
Nb:
Malam harinya, Ana akhirnya pulang. Ana bertemu dengan ibu mertuanya. Mereka saling menyapa sebentar dan Ana langsung masuk ke kamarnya. Adry yang berada di kamar Ana, mendengar suara istrinya dan ibunya berbincang diluar kamar. Sebelum Ana masuk ke kamar, Adry bersembunyi di ruang kerja.
Ana sudah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya. Adry keluar dari ruang kerja itu. Adry berdiri didepan pintu sambil bersandar menyilangkan tangannya. Ana tak menyadari kehadiran suaminya yang berada di kamar itu.
Ana membuka lemari mengambil piyamanya mengganti bajunya. Ana hendak membuka bajunya tepat menghadap kearah suaminya. Ana membuka kancing bajunya satu persatu. Hingga akhirnya, setelah semua kancing dibukanya barulah ia tersadar akan kehadiran suaminya yang tepat berdiri dihadapannya.
Adry memandanginya, Ana langsung menutup tubuhnya kembali. Adry merekahkan senyumannya ketika melihat istrinya yang seperti itu. Adry melepaskan silangan tangannya dan berjalan mendekati istrinya.
“Mengapa kau tak memberitahukuku jika kau pergi keluar,” tanya Adry mendekat dan semakin mendekat.
“aaa.. aku... maafkan aku Mas, aku...” ucap Ana tak selesai terucap.
Adry membuat Ana melangkah semakin mundur. dan hingga akhirnya, Ana tak bisa lagi untuk melangkah mundur. Langkah Ana sudah mentok membuatnya bersandar di lemari.
Adry benar-benar sangat dekat dengan Ana. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Adry membuka dan melepaskan baju istrinya dengan sentuhan yang lembut. Ana tak menghalanginya. Adry pun mulai melumay bibir istrinya yang merah merona karena lipstik yang dipakainya. Tumben sekali hari ini istrinya memakai lipstik. Tidak seperti biasa, sebelumnya bibir istrinya yang terlihat merah natural tanpa lipstik.
Adry tak menanyakan ketumbenan istrinya akan hal itu. Adry hanya berfokus untuk menikmati bibir istrinya. Ana yang tak menolak, melingkarkan tangannya di bahu suaminya. Adry berpindah mencium leher istrinya dengan lembut. Hal itu membuat Ana mengeluarkan suara desahan kecil.
Kedua tangan Adry memegang pinggang istrinya. Hal itu merubah suara desahan istrinya dengan suara terkekeh geli. Adry lalu memeluk, menggendong, mengangkat tubuh istrinya dan lalu menjatuhkannya ke atas ranjang. Adry membuka bajunya dan lalu melompat, menerkam, dan menindih tubuh istrinya.
Ana tertawa geli mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Ana sangat menikmati setiap sentuhan dan ciuman lembut yang dilakukan oleh suaminya. Terhanyut dalam setiap sentuhan, Ana sampai melupakan janjinya pada Rita.
*****
Rita yang tak sengaja lewat melintasi kamar Ana, mendengar sayup-sayup suara desahan Adry dan Ana.
“suara apa itu? apa jangan-jangan... Mas Adry dan Ana sedang melakukan... aarrghh tidak, tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Ana tidak mungkin lupa akan janjinya padaku. Tapi suara apa itu... Aku harus memastikannya,” Ucap Rita.
Rita membuka pintu kamar Ana, ternyata pintu itu tak dikunci oleh Ana. Rita bersiap-siap untuk membuka pintu itu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sebelum membuka pintu itu, Rita mencari-cari alasan terlebih dahulu. Dan akhirnya Rita memutuskan untuk beralasan meminjam laptop Ana untuk membuka situs internet.
“Ana, bolehkah aku me...min..jam laptop mu,” ucap Rita tersendat semakin memelan.
