
“Ana diculik, hmm... Aku tahu, ini pasti Doni yang melakukan semua ini. Bagus, ternyata Doni telah masuk kedalam siasat ku. Hahahaha... Aku sangat penasaran sekali dengan apa tindakan Doni selanjutnya setelah ia menculik Ana. Hmm lebih baik aku telpon saja dia saja.”
Rita menelpon Doni berkali-kali, namun Doni tak mengangkat panggilan teleponnya.
“Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Doni, sampai-sampai ia tak mengangkat telpon dariku”
Disisi lain, Adry berdoa semoga istrinya baik-baik saja. Panggilan masuk dari Doni, Langsung dijawab oleh Adry.
“Halo tuan Adry, istrimu akhirnya datang juga. Istrimu sangat cantik sekali, aku terpana melihatnya. Tapi aku akan menyuruh orang-orangku untuk mempersiapkannya lagi.”
“Bajing4n, jangan macam-macam kamu ya.”
Doni kembali memutuskan panggilannya. Doni menelpon Adry hanya untuk memanas-manasi Adry saja. Orang suruhan Doni pun masuk keruangannya dengan membawa Ana yang masih pingsan.
“Bos, ini dia wanita yang bos incar.”
“Kerja bagus, bawa dia ke kamar supaya mereka mempersiapkannya.” Ucap Doni yang duduk membelakangi suruhannya.
Doni tak melihat Ana terlebih dahulu. Doni menyuruh para perias untuk mempersiapkan Ana. Ada dua wanita yang mempersiapkan Ana. Para wanita itu sangat terkagum melihat kecantikan Ana. Dengan merias Ana yang dalam keadaan pingsan, lebih mempermudah mereka untuk menghiasnya. Hingga pada saat para wanita itu ingin mengantikan baju Ana dengan lingerie, Ana pun tersadar. Ana memberontak menolak untuk lingerie itu.
“Apa mau kalian menyuruhku memakai ini.”
“Tuan kami menginginkan anda untuk memakai ini, karena anda harus melayaninya.”
“Apa? Melayaninya? Apa maksud kalian?” tanya Ana polos
“Malam ini anda harus memuaskan tuan kami.”
“Siapa tuan kalian? Dengar, aku sudah memiliki seorang suami dan aku tidak akan melayani tuan kalian. kalian dengar itu,” teriak Ana memberontak.
***
Rita masih berusaha untuk menelpon Doni, dan hingga akhirnya Doni mengangkat telpon darinya.
“Halo Don, kamu dimana sekarang.”
“Aku sekarang sedang berada di Villa.” Ucap Doni keceplosan.
Doni sebenarnya tak mau memberitahu posisinya saat ini. Doni memberitahu lokasinya ulang, namun sayang, panggilan itu terputus-putus dan Rita sudah mendengarnya yang sedang berada di villa. Doni tidak memperdulikan hal itu, Doni berpikir bahwa Rita menelponnya hanya untuk menanyakan kabarnya saja dan bukan karena apa-apa.
Doni yang mendengar Ana berteriak-teriak memberontak, iapun tertawa mendengarnya. Doni menelpon Adry untuk memanas-manasinya kembali lagi.
“Halo tuan Adry, apa kau mendengar suara istrimu berteriak memberontak.”
“Hey apa yang kau lakukan pada istriku.”
__ADS_1
”Jangan khawatir Adry, aku hanya menyuruhnya untuk memakai lingerie seksi untukku. Aku yakin kau belum pernah melihatnya memakai itu bukan. Wah aku benar-benar sangat beruntung, Hahaha.”
“Kepar4t, kau... berikan ponselmu pada istriku, aku ingin bicara padanya.”
“Baiklah! tapi dengan satu syarat, tenangkan istrimu itu dan bilang padanya bahwa ia harus dengan senang hati memuaskan ku.”
“Kau... benar-benar... cepat berikan ponselmu pada istriku.”
Doni lalu memanggil anak buahnya untuk memberikan ponselnya pada Ana. Anak buahnya pun mengetuk pintu kamar itu, para wanita itu mengambil ponsel Doni dan lalu memberikannya pada Ana yang sedang menangis. Ana mendengar suara suaminya, ia pun langsung mengambil ponsel itu.
“Sayang, apa kau mendengarkan ku.”
“Mas... Mas tolong aku, aku benar-benar takut berada disini.”
“Sayang kamu tenang yah, kamu jangan menangis. Mas nggak mau mendengar kamu menangis seperti itu. Sayang dengarkan Mas, Mas akan menjemputmu. Jadi kamu yang tenang yah, jangan panik.”
