Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 42. Mencari-cari


__ADS_3

Sekarang, hanya tinggal mereka berdua saja di apartemen itu. Tante Riska pamit pulang karena belum pamit dengan Om Arran sebelumnya. Tante Riska takut jika suaminya mencari-carinya karena tidak ada di rumah.


Sedangkan Tante Eva pamit pulang juga karena hari sudah malam dan ia sangat khawatir meninggalkan Sarah di rumah sendirian.


“sayang kamu jaga diri baik-baik yah, jangan sampai kamu mengangkat benda yang berat. Ingat pesan si ibu itu tadi.” ucap Tante Eva memeluk dan mencium kening anak kesayangannya itu.


“kamu juga Adry, jaga dan rawat menantu Mama dengan baik.” seru Tante Riska pada Anaknya.


Adry pun mengantarkan Ibu dan mertuanya kebawah meninggalkan Ana.


“sudah... sudah... kamu nggak perlu ngantar mama dan mertua kamu sampai kebawah, cukup sampai di pintu ini saja. Kasihan Ana sendirian. Temani lah dia dan bantu dia jika ia menginginkan sesuatu.” ucap Tante Riska, Ibunya Adry.


“iya Mah... Adry akan merawat Ana dengan sangat baik. Jangan khawatir.” ucap Adry.


“terima kasih Nak. beruntung sekali rasanya memiliki seorang menantu yang baik sepertimu.” ucap Tante Eva.


Hanya menebar senyum manis, Adry menjabat dan mencium tangan ibu dan mertuanya secara bergantian. Ibu dan mertuanya pun pergi pulang bersama.


Adry kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat dan ia mendapati Ana yang sudah nyenyak tidurnya.


“mungkin dia lelah karena terlalu banyak mengeluarkan tenaganya untuk berteriak tadi.” gumam Adry dalam hati sambil tersenyum nyengir.


Adry selalu saja mengingat dan membayangkan ulang kejadian itu, ia merasa lucu dengan Ana yang berteriak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke dadanya.


Adry lalu membenarkan posisi tidur Ana yang kurang tepat dan lalu menyelimutinya. Adry kemudian mengambil handuknya untuk mandi, ia merasa kegerahan dan ingin sekali berendam.


Lebih kurang setengah jam ia berendam, Adry pun naik ke tempat tidur untuk beristirahat. Sebelum memejamkan matanya, ia menyetel alarm di Handphonenya dan beberapa alarm ia aktifkan untuk membangunkannya pagi-pagi.


Untuk berjaga-jaga, ia menyetel 10 alarm didekatnya. Besok adalah hari untuk membawa Ana check up kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Adry harus bangun lebih pagi lagi untuk mempersiapkan segalanya.


Adry pun berdoa semoga besok ia bisa bangun pagi dan semuanya lancar jaya. Adry pun mencoba menutup matanya untuk tidur, namun susah sekali Adry mencoba untuk tidur.


Adry memiringkan tubuhnya melihat kearah Ana. ia tersenyum melihat wajah Ana yang begitu menggemaskan itu. Baru saja sebentar Adry memandangi wajah Ana, rasa kantuknya melanda dengan sangat hebat dan akhirnya ia pun tertidur.


****


Pagi hari yang aneh dirasakan oleh Ana, ia mendengar suara yang sangat berisik sekali. Ana mencoba untuk membuka matanya dan duduk. Ana melihat Adry memunggunginya dan disekitar Adry banyak sekali dikelilingi jam alarm yang berbunyi.


Ana belum sepenuhnya nyawanya terkumpul untuk sadar, ia tertawa terbahak-bahak melihat Adry yang begitu nyenyak sekali tidurnya. Sampai-sampai alarm dimana-mana yang disetel oleh suaminya sendiri pun tak berhasil membangunkannya.

__ADS_1


“Mas... Mas... kamu lucu banget sih, percuma bikin alarm banyak kalau itu tidak bekerja membangunkanmu.” ucap Ana.


Ana penasaran dengan tumbennya Adry menyetel banyak sekali alarm. Tanpa banyak berpikir, Ana pun menyimpulkan bahwa mungkin saja suaminya banyak yang hendak diurus dan dikerjakannya karena sudah beberapa hari ini suaminya tidak bekerja karena dirinya.


Ana merasa kebelet ingin buang air kecil, ia ingin membangunkan suaminya untuk membantunya ke kamar mandi. Namun ia mengurungkan niatnya itu, Ana merasa kasian melihat suaminya yang masih terlelap tidur.


Ana merasa iba melihat suaminya yang kelelahan mengurus dirinya. Ana berusaha untuk berjalan sendiri, di langkahkannya kakinya itu yang sudah mulai pulih dengan hati-hati.


