
Om Hendra dan Tante Oliv kembali datang ke kediaman keluarga Dexter. Mereka berniat untuk memperjelas masalah ini dan sekaligus meminta maaf.
Om Arran pun sudah kembali pulang dari kantor. Semua sudah berkumpul dan hanya saja Adry yang masih saja belum menampakkan dirinya. Sedangkan Ana, dia tidak ikut dalam membicarakan masalah itu.
Tante Riska menyuruhnya untuk tidur dan istirahat saja di kamar Adry. Tante Riska pun mencari-cari keberadaan Adry. Ternyata Adry ada di taman samping rumahnya, Adry sedang memberi makan ikan ****** kesayangannya.
“Nak, ayo kita ke ruang tamu. Om dan Tantemu sudah datang menunggumu untuk membahas masalah ini”. ucap Tante Riska.
Adry pun bergegas keruang tamu untuk melihat Om dan Tantenya. Adry meminta maaf pada mereka atas perbuatan yang menyinggung mereka pada saat ia mabuk tidak sadarkan diri.
Om hendra sudah memaafkan Adry sebelum ia memintanya. Om Hendra malah balik meminta maaf sambil menanggis dengan atas apa yang tlah dilakukan putri terhadapnya.
“Om ngga perlu minta maaf Om, Karna ini semua bukan salah Om dan Tante begitu juga dengan Rita, ini juga bukan kesalahannya”. Ucap Adry yang tidak tahu cerita sebenarnya tentang Ana-lah yang mengorbankan dirinya untuk reputasi keluarga Kusumo dan Dexter.
Adry berpikir kalau Ana lah yang harus bertanggung jawab atas semua masalah ini karna Ana lah yang menyebabkan Rita kabur meninggalkannya. Adry sama sekali tidak tahu ceritanya kalau Rita memiliki kekasih dan Rita kabur bersama kekasihnya tepat di hari pernikahan mereka.
“Lalu bagaimana dengan Ana”. Tanya Tante Oliv.
“Dia akan tetap tinggal di sini bersama kami”. Jawab Tante Riska ibunya Adry.
“Maa...”. lirih Adry.
“Pernikahan ini tidak sah ma. Lalu untuk apa dia tinggal di sini”. ucap Adry melerai lagi.
“oke kalau begitu hari ini juga mama minta kamu menikahi Ana kembali”. Seru Tante Riska.
Om Arran hanya mengikuti cara Tante Riska yang mungkin itulah yang terbaik.
“Adry... kamu dengar dan lihat sendirikan kalau Ana itu tidak memiliki siapa-siapa lagi”. Ucap ibunya dengan lembut menenagkan.
“Tapi dia masih mempunyai seorang ibu Maa...”. jawab Adry.
“iya dia punya... tapi ibunya sudah tidak menganggapnya lagi karna kita. Dengar Nak, Ana sudah banyak berkorban untuk keluarga kita. Apalah salahnya jika kamu menikahi dia dan membahagiakannya". seru ibunya dengan nada tegas.
__ADS_1
Adry tidak percaya dengan semua ucapan ibunya. Ibunya lebih mementingkan perasaan Ana dibandingkan dengan perasaannya. Karna Adry sangat menyayangi ibunya, ia pun Akhirnya menyetujui permintaan ibunya.
Om Hendra dan Tante Oliv tidak bisa masuk dalam pembicaraan itu, mereka hanya mengikuti alur pembicaraan Adry dan Tante Riska.
Mereka sebenarnya sangat bersedih dengan pengkhiantan yang dilakukan anaknya yang tidak mau menikahi lelaki ideal seperti Adry.
Tante Riska membangunkan Ana untuk bersiap-siap pergi ke penghulu.
Ana sangat terheran melihat tante Riska yang menyuruhnya memakai baju pengantin.
“Tante... kenapa tante menyuruh Ana memakai baju kebaya pengantin ini tante”. Tanya Ana heran.
“Ana hari ini kamu akan menikah ulang dengan Adry, karna yang kemarin itu tidaklah sah”. Jelas tante Riska.
“Tapi tante... Adry..”. seru Ana yang melerai di tahan oleh tante Ana untuk melanjutkan kata-katanya.
