Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 81


__ADS_3

Tidak ada jalan lain, Adry langsung mendobrak pintu kamar mandi itu. Pintu itu pun rusak jadinya dan Adry pun berhasil masuk kedalam kamar mandi itu. Adry sangat terkejut melihat darah yang tercecer dilantai kamar mandi itu. Adry melihat istrinya sangat pucat sekali, Ana terkapar bersimbah darah yang mengalir di kakinya. Adry pun menjerit histeris melihat istrinya. Adry langsung memboyong istrinya ke rumah sakit.


“Sayang... Apa yang terjadi padamu? Apa kamu berusaha untuk menggugurkan anak yang sedang kau kandung,” ucap Adry sambil memangku istrinya.


Ana yang setengah sadar di larikan oleh suaminya. Ana menampar pipi Adry, Ana merasa hatinya sangat sakit dengan ucapan Adry yang seperti itu.


“Dokter, dokter... Tolong istri saya dokter, istri saya keguguran.” Teriak Adry setelah sampai di rumah sakit.


Dokter Sri kebetulan lewat dan mendengar Adry berteriak, Dokter Sri lah yang akhirnya menangani Ana. Padahal sebentar lagi Dokter Sri ada janji konsultasi dengan pasien yang lainnya. Namun Dokter Sri lebih memilih untuk mengurus Ana terlebih dahulu.


Dokter Sri pun memeriksa keadaan Ana. Tak lama dokter itu memeriksa Ana, dokter itu pun keluar dari ruang pemeriksaan Ana.


“Dokter, bagaimana dengan keadaan istri saya dokter.”


“Sebentar Nak Adry, nanti temui saya di ruangan saya setelah saya selesai dengan pasien saya yang lain, mungkin sekitar setengah jam. Ada yang hendak saya bicarakan dengan serius dengan Nak Adry.”


“Baiklah Dok. Tapi, apakah saya boleh menemui istri saya Dok?” Tanya Adry.


“Tentu saja boleh, saya menyuntikkannya obat bius untuk menghilangkan nyeri pada perutnya. Jadi, saat ini istri anda sedang tak sadarkan diri.”


“Baik Dok terima kasih banyak.”


“Sama-sama, saya permisi dulu kalau begitu.”


“Iya Dok, silahkan.” Ucap Adry, lalu ia pun masuk menemui istrinya. Adry duduk di samping istrinya yang tertidur pulas karena pengaruh obat bius itu. Adry menggenggam erat tangan istrinya dan lalu menangis memandangi istrinya.


“Sayang, mengapa kamu melakukan hal nekat seperti ini. Ini sangat membahayakan nyawa kamu sayang.” Ucap Adry menc!umi punggung tangan istrinya dengan lembut.


“Ini semua salah Mas, tak menahan kepergian mu, seharusnya Mas menerima anak yang sedang kau kandung. Mas sangat menyayangimu sayang, Mas nggak mau kehilangan kamu.” Ucap Adry dengan penuh penyesalan.


Tak terasa waktu sudah berlalu tiga puluh menit selama Adry duduk menemani istrinya. Adry selalu saja mengatakan penyesalannya pada istrinya selama tiga puluh menit yang telah berlalu itu.


Seorang suster pun masuk memanggil Adry untuk menemui Dokter Sri. Adry pun teringat dengan ucapan dokter Sri yang ingin membicarakan hal yang penting. Adry pun pergi menemui dokter Sri, tapi sebelum ia pergi Adry mencium kening istrinya terlebih dahulu, barulah ia pergi.


“Dokter hal penting apa yang ingin dokter bicarakan pada saya. Apa istri saya baik-baik saja Dok?” Tanya Adry ketika ia telah masuk dan di persilahkan duduk oleh dokter Sri.


“Istri anda baik-baik saja, dan hal penting yang ingin saya bicarakan adalah tentang kasus yang sudah terjadi sebelumnya.”