Selesai buang air kecil dan membasuh wajahnya dan menggosok giginya. Sehabis dari kamar mandi, Ana memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar apartemen untuk melatih kakinya supaya kembali normal lagi. Ana pun keluar dari apartemennya dan berjalan santai disekitarnya. Sementara Adry, ia akhirnya pun terbangun dari tidurnya.


“aaaaa sudah jam tujuh, aah aku kesiangan.” teriak Adry.


Adry heran sekali pada dirinya sendiri karena tidak terbangun dengan banyak sekali alarm yang ia letakkan di dekatnya.


“aneh, kenapa aku tidak terbangun. Tidak seperti waktu yang lalu, biasanya aku langsung terbangun hanya dengan satu alarm. Masa aku ngga bangun sih, padahal banyak aku setel alarmnya.” ucap Adry.


“Apa jangan-jangan...” ucap Adry sambil melirik kesamping tempat Ana tidur.


“haah dimana Ana.” ucap Adry terkejut tak melihat Ana tidur disampingnya.


“apakah Ana pindah kelantai lagi.” Ucap Adry menebak.


Adry menoleh kebawah kanan dan kiri, namun ia tidak menemukan Ana. Mencoba untuk bangkit mencari Ana kesemua ruangan, ia sama sekali tidak menemukan Ana. Akhirnya ia memerintahkan semua orang untuk mencari istrinya itu.


Belum sampai Adry mendekati wanita itu, tiba-tiba wanita itu berdiri dan membalikkan tubuhnya tepat mengarah kehadapan Adry.


“Ana...” ucap Adry lega tersenyum.


Adry kemudian berlari kearah Ana dan langsung memeluk Ana dengan sangat erat. Ana merasa terheran dan sedikit malu karena Adry memeluknya didepan umum.


“ternyata kamu ada disini, aku mencarimu. kemana-mana” ucap Adry.


“Mas... semua orang ngeliatin kita.” ucap Ana.


Adry kemudian melepaskan pelukannya.


“kenapa kamu bisa ada disini, bukannya kakimu sangat lemah untuk berjalan.” ucap Adry.


“justru itu Mas, aku jalan pagi mengelilingi sekitar apartemen ini supaya kakiku cepat pulihnya.” seru Ana.

__ADS_1


“mengelilingi apartemen ini ?” ucap Adry terkejut dan Ana menganggukkan kepalanya bahwa apa yang diucapkannya memang benar.


“ya ampun... dasar, kamu itu nggak boleh terlalu memaksakan diri.” ucap Adry sedikit marah pada istrinya.


kemudian Adry membopong istrinya untuk naik masuk kedalam apartemen mereka. Ana meronta-ronta meminta untuk menurunkannya. Adry menghiraukannya dan semua orang yang melihatnya bersorak-sorak untuk mereka berdua.


“mandilah, kita akan pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.” ucap Adry sambil menurunkan istrinya dikamar mandi.


Kini Ana baru mengerti mengapa suaminya itu memasang banyak sekali alarm, ternyata semua itu hanya untuknya. Ana lagi-lagi terharu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Ana kesulitan membuka kancing br4nya, tanpa sengaja tangan kanannya refleks untuk membantu tangan kiri membuka kancing itu. Otomatis Ana merasa kesakitan dan hal iti didengar oleh Adry.


“Ana... kamu kenapa. tolong jangan kunci pintu kamar mandinya.” seru Adry sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.


Ana pun sedikit membuka pintu kamar mandi itu, kemudian ia menampakkan kepalanya saja karena iya tidak menggenakan atasan. Ana hanya mengenakan celana yang belum iya buka dan handuk diatasnya.


“Mas aku tidak bisa membuka br4ku.” ucap Ana malu bersamaan dengan pipinya yang memerah karena malu untuk mengucapkannya.


“ya sudah sini biar Mas bantu bukain.” ucap Adry nyelonong mau masuk kedalam kamar mandi itu.


Ana menahannya dan menyuruhnya menutup matanya dan menyuruh Adry untuk memakai kain penutup mata saja.


“aku kan suamimu, nggak masalah dong kalau aku melihatmu tanpa busana sekalipun.” gumam Adry dalam hatinya yang kesal.


Adry pun mencari kain untuk menutupi matanya, setelah ia menemukannya Adry memakainya dan mulai melepaskan br4 yang dikenakan Ana.


Bersambung...


Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang setia.


Salam Hangat~


BY.BAE©


**Pemeran Ana



Pemeran Adry

__ADS_1



**


__ADS_2