Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 80


__ADS_3

Tante Riska akhirnya pulang setelah menemani suaminya bekerja di luar kota. Tante Riska pun ke kamar tamu untuk melihat Ana. Namun Tante Riska tak melihat ada Ana dan juga koper barang-barang Ana di sana. Tante Riska pun bertanya pada asisten yang sering menemani Ana.


“Bik, Ana kemana ya Bik, kok dia tidak ada dikamarnya itu?”


“Ee anu nyonya besar. Dua hari yang lalu saya melihat nona Ana pergi dengan wajah yang sangat pucat. Den Adry juga melihat kepergian nona Ana, nyonya besar.”


“Apa? Adry membiarkan istrinya pergi begitu saja?”


“Ya, kira-kira begitu nyonya besar.”


Tante Riska langsung pergi menuju kamar Adry menemuinya. Saat Tante Riska hendak membuka pintu kamar Adry, ternyata pintu kamar itu terkunci. Tante Riska lalu mencari kunci serep kamar Adry dan lalu membukanya.


Betapa terkejutnya Tante Riska ketika ia masuk mendapati bau minuman yang menyengat di kamar Adry. Tante Riska pun melihat Adry yang masih tertidur pulas dengan gaya telentang. Tante Riska sangat shock keadaan anaknya yang kumat lagi dengan meminum banyak sekali minuman disaat Adry merasa banyak beban pikiran.


“Nak, apa yang telah kamu lakukan? Mengapa kamu mabuk- mabukkan seperti ini Nak?” teriak Tante Riska bertanya sambil mengguncang tubuh Adry. Adry pun terbangun dari tidurnya.


“Mamah...”


“Ada apa ini, mengapa kamu jadi seperti ini Nak.”


“Adry baik-baik saja Mah, Mama nggak usah khawatir.”


“Oke baiklah Nak... Tapi dimana Ana?”


“Dia pulang ke rumah orang tuanya Mah.” Jawab Adry santainya dengan nyawa yang setengah sadar.


“Ya ampun Nak... Lihatlah dirimu yang telah melakukan kesalahan besar. Mengapa kamu membiarkan istrimu pergi meninggalkanmu Nak.”


Adry malah kembali tidur saat ibunya masih mengoceh memarahinya.


“Adry, ayo bangunlah Nak, bersiaplah dan jemput istrimu itu kembali pulang ke rumah ini,” perintah ibunya lalu pergi meninggalkan Adry.


Namun tiba-tiba ibunya Adry berhenti tepat didepan pintu sebelum ibunya Adry menutup pintu kamar itu.


“Pikirkan baik-baik Nak, emangnya kamu mau kehilangan istrimu yang baik itu? Kamu tahukan istrimu itu sangat cantik. Bisa-bisa orang lain mengambil kesempatan untuk mendapatkan istrimu.” Ucap ibunya menakutinya supaya ia sadar.

__ADS_1


Yah, tentu saja ucapan ibunya membuat Adry membuka matanya hingga melotot dan langsung bangkit dari tidurnya.


“Apa? yah, istriku itu memang sangat cantik dan baik, aku tak mau kehilangan dia.” Ucap Adry sambil bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.


“Tapi dia...” ucap Adry bimbang tiba-tiba menghentikan langkahnya untuk berniat pergi menjemput Ana.


Dan akhirnya Adry memilih untuk tidak pergi menjemput Ana karena hatinya yang tak menentu alias bingung. Adry pun lebih memilih memberi makan ikan kesayangannya di taman dari pada istrinya. Ibunya yang melihatnya pun menghampirinya dan menegurnya.


“Nak, mengapa kamu tak pergi juga?” tanya ibunya sambil memegang pundak Adry dan, ia hanya diam tak menjawab Ibunya.


“Ya sudah kalau begitu ayo Mama temani kamu ke Pengadilan Agama untuk mengurus surat cerai mu.” Ucap ibunya sambil menarik tangan Adry.


“Mah cukup, Mah cukup, Mama tidak perlu khawatir, Adry bisa mengurus diri Adry sendiri Mah.” teriak Adry.


Ibunya tak berani untuk memaksakan Adry lagi karena teriakan Adry yang seperti itu. Ibunya takut jika mentalnya terguncang. Ibunya pun pergi diam-diam meninggalkannya sendiri.


