
“Nak, kamu mau berangkat sekarang.” Tanya ibunya Adry.
“Iya Mah, Adry sudah pesan tiketnya jadi Adry tinggal check in aja di sana.”
“Ana kemana? Mengapa ia tak ikut mengantarkanmu?” Tanya Tante Riska sedikit terheran.
“Dia sedang tidak enak badan Mah.”
“Kamu yakin Nak, mau meninggalkan istrimu yang tak enak badan. Mungkin dia ada rasa trauma loh dengan kejadian yang menimpanya itu.”
“Iya Mah, ini semuakan demi masa depan kita juga.”
Tante Tiska merasa ada yang aneh antara anaknya dan menantunya. Tante Riska memutuskan untuk menemui Ana sebelum mereka pergi. Namun Adry menahan ibunya untuk tidak menemui Ana.
“Mah, dia sedang beristirahat. Jadi Adry meminta tolong pada Mama untuk tidak mengganggunya.”
Mendengar ucapan Adry yang seperti itu, Tante Riska pun tak terlalu memaksakan diri untuk menemui Ana. Mereka pun pergi ke bandara untuk mengantarkan Adry menuju ke Amsterdam.
Ana masih tak mengerti dengan semua yang telah terjadi. Ingin Ana bertanya pada Doni, iapun mencoba untuk menelpon Doni untuk menanyakan semua itu. Namun Doni tak menjawab telponnya. Bagaimana tidak, ponsel Doni berada di tangan Rita saat ini. Sedangkan Doni, ia berada di rumah sakit memulihkan dirinya yang banyak mendapati luka dari setiap pukulan Adry. Rita mematikan nada dering ponsel Doni, dan lalu menyembunyikan diantara buku-buku yang ada dalam laci mejanya.
*****
Hampir dua bulan setelah kepergian Adry, Ana merasa tak tenang siang dan malam. Ana selalu saja mencoba menghubungi Adry menjelaskan semuanya secara rinci. Namun, bagaimana cara Ana menjelaskan tentang kesalahpahaman suaminya terhadapnya, jika Adry sendiri tak pernah mau mengangkat telpon darinya.
Ana sangat merindukan suaminya itu. Ana pun mencoba untuk menelpon Adry menggunakan nomor telepon baru. Namun ketika Adry mendengar suara Ana, Adry langsung mengenal suaranya dan langsung mematikannya. Ana sedih bercampur bahagia bisa mendengar suara suaminya walaupun hanya dengan kata, ‘Halo siapa ini’, dengan mendengar kata seperti itu rasa rindu Ana sedikit terobati.
****
Pada suatu hari, Rita tengah bersantai duduk di ayunan dekat taman kediaman keluarga Dexter. Ponselnya yang berada tepat di sampingnya berdering. Rita menoleh kearah ponselnya. Panggilan masuk dengan nomor yang tak dikenal menelpon Rita, ia pun mengangkat telpon itu.
“Halo honey!” Seru seorang pria yang tak asing bagi Rita pria itu adalah Doni.
Doni kembali menelpon Rita setelah ia sembuh dari masa pemulihannya di rumah sakit.
“Mau apa kamu menghubungiku lagi.”
“Honey, mengapa kau ingin merusak kebahagiaan mereka.”
“Aku tak pernah mengatakan dan bahkan melakukan itu pada mereka.”
“Honey, aku sudah menyadari dan mengetahui semua gerak-gerikmu. Kau memburuk-burukkan mereka padaku agar aku membalaskan dendammu terhadap mereka. Tak sadarkah kau honey, Adry dan Ana adalah korban karena orang tuamu dan cinta kita honey. Aku pun bersedia menerima anak yang sedang kau kandung, honey. Untuk itu kembalilah padaku dan tinggalkan kediaman keluarga Dexter itu,” ucap Doni.
“Aku tak mau kembali padamu. Dan yah apa yang kamu katakan tentang pemanfaatan pembalasan dendam melalui kamu, itu semua memang benar. Aku sangat berterima kasih kepadamu karena telah membantuku membuat mereka hancur saling tak mempercayai satu sama lain.”
“Honey, mengapa kau menjadi licik seperti itu. Aku benar-benar tak menyangka akan sifat mu yang seperti itu. Ana yang sangat baik padamu selama ini, kau malah membalasnya dengan cara seperti itu. Tidakkah kau mengingat bahwa Ana menyelamatkanmu dan menggantikan posisimu dari pernikahan yang tak kau inginkan itu. Tapi mengapa kau malah menghancurkannya, honey.”
“Karena aku sangat mencintai Adry.”
