Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 70


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Ana yang jatuh sakit karena imunitasnya menurun, akhirnya ia sembuh dari sakitnya. Adry yang selalu ada mengurus menjaganya siang dan malam dengan penuh kasih sayang. Adry sangat bersedih melihat keadaan istrinya itu. Namun ketika istrinya sudah mulai pulih ia pun sangat bahagia melihat istrinya.


Ana terbangun dari tidurnya. Adry yang selalu ada di sampingnya, tersadar dari tidurnya yang ketiduran karena kelelahan mengurus dan menjaganya. Adry pun membantu istrinya untuk duduk, ketika ia melihat istrinya hendak ingin duduk.


“Sayang, kamu perlu sesuatu?” Tanya Adry dengan penuh perhatian.


Ana hanya menggelengkan kepalanya yang berarti ia tidak membutuhkan sesuatu dari suaminya itu. Ponsel Adry yang tepat berada di meja samping Ana duduk, berdering nyaring didekatnya. Ana mencoba untuk menggapai ponsel suaminya. Dilihatnya panggilan yang masuk itu adalah dari ibu mertuanya. Ana pun memberikan ponsel itu pada suaminya. Adry pun mengambil ponselnya dari tangan istrinya dan lalu mematikan panggilan masuk dari ibunya.


“Mas, kenapa kamu mematikan panggilan masuk dari Mama,” tanya Ana terheran.


Adry menjawab Ana dengan mengalihkan pertanyaan istrinya itu. Ana marah padanya dan lalu memaksa Adry untuk mengangkat telpon dari ibu mertuanya. Adry pun akhirnya mengangkat panggilan masuk dari ibunya dan menjauh dari Ana untuk berbicara.


“Halo Nak, mengapa beberapa hari ini susah sekali untuk menghubungimu? Dan apa sebenarnya yang terjadi beberapa hari yang lalu?” Tanya ibunya langsung pada Adry.


“Mama tanyakan saja semuanya pada wanita itu.”


“Wanita? Wanita yang mana? Oh Rita maksudnya, dia juga sama sekali tak menjawab pertanyaan Mama. Malahan setiap Mama bertanya padanya tentang hal itu, dia malah menangis tak menjawab Mama. Kalian semua membuat Mama bingung jadinya.”


“Oh begitu ternyata wanita itu tak menjelaskannya pada Mama, hmmm” gumam Adry.


“Mah, intinya aku tidak menganggapnya istri sahku. Jika ia masih menganggap itu semua adalah pernikahan yang sah dan ia menuntut ku, maka aku akan menceraikannya Mah,” ucap Adry pada ibunya.


“Apa? Mengapa jadi seperti itu Nak? Bukankah kalian baik-baik saja.”


“Keadaannya rumit Mah, dan Adry minta Mama untuk tidak terlalu memikirkan masalah itu karena keputusan Adry sudah bulat.” tukas Adry.


Adry pun berpamit pada ibunya untuk memutuskan panggilan itu. Namun ibunya masih menahannya untuk berbicara padanya. Ibunya pun berkata bahwa ia tidak akan ikut campur dengan apa yang telah diputuskan oleh Adry. Ibunya lalu meminta Adry menemui ayahnya untuk membahas sebuah bisnis keluarga. Adry langsung menolaknya, ia menolak karena ingin menjaga istrinya. Ibunya pun membujuk Adry.


“Nak, kamu itu sudah menikah. Kamu itu punya tanggung jawab loh. Ini semua juga untukmu dalam memenuhi kewajibanmu sebagai seorang suami!” seru ibunya mengingatkan.

__ADS_1


Ana yang melangkah berjalan mendekati suaminya yang tak disadari oleh suaminya. Ana lalu berbisik meminta suaminya untuk menyetujui permintaan ibunya untuk bertemu dengan ayahnya. Adry pun tak bisa menolak, ia menyetujui permintaan ibunya karena melihat istrinya yang memperlihatkan wajah yang memelas padanya.


“Baiklah Mah, Adry akan segera datang menemui Papa,” ucap Adry.


Ibunya pun senang mendengar Adry yang setuju padanya dan panggilan pun berakhir.


“Sayang mengapa kamu memasang wajahmu yang seperti itu. Aku sangat tak tahan melihat wajahmu yang sedih memelas seperti itu,” ucap Adry sambil memeluk istrinya dan lalu mencium keningnya.


“Mas, bersiap-siaplah untuk pergi,” ucap Ana sambil mendorong tubuh suaminya masuk kedalam kamar mandi.


“Ini semua gara-gara kamu sayang. Gara-gara kamu aku jadi menuruti permintaan Mama. Dan baiklah aku pun menerimanya. Tapi... kamu harus mengganti kerugian yang kudapat ketika aku pulang nanti,” goda Adry.


Ana yang mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya. Ana pun berpura-pura sakit dihadapan suaminya.


