
Ana merangkul leher Adry dengan tangan kirinya. Ana merasa sangat tidak enak hati terlalu banyak merepotkan suaminya yang selalu memapah dirinya.
Sampai di depan lift pribadinya, Adry melihat rambu lift dalam masa perbaikan dan tidak bisa digunakan untuk sementara. Semua lift mendadak rusak dan dalam masa perbaikan di waktu yang tidak tepat.
Adry kemudian melihat seorang petugas, ia lalu memanggilnya dan bertanya kenapa semua lift tidak bisa digunakan secara bersamaan. Petugas itu pun menjelaskan bahwa sedang ada masalah teknisi.
“lalu bagaimana saya bisa turun kebawah.” tanya Adry pada petugas itu.
“sabar bos, sebentar lagi lift-nya akan berfungsi seperti semula.” ucap petugas itu.
“bagaimana saya bisa sabar, saya tanya sekali lagi bagaimana caranya saya bisa turun kebawah. Kamu tidak lihat istri saya kesakitan seperti.....” ucap Adry tak sampai selesai.
“Ana... Ana...” panggil Adry membangunkan Ana yang pingsan.
“Bagaimana pak.” ucap Adry marah pada petugas itu.
Petugas itu pun memberitahukannya dengan tubuh yang bergemetar, dan Adry lalu meminta petugas itu untuk mengantarkan saja sampai didepan jalan darurat itu.
Adry lalu mengubah posisi Ana dengan
gendong punggung supaya mempermudah ia membawa Ana menuruni anak tangga.
Adry pun merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya dengan kejadian waktu itu. beberapa waktu yang lalu Ana juga menaiki anak tangga dengan penuh rasa ketakutan karenanya dengan s ngaja menyuruh seseorang untuk melewati tangga darurat.
Presis sekali dengan apa yang ia rasakan saat ini. Walaupun ia menuruni anak tangga yang lebih mudah, tetapi ia menanggung beban menggendong Ana. Adry juga dipenuhi rasa ketakutan akan kondisi Ana yang saat ini sedang pingsan.
Mereka telah sampai di depan mobil dan Adry pun memasukkan istrinya dengan sangat hati-hati. Adry pun masuk setelah itu, kemudian ia menarik nafasnya dan mencoba untuk memperbaiki nafasnya yang tak beraturan.
Setelah itu ia pun menancapkan gas mobilnya, di pembelokan hendak keluar ia hampir menabrak mobil lainnya dan beruntung ia ngerem untuk menghindarinya. Namun kepala Ana terbentur dengan sangat keras hingga mengeluarkan sedikit darah.
Adry lupa memasang sabuk pengaman pada istrinya, ia memaki-maki dirinya sendiri atas kecerobohannya. Adry pun memasangkan sabuk pengaman untuk Ana dan lalu menancapkan kembali gas mobilnya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Ana tersadar dari pingsannya. Ana memegangi kepalanya yang terbentur dengan rasa perih yang luar biasa ia rasakan.
“kita sudah sampai.” ucap Adry lalu turun dan membuka pintu Ana untuk memapah tubuh Ana masuk ke dalam rumah sakit itu.
Adry mencari dokter yang menangani istrinya pada seseorang yang bekerja di bagian informasi. dan orang itu pun berkata dan menunjukkan bahwa dokter itu ada di ruangannya di sebelah ujung kanannya.
Adry pun mempercepat langkahnya untuk membawa Ana keruangan dokter itu. Adry langsung membuka dan masuj ruangan dokter itu tanpa mengetuk pintu atau pun meminta izin untuk masuk terlebih dahulu pada dokter itu.
“dokter tolong istri saya dok.” ucap Adry sambil membaringkan istrinya ditempat tidur rumah sakit itu.
“ada apa pak, kenapa anda terlihat sangat panik sekali.” tanya dokter itu.
“istri saya dok, tangannya yang patah tulang tak sengaja tertimpa. tolong buk dokter, tolong istri saya.” ucap Adry pada dokter wanita paruh baya itu.
