
Sore...
Hari sudah mulai sore, senja di sore hari itu membuat pemandangan awan yang sangat indah dipandang oleh mata. Terlihat seorang pria yang memandangi awan sebelum masuk kedalam mobilnya pria itu adalah Adry, ia berinisiatif untuk pulang terlebih dahulu dari biasanya sebelum Ana menyelesaikan pekerjaannya.
Adry ingin diam-diam membantu Ana membereskan dan merapikan apartemennya sebelum Ana pulang dan datang untuk membersihkan itu semua.
Ana yang melihat kepergian Adry, mempercepat mempersiapkan semua pekerjaannya dan pergi pulang menyusul Adry. Tak beberapa lama, ia pun rampung mengerjakan semuanya. Ana pun menunggu sebuah taksi kendaraannya untuk pulang.
Ghata yang lewat di depan Ana dengan meggunakan sepeda motor Satria menawarkan Ana untuk pulang bersamanya. Ana menolak, Ghata terus saja memaksa Ana untuk ikut dengan dirinya saja.
“Ayolah Na, kayaknya nggak bakalan ada Taksi yang lewat jam segini”. Seru Ghata.
“pasti ada, aku nunggu disini saja. Kamu pulang aja, aku nggak apa-apa kok ”. ucap Ana.
“ada sih ada Na, tapi lama ntar kamu nunggunya. Mending pulang bareng sama aku aja”. Seru Ghata lagi membujuk Ana.
Tetap saja Ana masih menolak tawarannya. Ghata jadinya pun ikut menunggu taksi sambil mengobrol dengan Ana. Ana tidak bisa membujuk Ghata untuk pulang duluan karna Ghata berkata padanya bahwa ia akan pulang kalau Ana sudah pulang.
Setengah jam sudah Ana menunggu taksi namun satu pun taksi belum ada juga yang lewat, hari juga sudah mau malam. Ia takut jika Adry menunggunya dan mungkin Adry akan marah padanya.
“oke... aku ikut kamu aja deh”. Ucap Ana.
“nah gitu dong dari tadi Na”. lirih Ghata.
Ana pun naik keatas sepeda motor Ghata dengan duduk menjaga jarak dari Ghata.
“pengangan yang kuat Na, ntar kamu jatuh lagi”. Ucap Ghata.
Ghata tersenyum melihat Ana dari kaca spion sepeda motornya. Ia pun menancapkan gas sepeda motornya. Belum keluar dari kawasan Restoran itu, tiba-tiba Ghata ngerem sepeda motornya dengan sangat mendadak.
Ana dapat menyeimbangkan tubuhnya agar tidak mengenai tubuh Ghata dengan memegang ujung alat pembatas tempat duduk sepeda motor. Gha ngerem sepeda motornya karena dihalangi oleh Popy.
“Ghata... kamu ngapain pulang sama dia.” Tanya Popy cemberut.
“kenapa emang ?” ucap Ghata bertanya balik.
__ADS_1
“iiihh... kamu kan sama dia beda arah.” Ucap Popy.
“Lah trus kenapa emang.”
“sama aku aja pulangnya, kita kan satu arah”. Ucap Popy beralasan.
“emang kamu tahu rumah Ana dimana?” tanya Aghata lagi.
“yaa tahulah, beda arah sama kamu.”
“minggir gue mau lewat”. Seru Ghata.
Popy masih saja tidak mau memberi Ghata jalan dan terus saja menghalanginya. Ana pun mengalah dan berkata jika ia akan menunggu taksi saja, namun hal itu tidak diperbolehkan dan ditahan oleh Ghata. Dari kejauhan terdengar suara memanggil-manggil nama Popy.
Orang yang memanggil Popy adalah Ayahnya yang menjemputnya, ia pun tak bisa menolak untuk tidak pulang dengan Ayahnya.
“maybe next time honey (mungkin lain kali sayang)”. Ucap Popy dengan wajah yang kesal mengarah ke Ana dan lalu tersenyum kearah Ghata.
“Apaan sih, sudah sana-sana. Dah ditungguin tuh.” Seru Ghata.
Popy pun pergi, Ana dan Ghata pun melanjutkan perjalanan mereka. Ghata bertanya pada Ana dimana tempat tinggalnya, Ana pun menjawab dan ternyata tempat tinggal Ana satu arah dengan rumah Ghata.
