Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 40. Ibuku Akhirnya mengetahui kebenaranya


__ADS_3

Adry masih terduduk di ruang tamu dalam diam, terkadang ia mondar-mandir berjalan menunggu si tukang pijat yang lama sekali datangnya untuk mengobati Ana.


Ting Dong...


Bel pintu depan apartemen Adry berbunyi, Adry sangat yakin kalau yang datang kali ini adalah si tukang pijet. Ia pun berjalan kearah pintu untuk membuka pintu itu.


“akhirnya datang... juga.”


“mama mertua.” Ucap Adry terkejut untuk kedua kalinya dengan kedatangan ibu mertuanya. Ibu Ana datang untuk menjenguk Ana yang sakit.


Flashback On


Ibunya Adry datang berkunjung kerumahnya Ana untuk mengajak Tante Eva mengunjungi Ana, anaknya yang sedang sakit. Tante Eva menyambut ibunya Adry dengan sangat hangat.


“maaf ada apa ya Jeng, Ajeng dateng kemari ?" tanya Tante Eva, ibunya Ana.


“begini Jeng, Ana mengalami kecelakaan Jeng. Ayo kita jenguk Ana ke rumah sakit.” seru Tante Riska.


“Ajeng kan sudah tahu, bahwa dia bukan lagi Anak saya.” ucap Tante Eva.


“jangan seperti itu Jeng, Ana adalah anak yang sangat baik. kejadian pernikahan itu Ana lakukan karena demi sahabatnya yang tidak menginginkan pernikahan itu yang mencoba untuk bunuh diri.” jelas Tante Riska.


“apa... apakah benar seperti itu.” tanya Tante Eva.


“iya Jeng... apa yang saya katakan, semuanya memang kenyataannya seperti itu.” seru Tante Riska.


Ibunya Ana sama sekali tidak mempercayai ucapan Tante Riska. Sejelas-jelasnya Tante Riska menjelaskan pada ibunya Ana, tetap saja Tante Riska tidak dipercayai ibunya Ana apa yang diucap Tante Riska.


Pamit pergi terlebih dahulu ke rumah sakit, Tante Riska berharap semoga ibunya Ana membuka mata dan hatinya yang tertutup rapat hanya karena kesalahpahaman. Tante Riska memberitahu alamat rumah sakit tempat Ana di rawat.


Tante Riska mengetahui Ana kecelakaan karena ia memerintah seorang mata-mata untuk memantau Adry dan Ana setiap harinya.


Setelah kepergian Tante Riska, keluarlah Sarah dari kamarnya. Sarah mendengar semua pembicaraan Tantenya dengan ibunya Adry.


“Tante... apa yang dikatakan Tante Riska itu memang benar, Tante.” ucap Sarah.


“Sarah... kamu masuk ke kamar dan belajarlah dengan giat. fokus ke sekolah kamu saja, kamu mengerti.” bentak Tante Eva.


Untuk pertama kalinya, Sarah mendapat bentakan yang menusuk ke hatinya. Sarah pergi masuk ke kamarnya meninggalkan Tante Eva sendiri diruang tamu itu. Sarah sengaja meninggalkan Handphonenya yang sedang memutar sebuah video.


Video terputar


Tante Eva meraih Handphone Sarah dan menonton video itu.

__ADS_1


“Daripada gue yang nikah atau pun gue yang ngelihat Doni bunuh diri, mending gue aja yang mati supaya kalian akan puas.” Ucap Rita


“Rit, Lo apa-apaan sih.” Ucap Ana.


“ngga ada juga yang peduli sama gue kalo gue hidup ataupun mati.” seru Rita menangis.


Rita pun mengarahkan gunting itu ke pergelangan tangannya.


“hhaaahhh.” reaksi Tante Eva terkejut dengan apa yang akan dilakukan Rita.


"Rita... kita bisa cari cara lain, Lo jangan kayak gitu dong". ucap Fitri.


"ngga ada cara lain Fit, kecuali kalo gue mati". ucap Rita.


"Stop... stop.... oke,,, gue ikut ide Lo itu". ucap Ana terpaksa


"Beneran Na". seru Rita sambil tersenyum haru dan berlari kecil ke arah Ana lalu memeluknya.


"terima kasih banyak Na, aku tahu kau tak akan membiarkan sahabatmu ini menderita". seru Rita yang masih saja memeluk Ana.


****


Tante Eva menjatuhkan tubuhnya yang seketika menjadi lemah ke lantai.