“Sayang... percaya sama tante.. Adry akan membuatmu bahagia. Dan tante akan selalu ada untukmu”. Jelas tante Riska meyakinkan Ana.
****
Hari ini Adry dan Ana kembali menghadap penghulu untuk menikah. Adry pun mengucap ijab qobul. Semuanya berjalan dengan lancar dan mereka berdua sudah sah.
Penghulu mempersilahkan mereka untuk bersalaman, Ana pun menyalam Adry. Wajah Adry terlihat tidak bahagia menikah dengan Ana. Adry tidak mencium kening Ana seperti yang ia lakukan pada waktu itu, ia mencium kening Ana dengan jangka yang cukup lama sehingga sampai ada yang menegurnya.
Mereka semua pun pulang ke rumah dengan perasaan lega, satu masalah terselesaikan sudah.
Di Ruang Makan
Malam harinya mereka makan bersama, Ana yang sungkan duduk di sebelah Adry pun lebih memilih untuk duduk di kursi yang lain. Ibu mertuanya pun menegurnya.
“Ana... kenapa kamu duduk di situ. Duduklah di samping suamimu”. Ucap Tante Riska.
Ana masih saja duduk berjauhan dari Adry.
__ADS_1
Tante Riska pun bertindak dengan menuntun Ana duduk di samping Adry. Ana merasa tidak nyaman dengan berada di samping Adry begitu juga dengan Adry, ia sangat risih berada di dekat Ana.
Adry pun mempercepat suapan makannya dan pergi langsung ke kamarnya. Sementara Ana membereskan piring dan hendak mencucinya. Namun hal itu di cegah oleh ibu mertuanya.
“eeitss Ana... sudah jangan lakukan itu. Biar tante dan Bik Asih yang akan membereskannya”. Ucap Tante Riska yang memang sering membantu Bik Asih melakukan pekerjaan itu.
“Sebaiknya kamu pergi saja ke kamarmu, suamimu pasti sudah menunggumu”. Ucap Tante Riska yang menggodanya dengan menyindir malam pertama.
“Tahukah tante bahwa itu tidak akan terjadi antara dia dan Adry. Secara mereka tidak saling mencintai dan mereka menikah pun itu karena keadaan. Hmmm bagaimana bisa tante melupakan hal itu”. Ucap Ana bergumam di dalam hatinya.
Ana pun pergi ke kamarnya. Ia mengetuk pintu kamarnya sendiri. Namun tidak ada jawaban iya pun memutuskan untuk masuk saja. Di dalam ia melihat Adry yang tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah majalah.
Adry hanya diam saja dan sedikit pun tidak berbicara dan sedikit pun ia tidak melihat ke arah Ana. Ana pun berjalan menuju ranjang mereka dan duduk di atas ranjang itu juga.
“Apa yang kau lakukan”. Tanya Adry melirik Ana yang terduduk di atas ranjangnya.
“Aku... Aku... hanya..”. ucap Ana terbatah-batah
“Hanya apa...”. tanya Adry.
“Jangan mentang-mentang kita sudah menikah dan kita sudah sah kau ingin tidur di sampingku”. Ucap Adry menegaskan.
Ana pun menjauhi ranjang Adry. Dia berpikir betapa bodoh dan lancangnya dia duduk di atas ranjang Adry.
“kau tidurlah di sofa dan kau bisa mengambil bantal dan selimutnya di dalam lemari”. Ucap Adry yang hanya fokus pada majalah yang dibacanya.
Ana pun bergegas mengambil bantal dan selimut itu di lemari yang di katakan Adry. Ana pun mencoba menutup matanya untuk tidur. Berkali-kali Ana mencoba untuk tidur tetapi tetap saja tidak bisa. Ana tidak terbiasa tidur di sofa.
Ana pun melihat ke arah Adry, dilihatnya Adry yang sudah tertidur sangat pulas. Ana pun berpindah tempat tidur di samping tempat tidur Adry. Ana pun akhirnya bisa tertidur dengan sangat leluasa.
***Bersambung . . .
B Y . B A E©***
__ADS_1