Ana hanya tersenyum mendengar ucapan Ghata. Ana memberitahu Ghata untuk belok ke kiri masuk kearah apartementnya. Ana pun mengintruksikan Ghata untuk berhenti, Ghata pun memberhentikannya dengan rem yang sangat mendadak lagi.
Ana otomatis terperosot karena sepeda motor satria memang tempat duduknya seperti perosotan. Ana yang tidak berpegangan lagi dan tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, dengan sigap dan tidak sengaja memegang pundak Ghata.
Ana meminta maaf pada Ghata tidak sengaja memegang pundaknya, Aghata tidak masalah dengan hal itu ia memang sengaja rem mendadak supaya Ana memeluknya. Namun Ana malah memegang pundaknya. Dipegang pundak saja sebenarnya ia sudah merasa senang dan selalu saja senyum menyengir kearah Ana.
Ana berterima kasih pada Ghata, ia lalu pergi masuk ke apartementnya. Dari jendela lantai atas, kembali lagi Adry melihat keakraban Ghata dan istrinya Ana. Adry merasa kali ini sungguh benar-benar keterlaluan, ia sangat kesal, marah dan kemudian ia membantingkan gelas air minum yang ada ditangannya.
“wanita ini, sudah tahu mempunyai seorang suami tampan sepertiku. Tapi masih saja berboncengan dengan laki-laki lain.” Ucap Adry percaya diri menyebut dirinya sendiri tampan.
Adry sangat kesal dengan apa yang dilakukan Ana dengan berboncengan dengan pria lain. ia yang tadinya baru saja selesai merapikan sebagian ruangan apartemenya, kembali membuat semuanya lebih berantakan lagi lebih parah dari yang sebelumnya.
Ana sampai didepan pintu, ia kemudian memasukkan kode dan lalu masuk. Ana sangat terkejut melihat ruangan yang sangat-sangat berantakan sekali.
__ADS_1
“aduuhh gawat... sepertinya Mas Adry marah kepadaku lagi, aduh.. bagaimana ini”. gumam Ana dalam hatinya yang merasa takut dan khawatir.
“darimana saja kamu”. Tanya Adry membentak yang membuat Ana terkejut.
Ana melihat Adry yang tengah duduk di sofa dengan merenggangkan kedua tangannya dibahu sofa dan menaruh kakinya di atas meja sofa.
“dari restoran Mas”. Jawab Ana gugup.
“jam segini baru pulang.” Ucap Adry.
“iya Mas, tadi aku kelamaan nungguin taksi. Namun tiada satu pun yang lewat dan lalu temanku menawarkan untuk pulang bareng dengannya dan aku pun menumpang dengannya.” Jelas Ana.
“aaah.. alasan kamu”. Ucap Adry marah.
“cepat, bereskan semua ini”. serunya lagi.
Ana memulai dan membereskan semuanya. Ana memulai dengan membersihkan pecahan gelas yang dipecahkan oleh Adry.
Tak sengaja Ana ,menyentuh pecahan gelas yang tajam yang membuat jari tangan Ana terluka dan mengeluarkan darah. Ana merintih kesakitan, Adry mendengar rintihan Ana an mencoba untuk beranjak dari tempat ia duduk.
Namun ntah mengapa, hati dan kaki Adry tidak sinkron. Yang mana hatinya ingin menolong namun kakinya tak mau bergerak untuk menghampiri Ana.
Adry hanya diam saja dan tetap duduk membiarkan Ana terluka. Ana yang melihat Adry yang hanya diam saja kecewa pada Adry. Ia pun meneteskan Air mata dan lalu beranjak mencari obat untuk jari tangannya yang terluka.
Adry juga mencoba untuk beranjak diam-diam membantu Ana mencari obat. Ia pun menemukan kotak P3K dan langsung mengambil betadine dan hansplas untuk Ana.
“Nih.. obati lukamu dengan ini.” ucap Adry sambil menyodorkan obatnya.
Ana pun mengambil kotak P3K itu dari tangan Adry dan ia merasa sangat senang dalam hati, ternyata Adry diam-diam sangat perhatian padanya sebenarnya.
Bersambung....
Please!!! jangan lupa like, komen dan Votenya
juga ya wahai para readers yang setia.
__ADS_1
Terima kasih semuanya...
BY.BAE©