Aku Masih PERAWAN

Aku Masih PERAWAN
Chapter 87


__ADS_3

“Sayang, aku sudah mempersiapkan air hangat untukmu mandi.” Teriak Adry dari dalam kamar mandi.


“Ah, ya sebentar Mas.” Respon Ana yang masih duduk di atas ranjang.


Ana hendak berjalan mengambil handuknya dengan membalutkan selimut ditubuhnya. Saat hendak melangkahkan kakinya, Ana merasa tak sanggup untuk berjalan.


Namun Ana berusaha menguatkan kakinya bergemetar berjalan. Setelah Ana mendapatkan handuknya, ia pun melepaskan selimutnya itu dari tubuhnya.


Adry yang merasa istrinya sangat lama sekali datang, menghampiri istrinya. Saat Adry masih didepan pintu kamar mandi, ia melihat istrinya berjalan dengan kaki yang gemetaran. Adry bukannya menolong istrinya, malah tertawa melihat istrinya yang sedang menderita seperti itu karenanya padahal. Ana pun melihat suaminya, yang menjadi tontonan suaminya yang malah tak membantunya.


“Mas, kok kamu ketawa sih?” Tanya Ana terheran.


“Sayang, umur kamu tuh berapa sih? Kok jalannya tertatih-tatih gitu, kayak anak kecil yang baru bisa jalan aja.” Ucap Adry sembari berusaha untuk meredakan tawanya.


“Mas aku kayak gini itu gara-gara kamu Mas.” Ucap Ana sambil berjalan dan tak sengaja ia hampir terjatuh terpeleset, namun entah apa yang membuat ia hampir terjatuh.


“Sayang...” teriak Adry sembari berlari, berusaha untuk menangkap istrinya agar tak terjatuh ke lantai.


Nyaris saja Ana terjatuh, beruntung suaminya menjatuhkan dirinya ke lantai, agar istrinya jatuh ke dalam pelukannya.


“Huh...” ucap Adry lega.


“Mas kamu nggak apa-apa kan? badan kamu pasti sakit. Ayo Mas, lepaskan pelukanmu. Aku ingin melihat kondisi mu.” Lirih Ana khawatir.


“Nggak apa-apa sayang, Mas baik-baik saja.” Ucap Adry tak mau melepaskan pelukannya. Adry lalu mencium istrinya itu.


“Mas ayolah lepaskan aku,” pinta Ana.


“Ah iya baiklah sayang.” Ucap Adry mencoba untuk bangkit bersama istrinya.


“Sayang, apa perutmu sakit.”


“Tidak Mas.”


“Ah syukurlah untung aku dengan sigap menangkap mu sayang, jadi calon anak kita pasti baik-baik saja.” Seru Adry sambil memegang perut istrinya.


“Belum ada isinya Mas.” Ucap Ana sambil meng-awaskan tangan suaminya yang memegangi perutnya.


“Sudah sayang, semalam dia sudah mendapat izin masuk kedalam rahim ibunya.” Ucap Adry tersenyum.


“Mas, ada-ada aja deh.” Ucap Ana memukul sayang suaminya.


“Mas memaklumi kok karena kamu tak mengingat kejadian semalam. Tapi kalau kamu mau, nanti malam kita bisa mengulangnya kok.” Ucap Adry sambil hendak menarik handuk yang dikenakan istrinya.


Ana langsung menahannya untuk tidak ditarik oleh suaminya. Ana kemudian bangkit sambil menahan rasa sakit. Namun Adry langsung mengangkat tubuhnya.


“Aku nggak mau kamu hampir terjatuh lagi, itu sangat berbahaya untuk calon anak kita.”

__ADS_1


“Belum ada jabang bayinya Mas.”


“Iya Mas tahu, tapi itu pasti lagi proses. Jadi kamu harus lebih hati-hati dong sayang.”


Ana pun mengiyakan suaminya yang overprotektif terhadapnya. Adry menawarkan dirinya untuk membantu istrinya membersihkan diri. Namun Ana menolak dan memintanya untuk keluar saja. Adry pun menurutinya, ia pun beralih-alih ke dapur untuk membuat istrinya sarapan. Adry hanya menyiapkan roti dan susu untuk sarapan istrinya dan juga dirinya.


Ana yang berendam di dalam bathtub yang berisikan air hangat, merasa sangat kesal karena tak bisa mengingat moment malam pertamanya bersama dengan suaminya. Ana pun menenggelamkan dirinya hingga kepalanya juga. Pada saat itulah ia mengingat kejadian semalam.


Ana mengingat bagaimana suaminya memberhentikan langkahnya karena ia merasa sangat kesakitan. Ana juga mengingat bagaimana Adry sangat kuatnya bercinta dengannya.


“Ah ya, ini semua memang karena Sarah, tapi bagaimana caranya Sarah mendekorasi kamar, sedangkan ia tak tahu password pintu apartemen ini. Apa Mas Adry memberitahukannya yah?”


Ana bergegas membersihkan dirinya untuk cepat-cepat bertemu dengan adik sepupunya. Ana akan menghakimi adik sepupunya dengan beberapa pertanyaannya yang sudah ia tentukan.


