
Dalam perjalanan, Ana tak mau diam duduk di samping Adry. Setiap kali Adry mendudukkannya, Ana selalu saja berpindah naik ke atas tubuh Adry.
Ana sangat ganas karena pengaruh obat perangsang itu. Ana membuka kancing baju Adry dan meraba tubuh Adry. Ana juga mencium bibir suaminya, namun tak lama karena Adry menolak dan menjauhinya. Ana pun menangis karena penolakan Adry, padahal Ana sangat terangsang padanya.
Sampai di rumah, Adry menggendong Ana, membawanya masuk ke kamar. Sepanjang Adry menggendong Ana, Ana menciumi leher suaminya. Hingga akhirnya sampai ke kamar, Adry menghempaskan tubuh Ana ke atas ranjang. Adry lalu pergi meninggalkan Ana sendiri di kamar itu. Ana memintanya untuk tidak pergi, namun Adry menghiraukannya dan tetap saja pergi.
Adry pergi dengan sopirnya ke suatu tempat. Rita yang baru tiba di rumah itu, melihat Adry keluar pergi. Rita pun mengikuti kemana Adry pergi. Hingga pada akhirnya, Rita melihat Adry berhenti disebuah Club malam. Rita pun mengikuti Adry diam-diam.
Rita melihat dari kejauhan Adry tengah duduk memesan minuman pada seorang waiters. Rita tersenyum bahagia pastinya, melihat ada peluang untuknya mendapatkan Adry. Rita pun mengambil ponsel Doni yang ia ambil dari Doni tadi. Rita lalu mengetik sebuah pesan untuk dikirimnya pada Adry.
“Hai Adry, terima kasih atas setiap pukulan yang kau berikan. Itu artinya aku tak perlu lagi bertanggung jawab jika istrimu mengandung anakku. Kau harus mengurus anakku, jika tidak aku akan menuntut mu karena kau telah menyakitiku. Jadi intinya adalah kita impas. Tapi ngomong-ngomong, tolong sampaikan pada istrimu bahwa aku sangat puas dengannya. Kau tahu istrimu sama sekali tak menolak setiap sentuhan yang aku berikan, dia bahkan sangat liar. Entah mengapa dia seperti itu padaku, sejujurnya aku pun terkejut tak menyangka. Mungkin selama ini, istrimu ada memendam perasaan padaku, karena sebelumnya aku dan istrimu pernah bertemu beberapa kali sebelum ia menikah denganmu.” Ketik Rita lalu dikirimnya pesan itu ke nomor telepon Adry.
Rita mengetik kata demi kata yang terbaik untuk memanaskan hati Adry dan, supaya Adry mempercayai bahwa Ana sudah tak peraw4n lagi. Adry pun membaca pesan yang masuk itu. Adry sangat geram membaca pesan itu.
“Seharusnya aku menghajarnya sampai tak bisa mengetik pesan ini. Pria itu memang sangat labil, tadi dia bersikeras melerai dengan mengatakan bahwa ia tak melakukannya,” ucap Adry murka.
Adry yang dirundung rasa emosi, meminta waiters itu untuk menuangkan minuman itu lagi padanya. Beberapa kali waiters itu menuangkan minuman, Adry masih terus saja meminta untuk dituangkan. Hingga akhirnya waiters itu tak mau menuangkan minuman itu lagi padanya.
“Maaf tuan anda sudah terlalu banyak meminumnya, tidak....”
“Hey, aku katakan tuang ya tuang. Aku kan bayar, apa susahnya hanya menuangkan minuman saja untukku, hah.” ucap Adry yang tak terlalu jelas karena Adry sudah sangat mabuk berat.
“Tapi tuan...”
“Cepat tuangkan, atau kalau kau tak mau menuangkan minumannya untukku, berikan botolnya padaku.”
Adry pun meminumnya langsung. Rita tersenyum melihat Adry, ia pun ingin mendekati untuk menggoda Adry yang sedang mabuk berat itu. Namun seorang wanita terlebih dahulu mendekatinya dan juga menggodanya.
