
Adry pun akhirnya sampai ke rumah orang tuanya. Semua orang termasuk orang tuanya Adry sudah pada tidur terlelap. Adry masuk kedalam rumah itu dengan dituntun oleh Sopirnya karena Adry masih dalam keadaan mabuk berat. Bagaimana tidak, Adry meminum minuman itu lagi saat dalam perjalanan pulang.
Sampai di depan kamar Adry, ia meminta sopirnya untuk tidak menuntun sampai kedalam kamarnya. Rita juga baru sampai ke kediaman keluarga Dexter. Tante Riska jadi beranggapan bahwa Rita sudah tidur pada saat Tante Riska memanggilnya. Tante Riska sama sekali tak mengetahui Rita yang keluar keluyuran.
Rita sangat penasaran dengan Adry yang dalam keadaan mabuk. Rita sangat takut jika dalam keadaan mabuk, Adry dan Ana melakukan hubungan suami-istri. Jadi, Rita pun memutuskan untuk mengintip Adry dikamarnya.
*****
Adry mengunci pintu kamarnya setelah ia masuk. Adry berjalan dan tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung terjatuh di atas sofa. Adry tak melihat Ana di atas ranjang tempat tidur. Adry pun mendekati ranjang itu. Adry pun melihat Ana tertidur dilantai tanpa mengunakan alas untuk Ana tidur. Ana tertidur dilantai itu karena ia merasa sangat panas pada tubuhnya. Adry membangunkannya untuk naik keatas ranjang. Namun Ana tak kunjung bangun.
Adry pun berjalan ke kamar mandi dengan jalan yang tergopo-gopo. Adry mengambil gayung berisikan air yang ada dikamar mandi itu. Adry lalu mendekati Ana dan lalu menyiramkan air itu ke wajah Ana. Sontak Ana pun terbangun dari tidurnya.
“Mas, apa yang kamu lakukan,” tanya Ana sambil mencoba untuk berdiri.
Adry tersenyum sinis melihatnya. Adry lalu mendorong tubuh Ana terjatuh ke atas ranjang. Adry sangat bernafsu terhadap Ana. Adry mencium! istrinya dengan lembut, Ana pun tak menolaknya. Adry membuat Ana mendesah karena ia berdalih ke area leher dan dadanya. Rita yang diluar tak melihat mereka karena terhalang oleh gorden.
Namun Rita mendengar desahan Ana, ia sangat kecewa mendengar hal itu. Rita pun pergi meninggalkan tempat ia mengintip dengan kekecewaan. Rita sangat kecewa atas penolakan Adry padanya. Padahal situasi itu adalah peluang yang bagus untuknya. Namun tetap saja Adry menyadarinya dan langsung menolaknya. Rita yang pergi kembali ke kamarnya, samar-samar mendengar suara Ana. Rita mengambil sebuah bantal untuk menutupi telinganya.
Adry yang awalnya mencium istrinya dengan lembut, tiba-tiba saja ia bermain sangat kasar pada istrinya. Adry seperti itu karena ia teringat dengan kejadian yang baru saja menimpa istrinya. Adry melepaskan *****4nnya dan lalu menepukkan tangannya ke dinding sandaran tempat tidur itu.
paaanggg...
“Ana mengapa kau selalu saja menolakku, hingga akhirnya orang lain merebut keperawan4nmu dariku.”
“Apa maksudmu Mas, aku tak mengerti.” Ucap Ana yang masih dibawah pengaruh minuman juga dan ia tak mengingat kejadian itu. Adry melanjutkan aksinya mencium Ana yang kali ini ia bermain lebih kasar lagi. Adry bukannya memberikan cium4n lembut kepada istrinya, lebih tepatnya ia mengigit bibir istrinya. Ana teriak histeris mendapat perlakuan itu. Ana mencoba mendorong tubuh suaminya yang menindih tubuhnya, namun ia tak bisa melakukannya.
Adry malah semakin liar melakukannya. Adry menggigiti leher hingga payudar Ana dengan sangat ganas. Ana berteriak antara meminta tolong atau mendesah dengan hebatnya.
“Berteriak atau mendesah lah sekuat-kuatnya, karena satu orang pun tidak akan bisa mendengarkan mu.” Ucap Adry yang mengira kedap suaranya aktif.