“Apa? honey apa-apaan ini. Itu sama saja kau menjilat ludah sendiri.”
__ADS_1
“Aku tak peduli dengan pepatah kata yang mengatakan hal seperti itu.”
“Honey, ayolah kembalilah padaku. Adry hanya mencintai Ana bukan kamu honey, tapi selalu ada aku yang mencintaimu.”
“Kau tak tahu saja, waktu itu Adry sangat mencintaiku, dan aku yakin dia masih ada rasa padaku.” Ucap Rita yang terkadang labil berfikir.
“Dan aku sangat ingat sekali bagaimana Adry ingin melamar ku. Dia menyewa sebuah restoran mewah untuk melamar ku. Dan uniknya dia melamar ku dengan cara yang tak terduga. Dia membuat terkejut jantungan saat iya hendak memberikan cincin padaku. Dia menyodorkan cincin tunangan itu padaku dengan berakting hampir terjatuh menimpaku. Bukankah dengan cara seperti itu sangat romantis sekali bukan.” Ucap Rita menceritakan keromantisan Adry yang baru ia sadari.
“Honey ayolah, kembalilah padaku dan aku akan bertanggung jawab atas kehamilan mu.”
“Hah, hamil! hahaha. Aku tak hamil. Itu hanya bagian dari rencana ku untuk menghasut mu membalaskan dendam ku. Dan rencana ku itu sangat manjur menghasut mu.”
“Honey, mengapa kamu jadi seperti itu. Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus menemui ku ditempat biasa kita bertemu.”
“Hahaha... Baiklah aku akan menuruti keinginan mu karena kau telah membantuku membuat Adry tidak mempercayai istrinya yang masih peraw4n. Tentunya aku tidak akan menolak mu kali ini.”
“Benarkah honey.” ucap Doni tak menduga semudah itu Rita menurutinya kali ini.
“Yah, tunggu aku di sana.” Panggilan itu pun diakhiri oleh Rita.
“Doni, Doni... Kali ini kau dan Ana akan ku pertemukan kembali. Kalian akan masuk lagi ke dalam bagian dari rencana ku selanjutnya untuk mendapatkan cintanya Mas Adry. Tentu saja aku akan bertemu denganmu Doni-ku, tapi aku akan menemui dibalik layar, Hahahaha.” Ucap Rita dengan pikirannya yabg sangat licik.
Rita masuk ke kamarnya untuk mengambil ponsel Doni yang masih Ada di tangannya Rita lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk dikirimnya pada Ana dengan menggunakan ponsel Doni.
Satu pesan masuk untuk Ana...
Ana, aku ingin bertemu denganmu membahas hal penting. Datanglah ke sebuah Cafe di dekat lampu merah Tigaraksa. Cepatlah datang karena aku sudah menunggumu.
Ana membaca pesan masuk itu langsung. Rita sangat yakin bahwa Ana pasti tidak akan menolak Doni karena Ana juga membutuhkan Doni untuk sebuah penjelasan. Dan yah, Rita melihat Ana langsung keluar bergegas menyusul Doni di Cafe itu.
“Hmm... Selamat kalian berdua masuk kedalam perangkat ku. Aku nantinya akan mengantarkan kalian hadiah jika aku mendapatkan Adry. Hahahaham....” gumam Rita sambil bergegas mengikuti Ana.
Di Cafe....
Ana melihat Doni duduk di Cafe itu. Namun Doni tak menyadari kedatangan Ana. Hingga saat Ana menghampirinya dan duduk barulah Doni menyadari kehadiran Ana.
“Ana... ngapain kamu di sini?” Tanya Doni gugup karena ia masih merasa bersalah.
“Don, tolong jangan berbasa-basi denganku. Kau bilang kau ingin menemui ku untuk membahas hal yang penting. Dan aku pun mau menemui mu karena aku juga memiliki pertanyaan yang penting untukmu.” Ucap Ana tegang.
“Okay santai Ana santai. pertama aku tidak mengajakmu untuk bertemu denganku untuk membahas hal yang penting itu disini. Dan yang kedua karena kau ingin menemui ku untuk bertanya hal yang penting, Oke aku siap untuk menjawabnya.”
“Don apa maksudmu, aku tak mengerti dengan semua ini. Apa kau dalang dibalik semua penculikan terhadapku pada waktu itu,” .
“Iya Ana, aku lah yang telah menculik mu pada saat itu. maafkanlah aku. Aku tahu aku bersalah dan aku sudah menyadari kesalahan ku itu.”
