
Kicauan burung yang sangat membisingkan di luar sana membuat Adry terbangun. Adry pun duduk hendak ke kamar mandi. di lihatnya ke arah sofa tempat Ana tidur, ia tidak melihat Ana dan juga bantal ataupun selimutnya.
“kemana perginya wanita itu”. Lirih Adry dalam hati.
“ah masa bod*h, aku ngga peduli. Syukur-syukur dia kabur aja dari rumah ini”. lirihnya lagi dalam hati sambil tersenyum sinis.
Adry pun bergegas ke kamar mandi dan Adry menurunkan kakinya.
“Aaawww...”. rintih Ana kesakitan.
Adry tersadar bahwa ia memijak sesuatu yang lembut. Ia pun melihat ke bawah dan betapa terkejutnya ia melihat Ana yang berada di lantai, ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi.
Adry pun terjatuh menindih tubuh Ana. Ana masih belum membuka matanya karna ia masih sangat mengantuk, ia hanya mengeluh kesakitan karna kakinya di pijak oleh Adry.
Wajah Adry terjatuh tepat di wajah Ana, ia melihat wajah Ana yang begitu imut. Bulu mata yang lentik dan juga bibih yang merah natural terlihat indah terkena sinar matahari yang masuk ke kamarnya.
Adry terhipnotis akan kecantikan oleh Ana.
Ana pun akhirnya membuka matanya, betapa terkejutnya ia melihat wajah Adry berada tepat di hadapannya.
“aaaa... “. Teriak Ana sekencang-kencangnya.
Adry pun tersadar dan menjaukan dirinya dari tubuh Ana.
“Apa yang kamu lakukan”. Tanya Ana.
“Aku yang harusnya bertanya Apa yang kamu lakukan di situ”. Tanya Adry balik bertanya.
“Aku tidur di sini karna aku tidak biasa dan tidak bisa tidur di sofa”. Jelas Ana.
“lalu kamu apa yang kamu lakukan padaku”. Tanya Ana lagi kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
“jangan berpikiran yang macem-macem, aku ngga akan pernah melakukan hal itu padamu. Lagian ini semua salahmu, kenapa kamu tidur tepat di samping ranjangku. Aku jadi terjatuh gara-gara kamu tambah lagi aku melihat wajahmu yang jelek itu”. Jelas Adry kesal pada Ana.
Adry pun pergi ke kamar mandi, sedangkan Ana masih bingung dengan ucapan Adry. Ana pun mendekati sebuah cermin yang ada di kamar itu dan berbicara pada dirinya sendiri.
“hmmm aku cantik kok.... kok dia bilang aku jelek. Padahal semua lelaki sangat tergila-gila padaku. Anehh..”. gumam Ana dalam hati.
“heeyy.. apa yang kau lakukan di situ”. Tanya Adry yang berada di balik pintu.
“tolong ambilkan aku handuk, aku lupa membawanya tadi”. Pinta Adry yang terpaksa.
“Aku tidak tahu dimana handukmu. Lagian kamu ambil saja sendiri”. Seru Ana yang tak perduli dan cuek.
“oke kalau begitu aku akan keluar tanpa baju untuk mengambil handukku. Kamu mau”. Ucap Adry dengan nada mengancam.
“eeittzz... oke oke.. dimana handukmu”. Tanya Ana.
“yaa di lemari lah masak iya di tempat tukang sayur”. Ucap Adry geram dan semakin kesal pada Ana.
__ADS_1
Ana pun memberikan handuknya pada Adry.
Kini giliran Ana yang menggunakan kamar mandi itu.
“ee ee eeh... mau kemana ?”. tanya Adry.
“Mau mandi...”. jawab Ana.
“itu kamar mandi khusus untukku, ngga boleh ada orang lain memakainya termasuk kamu”. Ucap Adry.
“trus aku mandi di mana?”. Tanya Ana.
“noh mandi diluar sono noh. Kalau perlu ngga usah mandi sekalian”. Ucap Adry.
Ana pun pergi ke kamar mandi yang ada di luar kamar mereka.
“eeeh Ana udah bangun sayang”. ucap mertuanya tante Riska.
“mama...”. ucap Adry terkejut yang berada di dalam kamarnya.
“iya tante hehe”. Ucap Ana.
“kok kamu manggil saya tante... panggil aja mama kamu kan sekarang adalah menantunya mama”. Seru tante Riska sambil tersenyum manis.