Dokter itu pun memeriksa keadaan Ana, dokter itu memijat-mijat tangan Ana yang sakit. Ana merintih kesakitan menahan rasa sakit itu tanpa berteriak lagi. Ana tidak mau lagi untuk mengeluarkan teriakan rasa sakitnya lagi, karna ia tahu hal itu akan membuat Adry khawatir. Dokter itu melihat ada luka di kening Ana dan lalu mengobatinya.
Beberapa menit setelah dokter itu mengobati luka di kening Ana, memeriksa, dan memijat tangan Ana yang sakit. Setelah itu dokter itu pun menyuntikkan Ana obat bius, supaya ia beristirahat. Dokter itu pun lalu kembali duduk kemejanya dan Adry juga duduk menanyakan keadaan istrinya.
“bagaimana dengan keadaan istri saya Dok.” tanya Adry.
“waktu yang lalu dokter bilang, saya harus membawa istri saya ke rumah sakit ini untuk pemeriksaan lebih lanjut. Apakah dokter telah memeriksanya dan Apakah istri saya mengalami luka yang serius dokter?” tanya Adry dengan melontarkan banyak pertanyaan.
“tidak ada luka serius pada istri anda, hanya tangannya saja yang terluka.” ucap Dokter itu.
Adry lalu berterima kasih banyak pada ibu dokter itu dan lalu menjabat-jabat tangan dokter itu. Dokter itu lalu menanyakan obat Ana pada Adry.
“apakah obat yang kemarin saya berikan masih ada.” tanya dokter itu.
“tersisa sedikit lagi Dok.” ucap Adry.
“baiklah kamu harus menebus obat yang kemarin juga dan saya menambahkan krim salap untuk dioleskan ke tangan istri anda yang terluka.” ucap buk Dokter itu sambil menulis resep obat yang harus ditebus oleh Adry.
__ADS_1
“dan jangan sekali-kali mengoleskan salap ke wajah istrimu, karena itu bukanlah skincare.” seru dokter itu sedikit bercanda untuk menghilangkan rasa khawatir Adry.
“baiklah dokter. terima kasih banyak, untung dokter memberi tahu saya. Kalau tidak, mungkin saya akan benar-benar mengoleskannya.” balas Adry sambil berusaha untuk tersenyum.
Adry kemudian berpamit dan menitip Ana sebentar di ruangan dokter itu untuk pergi keluar menebus obat-obatan istrinya, Ana.
Setelah selesai mengurus obat-obatan istrinya, Adry kembali keruangan dokter itu dan ia tidak melihat keberadaan dokter itu. Adry hanya menemukan secarik kertas berisi pesan dari dokter itu.
Jaga Istrimu baik-baik yah, saya sangat terharu melihat kalian berdua. Saya juga menganggap kalian sudah seperti anak saya sendiri juga. Jika kamu ingin bertanya seputar tentang kesehatan istrimu hubungi saja saya, ada kartu nama saya pada slip kertas ini.
Dokter itu menulis surat itu karena ia hendak ingin melakukan operasi pada pasiennya dan ingin sekali menyampaikan hal itu.
Adry lalu mengambil kartu nama dokter itu dan lalu menyimpannya. Nama dokter itu ternyata adalah Dokter Sri.
Ana masih belum sadar juga, Adry pun memapah kembali Ana untuk pulang ke apartemen mereka. Adry tidak ingin membangunkan istrinya yang terlelap tidur.
Adry memapah sampai dekat dengan mobilnya, memasuk Ana ke dalam mobil. Tak sengaja kepala istrinya terbentur, Adry sangat terkejut dan Ana pun merintih kesakitan dengan matanya yang masih terpejam.
Adry menenangkannya dan mengelus-elus rambut Ana dengan sangat lembut. Adry menenangkan Adry layaknya seperti seorang bayi, jika Ana mengetahui perlakuan Adry yang sangat lucu terhadapnya Ana akan tertawa jikalau ia mengetahuinya.
Bersambung....
Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang baik.
Salam Hangat~
BY.BAE©
Pemeran Ana (Natahsya Chyntia Bella)
__ADS_1
Pemeran Adry Dexter