Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 17. Hilang Kendali


__ADS_3

Adry kembali ke ruang tamu setelah berhasil mendorong Om Hendra keluar dari rumahnya. sedangkan Om Arran mengajak Om Hendra masuk lagi untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.


Om Arran meminta maaf pada Om Hendra atas sikap anaknya Adry padanya. Om hendra memaklumi tingkah laku Adry yang dalam keadaan mabuk dan kecewa atas perlakuan anaknya Rita terhadapnya. Om Hendra pun menolak ajakan Om Arran untuk masuk lagi.


“sebaiknya kami pulang saja, kondisi Adry juga dalam keadaan mabuk jadi itu tidak akan menyelesaikan masalah. lagi pula sudah larut malam besok kita akan bahas masalah ini lagi”. Ucap Om hendra pamit untuk pulang.


“Baiklah, tapi bagaimana dengan keadaan Rita ? dimana dia saat ini ?”. tanya Om Arran khawatir akan keselamatan ponakannya Rita.


“saya sudah berusaha mengerahkan anak buah saya untuk mencarinya”. Jawab Om Hendra lalu berpamit pulang untuk kedua kalinya.


Om Arran pun mempersilahkan Om Hendra dan Tante Oliv untuk pulang. Om Arran dan Tante Riska masuk ke dalam untuk menenangkan Anaknya.


Adry yang sedang berada di depan pintunya mengetuk dan berteriak meminta untuk di bukakan pintunya. Ana mengunci pintu kamar Adry dari dalam.


“Heeyy, buka pintunya. Ini adalah kamarku”. Teriak Adry.


“Tenangkan dirimu Nak... Sadarlah...”. ucap Tante Riska.


“Ma... perempuan itu mengunci pintunya dari dalam, bagaimana aku bisa masuk”. Ucap Adry.


Tante Riska pun memanggil Ana untuk membukakan pintunya. Mendengar suara Tante Riska, Ana pun berani membuka pintunya. Pintu terbuka dan Adry langsung masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


“Ana sayang, kamu gapapa sayang”. tanya tante Riska dengan penuh kasih sayang.


“iyaa tante,,, Ana baik-baik saja”. Jawab Ana.


“sepertinya Adry sudah tertidur pulas. biasanya jika Adry mabuk, dia akan bangun pada siang hari. Jadi kamu bisa tidur di sini saja”. Ucap Om Arran yang tahu kebiasaan anaknya jika ia dalam keadaan mabuk.


Ana hanya menggangguk menurut dan percaya semua perkataan Om Arran yang sekarang adalah ayah mertuanya. Om Arran dan Tante Riska keluar dari kamar pengantin itu untuk pergi beristirahat.

__ADS_1


Sementara Ana, sebenarnya ia masih takut karna sekamar dengan Adry yang masih marah. Ana mengingat kembali perkataan Om Arran, ia pun sedikit tenang. Ana mencoba untuk membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Baru saja mata Ana terpejam, tiba-tiba ia mendengar suara pintu yang di kunci. Ana pun membuka matanya dan duduk.


Betapa terkejutnya Ana melihat Adry mengunci pintu yang tadinya tidak di kunci olehnya. Ternyata sedari tadi Adry hanyalah pura-pura tertidur pulas.


Adry menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan api amarah yang membara. Adry pun melangkah mendekati meja dan mengambil sebuah remote. Adry ternyata menyalakan sebuah alat kedap suara di kamarnya.


Kemudian Adry berjalan ke arah Ana yang sedang duduk di atas ranjangnya. Ana sangat ketakutan, ia pun turun dari ranjang berlari keluar dari kamar Adry.


Adry berhasil menangkap Ana dan menghempaskan tubuh Ana ke atas kasur dengan sangat kasar. Ana pun merintih kesakitan.


Adry pun naik ke atas ranjang itu dan duduk menindih Ana. Ana mengira bahwa Adry akan melakukan sebuah ritual yang biasa dilakukan oleh pasangan yang baru menikah.