“Sebelumnya yang mana Dok?” tanya Adry yang tak mengingat.


“Oh iya, waktu itu anda pergi entah kemana meninggalkan istri anda. Tetapi ada keluarga Anda yang menunggu istri anda dan saya mendiskusikan hal ini pada keluarga anda itu. Apa dia tidak memberitahukan mu, atau memang anda melupakannya?”


“Saya benar- benar tidak mengetahuinya Dok. Dan, siapa keluarga saya yang mengurus... istri... saya...” Ucap Adry terbata-bata ketika mengingat Rita.


“Apa dia seorang wanita yang seumuran dengan istri saya Dok?” Tanya Adry untuk lebih meyakinkan bahwa yang dimaksud dokter Sri adalah Rita.


“Ya, saya kira begitu.”


“Sudah kuduga dia lagi.” Gumam Adry dalam hatinya.


“Lalu apa sebenarnya yang dokter diskusikan dengan wanita itu Dok.”

__ADS_1


“Saya sudah mengingatkan dia untuk lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh istri anda, supaya istri Anda tidak keracunan.”


“Apa! istri saya keracunan Dok?” ucap Adry terbelalak kaget.


“Yah benar. Akibatnya berefek pada darah menstruasi istri anda yang membuat ia sampai kehabisan darah. Tapi tenang, saya sudah menambahkan istri Anda darah yang cocok.”


“Saya tak mengerti maksud dokter membahas tentang darah menstruasi istri saya. Bukannya istri saya sedang mengandung Dok, dan bagaimana dengan keadaan kandungan istri saya Dok? Apa kandungan istri saya keguguran Dok.” Tanya Adry.


“Istri anda tidak hamil, darah yang mengalir itu bukan darah keguguran melainkan darah menstruasi yang tidak normal karena efek dari racun itu.”


“Istri saya tidak hamil Dok. Benarkah begitu Dok, tapi istri saya selalu muntah-muntah di pagi hari Dok layaknya seperti gejala orang yang sedang hamil?”


“Itu mungkin reaksi dari racun yang dikonsumsi oleh istri anda yang akan membuat dia merasa pusing, mual- mual hingga membuatnya muntah- muntah.”


Adry terdiam lemas mendengar pernyataan Dokter. Adry menyadari, dan lagi-lagi ia menyakiti istrinya karena tak mempercayainya. Adry pun hendak bangkit menyusul istrinya, namun dokter Sri menahannya karena masih ada hal yang belum ia sampaikan.


“Anda harus lebih menjaga makanan yang dikonsumsi oleh istri anda. Ingat, jika terlalu sering ia mengonsumsi racun itu, maka istri anda mungkin saja ia mandul tak bisa memiliki anak. Sebelum hal itu terjadi, sebaiknya lebih memperhatikan makanan yang akan dikonsumsi oleh istri anda.”


“Baik Dok saya akan lebih berhati-hati menjaga istri saya,” ucap Adry.


“Karena aku tahu, ini sudah jelas perbuatan iblis itu,” gumam Adry yang akan menghakimi Rita nantinya.


Adry pun berpamit untuk pergi menjaga istrinya. Adry merasa bahagia sekaligus merasa bersalah pada istrinya yang ia tak mempercayainya. Adry berlari menuju ruang istrinya berbaring, Adry sangat tidak sabar untuk memeluk erat istrinya dan meminta maaf padanya.


Sampai di ruangan itu, Adry tak menemukan sosok istrinya yang berbaring ditempat itu. Adry menanyakan keberadaan istrinya pada seorang suster yang melintas. Suster itupun tak tau kemana perginya istrinya Adry.


Ana memang pergi disela-sela Adry tengah berbicara dengan dokter Sri. Ana melawan obat bius itu untuk pergi menghindari Adry yang tak mempercayainya. Ana keluar dari rumah sakit itu diam-diam dan berusaha untuk menguatkan dirinya yang berjalan seperti orang normal supaya para perawat tak mencurigainya.


