
Pintu kamar Rita terbuka sedikit. Sebelum Ana masuk dan mengetuk pintu, Ana mendengar seseorang menelpon Rita, ternyata yang menelpon itu adalah ibu Rita sendiri. Ana belum mengetuk pintu itu. Ana berpikir ia akan mengetuk dan masuk setelah Rita selesai mengobrol dengan ibunya Rita saja.
“Nak, apa kamu jatuh sakit sekarang sayang? Mengapa kamu tidak memberitahu Mama kalau kamu tinggal di rumah Tante kamu dan bahkan kamu menjadi menantu di rumah itu, hah? Untung saja Tante alias yang sekarang adalah mertuamu memberitahukan Mama!” seru Tante Oliv dan bertanya pada Anaknya Rita alasannya tak memberitahu kabarnya.
Ana yang mendengar samar-samar ucapan Tante Oliv sangat terkejut. Awalnya Ana terheran dengan ucapan Tante Oliv. Namun Ana pun menyadari bahwa selama ini sahabatnya Rita berbohong padanya. Ana benar-benar tak menyangka dengan Rita yang berbohong padanya.
Ana yang selalu mendukungnya dan membantunya supaya Adry menerimanya sebagai istri sahnya. Ana bahkan merelakan dirinya dimadu hanya untuk membantu Rita dapat memperbaiki hubungannya dengan orang tuanya.
Setelah Rita selesai mengobrol dengan ibunya Rita, Ana pun memanggil Rita untuk mempersilahkannya masuk. Rita pun tentunya memperbolehkannya untuk masuk. Pintu yang sedikit terbuka, mempermudah Ana untuk masuk. Secara kedua tangan Ana sedang memegang nampan berisi sarapan untuk Rita. Ana mencoba untuk bersikap tak mendengar apa yang telah ia dengar barusan.
Rita duduk bersandar di ranjang tempat tidurnya. Rita tersenyum manis akan kehadiran Ana. Apa yang diinginkan oleh Rita sesuai dengan apa yang ia harapkan.
“Rita, aku membawakan sarapan untukmu.”
“Ana, mengapa kau yang membawakan sarapannya?” tanya Rita.
“Aahh iya... Mama bilang kamu tidak enak badan. Jadi aku yang meminta untuk mengantarkan sarapan untukmu dan ingin melihat keadaanmu juga.” Balas Ana tersenyum.
“Jadi ayo dimakan dan habiskan sarapanmu,” ujar Ana lagi.
Rita mengangguk akan menyantap sarapan itu. Namun sebelum menyantapnya, Rita hendak ke kamar mandi sebentar. Ana pun tentunya mempersilahkannya. Rita turun dari ranjangnya, baru beberapa langkah saja Rita terjatuh merintih.
“Aaaw sakit sekali...”
“kamu kenapa Rita,” ucap Ana menyusul Rita yang terjatuh.
“Aaaw perih sekali rasanya...” ucap Rita.
Ana bergegas membantu Rita untuk berdiri pergi ke kamar mandi. Setelah membantu Rita masuk ke kamar mandi, Ana juga menuntun Rita untuk kembali ke ranjang tempat tidurnya. Ana menyuruhnya untuk sarapan dan setelah itu ia juga menyuruh Rita untuk beristirahat. Ana lalu berpamit pada Rita beralasan untuk membantu ibu mertuanya. Rita pun menganggukkan kepalanya.
“Aku sangat tahu dirimu Ana, pasti sebenarnya kau cemburu dan hendak menagis bukan, itu sebabnya kau pamit pergi dari sini. Aku tebak, pasti kau akan ke kamarmu dan menangis bersedih melihatku menanggung rasa sakit yang dilakukan Mas Adry.”
“Padahal Mas Adry belum melakukannya padaku karena mu. Uuuhhhh aku sangat kesal sekali padamu Ana, tapi tidak apa-apa aku merasa puas melihatmu cemburu. hahaha,” ucap Rita tertawa licik.
