Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 79


__ADS_3

Adry pulang ke rumah orang tuanya dengan berjalan luntang-lantung tak karuan. Orang tuanya yang menunggu kedatangannya pun, menghampiri dirinya.


“Nak, mengapa kau terlihat menyedihkan seperti ini? Dimana Ana?” tanya Tante Riska pada anaknya itu.


“Itu bukan anakku Mah, anak itu adalah milik orang lain Mah.” Ucap Adry merengek bersedih.


Orang tuanya sontak terkejut sekaligus tak mengerti juga dengan apa yang diucapkan oleh Adry.


“Apa maksudmu Nak, Mama tak mengerti.”


“Anak yang dikandung Ana bukan anakku Mah.”


“Apa? Apa yang kamu katakan ini Nak... Ayo bangunlah. Sepertinya kamu terlalu lelah. Ayo bangunlah dan pergilah ke kamarmu untuk beristirahat.” Ucap Tante Riska sambil menuntun Adry untuk ke kamarnya beristirahat. Adry pun tertidur.


Akhirnya Rita dan Ana sampai juga, Ana yang masih belum sadarkan diri, dibantu oleh asistennya untuk dibawa masuk ke kamarnya. Ana di baringkan tubuhnya di samping suaminya yang sedang tertidur istirahat.


Tante Riska menanyakan pada Rita tentang pernyataan dokter. Rita pun menjelaskan semuanya dengan pernyataan palsu tentang kehamilan Ana. Tante Riska pun menjadi bingung, apakah ia harus bahagia atau bagaimana, Tante Riska bingung jadinya karena ucapan Adry tadi.


****


Sore harinya Adry terbangun dari tidurnya. Tangan Ana yang melingkar memeluknya, dijauhkan oleh Adry darinya. Adry kemudian duduk dan mendapati berkas surat tentang kehamilan Ana di meja tepat berada disampingnya. Adry membuka dan membaca surat pernyataan itu, wajah Adry pun terlihat sangat murka membacanya.


Adry langsung merobekan surat pernyataan itu dan lalu menghamburkannya tepat di wajah Ana yang masih tertidur lelap. Ana pun jadi terbangun karenanya.


“Kamu hamil...” Ucap Adry dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh Ana.


“Aku nggak hamil Mas.”


“Surat yang aku robek itu adalah surat yang menyatakan bahwa kamu hamil.”


“Itu nggak mungkin Mas, secara...” ucap Ana terpotong.


“Sewakru aku pergi pun, kamu menemuinya dan kamu sangat mesra dengannya,” ucap Adry.


Ana tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu.


“Maksud Mas?” Tanya Ana bigung.


“Lihatlah ini...” ucap Adry sambil memperlihatkan foto Doni dan Ana yang terlihat tampak mesra.


“Mas, bukan seperti ini yang terjadi sebenarnya Mas,” lerai Ana sambil mencoba untuk bangkit berdiri mendekati suaminya.

__ADS_1


“Tapi kamu memang menemuinya, kan?” tanya Adry.


“Iya Mas, tapi aku menemuinya karena ingin menanyakan sesuatu yang penting.” Ucap Ana yang tak transparan.


“Penting apa? Penting untuk membahas anak yang sedang kau kandung itu.”


“Mas...” teriak Ana tak sengaja tangannya melayang menampar pipi Adry.


“Huh, apa lagi yang ingin kau bicarakan padanya selain tentang anak itu,” ucap Adry.


“Tak bisakah kau mempercayaiku Mas bahwa aku tidak hamil, dan aku masih peraw4n Mas.”


“Bagaimana aku bisa mempercayaimu jika surat itu menyatakan kau sedang mengandung anaknya.” Ucap Adry.


“Bagaimana kalau surat pernyataan itu salah. Tak pernahkah terpikirkan oleh mu Mas. Untuk itu percayalah padaku bahwa aku masih peraw4n,” tegas Ana sambil menangis. Adry malah diam tak merespon ucapan Ana lagi.


“Baiklah Mas, jika Mas tidak mempercayaiku. Aku akan pergi meninggalkan Mas, karena percuma aku berada di sini jika Mas sendiri tak mempercayaiku,” lirih Ana.


Ana lalu mengemasi barang-barangnya untuk pulang ke rumah orang tuanya.


“Mau kemana kamu?” tanya Adry.


“Oh gitu. baiklah, terserah aku pun tak peduli lagi.”


“Sakit sekali rasanya ucapan mu itu Mas. Ah baiklah aku akan benar-benar pergi meninggalkan rumah ini dan juga dirimu.” Gumam Ana dengan rasa kekecewaannya pada suaminya yang tak mempercayainya.


Ana mempercepat langkahnya mengemasi barangnya dan lalu pergi meninggalkannya. Ana melewati ruang tamu yang di ruang tamu itu, ada ibu mertuanya sedang duduk sambil membaca sebuah majalah. Ibu mertuanya pun lantas menghentikan langkah Ana.


“Ana, kamu mau kemana, sampai-sampai membawa koper?” tanya ibu mertua Ana penuh selidik.


“Mah, maafin Ana yah, Ana mau pulang ke rumah orangtua Ana.” Ucap Ana yang sebenarnya sangat sedih, namun ia berusaha untuk tegar.


“Apa? Kenapa Nak, apa kalian sedang bertengkar? Kalau begitu, ayo ikut Mama sebentar.” Ucap Tante Riska sambil menarik tangan Ana untuk mengikutinya masuk keruang kamar tamu dan Rita pun melihatnya lalu mengikuti mereka diam-diam.