“Sayang, kemana kamu pergi?” Lirih Adry sedih ketika ia sudah mencari Ana di rumah sakit itu. Adry juga bahkan tak menemukan Ana di rumah mertuanya karena Ana lebih dahulu sampai mengambil beberapa baju dan uangnya setelah itu ia pergi.


Adry lalu memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Sewaktu Adry hendak masuk, seseorang datang menghampiri Adry. Orang itu lalu memberikan sebuah surat untuknya. Adry pun menerimanya dan membuka surat itu. Didalam surat itu, juga terselipkan sebuah flashdisk. Adry pun membaca surat itu.


Dari Doni:


“Maaf karena aku pernah mengganggu mu dan juga istrimu. Aku mengirimkan mu sebuah flashdisk berisikan video CCTV pada saat aku menculik istrimu. Aku memang sengaja pada waktu itu memasang CCTV itu dikamar itu, karena niatku sebelumnya ingin memperlihatkan kepadamu bahwa aku tengah menikmati istrimu. Tapi itu niatku sebelumnya, namun pada saat aku mengetahui bahwa Ana adalah istrimu. Aku mengurungkan niatku itu.


Setelah kau melihat video CCTV ini, kau tak akan pernah meragukan ku dan kau akan mempercayaiku karena aku memang tidak melakukan apapun terhadap istrimu. Di dalam flashdisk itu, aku juga memasukkan video CCTV sewaktu aku dan Ana dijebak oleh Rita. Tapi ujung-ujungnya aku dimarahi istrimu habis-habisan. Ah sudahlah, mengapa kau membaca surat ku ini sampai habis. Cepat bukalah file video CCTV itu!!!”


“Ah Doni brengs3k kau,” tukas Adry kesal lalu membuka video itu di laptopnya.


Adry pun melihat dengan jelas bagaimana Doni menjauhi istrinya dan memang benar Doni tak menyentuh istrinya. Adry juga membuka video CCTV di cafe pada saat Doni dan Ana bertemu. Foto yang ia lihat dengan video yang dia tonton itu, sangat bertentangan. Di video itu, tampak Ana sangat marah dan bahkan menghentakkan meja memarahi Doni, sedangkan yang di foto itu tampak mereka berdua sangat romantis dalam posisi yang tepat dalam pengambilan fotonya.


“Siapa yang harus bertanggung jawab atas kesalahpahaman yang selama ini ku konsumsi. Huh, siapa lagi kalau bukan wanita jahanam itu.” Ucap Adry murka lalu pergi menuju kamar Rita.


Adry masuk ke kamar Rita langsung untuk menghakiminya dan, Rita sedang tak ada dikamarnya. Adry hendak keluar, namun ia memutuskan untuk mengobrak-abrik kamar Rita untuk mencari suatu bukti kejahatan Rita.


Adry menemukan bubuk obat yang sering dicampurkan Rita ke dalam makanan yang dikonsumsi oleh istrinya. Adry juga menemukan HP Doni dikamar Rita. Adry semakin marah jadinya.


“Ternyata kau juga biangkerok pesan itu.”


Adry semakin murka mengetahui dengan jelas kelicikan Rita lagi. Adry mencari-cari Rita namun ia tak menemukannya di rumah itu. Hingga akhirnya Adry pun memutuskan untuk menghubungi Rita. Panggilan Adry langsung diangkat cepat oleh Rita.

__ADS_1


“Halo...” ucap Rita dengan rasa ragu-ragu.


“Kamu dimana.” Tanya Adry berpura-pura baik dan peduli pada Rita. Alhasil pun, membuat Rita kege’eran karena Rita merasa Adry tiba-tiba sepertinya mulai peduli padanya.


“Kenapa kamu diam saja, kamu dimana?” Tanya Adry sekali lagi, yang membuat Rita tersadar dari lamunannya.