Padahal Adry tak mengaktifkannya dan suara Ana terdengar kemana-mana. Semua orang termasuk Ayah dan ibunya Adry yang ketiduran diruang tamu karena menunggu Adry membawa Ana pulang dari penculikan itu pun terbangun. Ayah dan ibunya mendekati pintu kamar Adry. ibunya Adry hendak membukakan pintu kamar itu untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Namun hal itu dihentikan oleh ayahnya Adry.
“Jangan buka pintunya Mah.”
“Tapi Ana berteriak kesakitan Pa.”
“Mungkin saja itu yang pertama kalinya, jadi wajar dia berteriak.”
“Ah iya, tapi tidakkah Papa mendengar suara Ana yang sepertinya....”
“Sudah-sudah, yang penting Ana sudah pulang dengan selamat. Biarkanlah mereka melakukannya, dengan begitu kan kita sebentar lagi akan menimang cucu. Ayo kita kembali ke kamar saja.” Ucap ayahnya Adry.
Perlakuan Adry kali ini terlalu kasar hingga membuat Ana mendapati luka di bibirnya dan juga pada leher. Adry tiba-tiba saja terjatuh tak sadarkan diri lagi dan tertidur tepat di atas payudar istrinya. Ana menangis meneteskan air mata, ia tak mengerti maksud semua perbuatan kasar suaminya. Karena Ana sama sekali tak mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Ana menangis sambil memeluk suaminya, hingga akhirnya ia pun tertidur.
__ADS_1
***
Pagi harinya, Ana terbangun dari tidurnya terlebih dahulu. Ana mendapati kepalanya yang sangat sakit sekali. Ana juga mendapati rasa sakit pada bibir dan juga lehernya. Ana mencoba untuk bangkit. Ana menyingkirkan suaminya darinya yang masih tidur di atasnya. Ana berjalan kearah kamar mandi untuk berkeramas, supaya rasa sakit di kepalanya sedikit menghilang.
Langkah Ana menuju kamar mandi itu berhenti ketika melihat kearah meja rias. Ana mendekati meja rias itu. Ana memandangi dirinya yang penuh dengan tanda merah dileher dan juga di payudaranya. Bibirnya juga bengkak menjendol akibat ulah kasar Adry yang menggigitnya. Ana pun mengingat perlakuan kasar Adry padanya semalam.
Air matanya tak terasa menetes, Ana pun berdalih kekamar mandi membersihkan dirinya. Ana mandi mengkeramasi rambutnya. Sekilas ingatan Ana tentang kejadian itu terlintas, Ana mengingat ia merangkul Doni dan Adry suaminya datang menghajar Doni.
Kepalanya yang sangat pusing mengingat itu semua, mempercepat langkahnya untuk ke dapur membuat susu kunyit untuknya sendiri. Ana keluar dari kamarnya dengan menggunakan masker untuk menutupi bibirnya yang bengkak dan juga menutupi lehernya yang banyak mendapati bekas gigitan Adry dengan syal. Ana yang sudah berada di dapur beberapa menit yang lalu, mendengar mertuanya berbicara dengan suaminya.
“Nak, bagaimana bisa Ana diculik, siapa pelaku yang berani menculiknya?” Tanya ibunya Adry.
“Sudahlah Mah, tak usah dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu.”
“Baiklah...”
“Oh ya Pah, hari ini Adry akan berangkat ke Amsterdam sendiri untuk mengurus perusahaan yang ada di sana.”
“Tapi Ana, istrimu?”
“Aku sudah meminta izinnya Pah, dan dia menyetujui Adry untuk pergi ke sana sendiri. Secara dia masih shock dengan apa yang baru saja ia alami.”
“Baiklah Nak, berapa lama rencana kamu di sana?”
“Apa itu nggak terlalu lama, kasian dong istrimu kamu tinggalin.” ucap ibunya Adry.
“Bukannya Mama yang sering bilang, bahwa ini semua demi masa depan Adry.”
Dengan ucapan seperti itu, ayah dan ibunya pun menyetujui Adry. Ana sendiri yang mendengar perbincangan antara mertua dan suaminya, bingung sendiri. Ana tak mengerti mengapa Adry harus sampai berbohong seperti itu.
Rita yang mengintip tak berani berkabung sarapan karena ada Adry disitu, ia takut jika Adry melihatnya mungkin Adry akan langsung mengusirnya. Itulah sebabnya untuk saat ini Rita menghindari Adry dulu.
