
Ana menyuruh Adry untuk keluar dan Adry pun langsung keluar menunggu Ana didepan pintu. Ana pun membasuh dan menyikat giginya dengan sangat hati-hati.
Ana merasa kebelet ingin buang air kecil. Ketika Ana hendak menaikkan celananya lagi dengan menggunakan tangan satu yaitu tangan kirinya.
Tak sengaja ia terpeleset dan tangan kirinya tertindih oleh tubuhnya sendiri. Ana berteriak histeris kesakitan dengan begitu sangat keras. Adry sangat terkejut mendengar teriakkan Ana, ia lalu langsung masuk menghampiri Ana.
Ana berteriak lagi ketika Adry masuk secara tiba-tiba dan begitu juga dengan Adry, ia juga ikut berteriak melihat pemandangan celana Ana yang masih dibawah.
“Mas.. kamu ngapain masuk kesini, tutup matamu Mas.” ucap Ana malu.
“ooh itu.. ee.. aku mendengar teriakanmu, itu sebabnya aku datang masuk kesini.” ucap Adry sedikit gugup sambil menutup matanya.
“Mas... aku terpeleset jatuh saat aku hendak menaikkan celanaku. Dan sepertinya tanganku terkilir Mas.” ucap Ana sambil menangis.
Adry lalu membantu Ana untuk berdiri dan mencoba untuk menaikkan celana Ana layaknya seperti bayi dengan matanya masih tertutup.
Adry membuka matanya dan melihat wajah Ana penuh dengan air mata dan matanya yang begitu cepat sekali sembabnya.
“hey... hey... kamu jangan menangis, aku akan memanggil seorang pijet urut untuk mengobati tanganmu.” Ucap Adry memegang pipi Ana untuk menghapus air matanya.
“ku mohon tenanglah dan jangan menangis lagi okay.” ucap Adry sekali lagi.
Ana hanya menganggukkan kepalanya dan Adry, ia kembali memapah tubuh Ana keatas tempat tidur.
“kamu sarapan yah, sehabis sarapan kamu minum obat dan aku akan menelpon tukang pijatnya.” ucap Adry mendekatkan meja makanan kecil pada Ana untuk menyantap sarapan yang ia masak.
Karena kedua tangan saat ini sakit, adry pun menyuapi Ana. Adry memberikan suapan sayur sop masakannya, terkadang ia memegang dagu Ana dengan sangat lembut.
“enak nggak.” tanya Adry.
Ana hanya menganggukkan kepalanya dan Adry pun sedikit tersenyum.
“terima kasih Mas.” ucap Ana.
“ya sudah kalau begitu kamu minum obatnya yah. aku sudah mendapatkan seorang pijat urut untuk mengobati tanganmu dan sebentar lagi dia akan datang” seru Adry.
Adry lalu pergi meninggalkan Ana untuk menunggu si tukang pijat di ruang tamu saja, namun ia kembali masuk lagi ke kamar berpikir lebih baik ia menjaga Ana dikamar.
__ADS_1
Adry duduk disebuah sofa yang ada dikamar itu dan lalu mengambil sebuah majalah. Ana sama sekali tidak mengetahui jika Adry masuk lagi kekamar. Ana pun memikirkan tentang Adry yang akhir-akhir ini sangat peduli padanya dan sangat perhatian dalam mengurus dirinya yang sedang sakit.
Tanpa sengaja ia tertawa ketika Ana mengingat kejadian sewaktu ia terjatuh dikamar mandi melihat ekspresi kekhawatiran dan keterkejutan Adry yang sangat lucu.
“Ana... kamu kenapa?” ucap Adry terkejut.
Ana juga terkejut dengan kehadiran Adry yang tidak ia ketahui ternyata ada dikamar itu juga. Adry menghampiri Ana menanyakan ada apa dengannya. Adry mengira suara tertawa Ana adalah suara kesakitan Ana.
Suara bel pintu apartemen mereka berbunyi, Adry menebak dan berkata pada Ana bahwa itu adalah tukang pijat yang ia hubungi. Adry pun pergi membuka pintu, betapa terkejutnya Adry melihat ibunya datang ke apartemennya secara tiba-tiba.
“mama... mama ngapain ke sini?” tanya Adry dengan nada yang sangat terkejut melihat kedatangan ibunya.