"iya mahh...". lirih Ana yang mencoba untuk terbiasa memanggil Tante Riska mama.
“Ana kamu mau kemana sayang pake bawa-bawa handuk segala”. Tanya tante Riska.
“dia mau ke dapur mah, ngambil pasta gigi”. Ucap Adry berbohong memotong ucapan Ana.
“ooh gitu. Ya sudah kalau gitu mama ke ruang makan dulu ya. Kalian cepat nyusul untuk sarapan bersama. OKE”. Ucap tante Riska pergi ke depan rumah.
“Oke maa...”. ucap Adry tersenyum pada ibunya.
Setelah ibunya meninggalkan mereka berdua, Adry pun langsung menarik tangan Ana untuk masuk ke dalam kamarnya.
“ya sudah kamu mandi lah di kamar mandiku, tapi ingat jangan kamu berani macem-macem. Apa lagi kalau sampai mengadu pada mamaku”. Ucap Adry kembali mengancam Ana.
Ana hanya mengangguk, ia pun pergi bergegas ke kamar mandi. Sementara Adry menyusul ibunya ke ruang makan.
“di mana Ana..”. tanya ibunya
“lagi mandi maa.. bentar lagi juga nyusul”. Jawab Adry.
“Adry mama minta sangat sama kamu untuk menerima dan bersikap baik pada Ana”. Pinta Tante Riska.
“iya mahh.. Adry ngga macem-macem kok sama dia”. Ucap Adry.
*****
__ADS_1
Di kamar Adry...
Ana yang keluar melihat dari kamar mandi melihat kamar itu kosong.
“huh... untung aja dia ngga ada di sini, Aku jadi lebih sedikit leluasa”. Ucap Ana.
Ana pun menyusul ke ruang makan untuk sarapan bersama. Mertuanya yang melihat kedatangan Ana pun menyuruhnya untuk duduk di samping Adry.
“Adry hari ini kamu ikut papa untuk melihat usaha restoran kuliner baru kita”. Tegas Om Arran ayahnya Adry.
“Oke pah..”. jawab Adry.
“Ohh ya Na, tadi ada yang ngirimin paket untu Ana”. Ucap tante Riska sambil mengunyah sarapannya.
“dari siapa Ma..”. tanya Ana penasaran.
“Tante juga kurang tau, ntar paketnya minta aja sama bi Asih ya sayang”. ucap tante Riska.
“oke ma...”. balas Ana.
Selesai sarapan Adry dan ayahnya pergi ke restoran usaha kuliner baru mereka. Sementara Ana menemui bik Asih di dapur.
“bik, di mana bibi menaruh paket milik Ana bi?”. Tanya Ana sopan.
“di ruang tamu dekat pintu di atas meja non”. Jawab bik Asih.
“oke bik, makasih yaa bik”. Jawab Ana lalu pergi mengambil paketnya.
Ana melihat di atas meja ada sebuah kardus besar, Ana pun mengangkatnya dan membawanya ke kamar. Di buka Ana kardus itu yang berisi baju dan buku-buku diarynya.
Ana menemukan sebuah surat, ternyata surah itu dari sarah. Inti dari surat itu adalah sarah menjelaskan bahwa ibunya sangat membencinya. ibunya juga sempat hendak membakar semua bajunya tapi untung sarah berhasil mencegahnya.
Sarah berharap semoga Ana baik-baik saja di sana dan jangan terlalu mengkhawatirkan ibunya karna selalu ada sarah di samping ibunya. Itulah inti dari surat yang di kirim sarah untuk Ana.
Ana meneteskan air mata membaca surat itu. Ana tidak sadar kalau sedari tadi ibu mertuanya memerhatikannya yang menanggis. Ibu mertuanya pun mendekatinya.
“kamu kenapa sayang”. tanya tante Riska.
“mamanya Ana sangat membenci Ana tante”. Ucap Ana.
“sudahlah sayang, jangan terlalu di pusingkan. Lambat laun pasti Mama Ana menyadari pengorbanan Ana”. Ucap Tante Riska menenangkan Ana sambil memeluknya.
“iya Maaa”. Jawab Ana.
“berjanjilah pada mama bahwa kamu akan setia menjadi menantu dan istri yang baik untuk Adry”. Pinta Tante Riska.
Awalnya Ana hanya memandangi wajah tulus mertuanya dan Akhirnya dia pun berjanji pada ibu mertuanya tante Riska.
Bersambung . . . . .
__ADS_1
BY.BAE©