mengingat-ingat mereka akan berpisah mereka menangis bersedih sambil berpelukan.
Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Hari sudah semakin larut mereka bertiga pun bergegas tidur dalam satu ranjang sambil berpelukan satu sama lain.
***Bersambung . . . . .
__ADS_1
B Y . B A E***