Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 50. Menghindar untuk sementara waktu


__ADS_3

Adry membuka kotak paket itu. Di dalam kotak itu berisi beragam macam kue buatan mertuanya. Adry membuat dua gelas teh untuknya dan juga untuk istrinya Ana. Ia mengambil beberapa kue itu untuk tambahan sarapan paginya.


Adry berjalan ke kamarnya dan meletakkan teh itu di meja sofa kamarnya. Ana belum keluar juga dari dalam kamar mandi. Entah apa yang dilakukan Ana dengan berlama-lama di kamar mandi.


Adry mendekati kamar mandi itu dan ingin mengetuk pintu memanggil istrinya. Namun hal itu diurungkannya dan ia memilih untuk menunggu saja di sofa sampai istrinya keluar.


Ana tak kunjung keluar juga setelah ia menunggunya.


“sebenarnya, apa yang sedang ia lakukan di dalam. kenapa lama sekali.” Adry bertanya-tanya dalam hatinya.


Adry bangkit dari tempat ia duduk dan berjalan menuju kamar mandi. Ia kemudian mengetuk pintu yang dikunci oleh Ana dari dalam.


Ceklek...


Terdengar suara pintu itu terbuka dan Ana pun berdiri di depan kamar mandi itu dengan mata yang sembab dan masih mengalirkan air mata. Adry terkejut melihat Ana yang begitu hebatnya menangis sampai-sampai matanya menjadi sembab seperti itu.


Ana pun keluar dan melangkahkan kakinya ke arah lemari untuk mengambil bajunya. Ana kemudian melangkah masuk kembali ke dalam kamar mandi itu. Adry menahan langkahnya dengan memegang tangannya.


“kenapa kamu menangis?” Tanya Adry.


“Mas, aku ingin masuk lagi ke kamar mandi untuk memakai bajuku.”


“pakai saja disini, apa salahnya.” Ucap Adry.


“Mas, tolong lepaskan tanganku.”


“oooh... sekarang aku tahu, kenapa kamu menangis. Karena aku dengan lancang membuka bajumu begitu, iya..?” ucap Adry berasumsi seperti itu.


“jawab aku... jangan diam saja?” bentak Adry.


Ana malah menangis mendengar suara suaminya yang membentaknya. Ana memang seorang wanita yang tak bisa mendengar suara seseorang meninggi atau bahkan membentak. Walaupun sebenarnya bukan ia yang di bentak, maka ia akan menangis meneteskan air mata.


“jawab pertanyaanku sekali lagi Natahsya. Apa kau menangis karena aku membuka bajumu tanpa meminta izin padamu.” Tanya Adry dengan nada membentak namun Ana masih tak berkata sepatah kata pun.


“Apa salahnya... apa salahnya Ana jika aku melihat tubuhmu. Tak salahkan, Aku ini adalah suamimu.” Ucap Adry seperti itu membuat Ana terkejut menatapnya.


“Kau mau aku membuktikannya? Apa kau ingin aku membuktikannya seperti yang waktu itu penah kau buktikan di depan polisi itu.” Tanya Adry.

__ADS_1


Adry menunggu jawaban istrinya, Namun Ana masih saja diam sambil menangis tersedu-sedu. Adry lalu menarik tangan Ana dan menghempaskan nya ke atas ranjang dengan sangat kasar. Ia lupa akan tangan istrinya yang masih sakit.


“Baiklah, akan ku buktikan.” ucap Adry lalu mendekati Ana.


“Mas... apa maksudmu? aaa.. aku hanya...”


“hanya apa hemmm.” Adry mendapatkan bibir Ana dan lalu menciuminya.


“Mas...”


“Aku ini suami mu, bukankah kau juga menginginkan hal ini.” ucap Adry lalu mulai turun ke bagian leher Ana.


Adry sama sekali tak mendengar ucapan Ana, ia telah dikuasai oleh nafsu yang tak tahan olehnya. Sedangkan Ana, ia merasa khawatir jika hal itu akan terjadi. Ia merasa belum siap sepenuh hati untuk melakukannya.


“Mas...”


“aaauuww...”


Adry memberhentikan apa yang sedang ia lakukan ketika ia tersadar mendengar suara istrinya merintih kesakitan.


