
Adry berada di depan pintu kamar itu hanya berdiri menatap Ana yang terbaring lemah yang di penuhi banyak luka. Adry sebenarnya merasa iba pada Ana atas apa yang dilakukannya pada Ana, akan tetapi, seketika rasa iba itu hilang saat ia mengingat kembali bahwa Ana bukanlah Rita.
Ana tlah merusak kebahagiaannya dan pernikahannya dengan Rita. Adry pun sama sekali tidak menyesali perbuatannya itu.
Tante Riska datang ke kamar Ana untuk melihat mereka.
“Kok cuma di lihatin aja, kamu masuk dong nak. Minta maaf yang tulus juga ke Ana atas apa yang tlah kamu lakukan padanya”. Ucap Tante Riska yang sudah ada tepat di belakang Adry.
“eeeh... Mama... bikin kaget aja”. Ucap Adry yang benar-benar kaget atas kehadiran ibunya yang sedang memergokinya hanya berdiri di depan pintu.
Dengan terpaksa, Adry pun menuruti permintaan ibunya. Adry pun duduk di samping Ana yang tertidur. Ana yang menyadari seperti ada orang di sekitarnya pun mencoba untuk membuka mata.
Ana terkejut melihat Adry sudah ada di sampingnya. Hal itu membuat Ana terduduk jauh menghindar ketakutan.
“hei Ana sayang kenapa? Ada tante di sini tenanglah!”. Seru Tante Riska sambil memeluk Ana berusaha untuk menenangkannya.
Awalnya Ana tidak melihat Tante Riska ada di kamar itu juga. Karna wajah yang pertama iya lihat hanyalah wajah Adry yang membuat ia sangat ketakutan. Tetapi setelah menyadari ada Tante Riska, Ana pun merasa sedikit agak tenang.
Adry tersenyum kejam kearah Ana, ia senang melihat tingkah laku Ana yang ketakutan padanya karna ulahnya. Tante Riska lalu memberi kode pada Adry untuk meminta maaf.
“Ana... aku benar-benar minta atas kejadian yang tidak mengenakkan semalam. Aku tidak sengaja melakukannya, aku berada di bawah pengaruh minuman”. Ucap Adry sambil meraih tangan Ana untuk memohon pada Ana.
Ana langsung menarik tangannya dari Adry dengan sangat gemetar dan ketakutan.
“iya... Aku maafkan”. Jawab Ana dengan suara yang gemetar.
Bik Asih datang ke kamar Ana untuk memanggil Ana.
“Non... ada seseorang yang hendak menemui non Ana”. Ucap Bik Asih.
“siapa bik”. Tanya Tante Riska penasaran.
“saya tidak tahu nyonya besar. Ibu-ibu itu seumuran dengan nyonya. Dia memaksa masuk untuk menemui non Ana ”. jelas Bik Asih.
“Itu pasti mama...”. ucap Ana.
Tante Riska dan Adry pun keluar untuk melihat siapa tamu yang datang. Ternyata memang benar yang dikatakan oleh Ana, itu adalah ibuya Ana.
__ADS_1
Tante Eva yang datang bersama ponakannya Sarah menyadari kehadiran Tante Riska dan Adry pun langsung menghampiri bersujud memegang kaki Adry dan Tante Riska.
Tante Riska sangat terkejut dengan perlakuan ibunya Ana yang bersujud pada mereka.
“Nak Adry....Tante minta maaf atas semua kesalahan yang tlah dilakukan Anak tante”. Seru tante Eva sambil menangis bersujud di kaki Adry.
“Tante... jangan lakukan ini padaku, ini semua bukanlah salah tante”. Ucap Adry sambil mengangkat tubuh tante Eva yang sedang bersujud.
Ana yang semakin yakin itu adalah ibunya, mencoba untuk melangkah keluar. Ana pun keluar dari kamar itu dan ia tlah menutupi luka-luka lebam di tubuhnya dengan menggunakan baju yang panjang supaya ibunya tidak melihatnya.
Di ruang tamu Ana melihat ibunya meminta maaf pada Adry sambil menangis tersedu-sedu.
