
Good morning world !!!
Pagi menyapa kembali disambut dengan kicauan burung nuri yang hinggap ditepian jendela apartement mereka. Ana terbangun dari tidurnya dan merapikannya. Ya seperti biasa, dia masih saja tidur dibawah walaupun ia telah sah menjadi istri Adry.
Sebenarnya tadi malam saat Ana datang ke kamar untuk beristirahat setelah selesai membersihkan semuanya, Adry ingin mengatakan pada Ana untuk tidur diatas kasur. Adry khawatir jika Ana terlalu sering tidur dilantai bisa-bisa membuat ana jatuh sakit atau masuk angin.
Namun hal itu sulit sekali untuk diucapkan oleh Adry karena mood dan gengsinya melekat dalam dirinya.
Ana mengambil handuk dan baju yang akan ia kenakan dan lalu pergi ke kamar mandi. Sehabis mandi, ia pun merapikan rambutnya dan memakai bedak bayi. Adry yang baru saja terbangun dari tidurnya heran melihat Ana sudah rapi pagi-pagi sekali.
“mau kemana kamu?” tanya Adry.
“berangkat kerja Mas.” Jawab Ana.
“jam segini kamu berangkat !!! tumben banget berangkat pagi-pagi sekali.” Lirih Adry.
“iya Mas, soalnya aku mau belajar mengendarai sepeda motor karena aku dapat bagian itu.” Jawab Ana.
Ana lalu pergi meninggalkan Adry dan apartement itu, ia mengatakan pada Adry bahwa ia telah menyiapkan roti panggang untuknya sarapan.
Sementara Adry, ia masih saja berada di tempat tidurnya. Adry merasa sedikit kecewa dengan perlakuan Ana yang biasa saja padanya, padahal ia sedang berusaha untuk mulai peduli padanya.
“wanita ini... hmmm”. Gumam Adry.
Adry sangat penasaran dan selalu menerka-nerka siapa yang akan mengajari Ana mengendarai sepeda motor. Dia selalu mengira-ngira bahwa yang mengajarinya adalah Aghata. Karena ia merasa sangat penasaran, Ia pun bergegas mandi dan merapikan dirinya untuk pergi ke restorannya melihat dengan siapa sebenarnya Ana belajar.
Adri ke ruang makan karena Ana telah menyiapkan sarapan untuknya. Adry berjalan sambil memakai dasinya sampai akhirnya ia pun terduduk namun ia masih kewalahan memakai dasinya yang selalu saja salah.
“ini kenapa lagi si dasi, kok salah terus sih. Hmm harusnya Ana yang memakaikan dasi untukku”. Gerutu Adry.
Setelah selesai memakai dasi sambil menggerutu pada keadaannya, ia pun mengambil pisau dan sendok garpu. Adry memotong dan menyuapkan potongan roti yang dipotong olehnya ke mulutnya.
"seharusnya ini adalah kewajiban Ana memotong dan menyuapkan roti ini untukku”. lagi-lagi Adry menggerutu lagi.
Bagaimana bisa Ana melakukan kewajiban itu, Sedangkan di awal pernikahan saja Adry sangat membencinya dan melarangnya untuk melakukan hal itu.
***
Adry lalu pergi menyusul Ana ke restorannya. sesampainya di restorannya, suasana di restorannya masih tampak sepi karena memang belum buka dan hanya ada beberapa pegawainya datang lebih awal karena memang itu adalah tugas mereka datang lebih dahulu dari yang lainnya.
Adry mencari-cari keberadaan Ana, langkah dan penglihatannya hampir saja melewatkan Ana sedang bersama Ghata dilapangan belakang restorannya.
“ooh... disini ternyata dia akan belajar mengendarai sepeda motor. Kenapa harus sama si Ghata coba belajarnya.” lirih Adry dalam hatinya yang sedang kesal melihat kebersamaan istrinya dengan laki-laki lain.
“waahh ini ngga bisa dibiarin. uummhh”. serunya lagi sambil meninju dinding beton yang sangat keras.
__ADS_1
Adry sama sekali tidak merasa kesakitan dengan meninju dinding yang sangat keras itu karena diselimuti oleh kecemburuan yang membara dalam dirinya. Ia pun berjalan menuju kearah Ana dan Ghata dengan tangan yang dimasukkan kedalam kantong bajunya.
“Aghata kan”. ucap Adry.
Ana dan Ghata membalikkan tubuh mereka dan melihat kearah Adry yang berjalan mendekati mereka.
“iya pak saya”. balas Ghata.