“Hai, sendirian aja nih.” Sapa seorang wanita ****** sambil memegang pundaknya.
Adry hanya tersenyum dan bahkan tertawa dengan wanita ****** yang menyapanya itu. Wanita ****** itu pun ikut tertawa melihatnya.
“Kamu mau nggak nemenin aku, hmm? Karena kamu ganteng banget, untuk kamu gratis deh, sampai pagi pun aku sanggup.” Ucap wanita ****** itu menawarkan diri.
Adry tak menjawabnya, ia hanya menunduk kepalanya yang sangat mengantuk karena pengaruh minuman itu. Tanpa menunggu jawaban Adry, wanita ****** itu pun langsung menuntun Adry untuk masuk ke sebuah kamar yang ada di Club itu. Adry yang tak sadar mengikuti wanita ****** itu.
“Malam ini kita akan bersenang-senang, aku yakin kamu pasti akan puas.” Ucap wanita ****** itu.
Tubuh Adry lalu dihempaskan wanita ****** itu di ranjang. Wanita ****** itu sudah tidak sabar bermain dengan Adry yang tampan. Wanita ****** itu lalu hendak membuka bajunya. Baru saja satu kancing baju yang dibukanya, tiba-tiba ketukan suara pintu terdengar olehnya. Wanita ****** itu lalu melangkah membukakan pintu itu. Ternyata Rita lah yang mengetuk pintu itu.
“Berikan pria itu padaku dan keluarlah dari kamar ini.”
“Heh, siapa kamu berani memintaku untuk melepaskan suamiku.”
“What? Suami kamu bilang, dasar wanita ******. Aku minta keluar dari kamar ini karena aku adalah istri sahnya, minggir.”
“Mana buktinya?”
Karena Rita tak mempunyai bukti, Rita lalu menunjukkan sejumlah uang untuk wanita ****** itu. Wanita ****** itu langsung merampasnya dan langsung pergi.
“Nih, ambil lagi.”
__ADS_1
Rita melemparkan lagi sejumlah uang pada wanita ****** itu, wanita itu pun lantas langsung memungut uang yang berserakan itu.
“Dasar wanita ******,” ucap Rita menutup pintu itu dan lalu masuk kedalam kamar tempat Adry berbaring.
“Ah akhirnya kamu milikku Mas.’’ Rita mendekati Adry dengan senyuman bahagianya.
“Mas, aku tahu kamu sangat terluka karenanya. Aku tahu, kamu pasti akan menceraikannya dan kamu akan memilih aku untuk mendampingi hidupmu selanjutnya.” Ucap Rita sambil mengelus rambut Adry.
Rita sangat ingin menikmati Adry malam ini dengan kondisi Adry yang tak sadarkan diri. Rita pun ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelummelakukannya. Rita pun pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi itu, Rita memikirkan bagaimana cara untuk memulainya sambil tersenyum-senyum malu sendiri.
Beberapa menit kemudian, Rita pun selesai mandi. Rita pun keluar dari kamar mandi itu hanya menggunakan handuk saja. Rita keluar dengan melihat Adry yang duduk tertunduk.
“Mas...” Seru Rita yang membuat Adry melirik dan tersenyum padanya.
“Ana...” Ucap Adry yang tak jelas melihat bahwa sebenarnya itu adalah Rita.
Rita tersenyum menerima ucapan Adry yang salah. Selama Adry tak menolaknya, Rita akan menerima itu semua. Rita pun mendekat dan semakin mendekati Adry. Kini Rita berada tepat dihadapan Adry yang sedang duduk itu. Adry pun semakin jelas melihat wajah Rita.
“Rita...”
“Iya Mas, ini aku Rita!” Seru Rita kegirangan ketika Adry benar dalam menyebutkan namanya.
“Mau apa kamu?” Tanya Adry.
Rita malah tersenyum saat Adry bertanya padanya. Rita malah hendak merangkul Adry, namun Adry malah menyingkirkan tangannya sebelum ia merangkul Adry.
