Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 12. Hari pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan Adry dan Rita


Hari ini adalah hari pernikahan Adry dan Rita, semua persiapan untuk Akad nikah Adry dan Rita telah rampung 100 persen. Adry yang sedang menatap cermin sambil tersenyum menatap dirinya yang mengingat-ingat sosok Rita yang baik dan lembut, ia sangat bahagia akan menikah dengan Rita.


Adry pun berangkat ke rumah Rita bersama dengan kedua orang tuanya.


Sementara Rita, ia masih saja menangis di hadapan meja rias.


“mbak,,,, kalau mbak menangis terus gimana saya bisa make up-in mbak”. Seru salah satu perias pengantin.


“udah dong Rit nangisnya”. Seru Ana sambil mengelus-elus bahu Rita dengan lembut dan mengusap air matanya.


lagi-lagi Rita menangis karena ia akan menikah dengan pria yang tidak ia cintai sama sekali. Rita juga teringat akan keadaan Doni di rumah sakit. ia tidak bisa kesana untuk menemui Doni untuk terakhir kalinya sebelumnya ia menikah.


Orang suruhan Ayahnya juga ada di sana untuk memastikan Rita tidak menjenguk Doni.


****


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok... tok... tok...


“Rita, kok kamarnya di kunci sih, kamu udah selesai belum make upnya”. Tanya Tante Oliv ibunya Rita.


Fitri pun bergegas kearah pintu dan membuka pintu sambil membelakangi Rita supaya tante Oliv tidak melihat Rita yang terus saja menangis.


“eeh tante, belum selesai tante”. Seru Fitri sambil menghalang-halangi tante Oliv untuk melihat Rita.


“coba tante mau lihat”. Seru tante Oliv yang berusaha untuk masuk ke dalam.


Fitri spontan menghalangi tante Oliv dengan cepat.


“ee eee.... tante, ntar aja ngelihat Ritanya pas dia keluar”. Seru Fitri sambil menghalangi Tante Oliv dengan kedua tangannya.


“biar surprise gitu tante. hehehe”. Seru Fitri lagi.


“oooh gitu.... oke baiklah. Tapi lebih di percepat lagi yah. Soalnya mempelai pria sebentar lagi akan sampai dan acara akan segera di mulai”. Seru tante Oliv ibunya Rita.


“sip.... okay tante”. Seru Rita dengan tersenyum lebar.


Fitri pun menutup dan mengunci kamar Rita kembali dan menghampiri Rita.


“Rit, udah dong nangisnya waktu kita udah ngga banyak nih”. Seru fitri.


“Oke, kalau gitu kalian berdua aja yang ngerias gue”. Seru Rita sambil mengusap pipinya yang telah basah karna air matanya.

__ADS_1


Para perias itu pun keluar dari kamar Rita.


Ana dan Rita pun cepat-cepat mempersiapkan make up Rita.


****


Di Rumah Sakit


Tangan Doni bergerak, ibunya Doni pun terbangun dari tidurnya yang tidur di sampingnya Doni sambil memegang tangannya. Ibunya terkejut sekaligus bahagia. Ibunya pun memanggil Doni untuk memeriksanya.


Dokter menyuruh ibunya untuk keluar dulu supaya dokter memeriksa keadaan Doni.


10 menit dokter memeriksa Doni, akhirnya Dokter itu pun keluar dari ruangan Doni.


“Bagaimana keadaan anak saya dok ?”. tanya ibunya Doni.


“keadaan anak ibu semakin membaik dan dia juga sudah sadarkan diri akan tetapi dia harus banyak istirahat buk”. Jelas pak Dokter.


“baik Dok,,,, terima kasih banyak Dok”. Seru ibunya dan bergegas keruangannya Doni.


“ma...”. lirih Doni dengan suara yang lemah.


“Iya sayang....”. seru ibunya sambil menanggis terharu.


“Rita mana mah, kok dia ngga ada di sini”. Tanya Doni.


“Rita kenapa ma”. Tanya Doni dengan wajah serius.


“sebaiknya kamu lupakan saja Rita nak, karna dia.... karna dia akan menikah hari ini dengan pria lain”. Seru ibunya.


