
“Bagaimana, apa sudah ada perkembangan? Apa kalian sudah menemukannya,” ucap seorang pria dibalik tirai.
“Maaf bos, sampai saat ini kami belum juga menemukannya bos. Padahal beberapa kami selalu mengintai dan menunggu sasaran di apartemennya bos,” ucap anak buah suruhan pria misterius itu.
“Dasar bod*h, untuk apa kalian menunggu jika sasaran tidak ada di apartemen itu.”
“Jadi, apa yang harus kami lakukan bos.”
“Haruskah aku memberitahu kalian langkah-langkahnya. Apakah kalian tidak ada inisiatif tersendiri untuk mencari informasi lengkap tentang sasaran. Dengar, aku sudah membayar kalian mahal-mahal. Jadi tolong jangan kecewakan aku. Jika kalian masih gagal dalam misi kalian aku tidak akan menggaji kalian. Kalian paham itu!” seru pria misterius itu.
“Paham bos, bisa dimengerti. Kali ini kami tidak akan mengecewakan bos,” ucap anak buahnya itu.
Pria misterius itu pun membuka tirai itu, ternyata ia adalah Doni kekasihnya Rita. Dan mungkin yang dimaksud dengan Doni tentang pencarian sasarannya adalah Adry dan Ana. Entah rencana apa yang hendak dilakukan Doni untuk membalaskan dendam kekasihnya Rita yang sudah dihasut oleh Rita.
*****
Sebelum Adry bertemu dengan ayahnya, ia menyuruh sopirnya untuk berhenti disebuah toko perhiasan. Gara-gara alasannya pada Sarah tentang kalung, Adry jadi ingin membelikan istrinya kalung. Secara, selama mereka menikah, Adry belum pernah memberikan hadiah untuk istrinya. Adry merasa jika memberikan istrinya kalung, mungkin istrinya akan menyukainya.
Adry pun turun dan langsung masuk kedalam toko perhiasan itu. Adry lalu langsung meminta untuk ditunjukkan kalung yang paling bagus untuk istrinya. Pemilik toko itupun bersemangat menunjukkan kalung itu pada Adry. Pemilik itu panjang lebar menjelaskan secara rinci tentang kalung yang ditunjukkannya. Adry merasa pusing mendengar pemilik toko itu mengoceh terlalu lama. Adry pun lalu menghentikan pemilik toko itu untuk tidak mengoceh pagi.
“Menurut Anda kalung mana yang paling bagus?” Tanya Adry.
“Ah... yang ini tuan, Tapi kalung ini adalah kalung yang paling mahal diantara yang lainnya. Karena kalung ini...” ucap pemilik toko itu terpotong.
“sudah sudah, aku ambil kalung yang itu saja,” ucap Adry yang tak mau berlama-lama mendengar ocehan pemilik toko itu lagi.
Pemilik toko itu pun merasa senang karena Adry langsung membeli dan membayarnya cash. Pemilik toko itu pun memanggil karyawannya untuk mengurus barang yang dibeli oleh Adry. Setelah semuanya diurus oleh karyawannya, Adry lalu pergi meninggalkan toko itu. Pemilik toko itu pun mengucapkan selamat jumpa kembali dengan hangat. Adry tak membalasnya dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Ponsel Adry berdering nyaring sebagai tanda pesan masuk. Adry merekahkan senyumannya ketika melihat istrinya lah yang mengirimkan pesan untuknya. Adry pun lalu membuka pesan itu.
Massage from (pesan dari): Istriku
__ADS_1
“Mas, apakah Mas sudah sampai?”
“Belum sayang, Mas masih dalam perjalanan dan bentar lagi sampai. Ada apa sayang? Apa kau merindukan Mas? Atau kamu sudah tidak sabar Mas pulang untuk melakukannya?”
“Bukan begitu Mas, Sarah ingin mengajakku keluar untuk berbelanja keperluan sekolahnya Mas. jadi, bolehkah aku pergi menemaninya keluar?”
“Tidak boleh. Kalau tanpa Mas, kamu tidak boleh kemana-mana.”
“Kenapa Mas?”
