
“bik... bibi...”. seru Ana mencari Asistennya ke semua ruangan.
“bibik sudah pergi pulang kampung”. Ucap Adry santai sambil duduk di sebuah sofa dengan kaki yang dinaikkan keatas meja.
“haah.. pulang !!! kok bisa”. Tanya Ana terkejut.
“kenapa ? kaget haa !! Yaa bisalah !!”. ucap Adry dengan nada membentak sambil beranjak dari sofa ke arah Ana.
“iyaa.. tapi, tapi kenapa”. Ucap Ana gugup ketakutan.
“Aku yang menyuruhnya untuk pulang”. Ucap Adry.
“lalu.. siapa yang akan memasak dan mengerjakan semua pekerjaan rumah”. Tanya Ana.
“siapa lagi kalau bukan kamu”. Seru Adry.
“oke kalau masalah bersih membersihkan rumah aku bisa. Tapi kalau memasak,, Aku ngga bisa”. Jelas Ana.
“aahh... aku ngga peduli. Pokoknya kamu yang akan mengerjakan semuanya sendiri”. Ucap Adry lalu pergi ke kamar.
Langkah Adry terhenti di depan pintu kamar, ia kemudian membalikkan badannya ke arah Ana yang masih terdiam.
“Oooh ya, sekarang masaklah. Aku sudah sangat lapar”. Ucap Adry.
“tapi... aku benar-benar tidak bisa memasak”. Ucap Ana.
“aahh.. sudahlah kamu jangan banyak membantah. Cukup laksanakan saja tugasmu”. Ucap Adry lalu pergi ke kamar membaringkan tubuhnya di ranjang.
Ana lalu meneteskan air matanya ketika Adry membentaknya. Ana tidak tahan jika ia mendengarkan suara yang meninggi, biasanya ia akan meneteskan air mata. sebagaimana yang terjadi padanya saat ini.
Ana pun pergi ke dapur dan mencoba untuk memasak. Ana mengambil Handphonenya dan membuka mbah google. Ana mencari bagaimana cara menghidupkan kompor dan cara-cara memasaknya.
Di rumahnya memang sama sekali ana tidak pernah memasak. Padahal Ana sering di ajak oleh ibunya untuk belajar memasak, supaya jika ia sudah menikah akan lebih mudah baginya.
Ana selalu menolak karena pada saat itu ia masih terfokus pada kuliahnya. Mengingat hai itu, Ana jadi teringat ibunya yang sangat ia rindukan.
Kali ini untuk pertama kalinya, Ana memasak ikan nila yang sudah di bersihkan. Ia pun menaruh wajan di atas kompor dan menuangkan minyak sayur.
“aduh, ikannya kapan ya di masukin”. Tanya Ana di dalam hati.
“ahh tunggu saja dulu beberapa menit”. Gumam Ana lagi.
Wajan sudah sangat panas sampai-sampai wajan itu mengeluarkan sebuah asap.
“udah kali yaa, wajannya ada udah sampe ngeluarin asap kayak gitu”. Seru Ana pada dirinya sendiri.
Ana pun menjatuhkan ikan itu ke dalam wajan dari jarak jauh. Karena Ana menjatuhkannya dari jauh dan wajannya juga sangat panas, otomatis api naik ke atas dan minyaknya tumpah mengenai tangan Ana.
__ADS_1
“aaaaa...”. teriak Ana kesakitan.
Adry mendengar suara teriakan Ana.
“aduuhhh.. kenapa sih tu anak”. Ucap Adry kesal sambil berjalan menghampiri Ana ke dapur.
Adry tidak melihat anak di dapur, yang ia lihat hanyalah wajan yang berasap yang isinya ikan yang gosong.
“kemana dia”. gumam Adry dalam hati.
Adry mendengar suara tangis terisak-isak di sudut dapur. Adry melihat ana yang sedang duduk memeluk kakinya sambil menundukkan kepalanya. Adry pun melangkah mendekati Ana.
“apa yang kamu lakukan”. Tanya Adry marah.
Ana langsung berdiri dan memeluk tubuh Adry dengan sangat kuat.
“aku takut.. sudah ku bilang aku tidak bisa masak”. Ucap Ana yang masih saja menangis.