Sarah yang mengintip Tante Eva dari kamarnya merasa lega dengan kesadaran Tantenya, ia pun menghampiri Tante Eva dan lalu memeluknya.


“Sarah... kenapa kamu nggak cerita sama Tante dari dulu.” ucap Tante Eva.


“Tante... dari dulu Sarah sudah mencoba untuk memberitahu Tante. Namun, Tante selalu saja marah ketika Sarah hendak memberitahukannya.


“betapa bodohnya Tantemu ini memperlakukan Kakakmu seperti itu.” ucap Tante Eva.


Air mata bercucuran dengan sangat derasnya mengalir di pipi Tante Eva. Menenangkan, Sarah mencoba untuk menenangkan Tantenya dan mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit.


Mencoba untuk tenang, Tante Eva mencoba untuk berdiri untuk pergi menjenguk anak semata wayangnya itu. Sarah mengikuti Tante Eva menuju ke mobil dan ikut masuk. Tante menyuruhnya untuk menjaga rumah saja dan Sarah tidak bisa melawan perintah Tantenya itu.


Di rumah sakit, Ibunya Ana mencari informasi tentang kamar Ana dirawat pada seorang resepsionis. Namun sayang, ternyata Ana sudah pulang beberapa hari yang lalu.


Tante Eva mulai bingung harus kemana ia mencari alamat tempat tinggal anaknya. Seingatnya menantunya pernah bercerita padanya bahwa ia tidak tinggal di rumah orang tuanya.


Terlintas dipikiran Tante Eva untuk menghubungi Sarah yang mungkin saja mengetahui tempat tinggal Adry dan Ana. Secara, mungkin saja Sarah bertanya pada Adry sewaktu ia pernah berjumpa dengan Adry. Dan atau mungkin saja Sarah diam-diam menemui Ana, kakak sepupunya.


Tante Eva pun menghubungi nomor telepon Sarah, namun Sarah tidak menjawab teleponnya. Tante Eva menjadi semakin gelisah dengan apa yang harus dia lakukan. Sarah saja tak menjawab-jawab teleponnya.

__ADS_1


Mencoba menelpon Sarah sekali lagi, akhirnya Sarah pun menjawab teleponnya.


“Halo Tante... maaf, tadi Sarah lagi dikamar mandi. Ada apa yah Tante? Apakah Tante sudah bertemu dengan Kak Ana?” tanya Sarah.


“Sarah... sepertinya kakak kamu sudah pulang kerumahnya. Apakah kamu tahu dimana alamat rumah kakak kamu?” tanya Tante Eva.


“seingat Sarah, kakak ipar bilang mereka tinggal di apartemen XXX Tante.” ucap Sarah.


“Oke terima kasih sayang, Tante matiin telponnya yah. jaga diri baik-baik dirumah dan jangan kemana-mana.” ucap Tante Eva.


“Oke Tante... Tante juga hati-hati yah dijalan.”


Telepon pun terputus, Tante Eva melaju ke alamat Apartemen Adry dan Ana yang diberitahu oleh Sarah. Tante Eva sudah tidak sadar untuk bertemu dengan Anaknya itu


Flashback Off...


“dimana Ana, Nak?” ucap Tante Eva dengan sangat lembut.


“ada di kamarnya Mah.” ucap Adry tercengang.


Adry tercengang karena perubahan sifat mertuanya yang berubah, beberapa waktu lalu Adry mendapati ibu mertuanya sangat membenci Ana.


“Nak... Nak... Nak Adry.” ucap Tante Eva


“eeh... iya Mah.”


“dimana kamarnya?”


Terlarut dalam keheranan yang terbawa dalam lamunan mengingat waktu lalu, ibu mertuanya menyadarkan Adry untuk menunjukkan dimana kamarnya.


“Apa Ana terluka sangat parah.” tanya Tante Eva.


“tangan kanan Ana patah tulang Mah.” ucap Adry.


“Astagfirullah, Anakku... kasihan sekali kamu.” ucap Tante Eva meneteskan air matanya lagi.


Sampai didepan pintu kamar, Adry mempersilahkan ibu mertuanya untuk masuk dan ia izin pamit untuk menunggu si tukang pijat di ruang tamu.


Bersambung....


Author sangat mengharapkan like, komen dan Votenya dari kalian wahai para readers yang setia.


Salam Hangat~

__ADS_1


BY.BAE©


__ADS_2