Ternyata Ana salah, Adry malah menyiksa Ana yang tidak bersalah.


Ana menangis berteriak-teriak minta tolong. Tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakannya itu. Bagaimana tidak, Adry telah menyalakan kedap suara yang Ada di kamarnya itu sehingga orang yang di luar tidak akan mendengar jeritannya yang sangat kuat.


Sementara Tante Riska....


Tante Riska merasa tidak tenang meninggalkan Ana di kamar Adry. walaupun mereka adalah pasangan yang sah, tante Riska takut jika Adry terbangun dan ia melakukan sesuatu pada Ana.


Tante Riska takut jika Adry terbangun, Dia melakukan tindakan yang aneh-aneh. Tante Ana pun beranjak dari tempat tidurnya.


“Mau kemana mah”. Tegur Om Arran bertanya yang melihat Tante Riska hendak keluar.


“Mau ngecek kamarnya Adry Pah,,, Mama khawatir sama Ana”. Jawab tante Riska.


Om Arran pun juga mengikuti Tante Riska untuk memastikan. Sampai di depan kamar Adry, Tante Riska menempelkan telinganya di depan pintu kamar Adry.

__ADS_1


Om Arran pun mengikuti cara Tante Riska. Mereka tidak mendengar suara apapun. Tante Riska pun hendak membuka pintu kamar Adry untuk lebih memastikannya lagi. Namun, tindakan Tante Riska di cegah oleh Om Arran.


“Sudahlah mah mereka berdua pasti sudah tertidur pulas, lagian Adry juga tidak akan bangun karna ia sudah mabuk berat”. Ucap Om Arran sambil mencegah tangan Tante Riska membuka pintu kamar Adry.


Tante Riska pun menuruti kata-kata Om Arran. Mereka pun kembali ke kamar mereka untuk kembali tidur dan beristirahat. Om


Arran dan Tante Riska sama sekali tidak mendengar teriakan kesakitan Ana dan juga teriakan minta tolong Ana yang sangat histeris.


Apalah daya Ana yang tidak bisa mengelak dan melawan semua perlakuan Adry terhadapnya. Ana sangat kelelahan karna selalu saja merontak dan berteriak sehingga ia kehabisan tenaga.


Begitu juga dengan Adry, ia jatuh karna sudah tidak bisa menahan pengaruh minuman. Adry terjatuh di atas tubuh Ana yang penuh dengan luka siksaannya.


Ana berusaha untuk menyingkirkan tubuh Adry yang berat dan kekar itu. Ana tidak mampu untuk mengangkat tubuh Adry dengan tenaga yang tlah terkuras habis.


Ana menangis dan mencoba lagi untuk mengangkat tubuh Adry. Akhirnya ia pun berhasil menyingkirkan tubuh Adry darinya.


Ana mencoba untuk berdiri dan keluar dari kamar Adry. Namun, apalah dayanya yang di penuhi dengan l*ka l*bam di sekujur tubuhnya. Ana sudah tidak sanggup lagi membawa tubuhnya yang penuh dengan luk*.


Ana terjatuh di lantai, dia sudah tidak kuat untuk berjalan keluar. Sungguh malang nasib Ana kali ini. Dia menjadi korban dalam sebuah pernikahan yang tidak ia inginkan. Ana hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang amat sangat sakit.


Ana mengingat akan perasaan ibunya yang kalau tahu dia sudah menikah tanpa sepengetahuan ibunya. Ana takut jika ibunya akan membencinya dan tidak mengganggap dirinya sebagai anaknya lagi.


Ana pun juga sangat takut jika ia akan mendapatkan perlakuan seperti ini setiap hari dari suaminya Adry. Ana hanya bisa terbaring lemah di lantai dan menangis sepanjang waktu berlalu.


Akhirnya Ana yang sudah sangat terlalu lelah karena menangis menghadapi kehidupan dunia ini, Ana pun tertidur dengan air mata yang masih mengalir membasah pipinya dan sesegukan tangisan yang parah.


***Bersambung . . . .


B Y . B A E©***

__ADS_1


__ADS_2