Rita melihat Adry bertelanja*g dada dan Ana atasan bajunya sudah terlepas tinggal BH saja pada bagian atas yang tak terlepas. Rita dengan sangat jelas melihat Adry dan Rita yang begitu intim. Rita menyaksikan bagaimana mereka berdua saling membalas ciuman satu sama lain. Adry dan Ana sama sekali tak menyadari kehadiran Rita yang menyaksikan mereka berdua yang sedang beradegan ciuman.
Sebelum mereka berdua menyadari akan kehadirannya, Rita cepat-cepat keluar menutup pintu itu kembali dengan pelan. Rita menangis meneteskan air matanya setelah menutup pintu itu. Rita menangis terduduk di depan kamar Ana.
Disisi lain, hasrat Adry semakin memuncak. Sedangkan Ana lelah berciuman suaminya karena membuatnya terengah-engah kesulitan bernafas. Ana mendorong dada bidang suaminya.
“Mas, kau tak memberikanku ruang untuk bernafas,” ucap Ana terengah-engah. Adry pun merekahkan senyuman manisnya mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
“Mas sangat merindukanmu,” ucap Adry menatap istrinya. Tangan Adry hendak berdalih untuk membuka celana yang dipakai oleh istrinya.
“sayang Mas ingin melakukan....”
“Ana, bolehkah aku me...min..jam lap...top mu,” ucap Rita membuka pintu itu kembali dengan ucapan yang sama.
Rita berakting pura-pura kaget melihat mereka. Ana sangat terkejut juga melihat kearah Rita yang mendapati mereka sedang bermesraan. Cepat-cepat Ana mendorong tubuh suaminya yang berada diatasnya. Ana lalu menutupi tubuhnya yang tak mengenakan atasan.
“Rita...” ucap Ana.
Sedangkan Adry, dia sangat murka dengan kehadirannya yang sembrono masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“kau, mengapa kau sembarangan masuk tak mengetuk pintu terlebih dahulu,” bentak Adry sangat murka melihat Rita yang mengganggu kemesraannya dengan sang istri.
“Maaf... aku bersalah. Aku akan keluar kembali dan menutup pintunya,” ucap Rita sambil keluar dengan memperlihatkan perasaannya yang sedih dibentak oleh Adry.
Rita akhirnya keluar dari kamar itu. Rita berlari menuju ke kamarnya. Ana meminta suaminya untuk tidak membentak Rita. Ana mencoba untuk menenangkan suaminya. Adry pun menjadi lebih sedikit tenang karenanya. Ana lalu berdiri hendak mengambil bajunya.
“kamu mau kemana sayang,” tanya Adry memegang tangannya untuk menahan langkah istrinya.
“Mas, aku mau menyusul Rita untuk menjelaskan semuanya padanya. Jadi, tolong lepaskan tanganku Mas.”
“apa yang akan kamu jelaskan padanya. Tidak ada yang perlu dijelaskan sayang,” ucap Adry.
“untuk apa dia bersedih, tidak ada alasan yang membuatnya bersedih melihat kita tadi,” ucap Adry.
“dia pasti bersedih Mas, secara kamu sama sekali tidak pernah menyentuhnya,” ucap Ana keceplosan.
Adry yang terduduk di ranjang itu, turun berdiri mendekat pada istrinya. Adry lalu memegang bahu tangan istrinya itu.
“sayang... sadarlah. Jangan biarkan dia menghasut meracunimu untuk menuruti apa yang dia inginkan. Sudah cukup kamu menderita menanggung ke egoisannya. Jangan jadikan dirimu menjadi korbannya untuk yang kedua kalinya,” jelas Adry dengan lembut.
“Mas, Rita sama sekali tidak menghasutku. Apa maksud Mas dengan mengatakan aku akan menjadi korbannya untuk yang kedua kalinya?” tanya Ana sedikit marah.
“sayang bukalah mata dan pikiranmu. Dia datang secara tiba-tiba ke rumah ini pasti ada niat tertentu. Bisa jadi dia akan menyingkirkanmu dan mengambil posisimu dihati Mas,” ucap Adry.
