
Ana memberhentikan sepeda motor itu sejenak karena ia merasa sangat gugup sekaligus senang bisa mengendalikan sepeda motor itu.
“kenapa, kok berhenti?" tanya Adry.
“ia Mas sebentar.”
Ana pun melanjutkannya lagi dan sekarang Ana menginjak gigi empat dan Adry merasa tidak nyaman karena suara mesinnya seperti terlalu berat, Adry mengintruksikan Ana untuk menambah giginya.
Ana pun menambahkannya, hal itu membuat sepeda motor itu tidak berjalan karena belum masuk gigi.
“loh.. kok ngga mau jalan Mas.” ucap Ana tak tahu akan hal seperti itu.
Adry yang menyadari bahwa ia salah instruksi cepat-cepat menginstruksi Ana kembali untuk menambahkan giginya lagi.
Sedari tadi Ana menggas full gasnya karena sepeda motornya tidak mau berjalan. Alhasil ketika ia menuruti instruksi dari Adry untuk menambahkan giginya, masuk gigi satu dan posisi Ana menggas full gasnya.
Hal itu membuat sepeda motor itu melompat dan melaju dengan kecepatan yang sangat kencang sekali. Ana sangat terkejut ketakutan dan begitu dengan Adry. lagi-lagi Adry salah instruksi, seharusnya ia menyuruh Ana untuk mengurangi giginya bukannya malah menambahkannya ke gigi satu.
Adry mengambil alih sepeda motor itu dan mencoba untuk meng-remnya dan mengurangi giginya supaya tidak masuk gigi. syukurlah Adry bisa memberhentikan sepeda motor itu.
Adry pun turun, ia melihat mata Ana memerah meneteskan air mata dan wajah Ana tampak pucat ketakutan. Adry yang merasa bersalah pada Ana, memeluk Ana untuk mengurangi rasa takutnya.
Ana yang masih duduk di atas sepeda motor yang masih itu dengan posisi tangan yang masih memegang stang sepeda motor itu. Ana yang tidak sengaja menginjak gigi dan membuat sepeda motor itu masuk gigi satu. Hal itu membuat Ana terkejut dan secara tidak sengaja ia menancapkan gas karena terkejut.
Ana pun terlepas dari pelukan Adry karena sepeda motor itu membawanya melompat menabrak sebuah pohon.
Prraaakk..,..
Adry yang memeluk Ana sambil memejamkan matanya lalu membuka matanya karena mendengar suara yang sangat keras. Adry linglung karena tidak ada Ana didalam pelukannya.
__ADS_1
“Ana...” ucap Adry memandangi tangan yang memeluk Ana.
Adry melihat sekitarnya dan pandangannya berhenti ke arah Ana. Betapa sangat terkejutnya Adry melihat Ana sudah berbaring lemah tertimpa oleh sepeda motor itu.
Adry pun berlari kearah Ana sambil berteriak-teriak memanggil nama Ana. Ia kemudian langsung menganggkat sepeda motor yang menimpa tubuh Ana yang sangat lemah. Tak sengaja, Adry meneteskan air mata karena melihat kondisi Ana yang begitu teragis dipenuhi oleh luka.
Adry mencoba menyadarkan Ana yang sudah tidak sadarkan diri lagi dengan cara menepuk-nepuk pipi Ana dengan sangat lembut.
Ana tak kunjung sadar dan tanpa berpikir lagi Adry memapah tubuh Ana yang sangat lemah itu untu dibawa ke rumah sakit. Semua pegawai restorannya yang sedang bekerja menghampiri dan memandang Adry dengan pandangan terheran dengan apa yang telah terjadi dengan Ana dan dirinya.
“Apa yang telah terjadi pak.” Tanya salah satu pegawainya.
“cepat... tolong kamu cari taksi.” Seru Adry.
“baik pak.”
Pegawai itu pun mencari taksi untuk membawa Ana ke rumah sakit. Namun pegawai itu tidak mendapatkannya. Mungkin karena masih terlalu pagi, tetapi biasanya banyak sekali taksi yang lalu lalang hanya saja tidak untuk pagi ini.