“Aduh sakit sekali kepalaku, ah mengapa tiba-tiba sakit seperti ini,” ucap Ana melemah. Adry pun panik menghampirinya, ia pun mengikuti alur yang sedang dilakoni oleh istrinya itu.


“Sayang kamu nggak apa-apa kan, hmm? Sepertinya sewaktu aku mengucapkan hal yang aku katakan tadi, Dalam dirimu pasti ingin melakukannya sekarang. Benarkah itu sayang? Jika memang iya, ayo kita lakukan,” ucap Adry tak mau kalah mengikuti cara istrinya memainkan alur.


“Baiklah kalau begitu sayang, persiapkanlah dirimu. Tunggu aku kembali nantinya, haha” teriak Adry dari dalam kamar mandi.


Ana menutup telinganya, ia tak ingin mendengar suaminya yang mulai memintanya. Ana lalu keluar kamar untuk menghampiri dan membantu ibunya. Tak lama setelah itu Adry menyusul mencarinya. Adry pun menemukan istrinya, ia lalu menariknya untuk berpindah ke tempat yang lain.


“Mas, ada apa lagi?” Tanya Ana sambil meminta Adry untuk melepaskan tarikan tangannya.


“Sayang mengapa kau kabur tidak menungguku, kau tidak mengurusku dengan baik, padahal aku selalu menjaga dan mengurusmu sewaktu kamu sakit. Apakah memang begini caramu membalas ku?” Tanya Adry sambil membelai rambut istrinya dan hendak ingin mencium istrinya.


“Mas... Jangan lakukan itu disini, please.” Pinta Ana melotot pada Adry.


“Kenapa sayang? Kau ingin menolak ku untuk melakukannya, hah? Kamu tidak bisa menolakku lagi sayang, kamu harus bertanggung jawab karena kamu tidak mengurusku dan kamu telah membuat moodku hancur hari ini.”

__ADS_1


Adry lalu menerkam leher Ana dengan sangat ganas seperti harimau menerkam. Pergerakannya sangat cepat dan Ana pun kewalahan untuk mendorong menolak suaminya. Ana memintanya untuk tidak melakukan hal itu karena Ana melihat Sarah yang sedari tadi memerhatikan mereka.


“Uuwwwuuwww hareudang... hareudang... hareudang... panas panas panas,” ucap Sarah yang menyaksikan aksi kakak iparnya.


Adry pun berhenti dan terbelalak melihat kearah Sarah yang senyum-senyum menyaksikan mereka. Adry pun berpura-pura pada Sarah bahwa ia sedang memakaikan kalung pada Ana. Sarah malah tersenyum mendengar alasan kakak iparnya itu. Sarah sudah tahu dari awal apa yang kakak iparnya itu lakukan pada kakak sepupunya, Ana.


“Benarkah kak? Apakah kakak membelikan kak Ana kalung? Mana kak coba aku lihat kalungnya,” ucap Sarah.


Adry pun bingung, entah apa yang harus ia lakukan ketika Sarah memintanya untuk menunjukkan kalung yang sebenarnya tak ada ia pakaikan untuk istrinya, Ana. Hal itu membuat Adry menjadi gugup dan mencoba untuk mencari alasan lainnya.


“Ah kalungnya sepertinya terjatuh. Sebentar kakak cari dulu yah,” ucap Adry.


Sambil menjongkok, Adry berpura-pura seperti sedang mencari sebuah kalung itu. Adry juga menarik Ana untuk mencari kalung yang sebenarnya tak ada itu. Sarah pun tertawa melihat tingkah gugup kakak iparnya.


“Kak, tidak perlu bertingkah seperti itu. Aku melihatnya sangat jelas didepan mataku. Aku ini sudah besar dan sangat tahu jika kakak sedang berpura-pura.” tukas Sarah lalu pergi untuk meninggalkan mereka berdua.


“Ah ya, begitu rupanya. hmm baiklah.”


Adry malu sekali ketika ada yang menyaksikan perbuatannya. Adry pun lalu berpamit pada istrinya itu untuk berangkat pergi. Ana menganggukkan kepalanya dan mencium tangan suaminya. Adry pun lalu mencium kening istrinya.


“Sayang, jangan kemana-mana yah sebelum aku pulang. Kamu nggak boleh kemana-mana jika tanpaku, kamu mengerti sayang?” Tanya Adry sembari menatap wajah istrinya.


Istrinya hanya meresponnya dengan anggukan kepala saja. Adry pun lalu memeluk erat istrinya. Entah mengapa Adry merasa tak ingin melepaskan pelukannya, ia ingin memeluk istrinya lebih lama dan ia merasa tak ingin meninggalkan istrinya untuk hari ini.


Bersambung...


...----------------...


Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe

__ADS_1


Salam Hangat~`


BY.BAE©


__ADS_2