Ana keluar dari kamar mandi itu dan berpas-pasan dengan suaminya yang datang dari dapur membawa sarapan untuk mereka berdua. Adry yang melihat anak berjalan menghentikan istrinya untuk diam tak berjalan, Adry sangat khawatir jika istrinya sampai terjatuh lagi seperti tadi. Adry meletakkan nampan sarapan itu dan lalu berjalan mendekati istrinya.


“Sayang, mengapa kau tak menunggu dan memanggil Mas saja.”


“Aku bisa melakukannya sendiri Mas, yang tadi itu hanya kebetulan saja terjatuh tanpa sebab.”


“Tuh kan, kamu suka banget anggap remeh.” Mari sini Mas angkat kamu.”


“Tidak usah Mas.” Jawab Ana menolak.


“Hmmm tadi malam kamu malah nggak mau diturunin. Coba saja kamu mengingat kejadian semalam sayang.” Ucap Adry namun tetap ngotot menggendong istrinya.


“Oh ya, benarkah sayang.” Ucap Adry sambil menurunkan istrinya di depan lemari.


“Mmm...” respon Ana.


“Apakau sangat menikmatinya sayang,” tanya Adry sembari memeluk istrinya dari belakang dan lalu mencium pipi istrinya.


“Tidak... Karena aku merintih kesakitan karena Mas.”


“hmm tapi dibalik suara rintihan mu itu, Mas mendengar suara desahan mu diantaranya sayang.” Ucap Adry berbisik lembut di telinga istrinya.


“Ma-aass.”


“Iya deh, iya-iya.” Ucap Adry yang tahu maksud istrinya, memintanya untuk menjauhinya.


Adry pun berdalih ke sofa.


“Sayang, aku membuat sarapan special untukmu.”


Ana tak merespon ucapannya sepatah katapun.


“Tadi aku menelpon Sarah dan aku Akan bertemu dengannya hari ini juga.” Ucap Ana.

__ADS_1


“Tapi sayang kamu kan lagi sakit tuh.”


“Aku nggak sakit Mas.”


“Dengan cara berjalan mu yang seperti itu. Kamu yakin mau keluar?” Tanya Adry.


“Mm iya juga sih, tapi yah nggak apa-apa sih Mas. Aku bisa menutupinya dengan baju dress panjang saja untuk menutupinya.” Ucap Ana sambil mencari dress-nya. Adry pun mengizinkan istrinya keluar bertemu Sarah, tapi ia juga harus ikut menemaninya. Ana sama sekali tak keberatan dengan permintaan suaminya.


“Tapi Mas, bagaimana dengan pekerjaanmu? Mas sangat santai sekali membiarkan Papa sendiri berjuang.”


“Sayang, Mas itu kerja kok, cuma ya nggak terikat alias suka-suka Mas.”


“Nggak bisa gitu terus dong Mas. Mas pergilah berangkat ke kantor dan biar aku saja pergi sendiri menemui Sarah”


“Nggak bisa gitu, Mas nggak mau kamu pergi sendiri. Kamu lebih penting daripada yang lain. Jadi urusan kantor Mas kesampingin aja dulu untuk sementara waktu.” Ucap Adry.


“Mau sampai kapan Mas. Ya sudah gini aja deh Mas, Mas nganterin aku ke tempat itu dan setelah itu Mas berangkat ke kantor. Aku akan menunggu sampai Mas selesai bekerja.”


Dengan berat hati Adry mengiyakan permintaan istrinya. Mereka berdua pun berangkat pergi. Sesampainya di sana Adry menuntun istrinya untuk berjalan mendekati kursi. Sarah yang sudah standby di sana merasa terharu melihat keromantisan kakak iparnya. Setelah menuntun Ana hingga duduk, Adry memanggil Sarah untuk berbicara sebentar dengannya.


“Sarah, siap-siap kena ceramahin, kakak sudah tahu sedikit kisi-kisinya. Jadi kamu siapin penutup kuping.” Ucap Adry berbisik-bisik bergurau.


“Siap kak siap.” Balas Sarah berbisik juga sambil mengkode oke jari tangannya.


“Ngomong-ngomong karena Sarah sudah bersusah payah mendekor kamar kakak, kakak punya hadiah nih untuk Sarah.” Ucap Adry sambil memberikan sebuah kotak kecil.


“Apa ini kak?” Tanya Sarah penasaran.


“Eitz, nanti aja bukanya pas kamu sudah pulang ke rumah. Sekarang hadapi dulu kakak sepupumu itu.” Ucap Adry sambil mendorong Sarah untuk kembali duduk bersama istrinya.


“Sayang aku pergi dulu yah.” Ucap Adry sambil menc!um kening istrinya dan bahkan hampir menc!um bibir istrinya. Namun Adry tak berhasil memc!um bibir istrinya, karena Ana menolak melakukan itu di depan umum. Sarah yang memerhatikan mereka hanya bisa berpura-pura tak melihat.


“Sarah, kakak titip istri kakak yang cantik ini yah.” Ucap Adry sambil memegang dagu istrinya, Ana.


“Siap dua puluh empat jam kakak ipar.”


“Idih... dua puluh empat jam, tapi bo’ong.” Ucap Adry bergurau lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang akan mengobrol. Adry hari ini mengemudi mobilnya sendiri, tanpa disopiri oleh sopirnya. Sampai sosok suaminya tak terlihat, Ana pun mulai berbicara pada sepupunya itu.


Bersambung...


----------------


Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe


Salam Hangat~`


BY.BAE©

__ADS_1


__ADS_2