
Akhirnya mereka pun sampai di tempat sekolah Sarah. Sarah berpamit pada Adry untuk masuk ke sekolahnya dan meminta Adry untuk menjaga kakak sepupunya dengan baik. Adry hanya menggangguk tersenyum pada Sarah. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju restorannya untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Di Restoran..
Adry sampai di restorannya, ia di sambut dan di sapa oleh para karyawannya. Adry pun membalas sapaan para karyawannya dan memberikan semangat untuk bekerja pada mereka. Adry pun masuk ke dalam ruang kerjanya.
Sementara Ana, ia baru saja tiba di restoran itu. Ana pun berlari masuk ke dalam untuk melihst kehadiran, ia diam-diam melirik-lirik dan membuka pintu ruang kerja Adry. Dari kejauhan Popy melihat gerak-gerik Ana yang sangat aneh.
“wahh... ngapain tuh si Ana ngintip-ngintip ruangan kerja bos? hmm aku harus ngapain yah.” ucap bertanya Popy pada dirinya sendiri memikirkan ide brilian.
“Ahh ternyata dia ada disini, huuh syukurlah kalau begitu”. Ucap Ana lega.
Adry tak sengaja melihat ke arah pintu dan melihat Ana tengah memperhatikannya. Hal itu membuat Ana terkejut, dan segera menutup pintu itu kembali. Namum ia masih saja di depan pintu itu ruangan kerja Adry.
Pintu ruangan itu terbuka dan tangannya ditarik oleh Adry untuk masuk ke dalam.
“kamu ngapain ngintip-ngintip aku kayak gitu”. tanya Adry.
“eee Mas, aku hanya memastikan bahwa Mas ada di ruangan Mas. Aku merasa khawatir karena Mas tak pulang kemarin. Dan aku juga merasa khawatir dengan kepergian Mas yang marah pada waktu itu, maafin aku Mas”. ucap Ana.
Adry tak mengeluarkan sepatah kata pun setelah Ana menjelaskannya, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Ana yang merasa bersalah. Ia masih saja bersikap dingin pada Ana.
Dari luar ruangan Adry, ia melihat Popy berjalan menuju ruangannya untuk mengantarkannya kopi.
Tok... tok.. tok...
“Masuk”. ucap Adry.
Popy pun masuk membawakan kopi untuk Adry.
“Ana Ngapain kamu di sini”. tanya Popy.
“kamu yang ngapain ke sini.” tanya Adry balik.
“Saya hanya ingin mengantarkan kopi untuk bapak.” ucap popy yang memang sengaja mengantarkan kopi untuk menghilangkan rasa penasarannya.
“ini bukan tugasmu kenapa kamu yang mengantarkannya.” ucap Adry.
__ADS_1
“Saya hanya membantu sepupu saya Pak, kebetulan yang sering mengantar kopi untuk bapak adalah sepupu saya dan saat ini dia kurang enak badan Pak. saya menggantikan posisinya untuk sementara”. ucap Popy berbohong memberi alasan seperti itu.
“Oh gitu ya sudah sana cepet keluar”. ucap Adry.
“Baik Pak."
“eee... Ana. pesanan catering-an banyak tuh, kamu harus mengantarnya dengan menggunakan sepeda motor.” ucap Popy sebelum ia keluar.
Popy pun keluar, Ana sangat terkejut mendengar perintah Popy Untuk mengantarkan catering-an dengan menggunakan sepeda motor. Pasalnya, ia tidak bisa mengendarai sepeda motor.
“Bagaimana ini, aku sama sekali tidak bisa mengendarai sepeda motor.” ucap Ana dengan nada yang pelan.
Namum ucapan Ana yang sayup-sayup itu didengar oleh Adry, Ia ingin mengatakan pada Ana bahwa ia tidak perlu mengantar pesanan catering itu dengan mengendarai sepeda motor. Akan tetapi Adry masih gengsi untuk menunjukkan perhatiannya pada Ana.
"Popy.. Popy.. tunggu." ucap Ana memberhentikan Poppy yang hendak pergi mengantarkan pesanan catering dengan menggunakan mobil.
"Ada apa lagi sih Ana?"ucap Popy dengan wajah yang kesal.