“Aa aku ada di Mall X Mas, aku berbelanja kebutuhan...” ucap Rita tiba-tiba terpotong.


“Aku susul kamu yah.” Ucap Adry lembut membuat Rita melayang.


“Apa ini, Mas Adry ingin menyusulku.” Apakah aku sedang bermimpi? Ah tidak, ini memang nyata. Oh My God, betapa senangnya aku, akhirnya Mas Adry mulai perhatian padaku.” Ucap Rita melompat- lompat kegirangan. Sampai-sampai, orang yang melihatnya mengira dia sedang kerasukan setan.


“Apa kabar dengan si Ana. Haruskah aku mengabarkan kemenangan ku ini padanya? Tentunya harus dong, aku akan menyuruhnya untuk datang menemui ku disini. Dan dia nantinya akan melihatku dengan Mas Adry terlihat bermesraan berpelukan dan Ana akan sakit melihatku bersama Mas Adry, Hahaha.” Gumam Rita tersenyum licik sambil mengambil Handphone-nya untuk mengirimi Ana pesan.


✉️ Rita:


“Ana, aku ingin bertemu denganmu untuk membahas hal yang penting, datanglah ke Mall X.”


✉️ Ana:


“Hal penting apa yang hendak kau bahas, aku sudah sangat letih dengan semua caramu.”


✉️ Rita:


“Datanglah dulu kesini, buruan. Tolong kali ini saja kau jangan menolakku.”


Ana dengan berat hati menuruti permintaan Rita karena rasa penasarannya, ia pun pergi menyusul Rita. Sebelum Ana sampai, Adry lebih dahulu sampai menemui Rita. Adry pun mengajak Rita untuk berbicara di tempat yang lebih sunyi. Rita menahan Adry mengulur waktu untuk menunggu kedatangan Ana, supaya Rita bereaksi membuat Ana cemburu dan sakit hati.


Adry semakin muak dengan perlakuan Rita yang menahannya. Adry sangat membenci Rita yang terlihat seperti tak merasa berdosa dengan kesalahan yang selama ini Rita perbuat. Adry pun tak sabaran lagi menghakimi Rita, Adry pun langsung menarik tangan Rita dengan kasar.


“Mas, kamu kenapa?” Tanya Rita melembut.


“Cukup... aku sudah sangat muak dan aku sangat membencimu.” Ucap Adry sambil memberikan bukti tentang kejahatan Rita.


“Lihat ini, ini adalah semua bukti kejahatan mu selama ini. Kau benar-benar sangat licik, tak punya hati nurani. Kau juga sangat egois menyakiti sahabatmu yang selalu baik padamu. Aku muak dengan semua caramu yang tak hentinya mengganggu hubunganku dengan Ana.” Ungkap Adry dengan sangat murka.


“Dari mana Mas dapatkan semua ini?” Tanya Rita.


“Aku mengacak-acak kamarmu mencari bukti ini. Karena perbuatan kotor mu ini, kau membuatku tak mempercayai istriku.” lirih Adry.


“Renungkanlah sudah seberapa banyak kau menyakiti dan menyusahkan Ana karena keegoisanmu. Kau selalu saja menghalangi kebahagiaannya, padahal ia sudah memberikan segalanya padamu pada mulanya. Namun kau menyakitinya dan semuanya pun hancur untukmu. Cobalah kau renungkan perbuatan mu selama ini.” Ucap Adry lalu pergi meninggalkan Rita.


Ana pun akhirnya sampai juga di Mall itu. Adry dan Ana saling berpas-pasan, akan tetapi mereka tidak menyadari satu sama lain. Ana mencari-cari Rita di tempat yang Rita beritahu padanya, Namun di tempat itu Ana tak menemukan sosok Rita.


Bersambung...


...----------------...


Tinggalkan jejak dengan komen di bawah yah, Daadaaah 🤗


Salam Hangat~`

__ADS_1


BY.BAE©


__ADS_2