“Mamaaa...”. lirih Ana dengan nada yang sangat lemah.
Tante Eva pun berhenti menangis dan berjalan mendekati Ana yang terlihat sangat pucat.
“Mamaaa...”. lirih Ana lagi yang tak sadar tlah meneteskan air matanya.
ppaaakkk....
“Jangan panggil aku dengan sebutan mama lagi”. Ucap tante Eva dengan amarah yang meletup.
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut tak percaya dengan apa yang dikatakan tante Eva.
“jeng Eva... tidak baik memperlakukan anak jeng kayak gitu. Ana itu adalah anak kandung ajeng”. Ucap Tante Riska mendekati dan menenangkan Tante Eva.
Sedangkan Ana hanya bisa menangis sambil memegang pipinya yang merah akibat tamparan keras dari ibunya. Baru kali ini dia mendapatkan hal kasar seperti itu dari ibunya.
Ana pun memaklumi ibuya karna ibunya pasti sangat kecewa dengan tindakannya itu.
“Maafkan Ana Maaa”. Ucap Ana sambil bersujud di kaki ibunya dan menciumnya.
Tante Eva menghindari Ana dengan tidak sengaja tante Eva menendang Ana dan membuat Ana terjatuh.
“ya ampun jeng, apa yang ajeng lakukan terhadap Ana ini sudah sungguh keterlaluan. Ana tidaklah bersalah”. Seru Tante Riska sambil menelong Ana untuk bangun.
“Dia bukanlah anak saya lagi jeng”. Seru tante Eva.
__ADS_1
Mendengar hal itu Ana menjadi bersedih dan menangis. Ibunya memang benar-benar ingin memutuskan hubungan dengannya. Adry yang hanya berdiri diam tak bertindak dan tak perduli melihat persiteruan itu.
Sekali lagi, Tante Eva kemudian meminta maaf lagi pada Tante Riska dan Adry.
“ingat Ana kamu bukanlah anakku lagi”. Seru tante Eva memperingatkan Ana dengan tatapan yang tajam.
Lalu Tante Eva pun keluar dari rumah itu. Sementara sarah masih ada di dalam, ia menghampiri Ana dan memeluknya.
“kakak... kakak yang sabar ya, tante pasti hanya emosi saja. Setelah emosi tante redah pasti tante tidak akan marah lagi sama kakak”. Seru Sarah bersedih.
“iya dek,, kamu jaga mama kakak dengan baik ya. Jangan biarkan ia terlarut memikirkan masalah ini, bisa-bisa nanti tante sakit”. Ucap Ana yang meminta tolong pada sarah untuk menjaga ibunya.
“sarah... Ayo kita pulang”. Teriak tante Eva dari luar rumah adry dengan sangat keras.
Sarah pun bergegas menghampiri tantenya untuk segera pulang.
Ibunya Ana dan Sarah pun pulang, Ana hanya bisa menatapnya dari jendela sambil meneteskan air matanya.
Tiba-tiba Ana terjatuh ke lantai. Tante Riska yang melihat Ana pingsan pun menghampiri Aba.
"Ana kamu kenapa sayang". ucap Tante Riska.
"Adry,,, kenapa kamu cuma berdiam berdiri di situ, ayo cepat angkat istrimu ke kamar". ucap ibunya yang marah dengan Adry yang hanya diam tak bereaksi melihat istrinya pingsan.
"Ayo cepat angkat Ana ke kamar mu...". ucap ibunya lagi pada Adry.
Adry pun terpaksa mengangkat tubuh Ana ke kamarnya. Adry yang di ikuti ibunya dari belakang kesal.
"hhmmm perempuan ini pasti ingin mendekatiku dan mencari keuntungan dari ku".
"Mana badannya berat lagi... badan aja yang kelihatan kurus". celoteh Adry dalam hati yang sangat kesal.
Betapa bod*hnya Adry yang hanya merutuk (protes) karna tubuh Ana yang berat. Adry sama sekali tidak melihat wajah Ana yang putih pucat sangat polos dan cantik itu.
***Bersambung . . . . .
B Y . B A E©***
__ADS_1