“ada apa ya pak”.
“tolong kamu pergi ke apartemen saya untuk mengambil sebuah berkas yang sangat penting dan.. ini kunci mobilnya.” ucap Adry sambil merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci mobil dan lalu memberikannya pada Ghata.
“sekarang pak.” ucap Ghata.
“iya sekarang, kamu kan lagi nggak ada kerjaan kan.” tanya Adry.
“iya pak.”
“ya sudah buruan sana.” seru Adry.
“baik pak.”
Ghata meminta maaf pada Ana karena terpaksa menunda mengajari Ana mengendarai sepeda motor. Ghata pun pergi meninggalkan Adry dan Ana berdua.
“jangan berani macam-macam ya kamu di apartemenku, di setiap sudut ada CCTVnya di sana, kamu dengar itu.” teriak Adry.
“okay pak”. ucap Ghata dan lalu pergi lagi.
“kamu ngapain disini.” tanya Adry belagak tak tahu.
“mau belajar mengendarai sepeda motor Mas.” ucap Ana.
“ya sudah kenapa kamu diam saja?”. ucap Adry pura-pura.
“gimana mau belajar gurunya saja sudah pergi.” ucap Ana sedikit sedih.
“ohh Aghata ternyata gurunya.”
“ya sudah sini biar aku saja yang mengajarmu.” ucap Adry.
Adry lalu membuka jas hitamnya dan meletakkannya diatas sebuah meja. lalu kemudian Adry menaiki sepeda motor itu.
Ana otomatis terkejut sekali mendengar ucapan Adry, ia merasa sedikit agak sungkan dengan Adry apalagi ia sangat takut jika karyawan lain melihatnya bersama dengan Adry dan akan menjadi bahan perbincangan para karyawannya karena mereka sama sekali tidak tahu kalau Adry adalah suaminya.
“Ayoo...”
__ADS_1
“tapi Mas..” ucap Ana ragu.
Ana melihat-lihat sekelilingnya, tampak masih sepi dan karyawan restoran itu juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
“tunggu apalagi ayo cepetan.” ucap Adry
Adry mendesak tidak sabaran dan turun kembali menarik tangan Ana untuk naik. Ana sudah menaiki motor itu, begitu juga dengan Adry yang sudah naik dan duduk sangat dekat dengan Ana.
Hal itu membuat Ana menjadi sangat gugup. sedangkan Adry, ia juga merasa gugup. Bukan karena ia berada sangat dekat dengan Ana melainkan karena ia merasa khawatir. Adry khawatir jika ia tidak bisa mengajari Ana. Secara, ia sudah lama sekali tidak mengendarai sepeda motor.
Seingatnya Adry, ia terakhir mengendarai sepeda motor itu pas ia masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Hatinya benar-benar tidak karuan jika ia salah dalam mengajarkan Ana.
“kamu sudah siap.” tanya Adry gugup.
“mmm iya Mas.” ucap Ana sambil menganggukkan kepalanya.
“okay... ayo kita mulai.” seru Adry.
Adry menyuruh Ana untuk memegang stang motor bersama dengan dirinya. Ana pun menuruti dan mendengarkan intruksi dari Adry.
Adry dan Ana menancapkan gas secara bersamaan dan semuanya lancar-lancar saja, Adry merasa senang sekali bisa mengajari Ana. Hembusan angin yang memainkan rambut Ana mengenai wajah Adry. Adry pun menikmati keharuman dari rambut panjang Ana.
***
Sesekali Adry melepaskan stang motor itu supaya Ana yang mengendalikannya.
“Mas jangan dilepas, aku belum bisa melakukannya.” ucap Ana khawatir.
“pasti bisa...” ucap Adry.
“kamu ikuti saja intruksi dariku.” Ucap Adri lagi.
Ana hanya menganggukan kepalanya dan mencoba untuk relax mengendarai sepeda motor itu.
“tambah gigi... kurangi giginya... kenapa terlalu pelan ngegasnya... ayo tambah lagi giginya... dipengkolan ngga boleh naik gasnya harus diturunin... ee.. ee.. ee.. nggak boleh ngerem mendadak bahaya itu...” ucap Adry kala mengajari dan memberi instruksi pada Ana.
Awal mereka belajar mengajar sepeda motor itu terlihat baik-baik saja, ya walaupun Adry sebenarnya sudah lama sekali tidak mengendarai sepeda motor. Namun ilmunya masih melekat dalam dirinya.
Bersambung....
Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang setia.
Salam Hangat~
BY.BAE©
__ADS_1