__ADS_1
***
Ana berlari menuju kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya itu. Ana menagis sejadi-jadinya karena penghianatan sahabatnya sendiri padanya. Ana sangat menyayanginya dan merelakan apa saja untuk sahabatnya itu. Namun hatinya benar-benar sakit atas apa yang telah dilakukan sahabatnya itu padanya. Ana merasa terlalu bodoh selalu mengiyakan permintaan Rita.
“Mas... Apa yang kamu katakan memang benar Mas. Aku sudah menjadi korbannya untuk kedua kalinya. hiks hiks betapa bodohnya aku,” lirih Ana sedih.
Ana benar-benar sangat kecewa dengan sikap licik Rita padanya. Kini Ana merasa bahwa Rita sahabatnya bukanlah Rita yang dulu. Untuk kedepannya Ana akan lebih mempertimbangkan apa yang ingin Rita inginkan darinya.
***
Seminggu berlalu, lagi-lagi Rita berpura-pura tak enak badan untuk mempermainkan Ana. Rita membuat wajahnya tampak pucat dan tak berdaya untuk lebih meyakinkan bahwa ia memang sedang sakit. Kali ini, entah rencana apa yang akan dimainkan oleh Rita untuk membuat Ana sakit. Ana pun menghampirinya, melihat keadaannya.
“Rita, apa yang saat ini kau rasakan. Wajahmu terlihat sangat pucat sekali. Ayo kita ke dokter untuk memeriksa kondisimu,” ajak Ana.
“Ah tidak usah Ana, aku hanya merasa sedikit lelah saja,” jawab Rita.
“Tapi wajahmu terlihat sangat pucat sekali. Ayolah Rita, kita pergi ke rumah sakit. Aku khawatir sekali melihatmu seperti ini,” paksa Ana.
“Sudah kuduga, Ana akan merasa khawatir dengan melihat keadaanku seperti ini. hahaha,” ucap Rita dalam hatinya.
“Ana, ada yang hendak aku bicarakan padamu,” ucap Rita.
“Apa itu?” lirih Ana kemudian duduk di samping Rita berbaring.
“Ana maafkan aku, bolehkah aku meminta sesuatu padamu.”
“katakan langsung dengan jelas Rita, jangan berbelit-belit.”
“Baiklah, Ana... Aku ingin kau dan Mas Adry segera bercerai.”
“Apa maksudmu Rita? Apa maksudmu memintaku untuk menceraikan Mas Adry.” ucap Ana sangat terkejut.
“Ana, sepertinya aku hamil anaknya Mas Adry. Jadi, aku tak ingin jika Mas Adry tak adil mengurus kehamilanku karena bersama denganmu. Itu sebabnya aku meminta kau menceraikan Mas Adry,” ucap Rita dengan sejuta keegoisannya.
__ADS_1
“Benarkah kau sudah hamil? Secepat itukah? baiklah kalau begitu, anggap saja kau memang sedang hamil saat ini. Tapi apakah kau tak memikirkan perasaanku hanya karena keinginanmu yang egois itu? Pertama, kau memintaku untuk memaksa Mas Adry menerimamu, aku mengabulkan permintaanmu dan aku berhasil membujuk Mas Adry menerimamu. Kedua, kau memintaku untuk membantumu mendapatkan cinta Mas Adry dan mengandung anaknya terlebih dahulu daripada aku. Dengan polos dan bodohnya aku menuruti keegoisanmu itu kembali. Dan sekarang, sekarang kau ingin aku menceraikan Mas Adry setelah kau mendapatkan semuanya sebelum aku mendapatkannya. Dengan alasan murahanmu yang tak mau berbagi denganku. Apakah kau tak pernah berfikir selama ini aku mengikhlaskan Mas Adry denganmu.” Ucap Ana tak bisa lagi memendam semuanya dan dengan sekejap semuanya keluar terucap.
