
Pagi harinya, jam menunjukkan pukul delapan tepat. Tante Riska gelisah karna Ana belum keluar dari kamarnya. Lalu kemudian tante Riska menyuruh pak jejek untuk mengambil kunci ceres dan membuka pintu kamar Adry.
Pak jejek pun bergegas mencari dan mengambil kunci ceres kamar Adry. Pak jejek pun menemukan kuncinya, ia pun bergegas untuk membukakan pintu kamar Adry. Pak jejek tidak bisa membuka pintu kamar Adry.
“Maaf nyonya besar... sepertinya kuncinya masih ada dari dalam, Sehingga saya tidak bisa membuka pintunya”. Jelas pak jejek pada Tante Rita.
Tadi malam memang Adry mengunci pintu itu dan tidak menarik kembali kunci itu dari pintu kamarnya, sehingga tidak akan bisa di buka jika ada dua kunci yang dimasukkan.
“aduh gimana ya pak... saya sangat khawatir sekali dengan keadaan menantu saya”. Ucap tante Riska dengan perasaan yang tidak tenang yang selalu mondar-mandir di depan kamar Adry.
“terpaksa harus di bongkar nyonya Kunci Pintu Mortise. Hanya itu jalan satu-satunya”. Ucap pak jejek.
“ya sudah pak, lakukan saja jika itu bisa membuka pintu kamar ini”. seru Tante Riska.
Pak jejek pun pergi ke gudang untuk mengambil alat-alat untuk membuka Kunci Pintu Mortise.
Pak jejek pun memulai untuk membongkar Kunci Pintu Mortise itu. Lebih kurang lima menit, pak jejek bisa membongkarnya.
Tante Riska memanggil Bik Asih untuk mengambilkan dua gelas susu untuk Adry dan Ana. Tante Riska pun masuk ke dalam kamar Adry. Tante Riska hanya melihat Adry yang masih tertidur lelap di atas kasur dengan gara telentang.
“Dimana Ana,,, apa dia berada di kamar mandi”. Seru Tante Riska yang bergumam dalam hati.
Tante Riska pun berjalan mendekati ranjang Adry. setelah lebih dekat dengan ranjang Adry, barulah tante Riska melihat Ana yang berbaring di lantai.
Tante Riska benar-benar sangat shock melihat keadaan Ana yang di penuhi dengan luk* leb*m. Tubuh tante Riska bergetar melihat dan memegang tubuh Ana yang begitu lemah.
“Ana... apa yang terjadi padamu nak”. Seru Tante Riska sambil menghampiri Ana.
Ana yang sebenarnya sudah terbangun hanya melihat Tante Riska yang datang menghampirinya dengan penglihatan yang samar-samar.
“Taannnteee...”. ucap yang lemah tak berdaya.
“ya ampun sayang, badan kamu panas sekali”. Ucap tante Rita sambil memegang kening dan tubuh Ana.
__ADS_1
“Apa yang tlah dilakukan Adry padamu”. Tanya tante Riska menangis.
Tante Riska pun memanggil Pak Jejek untuk masuk ke dalam kamar Adry dan membantu Tante Riska untuk membawa Ana ke rumah sakit.
Ana yang mendengar Tante Riska pun mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan meminta untuk tidak membawanya ke rumah sakit.
Tante Riska menuruti perkataan Ana dan menyuruh bik Asih yang datang membawa dua gelas susu, untuk menelfon Dokter datang memeriksa keadaan Ana. Ana pun di bawa ke kamar tamu untuk dibaringkan di sana.
Tak berapa lama kemudian Dokter yang sudah menjadi dokter langganan keluarga Dexter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Rita.
“bagaimana dengan keadaan menantu saya dok ?’’. tanya Tante Riska dengan sangat khawatir.
“menantu ibu baik-baik saja, ia hanya kelelahan yang mengakibatkan suhu badannya menaik tinggi”. Jelas buk Dokter.
“syukurlah kalau begitu Dok”. Ucap Tante Riska.
