
Doni memerhatikan sekitar kamar Rita, ia melihat ke arah meja belajar Rita. Doni melihat ada sebuah gunting di sana, ia pun berlari untuk mengambilnya.
“Honey... jika kamu benar-benar akan menikahi laki-laki itu, aku akan mengakhiri hidupku dan kamu akan melihat jasadku di hari bahagiamu”. Ucap Doni dengan mata yang memerah dan wajah yang sangat pucat.
Tiga sahabat itu pun kaget dengan apa yang hendak dilakukan oleh Doni.
“Doni... apa yang kamu lakukan”. Seru Rita khawatir jika itu benar-benar sampai terjadi.
“aku ngga peduli... pokoknya kamu harus menghentikan pernikahan ini”. ucap Doni lagi.
“aku bener-bener ngga bisa Don, reputasi keluargaku bisa hancur jika pernikahan ini tidak dilanjutkan”. Ucap Rita menangis sambil berusaha mendekati Doni untuk mengambil gunting itu.
****
Ana dan Fitri juga berusaha mendekati Doni untuk mengambil gunting itu.
“eiiittthhh... jangan coba-coba untuk mendekati ku”. Ucap Doni sambil mundur hingga ia mendekati berhenti di dekat jendela.
Rita semakin menangis sejadi-jadinya melihat tingkah Doni yang seperti itu.
“ku mohon jangan lakukan ini, aku sangat mencintaimu, tapi....”. ucap Rita yang belum selesai melanjutkan ucapnnya yang dipotong oleh Doni.
“Stop... Aku tidak butuh dan tidak percaya dengan air mata dan ucapan cinta palsumu itu Rita. Aku hanya butuh pembuktian bahwa kamu akan membatalkan pernikahan konyol ini dan menikahlah dengan ku”. Ucap Doni yang masih mengarahkan gunting itu ke pergelangan tangannya.
“Baiklah... jika ini yang kau inginkan, aku akan melakukannya. seru Doni sambil mengambil aba-aba untuk menyayat pergelangan tangannya.
“tttiiidaaaakkkk....”. teriak Rita.
Doni terjatuh dan tertidur di lantai. Ana dan Fitri tidak bisa berbuat apa-apa mereka hanya berdiri sambil menutup mata ketika Doni melakukan aksinya itu.
Sementara Rita, ia juga menutup matanya dengan pasrah ketika Doni melakukannya. Dan sekarang ia merasa ia tlah mati. Ia mendekati tubuh Doni dengan mengesot tubuhnya dengan lemah tak berdaya sambil menangis terisak-isak.
Pertama Rita hanya memegang pipi Doni untuk membangunkannya. Lalu kemuadian ia pun melihat tangan Doni yang di sayat oleh Doni sendiri.
Betapa terkejutnya Rita ketika ia melihat tangannya Doni tidaklah di sayat oleh Doni. Ia memeriksa kedua tangannya Doni memang sedikit pun tidak ada yang terluka.
__ADS_1
Kemudian ia melihat ada tembakan bius di dekat pundak Doni. Rita terheran, siapa yang telah menembak Doni dengan obat bius ini. kemudian Rita pun melihat keluar jendela. Ternyata ia melihat seseorang yang tidak asing baginya.
“pak Johan...”. ucap Rita yang melihat pak johan yang tidak jauh dari jendela kamarnya Rita.
****
Pak Johan pun berusaha masuk ke kamar Rita. Pak Johan adalah asisten pribadi Doni yang sudah lama menjaga Doni sejak Doni masih kecil.
“maaf nona Rita, saya terpaksa membius tuan Doni. Saya takut kalau tuan Doni benar-benar nekat melakukannya”. Ucap pak Johan.
Rita malah bersyukur dengan kehadiran pak johan yang tlah menyelamatkan nyawa Doni. Lalu pak johan menjelaskan pada Rita bahwa jika Doni tersadar, Doni bisa saja melakukan hal gila ini lagi pada dirinya sendiri.
Pak johan meminta tolong untuk membatalkan pernikahan itu demi keselamatan nyawa Doni.