“Mas, cepatlah kemari sebelum....”
“Iya sayang, Mas akan datang menjemputmu tepat sebelum hal itu terjadi. Kamu yang tenang yah.”
Ponsel itu, tiba-tiba saja direbut oleh para wanita itu dari Ana. Panggilan berakhir dan wanita itu lalu memberikan ponsel itu kembali kepada suruhan Doni yang menunggu diluar.
“Ini... bos bilang berikan wanita itu minuman ini!” seru pria itu.
Wanita itu pun masuk setelah menerima minuman itu. Si wanita itu menyuruh Ana untuk meminum minuman itu. Ana tahu jika sampai ia meminum itu, maka ia akan mabuk tidak sadarkan diri. Ana menghempaskan minuman itu hingga terjatuh. Botol minuman itu pun pecah. Air yang berwarna merah itu mengotori lantai dan juga ranjang yang berwarna putih, terlihat jelas.
Ana merasakan efek setelah meminum satu botol minuman itu. Kepalanya pusing dan ada rasa mual yang ia rasakan. Ana berdalih ke kamar mandi. Ana muntah-muntah karenanya. Ana juga merasakan aneh pada tubuhnya. Bagaimana tidak, minuman itu dicampur dengan obat perangsang. Ana keluar dari kamar mandi itu. Ana yang berjalan sempoyongan tak menentu. Ana terjatuh di atas ranjang tempat tidur dikamar itu. Wajahnya menutupi wajah Ana yang pipinya terlihat sangat memerah karena efek dari obat perangsang itu.
Ceklek....
Pintu kamar itu dibuka oleh Doni, ia tersenyum sinis melihat Ana terkapar mabuk.
“Hai Nyonya Adry, apa kamu sudah siap melakukan malam pertama denganku, Hahahaha.” ucap Doni berjalan mendekati Ana. Doni lalu membuka bajunya, sehingga membuatnya bertelanjan6 dada. Ana tak menjawab Doni yang tengah berbicara padanya.
“Hey, mengapa kau menutupi wajahmu. Apa kau malu melihatku. Jangan seperti itu, ayo tunjukkan wajahmu padaku.” Ucap Doni sambil menyeka rambut Ana yang menutupi wajah Ana.
Setelah terlihat jelas wajah Ana yang pipinya memerah, Doni sangat terkejut melihat Ana. Doni terkejut karena istrinya Adry adalah sahabat kekasihnya sendiri. Doni terbelalak terdiam.
Selama ini Doni tidak pernah mengetahui bahwa Ana lah yang menggantikan posisi Rita pada saat pernikahan itu berlangsung. Doni pernah bertanya pada Rita tentang hal itu, namun Rita memintanya untuk tidak membahas tentang itu lagi.
Selama ini Doni menyuruh suruhannya untuk mencari informasi tentang istrinya Adry. Setiap orang suruhannya memberikan informasinya, Doni tak mau mendengarkan seputar istrinya Adry. Doni hanya ingin istrinya Adry di bawa ke hadapannya. Hingga akhirnya Doni pun bertemu dengan istrinya Adry yang ternyata itu adalah Ana yang sangat baik pada kekasihnya, Rita.
Doni mengurungkan niatnya untuk merusak istrinya Adry setelah ia tahu bahwa istrinya Adry adalah Ana. Kali ini Doni beralih pada kekasihnya Rita. Doni bingung dengan semua ini. Pikirannya pun beradu-adu memikirkan ucapan Adry dan juga Rita. Ucapan antara Adry dan Rita sangat bertentangan. Membuat Doni yang bingung mana yang benar dan mana yang salah.
Diluar kamar, tepatnya diluar rumah dekat jendela kamar Doni. Rita sedari tadi mengintip menyaksikan Doni hendak merusak Ana. Rita kesal melihat Doni mengurungkan niatnya untuk melakukannya.
__ADS_1
“Mengapa dia malah menjauh mengurungkan niatnya untuk merusak si Ana. Padahal satu pergerakan saja, rencana ku akan berhasil mendapatkan Adry, uugh sial.”
***
Ana merasa terangsang dengan kehadiran Doni yang berada tak jauh darinya. Ana membuka matanya yang sedikit kabur melihat Doni. Dengan penglihatannya yang seperti itu, Ana mengira Doni adalah suaminya Adry. Ana menarik tangan Doni yang membuatnya terjatuh kearah Ana. Namun Doni menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Ana.