“Mas... Rita tak seperti yang Mas katakan itu. Rita datang ke rumah ini hanya untuk meminta Mas menganggap dirinya sebagai istrinya, Dan memberikan dia nafkah lahir dan batin. nggak salahkan kalau dia berkata seperti itu, karena dia memang adalah istri sah Mas,” ucap Ana.
“dan Mas... nafkahilah batinnya agar dia mengandung anakmu,” pinta Ana yang membuat Adry shock mendengarnya.
“sayang... apa-apaan ini. Apa yang telah kamu ucapkan. Kamu sama sekali tak memikirkan perasaan Mas dengan mengatakan hal itu. Kamu memang benar-benar diracuni olehnya. Sayang... Mas mohon jangan dengarkan dan turuti apa yang dia minta padamu,” ucap Adry lalu menarik tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1
Ana memberontak meminta untuk dilepaskan. Ana lalu memakai bajunya untuk menyusul Rita. Adry menahannya kembali dengan memasang wajah yang mulai marah padanya.
“Mas... biarkan aku menemuinya,” ucap Ana.
“kamu tidak boleh bertemu dengannya. Jika kamu memaksakan diri untuk menemuinya juga, baiklah, Mas akan menafkahi batinnya. Tapi jangan harap Mas akan....” ucap Adry mengancam tak selesai terucap karena melihat istrinya memotong ucapannya.
“Mas mengancam ku untuk tidak pergi. Namun aku akan tetap pergi menemui, toh dengan begitu Mas juga akan melakukan apa yang kuminta” ucap Ana lalu pergi.
“sayang... jangan salahkan Mas jika Mas lebih menyayanginya dibandingkan kamu sayang,” teriak Adry.
Ana mendengarnya, namun memilih untuk menghiraukannya.
“sial... iblis itu memang benar-benar menghasut dan meracuni istriku. Istriku bahkan merelakan diriku untuknya. semenjak iblis itu tinggal di rumah ini, Ana terkadang berjaga jarak dengannya dan bahkan semakin menjauh darinya dengan sengaja,” ketus Adry.
“untuk kedua kalinya, baiklah sayang. Kali ini Mas benar-benar akan melakukan apa yang kau minta. Jangan salahkan Mas jika kamu menyesal dikemudian hari,” ucap Adry.
*****
Rita mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Ana yang mengetuk pintu itu dan memintanya untuk memperbolehkannya masuk. Rita pun memperbolehkannya masuk. Rita tak lagi menangis, namun karena Ada Ana, ia mencoba untuk membuatnya menangis lagi mencari perhatian Ana.
“Rita.. kamu masih menangis,” ucap Ana menghampiri Rita.
“maafkan aku, bukan maksudku melakukan hal itu tadi dengan Mas Adry.” ucap Ana lagi menenangkan Rita.
Namun Rita tetap saja menangis. Ana berkali-kali meminta maaf pada Rita, dan Ana juga berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Rita langsung terdiam dan mengusap air matanya.
“kau sudah berjanji padaku untuk membantuku, namun kau malah bermain bermain di belakangku,” ucap Rita.
“maafkan aku Rita aku benar-benar tidak sengaja,” ucap Ana.
“Ana aku juga ingin mendapatkan ciuman ganas dari Mas Adry padamu,” ucap Rita sambil merapikan lipstik di bibir Ana yang berantakan karena Adry.
Rita merapikannya dengan sengaja kasar demi melampiaskan rasa benci dan cemburunya pada Ana sahabatnya. Ana pun merintih sakit karena kekasaran sahabatnya itu. Rita lalu meminta maaf atas kecerobohanya. Rita mengatakan bahwa ia benar-benar tidak sengaja melakukannya, dan Ana pun memaafkannya.
Padahal Rita sengaja melakukannya karena sekarang ia sangat membenci Ana. Rita yang dulu bukanlah Rita yang sekarang. Sifatnya berubah karena tergila-gila akan cintanya pada Adry yang saat ini mulai bermekaran.
Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa komentar dikolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe
__ADS_1
Salam Hangat~`
BY.BAE©