Rita juga mendengar perbincangan itu dan ia juga melihat Ana sedang mendengarkan perbincangan itu dengan wajah yang sedih. Hingga akhirnya Ana keluar dari tempat ia mengintip. Ana menyapa mertuanya dengan senyuman manisnya.
“Ana, kamu di dapur ternyata Nak. mengapa kamu menggunakan masker dan syal apa kamu sedang tidak enak badan?” Tanya mertua Ana yang menanyakan tentang keadaannya dan Ana pun menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
Adry tiba-tiba pamit pada orang tuanya untuk mempersiapkan bajunya. Ana pun berpamit juga pada mertuanya untuk membantu suaminya. Ana pun mengikutinya itu. Rita yang sedang mengintip itu bersembunyi sebelum Adry melihatnya.
Setelah Adry dan Ana melewati tempat Rita bersembunyi, Rita pun mengikuti mereka diam-diam dari belakang. Rita mengikuti mereka sampai akhirnya ia terhenti di depan kamar mereka. Rita mendengarkan pertengkaran antara Adry dan Ana.
***
“Mas apa maksud Mas dengan berbohong pada Papa dan juga Mama?” tanya Ana pada Adry yang sedang mengemasi pakaiannya sendiri.
__ADS_1
“Apa kau tak mengingat kejadian yang semalam?” tanya Adry balik bertanya pada Ana.
“Aku tak mengingat semuanya Mas, kepalaku sangat pusing mengingatnya.”
“Oh ternyata Ana tak mengingat kejadian semalam.” Gumam Adry yang menguping pembicaraan Adry dan Ana.
Rita pun tersenyum sinis memiliki ide untuk membuat Ana mengingat kejadian semalam. Rita pun meraih ponsel Doni dan langsung mengirimkan video dan fotonya Ana dan Doni. Ponsel Ana tepat berada di dekatnya, Ana pun membuka ponsel itu. Ana sangat terkejut melihat video itu.
Video yang mana Ana sendiri yang menarik Doni dan juga merangkulnya. Tanpa sadar ponselnya terjatuh dari tangannya. Adry mendengar suara benda yang terjatuh, berbalik melihat. Adry melihat Ana meneteskan air mata dan ponsel Ana yang terjatuh.
Ana terduduk lemas di atas tempat tidur. Adry mengambil ponsel Ana dan melihat apa yang membuat Ana sampai-sampai ia meneteskan air mata. Adry tersenyum sinis dan langsung membanting ponselnya Ana.
“Doni juga mengirimkan pesan untukku, kau bacalah dia bilang aku harus menyampaikan ini kepadamu.” ucap Adry sambil melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur itu.
Ana yang masih menangis mengambil ponsel milik suaminya. Dibacanya isi pesan itu, kata demi kata membuat dirinya hancur.
“Mas, ini tidak benar. Aku yakin ini semua salah.”
“Dari mana kamu tahu bahwa semua itu salah. Jelas-jelas kamu sendiri yang menariknya. Kamu itu sudah tidak per.....”
“Mas.....” teriak Ana memotong ucapan Adry.
“Aku sendiri yang merasakan tak ada hal aneh yang kurasakan pada tubuhku Mas.”
Adry tersenyum dengan air mata yang terbendung. Ana berjalan mendekati Adry dan lalu memeluknya seerat-eratnya.
“Mas... Percayalah padaku bahwa aku masih peraw4n dan aku masih utuh untukmu Mas.”
Adry hanya terdiam hingga tak terasa air matanya yang terbendung mengalir dengan derasnya. Adry sama sekali tak mempercayai Ana. Karena semua bukti sangat jelas terlihat di depan matanya Dimulai dari bukti tanda merah pada bagian leher Ana, darah peraw4n terlihat jelas di ranjang, dan juga Adry melihat dengan jelas Doni tengah mencium istrinya.
Adry melepaskan pelukan istrinya dan langsung mendorong istrinya terhempas di atas ranjang tempat tidur. Adry hendak keluar dengan membawa kopernya. Ana bangkit ingin mencegah kepergian suaminya.
“Stop, kamu jangan keluar sebelum aku pergi. Tetaplah disini karena aku akan beralasan bahwa kamu sedang tak enak badan pada Mama.” Ucap Adry menghentikan langkah Ana.
Adry pun keluar dari kamar itu. Rita yang sedari tadi tertawa kecil mendengar mereka bertengkar pun pergi dari situ sebelum Adry melihatnya.
Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe
Salam Hangat~`
__ADS_1
BY.BAE©