“dimana Ana?”. Tanya ibunya masuk kedalam apartemen Adry dengan wajah yang seperti menahan amarah.
“mah... mama kenapa mah, kenapa mama terlihat sangat marah sekali.” Ucap Adry.
“mama sudah tahu semuanya, dimana Ana?” tanya ibunya untuk kedua kalinya.
Adry menghalang-halangi ibunya untuk tidak masuk ke kamarnya. Ibunya menjadi sangat marah ketika Adry menghalanginya untuk masuk kekamar. Ana yang mendengar suara ribut-ribut merasa penasaran untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi diluar.
Ana mencoba menurunkan kakinya dan berjalan. Namun tetap saja, ia masih tidak kuat berjalan. Ana mencoba untuk kembali ke tempat tidur, namun apalah dayanya yang lemah dan tak bisa untuk berdiri.
“Ana sayang.” ucap ibu mertua Ana terkejut melihat Ana yang terjatuh dilantai.
“mama...”
“kamu kenapa sayang.” ucap ibu mertua Ana.
Tante Riska berteriak memanggil anaknya Adry, Lantas Adry pun datang menghampiri ibunya. Adry sangat terkejut melihat Ana yang terduduk dilantai. Adry pun mengangkat tubuh Ana keatas tempat tidur.
Ibunya selalu saja mengomel-omel marah pada Adry. Adry hanya terdiam mendengar semua ucapan ibunya yang memang itu semua adalah kesalahannya sendiri.
“Apa yang telah kamu lakukan pada Ana Nak.” Ucap Ibunya.
Ibunya menangis menarik-narik baju dan memukul-mukul tubuh Adry dengan pukulan kecil. Ibunya menangis melihat keadaan menantunya Ana yang begitu sangat menyedihkan karena Anaknya itu.
“Ma... Ana baik-baik saja, tolong jangan memukuli Mas Adry lagi. Ini semua bukan salah Mas Adry Mah.” Ucap Ana.
__ADS_1
“Ibu tahu betul bagaimana Adry sangat tidak menyukaimu, kamu ingat waktu ia menyiksamu dimalam hari pernikahan itu. Mama tahu juga bahwa Adry sering menyiksamu, mama tahu semuanya Ana. Tapi kenapa kamu masih saja membelanya. Kenapa ?” ucap ibunya menangis.
***
Adry pergi meninggalkan ibunya dan Ana berdua dikamar itu. Ana mencoba untuk menenangkan ibu mertuanya yang terlihat sangat sedih.
“Mah... mama jangan sedih lagi dong. Mas Adry kali ini berbeda Mah, memang iya benar bahwa sebelum-sebelumnya Mas Adry sering sekali menyiksa Ana.”
“akan tetapi ketahuilah Mah, Mas Adry akhir-akhir ini sangat perhatian padaku.” jelas Ana.
“benarkah begitu sayang.” tanya ibu mertuanya.
Ana menganggukkan kepalanya. Ibunya meminta maaf lagi pada ana dan lalu memeluknya.
“aaah...” ucap Ana kesakitan.
“kenapa sayang.” ucap ibu mertuanya.
“Mah tangan kiri Ana terkilir Mah.” ucap Ana.
“kok bisa sayang?”
“iya Mah, tadi pas Ana ke kamar mandi Ana terpeleset dan jatuh menimpah tangan kiri Ana Mah.” ucap Ana.
Ibunya merasa kasihan sekali melihat Ana yang menderita. Namun Ana merasa sangat bahagia karena akhir-akhir ini Adry sangat peduli padanya.
“ya sudah mama cari tukang pijet dulu ya.” ucap ibu mertuanya.
“Mah... sebenernya Mas Adry sudah menghubungi tukang urut Mah.” ucap Ana.
“benarkah.”
Ana mengangguk tersenyum lebar. Mendengar ucapan dan ekspresi Ana yang tidak menutup-nutupi sesuatu pun percaya pada Ana. Kali ini ibunya benar-benar percaya bahwa Adry memang sudah peduli. Ibunya sangat bahagia akan hal itu dan merasa sangat bersyukur.
Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang baik 😊😉.
Salam Hangat~
__ADS_1
BY.BAE©