Doni sadar jika perbuatannya ini sangat salah pada Ana yang sangat baik padanya dan juga kekasihnya. Doni tak mau membuat Ana menyesal jika ia melakukan hal itu. Secara Ana tak bersalah padanya, Ana hanyalah korban pengganti mempelai wanita demi kekasihnya, Rita.
Doni pun mencoba untuk menjauhkan dirinya dari Ana. Namun sayang, Ana yang terpengaruh oleh minuman dan juga obat perangsang, merangkul Doni. Ana masih tak menyadari bahwa yang ia rangkul bukanlah suaminya Adry. Doni berusaha untuk tidak menindih tubuh Ana dan juga berusaha untuk melepaskan tangan Ana yang erat merangkulnya. Rita tersenyum menyaksikan Doni dan Ana, ia pun mengambil foto Ana dan Doni yang seperti itu.
“Mas, maafkan aku karena telah mempercayai Rita. Aku pun sangat kecewa atas perlakuannya selama ini terhadapku.” Ucap Ana yang masih merangkul Doni dengan erat.
Doni terheran dan bingung dengan apa yang diucapkan oleh Ana. Kebingungan Doni terpecahkan setelah mendengar suara ribut-ribut diluar. Doni berusaha keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Adry tak bisa melepaskan tangan Ana yang merangkulnya. Hingga akhirnya Doni memikirkan cara untuk melepaskannya. Doni menundukkan kepalanya untuk lepas dari rangkulan Ana.
Tiba-tiba saja pintu kamar itu didobrak oleh seseorang. Pintu itupun terbuka dan ternyata Adry lah yang mendobraknya. Doni sangat terkejut melihat Adry. Begitu juga dengan Adry, ia melihat Doni terlihat seperti meng***** payudar istrinya.
“Brengs3k....” teriak Adry.
Adry lalu menarik tubuh Doni dan lalu menghajarnya habis-habisan.
“Apa yang telah kau lakukan pada istriku, hah. Kur4ng 4jar.”
“Adry, dengarkan aku. Aku sama sekali tak menyentuh istrimu. Aku bersumpah, aku tak ada melakukan hal itu. Jika aku tahu kalau istrimu adalah Ana, aku tidak akan menculiknya.” Jelas Doni yang tak melawan Adry dan mencoba untuk menghindari setiap pukulan Adry.
Adry menghiraukan setiap ucapan Doni. Adry menghajarnya habis-habisan. Walaupun Doni menghindari setiap pukulan Adry, namun Adry lebih sering mendapatnya dan menghajarnya sampai babak belur. Adry sudah di kuasai oleh amarah.
“Mas... Mas... Mas Adry...” rintih Ana memanggil suaminya.
Adry pun menghentikan pukulannya ketika mendengar istrinya memanggil dirinya. Adry pun bergegas mendekati istrinya. Adry sangat terkejut melihat istrinya hanya mengenakan lingerie seksi, ditambah lagi Adry mendapati seperti bekas gigitan dileher istrinya. Adry terdiam lemah terjatuh didekat istrinya setelah ia juga melihat bercak-bercak merah di atas ranjang tempat tidur itu.
“Darah perawal4n.” Ucap Adry tak sengaja terucap oleh bibirnya.
Ucapan Adry pun didengar oleh Doni. Doni pun melerai bahwa itu bukanlah darah peraw4n milik Ana. Doni menjelaskan bahwa itu hanyalah minuman percikan minuman yang berwarna merah. Adry merasa bising mendengar ucapan Doni, iapun menghampiri Doni untuk menghajarnya kembali.
Setelah itu, Adry mendekati Ana kembali. Adry melepaskan jas berwarna hitamnya untuk dikenakan oleh istrinya. Adry juga melihat kaki Ana bergetar. Melihat hal itu, Adry semakin yakin kalau istrinya tidak perawan lagi. Tak terasa air mata Adry menetes, ia sangat lambat untuk mencegah semua itu. Adry pun mengendong istrinya dengan memeluknya. Adry lalu pergi meninggalkan villa Doni.
Sedangkan Rita, ia sangat senang melihat rencananya sesuai dengan rencananya. Yah walaupun Ana tak rusak oleh Doni, tapi Rita merasa senang melihat Adry sudah salah paham mengira Ana tak peraw4n lagi. Rita pun masuk menemui Doni, iapun melihat Doni penuh dengan luka. Doni yang sudah tak sadarkan diri, Rita hanya memandanginya dan tak menolongnya dengan membawanya kerumah sakit. Rita malah mengambil ponselnya Doni untuk memainkan rencananya lagi.
Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe
Salam Hangat~`
__ADS_1
BY.BAE©