Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 43 – Salah pegang


__ADS_3

Adry pun meraba-raba kancing BH istrinya dengan berawalan dari pundak istrinya. Ana merasa geli dan berusaha untuk menangkap tangan Adry untuk menunjukkan letak kancing BHnya.


“Sebelah sini Mas.”


“Ah iya maaf.”


Adry pun berhasil membuka kancing BH istrinya dan tiba tiba handuk Ana terjatuh. Ana sangat terkejut sekali dan menutupi benda kembarnya dengan menggunakan tangan kirinya. Ana mencoba untuk tenang dan membalikkan tubuhnya menghadap Adry.


“Mas... kamu jangan buka mata dulu yah,” ucap Ana.


“Kenapa?” tanya Adry.


“Pokoknya kamu jangan buka mata dulu,” ucap Ana.


“Oke... baiklah,” balas Adry.


Adry menuruti perintah istrinya. Ana mencoba untuk mengambil handuk lain yang bergantung disampingnya, ia menggunakan handuk yang lain karena handuk yang ia terjatuh sudah basah.


Ana merasa kesusahan mengambil handuk itu. Adry bertanya dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ana, namun Ana tak menjawabnya. Ana masih berusaha untuk mengambil handuk itu. sedangkan Adry tangannya mencari-cari Ana yang diam saja saat ia bertanya namun tak dijawab oleh Ana.


Tangan Adry tepat mendarat pada benda kembar Ana, ia bertanya-tanya dengan apa yang ia sedang pegang. Adry merasa sangat asing dengan benda lembut itu.


Hal itu membuat Ana terdiam shock namun dengan spontan Ana berteriak kencang-kencangnya, ia sangat terkejut tangan Adry sangat cepat meraba dan memegang miliknya. Ana hanya berteriak dan hal itu membuat Adry terkejut dan melepaskan apa yang sedang ia pegang.


Karena penasaran dengan apa yang terjadi pada Ana, ia langsung membuka penutup matanya. Adry juga ikut berteriak melihat benda kembar Ana terpampang jelas dihadapannya. Ana berhenti berteriak dan berusaha menutupi benda kembarnya dan berposisi memunggungi Adry.


“Mas, kenapa kamu membuka penutup matamu,” ucap Ana marah.


“Eee kamu berteriak tadi dan aku penasaran untuk melihat apa yang sedang terjadi.” jelas Adry.


“Aku berteriak karena Mas memegang...” ucap Ana sebatas itu karena ia malu untuk mengucapkannya.


“Kamu sih, aku tanyain diam saja. Aku pun mencari mu dan tak sengaja aku...” ucap Adry terpotong.


“Sudahlah Mas, jangan dibahas lagi.”


Adry pun tak membahasnya. Adry lalu mengambilkan handuk yang berusaha diambil oleh Ana. Adry lalu membalutkan handuk itu ke tubuh Ana. kemudian ia pergi meninggalkan Ana dari kamar mandi itu.

__ADS_1


Wajah Ana masih memerah dan ia masih mengingat-ingat kejadian itu dan betapa malunya ia ketika Adry melihatnya tanpa atasan. Walaupun Adry adalah suaminya yang sah secara agama dan hukum, namun tetap saja ia masih enggan dan sangat malu pada Adry.


Sementara Adry, pikirannya menjadi kacau dan rusak memikirkan kejadian itu. Adry tersenyum sumringah mengingat bagaimana ia memegang benda itu. Melihat dengan sangat jelas dan bahkan menyentuhnya dengan unsur ketidaksengajaannya.


“Kenapa dia harus marah padaku, seharusnya ia tidak bersikap seperti itu kepadaku. Aku kan suaminya yang sah, nggak masalahkan kalau misalnya mau aku pegang kek, gigit kek atau apalah, toh melakukan hal seperti itu nggak berdosa kok. Karena aku adalah sah sebagai suaminya,” gumam Adry dalam hatinya.


Pintu kamar mandi terbuka, Adry berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Ana memperlihatkan kepalanya saja untuk meminta bantuan lagi pada suaminya.


“Mas... aku ingin Mas memasangkan kembali....” ucap Ana terpotong.


“Nanti kamu memarahiku lagi.” ucap Adry berlagak ngambek.


“Ya sudahlah, aku akan berusaha memasangnya sendiri.” ucap Ana.


”Andai saja ada mama dan mertuaku atau asisten rumah tangga, aku tidak akan meminta bantuan mu Mas.” Gumam Ana lagi lalu masuk kembali ke kamar mandi.


“Dasar wanita ini tidak peka sekali, aku mengatakan hal itu kan supaya kamu meminta maaf kepadaku.” gumam Adry dalam hatinya.


Adry lalu melangkah masuk ke kamar mandi itu. Adry melihat Ana tengah kesusahan memakai BHnya. Ana terkejut melihat Adry masuk menyelonong begitu saja.