“Nanti semua para pria mengira kamu itu masih single kalau pergi tanpa Mas. Kamu nggak ingat sayang waktu kamu digodain para pria yang terpesona dengan kecantikanmu, hah? Mas nggak mau dan Mas nggak setuju kalau kamu keluar tanpa Mas titik.”
“Tapi Mas, Sarah selalu saja memaksaku dan bahkan merengek-rengek menangis memintaku untuk menemaninya.”
“Ah ya ampun katanya dia sudah dewasa, tapi kelakuannya kok masih seperti itu sih. Pokoknya Mas nggak setuju, kalau dia mau tunggu Mas pulang. Mas akan ikut menemani kalian berbelanja.”
“Mas tapi Sarah butuhnya sekarang Mas,” Balas Ana.
“Sayang, pokoknya Mas nggak setuju kalian pergi keluar,” teriak Adry langsung.
“Kak, ini Sarah bukan sayang. Kak Adry, izinkanlah kak Ana untuk pergi keluar menemaniku. Aku mohon,” ucap Sarah memelas dengan nada polosnya.
“Tapi Sarah...”
“Kak, kumohon... Jika kakak tidak menginginkannya aku akan menyembunyikan kak Ana sehingga kakak tidak akan menemukannya ketika kakak pulang nanti kerumah.”
“Sarah apa yang kamu katakan. Oke... baiklah aku mengizinkan kalian untuk pergi. Tapi ingat, jaga diri baik-baik dan jangan terlalu lama berada diluar. Jika semua keperluan Sarah sudah dibeli, langsung pulang yah.”
“Oke kak, terima kasih,’’ ucap Sarah dengan sangat ceria.
Panggilan berakhir, Ana dan Sarah langsung pergi keluar. Adry pun juga sudah sampai di tempat ia bertemu dengan ayahnya. Adry lalu memberi salam kepada ayahnya dengan santun. Adry juga meminta maaf atas perlakuannya yang kurang mengenakkan beberapa hari yang lalu. Ketika ayahnya pulang, Adry malah tak menyambutnya dan pergi begitu saja dengan kemarahannya.
__ADS_1
Adry meminta maaf atas semua perlakuannya itu. Ayahnya pun memakluminya karena ayahnya sangat menyayangi Adry. Ayahnya pun tak dapat melawan kemaharahan anaknya, takut jika ayahnya menahan, Adry malah akan kambuh dengan gangguan mentalnya.
“Adry, mulai sekarang papa minta kamu fokuslah untuk bekerja. Papa ingin kamu mengurus perusahaan keluarga kita yang ada di kota Amsterdam. Dan kalau bisa kamu berangkatlah tiga hari lagi ataupun besok juga tak masalah. Lebih cepat lebih baik”
“Tapi Pah.”
“Kamu ajak juga Ana, biar kalian tinggal disini.”
“Hemm baiklah Pa, nanti Adry akan merundingkan hal ini pada Ana. Jika Ana setuju Adry akan memberitahu Papa.”
Setelah membahas tentang rencana kepergian, ayahnya pun membahas tentang perusahaan yang akan diurus oleh Adry nantinya.
*****
Ana dan Sarah berhenti di sebuah swalayan yang tak jauh dari rumah Ana. Mereka pun berjalan masuk kedalam langsung.
“Ehh lihat, bukankah wanita itu adalah sasaran kita.” ucap pria suruhan Doni pada temannya.
“Iya benar, tidak salah lagi. Ayo kita tangkap dia.”
“Eh Jarwo, nggak liat apa disitu banyak orang. Bisa berabe kalo kita tangkap langsung.”
“Eh Bambang, nggak langsung kayak gitu juga kali caranya. Ya kita intai-intai saja dulu dia. Kalo kita ada kesempatan, baru kita tangkap wanita itu.”
Sarah dan Ana sibuk mencari keperluan yang memang sangat dibutuhkan. Sampai-sampai mereka tak menyadari bahwa ada orang lain yang sedang mengikuti mereka. Hingga akhirnya mereka selesai berbelanja pun, para penguntit itupun lalu mengikuti Ana dan Sarah yang hendak pergi pulang menuju rumah Ana.
Bersambung...
Jangan lupa komentar di kolom komentar yaah. Like, favorit, vote dan bintang limanya juga. hehe
Salam Hangat~`
__ADS_1
BY.BAE©