***


Kesokan harinya, Sarah menghubungi Adry. Adry pun langsung mengangkat telpon dari Sarah.


“Halo Kak...”


“Kak... Sarah boleh minta tolong nggak.” Ucap Sarah yang sebenarnya sedikit sungkan pada Adry.


“Aku dan Tante terjebak tak bisa berangkat pulang karena terjadi longsor yang menutupi jalan utama Kak. Jadi, Sara minta tolong sama kakak untuk lihat Kak Ana di rumah, soalnya Kak Ana di rumah sendirian. Sarah takut jika...” ucap Sarah terpotong.


“Sarah, siapa yang sedang kau hubungi?” Tanya Tante Eva ibunya Ana.


“Kak Adry Tante, uups.” Ucap Sarah keceplosan yang sebenarnya diam-diam menghubungi Adry.


“Untuk apa kamu menghubunginya Sarah?


“Aku hanya meminta Kak Adry untuk menemani Kak Ana Tante.”


“Ya ampun Sarah... kamu ini. Kakakmu bisa marah nanti padamu karena menghubungi Adry sembarangan meminta.”

__ADS_1


“Kenapa kak Ana harus marah? Kak Adry kan suaminya.” ucap Sarah yang memang benar.


Sarah lupa mematikan HPnya. Adry pun mendengar semua perbincangan antara Sarah dan ibu mertuanya Adry.


“Benar kata Sarah, nggak ada alasan yang tepat untuk Ana marah padaku, karena aku adalah suami Ana dan aku harus menemaninya.”


Adry pun langsung bergegas pergi. Adry melupakan tentang Ana yang ia ketahui sedang hamil itu. Adry hanya terfokus mengingat ucapan ibu mertuanya yang mengatakan ‘Nanti kakakmu bisa marah padamu karena menghubungi Adry sembarangan meminta’.


“Apa maksud mertuaku berkata seperti itu, apa Ana melarang semua orang untuk memblokir ku berkomunikasi dengan keluarganya?” Gumam Adry bertanya-tanya.


Akhirnya Adry sampai di rumah mertuanya. Adry mengetuk pintu itu, namun Ana tak kunjung membukakan pintu untuknya. Adry pun masuk dengan sendirinya karena pintu itu utama tidak dikunci oleh Ana.


“Mengapa dia tidak mengunci pintu utama ini, kan bahaya banget kalau sampai pencuri datang dan akan mencuri barang berharga yang ada di rumah ini.” lirih Adry terheran.


“Sayang, kamu dimana.” Panggil Adry sambil masuk melangkah kedalam memanggil istrinya. Namun Adry tak mendapat sahutan dari istrinya.


“Kemana dia?” ucap Adry yang tak menemukan Ana di setiap ruangan.


Kini, tinggal kamar Ana lah yang belum ia masuki untuk menemukan keberadaan istrinya. Adry lalu masuk kedalam kamar istrinya yang juga tak dikunci itu. Namun Adry juga tak menemukan istrinya di kamar itu.


Adry hendak berlalu pergi keluar dari kamar istrinya itu. Namun Adry kembali memutarkan badannya karena melihat sesuatu di dekat pintu kamar mandi. Adry melihat ada darah yang tercecer di lantai dekat pintu kamar mandi itu.


“Ada darah! Darah apa itu?”


Adry langsung mendekati pintu kamar itu. Adry membuka pintu kamar mandi itu, namun pintu itu di kunci dari dalam.


“Sayang, apa kamu ada di dalam?” ucap Adry sambil mengetuk pintu kamar mandi itu dengan sangat keras. Adry sangat yakin bahwa Ana ada di dalam kamar mandi itu. Melihat ada darah yang tercecer membuat Adry takut kalau Ana berbuat macam-macam di dalam.


“Sayang, ayo buka pintunya? Sayang, kamu kenapa sayang, ayo bukalah pintunya, Mas mohon.” Teriak Adry sangat panik.


Tak ada sahutan dari dalam kamar mandi itu. Entah apa yang terjadi pada Ana di dalam kamar mandi itu. Sedikitpun suara gerak-gerik di kamar mandi itu, tak ada terdengar oleh Adry.


Bersambung...


----------------

__ADS_1


Salam Hangat~`


BY.BAE©


__ADS_2