“Jangan macam-macam dan jangan memanfaatkan keadaan.” Ucap Adry yang mencoba untuk bangun menyadarkannya untuk mengahadapi Rita yang hendak memanfaatkan situasi.
“Mas, mengapa kau selalu saja menolakku.”
“Tutup mulutmu Rita, kau lah yang dulu menolak ku demi pria lain. Dan sekarang gara-gara kau dan kekasihmu itu, kalian menghancurkan hidupku. Apa kalian puas sekarang.” Teriak Adry mengungkit-ungkit masa yang telah berlalu lagi.
“Mas lupakanlah masa lalu itu, aku sangat mencintaimu.”
“Tapi aku tidak sama sekali, aku malah sangat-sangat membencimu.” balas Adry.
“Dan yah, kau benar-benar sangat licik memperalati kekasihmu itu untuk merusak istriku. Aku benci kalian semuaaaaaa,” teriak Adry.
“Oke, tidak apa-apa jika Mas sangat membenciku dan aku menerima semua tuduhan itu. Tapi aku minta lakukanlah hal itu denganku Mas. Anggaplah sebagai ganti rasa keperawan4n Ana yang tak bisa kau nikmati.”
“Apa kau bilang, dasar wanita ****** (sambil menampar wajah Rita).”
“Tidak masalah jika aku mendapati tamparan berkali-kali darimu Mas. Tapi ayolah kita lakukan.” Ucap Rita sambil mendorong tubuh Adry hingga terbaring.
Adry yang keadaannya tak stabil pun terjatuh berbaring. Rita datang mendekatinya dan hendak menciumnya. Cepat-cepat Adry mendorong tubuh Rita langsung hingga terjatuh ke bawah. Adry menjauh dari tempat tidur itu dengan teroyong-oyong.
“Mengapa kamu menolakku Mas, hah? Aku jamin malam ini kita akan melakukannya dan kau akan menikmatinya.”
Rita pun tersenyum sinis melihatnya. Rita hendak melepaskan handuk yang dipakai olehnya. Adry yang melihat hal itu menutup matanya sebelum ia melihatnya. Rita benar-benar melepaskan handuk itu dari tubuhnya. Kini Rita tak memakai apapun di tubuhnya.
“Mengapa kau menutup matamu Mas? Bukanlah dan lihatlah tubuhku ini.”
__ADS_1
“Dasar kau wanita ******.”
Rita lalu melangkah mendekati Adry. Namun tiba-tiba saja ketukan pintu dan seseorang memanggil nama Adry terdengar nyaring. Rita sontak berjalan kembali ke tempat handuknya tertinggal. Rita takut jika tiba-tiba pintu itu langsung dibuka sembarangan oleh seseorang yang berada di luar yang mengetuk pintu itu. Secara Rita lupa mengunci pintu kamar itu.
“Masuklah...” ucap Adry yang mengetahui bahwa orang itu adalah sopirnya.
Sopir itu pun masuk dengan tidak enak hati melihat Rita yang hanya memakai handuk saja.
“Ee ada apa ya bos?”
“Untung kau datang tepat waktu. Apa kau mempunyai uang? Pinjamkan aku, nanti aku akan mengembalikan uangnya dua kali lipat.” bisik Adry pada sopirnya.
Rita pun tak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Adry dan sopirnya itu. Sopir itu sangat tergiur dengan ucapan Adry, ia pun memberikan semua uang yang ada di dompetnya supaya dikembalikan dua kali lipat padanya. Sopir itu pun memberikan uang itu pada Adry sekitar lebih kurang dua juta rupiah dengan senyum sumringahnya.
“Kamu lihat wanita itu kan?” tanya Adry sambil menunjuk-nunjuk.
“iya bos, tapi bos salah tunjuk. bos mungkin kebanyakan minum kali, jadinya nggak bener nunjuknya.”
“Iya aku tahu, untuk itu instruksikan aku untuk berjalan kearahnya.” Pinta Adry karena ia sedang menutup matanya untuk tak melihat Rita.
“Baik bos, siap-siap.”