“Oke, aku dengan mudahnya memaafkanmu. Tapi tolong, tolong jelaskan apa maksud video ini. Gara-gara video ini suamiku salah paham.” Ucap Ana sambil menunjukkan sebuah video dirinya dengan Doni.
“Ana, aku benar-benar sangat meminta maaf karena telah mengusik hidup kalian. aku akan menceritakan semuanya padamu tentang video itu.”
__ADS_1
Doni pun menceritakan semuanya panjang lebar. Apa yang diceritakan oleh Doni membuat Ana meneteskan air mata. Apalagi pada bagian cerita Doni yang suaminya memergoki Doni dan dirinya seperti sedang melakukan hubungan dengannya. Doni menceritakan bahwa Adry melihat sebuah percikan warna merah di ranjang itu yang membuat Adry semakin salah paham. Ana menagis mendengarkan semua kebenarannya.
“Apa kau melakukan semua ini, karena hasutan dari Rita?” Tanya Ana menebak dengan benar.
“Iya Ana.”
“Mengapa kau mempercayai ucapannya dan kau merusak kepercayaan suamiku terhadapku.” Teriak Ana menangis sambil memukuli Doni.
“Ana, maafkanlah aku. Aku sangat bingung entah bagaimana caranya meluruskan kesalahpahaman Adry. Aku sudah berusaha untuk menghubunginya, namun ia tak mengangkat panggilan dariku ketika ia mengetahui bahwa itu adalah aku.”
“Kau harus bertanggung jawab atas kejadian itu. Seharusnya jika kau merasa sangat bersalah. Mengapa kau tidak menyusul suamiku saja ke Amsterdam sana untuk menjelaskan kesalahpahaman itu.” ucap Ana.
“Tapi itu tidak akan mungkin kau lakukan untuk menjelaskan semua itu pada suamiku. Karena kau dan juga kekasihmu Rita sebenarnya sekongkol ingin melihatku dan suamiku hancur bukan.” Ucap Ana sambil menghentakkan meja dan lalu pergi.
“Ana bukan seperti itu. Kau juga jadi salah paham denganku karena Rita. Baiklah aku akan menemui Adry di Amsterdam untuk menjelaskan semuanya padanya.” teriak Doni namun Ana tak mendengarkannya.
“Wauw ternyata sekarang Ana sudah berani yah bermain dengan cara menghentakkan meja. Aku tak menduga Ana melakukan hal seperti itu. Karena yang kutahu Ana adalah anak yang sangat polos sekali.” Gumam Rita tersenyum sinis melihat peningkatan Ana.
Rita berada dibalik layar sesi pemotretan Antara Doni dan Ana. Rita memotret banyak sekali momen yang tepat untuk mendalamkan kesalahpahaman Adry.
“Kapan yah foto ini aku kirim ke Mas Adry. Hmmm sebaiknya aku kirim pada waktu-waktu yang memanas saja deh. Hahaha,” gumam Rita tertawa licik dalam hatinya.
Tak sengaja Doni melihat kearah Rita. Doni pun berjalan kearah Rita yang berada di luar. Rita yang mengetahui dia yang ketahuan berada di tempat itu juga, langsung berlari sebelum Doni bertemu dengannya. Doni pun sampai diluar ditempat Rita tadi berdiri. Doni pun menyadari sesuatu hal.
“Ah sial. Sepertinya aku masuk kedalam jebakan Rita lagi!” seru Doni dengan nada yang kesal.
Doni pun langsung menelpon Rita dan panggilannya langsung diangkat oleh Doni.
“Honey, mengapa kamu kabur ketika aku aku melihatmu dan menghampirimu. Apa kamu sebenarnya tak mau bertemu denganku dan kau menjebak ku untuk bertemu dengan Ana.”
“Wauw tebakan yang bagus, Honey. Uups maksudku Doni, aku merasa sangat jijik menyebut dan mendengarkan mu memanggilku dengan sebutan Honey.”
“Rita apa maksudmu dengan menjebakku seperti ini.”
“Oh ya, aku tak ada maksud untuk menjebak mu. Tapi aku sangat berterima kasih padamu karena mengajakku untuk bertemu denganmu. Dan aku pun menjebak Ana untuk bertemu dengan mu, dan aku... dan aku pun mendapatkan foto romantis antara kau dan Ana. hahaha...”
“Rita, perbuatan mu ini benar-benar sangat keterlaluan!” seru Doni marah.
Mendengar Doni yang terdengar sangat marah, Rita langsung memutuskan panggilan itu. Rita benar-benar sangat menikmati keberhasilan rencana busuknya.
Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe
Salam Hangat~`
BY.BAE©
__ADS_1