“Ohh ya, maaf buk jika saya lancang.. kenapa menantu ibu sampai mendapati banyak luk* leb*m”. Tanya Dokter itu berani bertanya.
Dokter itu pun memberitahu Tante Riska bahwa ia juga memberikan Ana obat pereda rasa sakit luka yang ada pada tubuh Ana.
Tante Riska sangat berterima kasih sekali pada Buk Dokter yang cepat menerima panggilan darinya dan Dokter itu berpamitan untuk pulang.
****
Sementara Ana mencoba untuk bangun dari tempat tidur itu. Tante Riska yang melihat Ana mencoba untuk beranjak dari tempat tidur pun menahan Ana untuk tetap berbaring. Tubuhnya masih sangat lemah dan butuh banyak istirahat.
“Ana,,, Dokter bilang kamu harus banyak istirahat nak. Tubuhmu sangat lemah sekali.” Seru Tante Riska.
Ana hanya menuruti perintah mertuanya itu. Tante Riska pun meminta dibawakan sarapan ke kamar tamu tempat Ana berbaring. Tante Riska pun menyuapi Ana dengan penuh kasih sayang.
setelah selesai menyuapi Ana sarapan, Tante Riska menyuruh Ana untuk beristirahat. Ana pun menuruti mertuanya dan mencoba untuk tidur memejamkan matanya.
Tante Riska pun keluar dari kamar Ana dan mencoba untuk menelfon suaminya yang sudah berangkat semenjak pagi tadi. Tante Riska menjelaskan semuanya pada suaminya/Om Arran.
__ADS_1
Om Arran sangat terkejut dengan perlakuan Adry terhadap Ana. Om Arran mengatakan bahwa ia akan sesegera mungkin untuk pulang setelah pekerjaannya selesai dan menyelesaikan masalah ini setiba ia dirumah nanti.
Telefonnya pun tlah di tutup. Tante Riska pergi menuju kamar Adry untuk memarahinya. Tante Riska masih saja mendapati Adry yang tidur telentang dengang sangat pulas.
Tante Riska pun mendekati Adry ke ranjangnya dan menggoyangkan tubuh Adry supaya ia terbangun.
“Adry.... bangun nak, kenapa kamu masih tidur saja. Tidak sadarkah kamu dengan apa yang tlah kamu lakukan terhadap istrimu”. Ucap
Tante Riska sambil menangis membangunkan Adry. Adry masih saja tertidur pulas. Ibunya pun semakin kuat mengguncang tubuh Adry. Adry pun akhirnya terbangun dari tidurnya.
“Maahh,, kok mama ada di sini”. Tanya Adry yang terheran melihat ibunya berada di dalam kamarnya sambil menangis menatapi dirinya.
“Seharusnya mama yang bertanya padamu... Apa yang tlah kau lakukan pada Ana.” Tanya Tante Riska dengan nada dan wajah yang sangat marah.
****
Adry hanya terdiam dan mencoba untuk meningat kejadian yang tlah ia perbuat semalam. Adry pun mengingat dengan samar-samar, Adry mengingat ia mengusir pamannya sendiri keluar dari rumahnya dan ia mengingat bahwa ia menyiksa Ana semalam.
“Apa kamu sudah mengingatnya nak. kenapa kamu menyiksa Ana yang tidak bersalah”. Tanya Tante Riska menangis.
"Maaahh...". Lirih Adry sambi memegang pundak ibunya untuk menenangkannya.
“kalau begitu bergegaslah untuk pergi ke kamar tamu, istrimu sedang berbaring di sana akibat ulahmu”. Perintah Tante Riska.
“Tapi mah...”. lerai Adry.
“Tidak ada tapi-tapian nak, cepatlah bangun dan pergi minta maaf pada istrimu. Dia sedang tidak enak badan akibat ulahmu jadi rawatlah dia dengan baik”. Perintah tante Riska lalu pergi meninggalkannya.
Adry sangat menyanyangi ibunya itu pun tidak bisa melawan perintah ibunya. Ia pun menuruti ibunya untuk pergi menemui Ana.
***Bersambung . . . . .
B Y . B A E©***
__ADS_1