
Pintu terbuka, Ana dan ibu mertuanya melihat ke arah pintu itu. Ana sangat terkejut sekaligus senang dengan kehadiran ibunya. Ana mencoba untuk berjalan kearah ibunya, namun kakinya masih saja lemah dan Ana pun terjatuh lagi akibatnya.
“Anakku Ana.” teriak Tante Eva menangis melihat anaknya terjatuh.
mendekati Ana dan memeluknya dengan sangat erat dengan diselimuti rasa bersalah dan rasa penyesalan bercampur aduk dalam jiwa Tante Eva.
“Mah... kenapa Mama menangis.” tanya Ana.
“maafin Mama sayang, betapa bodohnya Mama tidak pernah mendengarkan penjelasan kamu. Akibatnya kamu menjadi menderita seperti ini.” ucap Tante Eva
Menangis sejadi-jadinya membuat wajah Tante Eva sedikit membengkak. Ana tersenyum menghibur ibunya dan menjelaskan semuanya, bahwa itu bukanlah kesalahan ibunya.
Tante Riska merasa tidak enak jika menjadi pengganggu obat rindu mereka, diam-diam Tante Riska menghilangkan diri dari kamar itu.
“sayang, dimana yang sakit.” tanya ibu Ana memegang tangan kiri Ana.
“aaww Mah, sakit.” rintih Ana.
“tangan kiri kamu kenapa sayang, dimananya yang sakit.” tanya Ibu Ana dengan penuh perhatian.
“tangan Ana terkilir Mah. Mas Adry sudah menghubungi tukang pijatnya kok Mah. Jadi Mama nggak usah khawatir.” ucap Ana.
“kasihan sekali anak Mama, maafin Mama yah sayang. Selama ini Mama salah paham sama kamu.” ucap Ibu Ana sambil membelai rambut Ana.
***
“belum datang juga tukang pijatnya.” tanya Tante Riska pada anaknya Adry.
“Mama.. iya Mah, kabar si tukang urutnya sih... kejebak macet Mah.”
“terima kasih ya sayang, kamu sudah perhatian sekali dengan menantu Mama. Bersyukur sekali Mama mempunyai anak yang baik seperti kamu.” ucap Ibu Adry.
Hanya terdiam mendengar ucapan ibunya, Adry lalu balik bertanya ada ibuny. kenapa bisa ibunya tahu bahwa Ana kecelakaan. ibunya pin menjelaskannya bahwa ibunya mempunyai seorang mata-mata untuk memantau mereka.
“siapa Mah.” tanya Adry.
Tante Riska tidak menjawab pertanyaan anaknya itu, beruntung bel pintu berbunyi. Adry pun menghampiri pintu itu untuk membukanya. Kali ini ia benar-benar sangat yakin bahwa itu adalah si tukang pijat urut yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.
__ADS_1
Pintu pun dibuka dan memang benar itu adalah si tukang pijat urut. Adry melarang si tukang pijat urut itu untuk tidak berbasa-basi lagi, ia mempersilahkannya untuk langsung masuk mengobati istrinya.
Ibunya Adry mengikuti mereka masuk ke kamar. Ibunya Adry kemudian mengajak Tante Eva untuk keluar dan membiarkan Adry saja yang menemani Ana dalam masa pengobatan.
Mereka pun keluar dan duduk diruang tamu. Mereka berdua membahas tentang Adry dan Ana.
“maafkan saya Jeng, karena telah meragukan ucapan Ajeng tadi. saya memang seorang ibu yang bodoh yang tidak memberikan waktu untuk anak saya menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi. saya sangat egois terhadap anak saya” ucap Tante Eva menangis.
“sudahlah Jeng, jangan berlarut-larut menyalahkan diri Ajeng sendiri. Ini semua bukanlah kesalahan Ajeng. Lupakanlah masalah itu Jeng, dan janganlah mengingat-ingat itu lagi. Lebih baik kita memikirkan kebahagiaan Adry dan Ana untuk kedepannya.” ucap Tante Riska menghibur.
“Iya Jeng... benar.”
“saya merasa sangat bersyukur sekali memiliki besan yang baik dan sayang sekali terhadap anak saya. Terima kasih banyak Jeng.” ucap Tante Eva.