“ada apa? aku sama sekali tidak melakukan ke intinya. mengapa kau merintih?” tanya Adry.


“owh maaf... maafkan aku,” ujar Adry lalu melepaskan tangan istrinya yang ia tahan di atas kepala istrinya.


“mmm aku mau mandi dulu.” ucap Adry tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan dan lalu pergi ke kamar mandi.


“aah... bodohnya aku melupakan tangannya yang sakit.” gumam Adry dalam hati sambil berjalan menuju kamar mandi.


Ana berpikir keras dengan apa yang sedang terjadi antara dirinya dengan suaminya. Ia tidak bisa membayangkan jika setelah suaminya selesai mandi, suaminya akan melakukan aksinya untuk meminta haknya.


Akhirnya Ana memutuskan untuk menulis surat untuk suaminya. Ana meletakkan surat yang ditulisnya di dekat teh yang dibuat oleh suaminya dan lalu ia mengambil sebuah tas mengemasi bajunya untuk pergi ke rumah orang tuanya.


“maafkan aku Mas... aku belum siap.” ucap Ana lalu pergi meninggalkan apartemen.


Beberapa menit kemudian, Adry keluar dari kamar mandi. Ia tidak menemukan keberadaan istrinya di kamar itu. Adry lalu mencoba mencari istrinya di ruang tamu namun tetap saja, istrinya tidak ada di sana.


Adry lalu kembali ke kamarnya, ia akhirnya menemukan dan melihat secarik kertas yang ditinggalkan oleh istrinya untuknya. secarik kertas itu berisi:

__ADS_1


“Mas, maafkan aku. Aku ingin menginap di rumah mama untuk sementara waktu. Aku akan beralasan pada Mama kalau Mas ada pekerjaan di luar kota. Jadi jika sewaktu-waktu mama menelpon dan bertanya pada Mas, tolong katakan bahwa Mas memang benar-benar pergi keluar kota.” tulis Ana dalam sebuah kertas.


***


“kenapa harus pergi, apa ia takut jika aku melakukan hal itu? aah itu tidak mungkin, lalu apa?” ucap Adry bertanya-tanya dalam hatinya.


Adry sedikit kecewa dengan kepergian Ana yang pergi meninggalkannya hanya dengan meninggalkan secarik kertas tanpa berbicara padanya. Namun Adry juga tak mengerti dengan keadaan Ana yang tangannya masih sakit. Ana juga merasa sedikit takut untuk melakukan hal itu.


Ingin ia menyusul istrinya kerumah mertuanya, namun hal itu tak bisa ia lakukan. Istrinya telah beralasan pada mertuanya dengan mengatakan bahwa ia pergi keluar kota.


***


Di rumah Ana


Kedatangan Ana membuat ibunya terheran, apalagi Ana datang dengan membawa tas yang berisi baju.


“Ana...”


“Mah...”


“sayang kenapa kamu kesini, mana suamimu?” tanya ibunya Ana.


“Mah... Mas Adry ada pekerjaan di luar kota. Ana sendiri Mah di apartemen, jadi Mas Adry menyuruh Ana untuk tinggal beberapa hari disini mah.” ucap Ana mencoba untuk menutupi.


“ooh seperti itu. Tadinya mama mengira kalian sedang bertengkar. ucap ibunya Ana.


“nggak kok mah, hubungan kami baik-baik saja.” ucap Ana sambil memeluk ibunya.


Ana lalu pamit pada ibunya untuk pergi ke kamarnya. Ketika Ana masuk ke kamarnya, ia mencium wangi parfum suaminya. Ia merasa terheran mengapa wangi parfum suaminya di sini.


“Apa Mas adry ada di sini? aagh tidak mungkin. halusinasi apa ini, mana mungkin Mas Adry ada di sini. tapi mengapa wangi parfum Mas Adry seakan nyata dia ada di sini.” gumam Ana dalam hatinya bertanya pada dirinya sendiri.


“apa Mas adry pernah menginap di sini? tapi itu tidak mungkin. ingin bertanya pada Mama, takutnya Mama malah mencurigaiku. Aah sudahlah.”


Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang baik.


Salam Hangat~

__ADS_1


BY.BAE©


__ADS_2