Mendengar semua cerita ibunya bahwa Rita akan menikah hari ini, hal itu membuat Doni sangat terpukul. Doni bangkit dari tempat tidurnya. Ibunya menyuruh Doni untuk tetap berbaring.


“ngga... ini ngga boleh terjadi. Aku harus kesana jemput Rita, dia pasti terpaksa melakukan pernikahan ini”. Lirih Doni sambil berjalan lemas.


Ibunya Doni menyesal telah menceritakan semuanya ke Doni. Apalah daya ibunya yang tidak bisa menghalangi niat anaknya itu. Doni pun pergi ke rumah Rita dengan menggunakan Taxi.


Ibunya menyuruh suruhannya untuk mengikuti anaknya Doni.


Sesampainya di Rumah Rita, Doni pun memanjat pagar rumah Rita dari belakang.


Doni pun berhasil dan bergegas langsung ke kamarnya Rita. Doni mengetuk jendela kamar Rita. Dari luar Doni tidak bisa melihat ke dalam, begitu juga dengan tiga sahabat itu tidak bisa melihat Doni yang ada di luar karna jendela di tutupi oleh tirai.


Tok... tok... tok...


Doni mengetuk jendela kamar Rita. Mereka bertiga melirik ke arah jendela yang di ketuk oleh Doni.

__ADS_1


“Siapa Rit”. Tanya Fitri.


Rita mengangguk tidak tahu. Akhirnya Fitri mendekati jendela dan membuka jendela itu. Betapa terkejutnya Fitri melihat Doni yang mengetuk jendela itu.


“Doni....”. teriak Fitri terkejut melihat Doni.


Teriakan Fitri menyebut nama Doni membuat Rita berdiri dari tempat duduk riasnya. Ia pun menghampiri Fitri untuk melihat apakah itu memang benar-benar Doni.


Ternyata memang benar itu adalah Doni. Rita pun mengulurkan tangannya untuk membantu Doni masuk ke kamarnya. Fitri pun ikut membantu Rita.


Setelah Doni berhasil masuk ke dalam, Rita langsung memeluk Doni dengan sangat erat. Lagi-lagi Rita meneteskan air mata yang membuat make up-nya jadi berantakan.


“Rit, Lo jangan nangis lagi dong. Ntar make up Lo rusak lagi”. Pinta Ana.


Doni pun melepaskan pelukan Rita dan ia pun menghapus air mata Rita dengan sangat lembut.


“Honey... it’s okay ada aku di sini”. Ucap Doni sambil memeluk dan mengelus rambut Rita.


“kamu gapapa kan Honey”. Tanya Rita yang kali ini melepaskan pelukan Doni dan memegang wajah Doni.


“Aku baik-baik saja kalau ada kamu Honey”. Seru Doni sambil melakatkan keningnya ke kening Rita.


Tiba-tiba.... suara ketukan pintu kembali terdengar.


“Rita, masih lama lagi kah make upnya. Mempelai pria tlah datang”. Ucap tante Oliv yang berada di luar kamar Rita.


“eee.... sebentar lagi tante. Sekitar eee.... 5 menit lagi tante”. Ucap Ana dengan nada gugup.


“oooh ya sudah kalau begitu cepetan ya”. Seru tante oliv lagi.


“Okay tante”. Jawab Ana dan Fitri kompak.


Tante oliv pun kembali ke depan untuk menyambut para tamu.


Sementara Ana menarik tangan Rita untuk menuntunnya kembali duduk ke kursi rias untuk merapikan make upnya yang sedikit berantakan.


Doni menghentikan tarikan dari Ana dengan menarik tangan Rita juga.


“Honey.... kamu ngga usah ngelanjutin pernikahan ini. Aku tahu kamu ngga mencintai dia kan ? iya kan?”. Seru Doni yang memegang bahu Rita dan menggoyangkannya.


“aku ngga bisa Don. semuanya sudah menungguku di luar. Aku juga ngga bisa ngekhianatin kedua orang tuaku”. Seru Rita kembali menangis lagi.


“tapi... aku benar-benar sangat-sangat mencintaimu Rita”. Seru Doni dengan menggenggam kedua tangan Rita.


***Bersambung . . . .

__ADS_1


B Y . B A E***


__ADS_2