“uuhhh lepaskan... jangan modus kamu”. Ucap Adry lalu memegang tangan Ana.
“aduhh... sakiitt...”. Ana kesakitan tangannya yang memerah akibat terkena minyak sayur itu di pengang sangat erat oleh Adry.
“tangan kamu kenapa”. Tanya Adry.
“kena minyak panas”. Ucap Ana.
“kamu tuh yaa... goreng ikan aja ngga bisa”. Ucap Adry.
“kan dari tadi aku bilang aku emang ngga bisa masak”. Ucap Ana.
“aah sudahlah, kalau begitu masakkan aku mie saja”. Seru Adry.
“aku ngga bisa.. lagian tangan aku juga sakit banget”. Ucap Ana sambil menangis.
“dasar perempuan cengeng”. Ucap Adry pada Ana.
“gimana rasanya... kamu pasti menikmati momen ini kan ? lihat saja, ini baru permulaan !! hahaha”. Gumam Adry dalam hati sambil tersenyum sinis.
Adry pun pergi keluar untuk makan malam di luar, dia pergi sendiri tanpa mengajak Ana.
"kamu mau kemana". tanya Ana.
"Aku mau makan di luar". jawab Adry dengan muka kesal.
"maafkan aku yang tidak bisa masak untukmu". imbuh Ana sedih.
"makanya jangan menggantikan posisi orang lain jika diri sendiri belum siap". sindir Adry dengan nada marah.
__ADS_1
"maafkan aku". ucap Ana sambil menundukkan mukanya.
"sudahlah, aku mau pergi". ucap Adry.
"Aku ikut, aku ngga berani di sini sendiri". ucap Ana sambil memegang tangan Adry.
"apaan sih, lepasin. kamu disini aja". ucap Adry.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Adry pun pergi meninggalkan Ana sendirian di apartemen. Ana sangat ketakutan, seumur-umur baru kali ini ia tinggal sendiri.
Ana memerhatikan sekelilingnya dengan was-was. Satu jam setelah Adry pergi, Ana masih terjaga menunggu kedatangan suaminya Adry.
Tiba-tiba listrik padam, semua jadi gelap gulita. tak ada satupun cahaya di ruangan itu. Ana semakin ketakutan, ia menangis dan berteriak-teriak minta tolong.
Ana mendengar suara pintu yang di buka, ia pun melihat ada seseorang yang masuk memegang sebuah senter dari Handphone.
Ana yakin itu adalah Adry, ia pun mendekatinya dan lalu memeluknya.
"aku takut sekali disini sendiri". ucap Ana terisak-isak menangis.
"kamu kemana aja, kok kamu lama banget pulangnya". Tanya Ana.
"Hey siapa kamu, tiba-tiba memelukku seperti ini". Ucap pria bersuara besar itu.
Ana sontak melepaskan pelukannya hingga ia terjatuh ke lantai. Ana sangat ketakutan, lelaki itu semakin mendekatinya.
"jangan mendekat...". ucap Ana sambil menyeret tubuhnya untuk mundur.
Ana sama sekali tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Pria itu memegang tangan Ana dengan sangat erat.
"tolong jangan sentuh saya, hanya suami saya yang berhak atas saya". ucap Ana menangis.
Pria itupun menarik Ana untuk masuk ke kamar. Ana hanyalah wanita yang lemah, dia hanya bisa memukuli tangan pria itu. Itupun tidak mempan.
kini Ana sudah berada di atas ranjang, ia semakin takut. Ana memejamkan matanya pasrah yang masih tersedu-sedu menangis. Pria itu melepaskan genggamannya.
Ana menutupi dirinya dengan selimut supaya pria itu tidak bisa menyentuhnya.
untungnya listrik pun akhirnya menyala, pria itu bergegas mematikan lampu yang ada di kamar itu dan langsung pergi kabur sebelum Ana membuka matanya dan melihatnya.
Ana pun membuka matanya, di lihatnya cahaya lampu ruang tamu masuk ke kamarnya yang masih gelap. Ana bersyukur sekaligus lega pria itu pergi dari hadapannya.
***Bersambung....
BY.BAE©***
__ADS_1