Tak berapa lama Adry berjalan memapah tubuh Ana, Ia melihat sebuah angkot dari kejauhan dan ia pun melambai-lambaikan tangannya supaya angkot itu berhenti.
Sebenarnya tanpa harus melambaikan tangan seperti itu, biasanya sopir angkot itu pasti memberhentikan kendaraannya dan bertanya apakah orang itu ingin menaiki angkotnya atau tidak.
Adry pun menaiki angkot itu, pertama kalinya Adry menaiki angkot itu dengan banyak sekali penumpangnya. Sehingga ia pun harus memangku Ana istrinya, ia memangku Ana sambil memeluk tubuh Ana.
“Mas-mas... pacarnya kenapa Mas.” Tanya para penumpang ibu-ibu yang hendak pergi kepasar.
“dia bukan pacar saya buk, melainkan istri saya.” Ucap Adry.
“oooh... istrinya kenapa Mas.” tanya semua para penumpang ibu-ibu dan juga sopir angkot itu kompak ikut bertanya.
__ADS_1
“kecelakaan buk.” Jawab Adry dengan lembut.
“ya ampun kok bisa sih.” Celoteh para penumpang ibu-ibu itu lagi.
Adry pun menjelaskan semuanya tentang Ana yang belajar mengendarai sepeda motor. Mendengar penjelasan dari Adry, para ibu-ibu itu merasa kasihan dengan kejadian yang di alami oleh Ana.
Sampai-sampai, bahkan ada yang mengelus-elus rambut Ana dengan penuh kasih sayang. Semua orang merasa terkagum dengan melihat perlakuan Adry yang begitu sangat menyayangi Ana.
semua orang yang berada didalam angkot itu pun mendoakan semoga Ana tidak mengalami luka yang serius dan tidak lupa pula mendoakan Adry dan Ana supaya langgeng sampai kakek-nenek.
Salah satu penumpang angkot itu ada yang berstatus janda karena kekerasan dalam rumah tangga merasa iri pada Ana yang mendapatkan sosok seorang suami yang baik seperti Adry.
Akhirnya angkot itu sampai dirumah sakit, Adry pun memberikan bayaran lebih pada angkot itu dan mengucapkan terima kasih karena telah mendoakan hubungan mereka supaya langgeng.
Semua para penumpang itu bersorak-sorak memberikan Adry semangat. Adry lalu berlari masuk memanggil para suster dan dokter untuk segera menangani istrinya. Ana lalu ditangani oleh dokter dan suster rumah sakit itu.
Adry diluar ruangan sangat khawatir jika ada sesuatu hal terjadi luka serius pada Ana, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya jika hal itu sampai terjadi pada istrinya.
Adry ingin memberi tahu orang tuanya dan juga ibunya Ana tentang kejadian yang menimpa istrinya, Ana. Namun hal itu tidak berani Adry lakukan, ia takut jika hal itu membuat semua orang panik.
Adry pun memutuskan menundanya dulu untuk memberitahukan pada semua orang, ia ingin terpokus pada kondisi Ana yang belum tahu hasilnya seperti apa luka yang dialami istrinya.
Dibalik ke khawatiran Adry yang terlihat sangat resah mondar-mandir menunggu dokter yang belum juga keluar memeriksa keadaan Ana. Secara karena ia sudah lama tidak mengendarai sepeda motor dan itu membuat ia sedikit lupa mengendarai sepeda motor dengan benar. Ia pun merasa bersalah pada Ana yang terluka karenanya.
Seharusnya ia membiarkan Aghata yang mengajarinya yang benar-benar paham. seharusnya ia tidak usah mengajari Ana mengendarai sepeda motor itu. Namun, akibat dari kecemburuannya yang membara dalam dirinya semua ini pun terjadi.
Bersambung...
Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang budiman. :)
__ADS_1
Salam Hangat~
BY.BAE©