“iya Jeng, sama-sama. Saya juga merasa sangat bersyukur sekali mendapatkan seorang menantu yang sangat baik dan cantik seperti Ana.” ucap Tante Riska tersenyum.
***
Di kamar, ibu tukang urut itu mencoba untuk memulai pengobatan tangan Ana. Namun sebelumnya ia bertanya pada mereka mengapa tangannya bisa terkilir. Adry pun menjelaskan semuanya secara rinci.
“kamu tahan yah, sakitnya cuma sebentar kok. setelah ini kamu akan merasa lebih baik.’’ Ucap Adry.
Ana hanya mendengar dan tidak merespon Adry sedikit pun, karena ia terfokus dengan rasa sakit yang luar biasa yang ia rasakan saat ini.
“Mas... ini sakit banget Mas.” lirih Ana.
“aaaa....” teriak Ana menggelegar sangat kuat.
Ibunya dan ibu mertua Ana yang sedang mengobrol diluar terkejut mendengar teriakan Ana yang sangat kuat. Mereka berdua pun bergegas masuk melihat keadaan Ana untuk mengetahui apa yang terjadi.
Tante Riska dan Tante Eva masuk dan hanya berdiri di depan pintu saja. Betapa senangnya Tante Riska menyaksikan anaknya Adry memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
“ternyata benar dengan apa yang diceritakan oleh Ana. Kali ini Adry memang sudah berupa. oooh... aku sangat bersyukur sekali melihat anakku yang telah berubah.” gumam Tante Riska dalam hati.
Tante Riska tanpa sengaja meneteskan air matanya dan hal itu dilihat oleh Tante Eva.
“Jeng... kenapa Jeng, kok Ajeng menangis?” tanya Tante Eva.
__ADS_1
“aaah tidak... saya hanya terbawa suasana melihat Ana yang berteriak kesakitan.” seru Tante Riska menutupi kegirangannya.
Adry mengelus-elus rambut Ana supaya ia tenang, namun tetap saja Ana berteriak kesakitan. Bahkan setelah si ibu tukang urut itu selesai mengobati tangan Ana, Ana masih saja berteriak-teriak.
“Ana... Ana... sudah selesai pemijatan kenapa kamu masih berteriak-teriak.” ucap Adry.
“Haah... sudah selesai Mas.” ucap Ana menatap wajah Adry.
“ya ampun Ana, mata kamu sembab dan wajahmu juga sangat merah sekali.” ucap Adry.
Tante Riska dan Tante Eva melangkah mendekati Ana.
“Ana memang seperti itu kalau ia menagis, bahkan nangis sedikit saja dia matanya akan cepat sekali sembabnya.” jelas Tante Eva.
Ibu tukang urut itu menyuruh Ana untuk menggerak-gerakkan tangan kirinya dan alhasil Ana merasa leluasa menggerakkannya tanpa ada rasa sakit.
Para ibunya Ana dan Adry sangat berterima kasih sekali pada ibu tukang pijat itu. Adry meminta ibu itu juga memeriksa tangan kanan Ana yang patah tulang. Si ibu itu memegang tangan Ana dan menjelaskan bawa tangan Ana akan segera pulih dan meminta Ana untuk tidak mengangkat yang berat-berat baik itu setelah ia sembuh nanti ataupun untuk saat ini.
Ibu tukang urut itu lalu izin pamit pulang, Adry pun mengantarkan kedepan. Adry sangat berterima kasih sekali pada ibu itu dan lalu memberikan ibu itu sejumlah uang yang cukup banyak sebagai tanda terima kasihnya.
Awalnya Ibu itu menolak, Adry lalu membujuknya untuk menerima uang itu.
“tolonglah buk, terima uang ini. Saya sangat berterima kasih sekali pada ibuk karena telah mengobati istri saya.’’ ucap Adry.
“Tapi... ini terlalu banyak untuk saya.” ucap si ibu tukang urut itu.
“uang ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesehatan istri saya buk.” ucap Adry.
Akhirnya ibu itu pun menerima uang itu dan berterima kasih juga pada Adry.
Bersambung...
Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang setia.
Salam Hangat~
BY.BAE©
__ADS_1