“Nak, dengar. Sebenarnya Mama sangat bingung melihat kalian berdua semenjak kejadian penculikan terhadapmu itu. Sekarang, tolong jelaskan pada Mama apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap ibu mertuanya Ana.


Mendengar permintaan ibu mertuanya yang meminta penjelasan darinya, Ana langsung menangis meledak-ledak. Ibu mertua Ana langsung menenangkannya untuk menjelaskan semuanya pada ibu mertuanya.


“Cup..cup..cup... sayang, mengapa kamu menangis. Ayo cepat ceritakan semuanya pada Mama.”


Ana pun mencoba untuk menenangkannya juga. Ana lalu menceritakan semuanya dari awal. Ibu mertuanya sangat percaya dengan semua ucapan menantunya itu.

__ADS_1


“Mah, sekarang Ana sudah tak sanggup lagi membuat Mas Adry percaya pada Ana. Itu sebabnya Ana lebih baik pergi dari rumah ini jika Mas Adry saja sudah tak mempercayaiku lagi,” ucap Ana.


“Ana juga sudah menjelaskan pada Mas Adry bahwa Ana tak hamil dan pernyataan kehamilan itu tidak benar Mah.”


“Ya ampun, mengapa Adry sampai memperlakukanmu seperti ini sayang. Entah kapan Adry bijak dalam menghadapi sebuah masalah. Dia memang suka sekali seperti itu, terlalu cepat emosian menggambil tindakan dan rasa emosinya itu jadi menutupi dirinya untuk mengetahui sebuah kebenaran yang sebenarnya,” ucap ibu mertua Ana.


Ibu mertua Ana memintanya untuk tidak pergi, dan menyuruhnya untuk tidur dikamar tamu itu saja supaya Adry tak melihat Ana. Ana pun menuruti permintaan ibu mertuanya. hingga malam datang, ibu mertuanya menyuruh asistennya diam-diam mengantarkannya makanan untuk menantunya.


Keesokan paginya, seorang asisten kembali mengantarkan sarapan pagi untuk Ana. Akan tetapi sarapan itu diam-diam sudah dicampurkan Rita lagi dengan obat bubuk ke dalam minuman susu seperti hari yang kemarin.


Ana pun memakan dan meminum sarapan itu. Hingga beberapa saat kemudian ia pun mengalami hal yang sama seperti kemarin, perutnya terasa mual dan kepalanya terasa sangat pusing. Ana pun muntah-muntah dengan hebatnya, kali ini lebih dahsyat lagi karena Rita memperbanyak memasukkan bubuk dari yang sebelumnya.


Adry tak sengaja melintas di depan kamar tamu itu, ia mendengar suara seseorang di dalam kamar itu. Karena penasaran siapa yang di dalam, Adry langsung membuka pintu itu dan langsung masuk.


“Oh ternyata kamu disini, lihatlah dirimu mengalami gejala-gejala kehamilan seperti itu. Kamu masih ingin melerai bahwa kamu tidak hamil.”


Ana tak tahan mendengarkan ocehan Adry yang membuatnya semakin pusing. Ana berusaha untuk kuat melawan kepalanya yang sakit. Ana lalu mendorong Adry dan lalu langsung pergi membawa kopernya. Adry mengikutinya, namun ia tak menghentikan langkah istrinya.


Ana lalu pergi meninggalkan rumah itu. Tidak ada seorangpun yang menghalanginya lagi. Kalau ibu mertuanya, ibu mertuanya pergi menemani ayah mertua Ana keluar kota hanya dua hari saja. Ibu mertuanya menyuruh Ana untuk tetap disitu.


Namun Ana sudah tak tahan lagi. Dan Adry, Adry hanya diam tak mengerti dengan dirinya sendiri yang membiarkan istrinya pergi begitu saja. Rita yang melihat Ana pergi merasa sangat bahagia tertawa.


****


Sampai di rumah orangtuanya Ana, ibunya Ana menyambutnya dengan rasa khawatir melihat Ana terlihat sangat pucat.


“Nak, kamu kenapa, mengapa wajahmu terlihat pucat sekali? Dan, apa ini, mengapa kau membawa baju-bajumu kesini?” tanya ibunya Ana khawatir.


Ana tak menjawab pertanyaan ibunya. Ana hanya menangis sedih, ibunya pun menyimpan pertanyaannya itu dan langsung membawa Ana masuk ke kamarnya. Ibunya mengurus Ana dengan sangat baik. Ibunya juga tak terlalu memaksa Ana untuk menjawab pertanyaannya itu.


Namun hingga pada akhirnya, Ana menceritakan semuanya pada ibunya. Mendengar cerita Ana ibunya sangat prihatin melihat anaknya banyak menderita karena sahabatnya yang ia sangat sayangi. Ibunya pun selalu memberi memotivasi Ana untuk tak menyerah membuktikan kebenaran tentang kesalahpahaman yang dikonsumsi oleh suaminya. Ibunya pun memaksa Ana untuk pulang kembali, namun Ana menolak dan ibunya pun tak terlalu memaksakannya.


Bersambung....


...----------------...


Maaf yah kalau ceritanya membuat kalian kesel.... Maaf banget 🙏🙏🙏


Salam Hangat~`


BY.BAE©

__ADS_1


__ADS_2