“Aku ini bukan orang asing, aku adalah suamimu. jadi, bersikap biasa saja. Sini biar aku pakaikan.” ucap Adry sambil memutarkan tubuh Ana membelakanginya.


Ana pasrah saja dengan apa yang sedang dilakukan oleh Adry dan wajahnya menjadi memerah akibatnya. Adry sangat takjub melihat kulit Ana yang begitu putih dan sangat mulus. Para setan-setan dihatinya meracuni pikirannya untuk memakan Ana.


Namun sebelum hal itu terjadi, ia tersadar mendengar suara Ana yang menegur memanggil-manggilnya.


“Ah sial kancingnya tersangkut.” Ucap Adry menutup-nutupi dirinya yang sedang melamun membayangkan Ana.


“Kok bisa sih Mas.” tanya Ana.


“Ya nggak tau.”


Ana lalu menyisihkan rambutnya kesamping kirinya supaya suaminya lebih mudah untuk memperbaiki kancing yang sangkut. Alhasil membuat Adry semakin meleleh melihat leher Ana dan lagi-lagi iya terbawa arus rayuan setan untuk memakan Ana.


Adry hendak mencium leher istrinya. Serempak dengan Ana bertanya pada Adry apakah sudah selesai atau belum. Adry menjawabnya dengan jawaban telah selesai, tanpa sadar Adry mengucapkan hal itu.


Ana pun cepat-cepat menaikkan handuknya dengan tangannya yang sampai ke lehernya. Lalu dengan cepat Ana memutarkan tubuhnya menghadap Adry.

__ADS_1


“Mas kamu kenapa?” tanya Ana.


Ana melihat ekspresi suaminya yang begitu aneh menunduk memonyongkan bibirnya. Adry pun tersadar mendengar suara Ana.


“Ah... kepalaku sakit sekali,” ucap Adry beralasan.


“Sakit kepala!!!” ulang Ana.


“Iya, kepalaku sakit sekali,” ucapnya sekali lagi.


Adry takut Ana tidak mempercayai alasannya, ia pun membuat dirinya oleng-oleng hendak terjatuh. Ana mendekati suaminya supaya ia tidak terjatuh. Namun Ana terlambat, Adry terjatuh terlebih dahulu. Tak sengaja Ana ikut tertarik juga. Handuknya lagi-lagi lepas dari tubuhnya. Ana terjatuh tepat di atas tubuh Adry yang menutup matanya pura-pura pingsan.


Dengan reaksi yang sangat cepat Adry merasakan kehangatan yang luar biasa. Bahkan, ada benda yang terpanggil dari dalam meminta untuk dikeluarkan.


Tangan kanan Ana yang sakit ternyata tertimpa oleh tubuhnya sendiri, ia merasakan sakit yang sangat luar biasa. Saking sakitnya ia tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri dan ia juga tak bisa mengeluarkan suaranya untuk berteriak. Namun Akhirnya Ana pun bisa berteriak sekencang-kencangnya.


Adry terkejut mendengar teriakkan Ana yang sangat memekakkan telinga bagi setiap orang yang mendengarnya. Adry berpikir Ana berteriak karena Ana menimpa dirinya dan karena handuknya terlepas dari tubuhnya.


Ana mencoba membangunkan suaminya yang pura-pura pingsan itu. Ana menagis sejadi-jadinya. Adry pun berlagak bangun membuka matanya layaknya seperti orang yang benar-benar pingsan, ia sangat kaget melihat Ana dipenuhi dengan air mata di pipinya. Adry lalu memeluk Ana supaya ia bisa bangkit.


”Kamu kenapa?” tanya Adry.


Ana tidak menutup-nutupi tubuhnya yang hanya memakai BH. Ana tidak terpikir untuk menutupi hal itu lagi karena rasa sakitnya.


“Tanganku tertimpa Mas.” ucap Ana tersendat-sendat karena tangisannya yang begitu hebat.


Adry sangat terkejut mendengar ucapan Ana tentang tangannya yang sakit. Dengan sigap Adry mengangkat tubuh Ana. Ia lalu menurunkan tubuh istrinya itu di tepi tempat tidur. Lalu kemudian Adry membuka lemari tempat baju Ana dan mengambil sembarang baju untuk dikenakan Ana.


Adry memakaikan Ana baju dengan sangat gugup karena melihat kondisi Ana yang sedang merasakan sakit. Selesai memakaikan Ana baju, Adry pun mengangkat tubuh Ana dan lalu memapahnya berjalan menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit. Ana meminta Adry untuk menurunkannya karena ia sudah bisa berjalan. Namun tetap saja Adry tak mau menurunkannya dan bersikeras untuk memapahnya.


Bersambung...


Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang baik.


Salam Hangat~


BY.BAE©

__ADS_1


__ADS_2