Rita semakin menagis sejadi-jadinya, kali ini dia benar-benar sangat dilema dengan dihadapkan oleh pilihan yang sangat sulit baginya. Ana datang menghampiri Rita yang duduk di samping Doni. Ana memeluk Rita yang menangis.
“gue harus gimana Na, di satu sisi gue ngga bisa mengkhianati dan merusak reputasi keluarga gue. Di satu sisinya lagi gue ngga bisa ngebiarin Doni melakukan itu”. Ucap Rita sedih.
Tak berapa lama kemudian, Rita melepaskan pelukan Ana.
“Aku punya ide”. Ucap Rita sambil mengusap air matanya.
DDDUUUUAAARRRR....
Bagai tersambar petir yang menggelegar, Ana sangat terkejut mendengar ucapan dari Rita. Begitu juga dengan Pak Johan dan Fitri.
“jangan bercanda dong Rit, ini soal hati bukan barang yang bisa di ganti”. Ucap Ana dengan muka yang sangat terkejut.
“iya Na, gue tahu... dan gue juga serius... gue tahu ini gila tapi ku mohon mengertilah dengan keadaanku”. ucap Rita.
“ngga... gue ngga setuju dengan ide Lo Rit. Itu sama aja Lo juga nyakitin hatinya Adry yang tulus mencintai Lo”. Seru Ana.
“trus... gue harus gimana lagi Na, Bagaimana dengan nasib gue”. Seru Rita egois.
Rita hanya memikirkan dirinya sendiri, dia tidak memikirkan perasaan Adry dan juga Ana yang akan menjadi korban atas idenya itu.
__ADS_1
Diam-diam ia bergerak berpindah untuk mengambil gunting yang di gunakan Doni untuk menyayat tangannya.
“Rit... apa yang Lo lakuin”. Tanya Fitri yang melihat Rita mengambil sebuah gunting.
“Daripada gue yang nikah atau pun gue yang ngelihat Doni bunuh diri, mending gue aja yang mati supaya kalian akan puas”. Ucap Rita seperti orang kemasukan setan.
“Rit, Lo apa-apaan sih”. Ucap Ana.
"ngga ada juga yang peduli sama gue kalo gue hidup ataupun mati". seru Rita sambil tersenyum sinis dengan air mata yang masih saja mengalir.
Rita pun mengarahkan gunting itu ke pergelangan tangannya.
"Rita... kita bisa cari cara lain, Lo jangan kayak gitu dong". ucap Fitri.
"ngga ada cara lain Fit, kecuali kalo gue mati". ucap Rita.
Rita mengambil ancang-ancang untuk menyayat pergelangan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya itu.
"Stop... stop.... oke,,, gue ikut ide Lo itu". ucap Ana terpaksa menerima semua permintaan Rita.
"Beneran Na". seru Rita sambil tersenyum haru dan berlari kecil ke arah Ana lalu memeluknya.
Fitri kaget sekaligus kasihan melihat Ana yang menjadi korban dari ide Rita.
"terima kasih banyak Na, aku tahu kau tak akan membiarkan sahabatmu ini menderita". seru Rita yang masih saja memeluk Ana.
Rita memang sangat-sangat egois dia hanya memikirkan dirinya sendiri.
kemudian Rita membuka baju pengantinnya di kamar mandi dan memberikannya kepada Ana. Ana pun memakai baju itu, Ana terlihat lebih cantik memakai baju itu dibandingkan dengan Rita.
"kalian pergilah dari sini sebelum ada yang melihat kalian". seru Ana yang sudah duduk di kursi make up.
Rita pun menuruti perintah Ana. Rita berpamitan dan memeluk Ana dari belakang ketika Ana duduk. kemudian Rita mengucapkan banyak terima kasih. Begitu juga dengan Fitri, Rita juga berpamitan dengan Fitri dan memeluknya.
Fitri, Doni dan pak Johan keluar dari kamar Rita. Mereka keluar dari depan dengan sangat mudah karena pak Johan.
__ADS_1
***Bersambung . . . .
B Y . B A E©***