Adry pun melangkah berjalan kearah Rita, namun sopir itu salah instruksi sehingga membuat Adry menabrak tiang ranjang dihadapannya. Sopir itu tertawa, sedangkan Rita tak mengerti dengan apa yang tengah Adry lakukan. Adry memarahi sopirnya meminta sopirnya untuk benar-benar serius. Hingga akhirnya Adry berjalan melangkah lagi dan sopirnya pun menginstruksikan untuk berhenti. Adry pun berhenti dan langsung mengeluarkan kata-kata mutiara untuk Rita.
“Rita, kamu benar-benar wanita ****** dan licik. Dengar, berkali-kali kukatakan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah tertarik pada wanita ****** sepertimu. Dan entahlah dari kehidupanku dan rumah orang tuaku, jangan pernah kau dekati keluargaku lagi. Ini uang untukmu, untuk membeli pakaian untuk menutupi tubuhmu itu.” ucap Adry sambil melemparkan uang itu tapat ke wajah Rita.
Rita benar-benar sangat terkejut mendapati perlakuan Adry yang menghinanya. Adry lalu membalikkan tubuhnya dan lalu berjalan keluar. Rita menahannya dengan memegang tangannya. Adry pun menghempaskan tangan Rita dengan kasar hingga membuat Rita sampai terjatuh ke lantai.
Adry pun pergi meninggalkan Rita dengan dibantu oleh sopirnya yang menuntunnya keluar. Adry dan sopirnya sudah masuk ke dalam mobilnya. Sopirnya menghidupkan mobilnya, namun tak mau hidup. Sopirnya mengecek mobil itu, ternyata mobil itu kehabisan bensin. Sopirnya lupa mengisi bensin setelah dari perjalanan mencari Ana.
“Bos, bensinnya habis bos. Bos punya uang tidak soalnya uang saya tadi sudah habis saya berikan pada bos.”
“Duit saya itu tadi habis buat bayar minuman yang saya minum. Jadi, manalah saya ada uang pak, saya saja tadi minjam uang bapak untuk bayar wanita ****** itu.” ucap Adry setengah sadar.
“Terus gimana dong ini bos, saya juga tak memiliki uang sepeser pun.”
“Minta saja pada wanita ****** itu pak, atau kalau tidak bapak ambil saja diam-diam uang itu.” Ucap Adry menyarankan dengan mata yang tertutup tidur.
Sopir itu merasa tidak ada pilihan lain dengan mengikuti anjuran dari Adry. Sopir itu pun masuk kembali ke Club malam itu. Sopir itu bingung saat ia sudah berada tepat di depan kamar itu. Sopir itu pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar itu kembali. Namun Rita tak kunjung membukakan pintu kamar itu. Hingga akhirnya sopir itu memberanikan diri untuk menekan gagang pintu, dan sopir itu lega pintu itu tidak dikunci oleh Rita.
Sopir itu pun melirik ke dalam kamar itu. Namun ia tak menemukan sosok Rita di dalam. Sopir itu hanya melihat uang itu masih berserakan karena Rita tak memungut uang itu. Sopir itu pun merasa bersyukur, ia pun memungut beberapa uang itu untuk membeli bahan bakar mobil Adry.
Namun tiba-tiba pintu kamar mandi itu hendak terbuka. Sopir itu pun langsung bergegas lari keluar. Rita pun merasa seperti ada orang yang baru saja masuk dan keluar dari kamar itu. Namun Rita menghiraukan hal itu, ia pun bergegas meninggalkan kamar itu.
Setelah Sopirnya mengisi bahan bakar mobilnya, mereka pun pergi untuk pulang karena hari sudah larut sekali. Adry masih tertidur mengigau karena pengaruh minuman yang ia minum. Adry juga menangis dalam tidurnya memanggil-manggil nama istrinya Ana. Apalah dayanya si sopir tak tahu cara menenangkan bosnya. Sopir itu hanya membiarkan dan mendengarkan bosnya yang menangis memanggil nama istrinya.
Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe Salam Hangat~` BY.BAE©
__ADS_1