"Popy, Maukah kau bertukaran denganku. Aku yang mengantar pesanan catering-an itu dengan menggunakan mobil dan kau menggunakan motor. Soalnya aku tidak bisa mengendarai motor.” ucap Ana memohon.
“iya Pop, aku emang ngga bisa ngendarain sepeda motor”. ucap Ana memelas.
“lalu kenapa kau bisa diterima oleh Bos jika kau tidak bisa mengendarai sepeda motor. Apa jangan-jangan kau menggodanya supaya kau diterima oleh Bos begitu?” tanya Poppy.
Ana tidak menanggapi Semua ucapan miring yang dilontarkan oleh Popy padanya, ia yang awalnya diam saja dan meminta Popy untuk melanjutkan pekerjaannya saja. Popy hanya tersenyum sinis melihat perlakuan Ana yang tak bisa menjawab pertanyaannya itu, Iya pun pergi melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena Ana.
Ana terduduk melamun di dekat parkir sepeda motor pengantar catering itu dan memandanginya. menyembuhkan kedua tangannya di bawah dagunya, Ia terlihat sangat lucu bergaya seperti itu.
Ana yang duduk termenung melihat sepeda motor itu ditegur oleh Ghata.
“Ana... Apa yang kamu lakukan melamun di sini.” tanya Ghata.
Ana tidak menyadari kehadiran Ghata, berkali-kali Ghata memanggil nama Ana akhirnya ia pun tersadar dari lamunannya.
“eeh, kamu Ghata, ada apa?" tanya Ana.
“kamu ngapain di sini Ana, ngelamun memandang sepeda motor ini?" tanya Ghata.
__ADS_1
“aku hanya bingung nih, aku bingung dengan bagian pekerjaanku ini. Aku di perintah untuk mengantar pesanan pelanggan dengan menggunakan sepeda motor ini”. jawab Ana.
“lalu, masalahnya di mana? apa sepeda motornya rusak?”. tanya Ghata lagi.
“aku tidak bisa mengendarainya”. ucap Ana.
Ghata hanya tertawa mendengar pernyataan Ana, ia pun merasa sedikit heran mengapa Ana bisa diterima jikalau Ana tidak bisa mengendarai sepeda motor. Ana beralasan bahwa ia diterima di restoran ini karena ia bisa mengemudi mobil.
Ghata pun memberikan solusi pada Ana bahwa ia akan mengajari Ana belajar mengendarai sepeda motor besok pagi sebelum restoran itu membuka para pelanggan untuk masuk. Ana merasa senang mendengar ucapan Ghata yang mau mengajarinya.
“Lalu bagaimana pekerjaanku hari ini, berarti aku nganggur dong. hhmm bisa-bisa aku di marahi Bis nantinya”. ucap Ana.
“kamu bilang, kamu bisa mengemudi mobilkan". tanya Ghata untuk lebih memastikan.
“iya”.
“ya sudah kalau begitu kamu ambil alih saja pekerjaanku dan aku akan ambil alih pekerjaanmu”. ucap Ghata menawarkan kesepakatan.
Ana pun sepakat dan sangat berterima kasih sekali pada Ghata. Ghata hanya tersenyum senang bisa membantu Ana, ia pun memberikan kunci mobil dan memberitahu alamat pelanggan catering pada Ana.
Ana pun berpamitan pada Ghata dengan melontarkan senyumannya yang manis padanya. Ghata pun membalas senyuman Ana dengan tersenyum dan melambaikan tangannya.
Adry yang tak sengaja berpas-pasan lewat melihat istrinya dan Ghata yang sedari awal terlihat sangat akrab, apa lagi pada saat Ana senyum kearah Ghata yang membuat ia merasakan kecemburuan yang nyata baginya.
Andai saja ia mengetahui kebenaran yang sebenarnya sedari awal, mungkin ia tidak akan memperlakukan Ana dengan sikapnya yang sangat dingin.
Apa boleh buat, seperti kata-pepatah nasi telah menjadi bubur dan waktu tidak bisa diputar kembali. Adry hanya berharap bisa memperbaiki kesalahan yang telah banyak menyusahkan Ana dan menyakiti Ana selama ini dengan perlahan-lahan.
Bersambung....
***
Please!!! jangan lupa like, komen dan Votenya juga ya wahai para readers yang setia.
Terima kasih semuanya...
BY.BAE©
__ADS_1