“Ana, apa yang kau katakan. Aku sampai tak percaya dengan apa yang kau ucapkan barusan. Kau sangat menyinggung perasaanku,” ucap Rita kaget dengan apa yang telah diucap Ana.
“Kau hanya tersinggung, tetapi aku yang selalu merasakan sakitnya. Dan yah, aku merasa sangat sakit atas penghianatan mu padaku,” ucap Ana.
“Penghinatan apa maksudmu Ana, aku tak mengerti apa maksudmu,” tanya Rita penasaran.
“Kau berkhianat padaku dengan membohongiku. Aku tahu semua kebenarannya Rita. Kau berbohong padaku tentang orang tuamu yang memintamu untuk cepat-cepat memiliki anak dari suamiku, padahal orang tuamu tidak pernah mengatakan hal itu dan bahkan orang tuamu sama sekali tak mengetahui keberadaan mu yang sebenarnya tinggal disini.”
“Dari mana kau mengetahui semua itu Ana?” tanya Rita dengan muka yang pucat berubah menjadi merah memendam kegeraman pada Ana.
“Aku mendengar pembicaraanmu dengan orang tuamu yang pertama kalinya mendengar kabarmu yang tinggal disini. Lupakan saja semua ini. Tapi apakah kau tak mengingat kesalahan yang pernah kau lakukan? Mengapa kau mengulanginya lagi Rita? Dan kau menempatkan aku lagi sebagai korban mu untuk kedua kalinya. Kau memang benar-benar egois Rita.”
“Tutup mulutmu Ana.”
“Waktu itu kau menolak Mas Adry dan mati-matian untuk tetap memilih Doni. Oh ya Doni, kita sampai melupakan Doni dalam kisah dramatis kita ini? Ngomong-ngomong, mengapa kau meninggalkan kekasih yang sangat kau cintai itu? Bukankah kau cinta mati padanya? Ah ya, Kau bilang dia memperkosamu? Aku jadi tak mempercayai dengan ucapanmu semenjak kau berkhianat membohongiku. Apa jangan-jangan, kau mempunyai misi datang ke rumah ini. Apa yang dikatakan oleh suamiku memang benar, kau mempunyai misi untuk memisahkanku dari suamiku. Dan misimu itu hampir saja kau dapatkan jika aku masih polos menuruti keinginan egoismu itu,” teriak Ana.
“Aku bilang tutup mulutmu Ana,” ucap Rita melayangkan tangannya untuk menampar Ana. Namun Ana dapat menangkap tangannya dan lalu mengawaskannya.
Kali ini Ana benar-benar tegas tak lemah menangis. Ana yang mendengar ponsel Rita sedari tadi berdering ditengah perdebatan mereka Ana pun mengambilnya. Ana melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dan ribuan pesan yang masuk. Ana pun membuka pesan itu. Ana melihat semua pesan yang masuk itu adalah dari Doni yang setiap waktu mengirimkan pesan permintaan maaf atas kesalahannya pada Rita. Setiap pesan yang dikirim oleh Doni menggunakan kata yang berbeda. Sampai disini Doni terlihat sangat menyesal akan apa yang telah ia lakukan. Tiba-tiba Rita merebut ponselnya dari Ana.
“Rita, mengapa kamu tak pernah membaca dan membalas pesan dari Doni. Sepertinya ia sangat menyesal dengan perlakuannya.”
“Itu bukan urusanmu.” bentak Rita.
“Tapi cobalah baca isi pesannya, Doni memang benar-benar menyesal dan Doni sangat ingin kembali padamu,” bujuk Ana.
“Untuk urusan itu kau jangan ikut campur, enyahlah dari hadapanku,” ucap Rita melayangkan tangannya kembali untuk menampar Ana.
Bersambung...
Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe
__ADS_1
Salam Hangat~`
BY.BAE©