Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
12.Kepulangan Ella


__ADS_3

"Sayang kamu lagi ngapain? kangen enggak sama aku bentar lagi aku pulang loh, aku banyak banget beliin kamu oleh-oleh dari sini dan yang pasti kamu suka."


"Mau ngapain sih repot-repot beliin oleh-oleh, lagian aku nggak minta juga, toh aku bisa beli sendiri kan nggak perlu kamu beliin."


"Kamu kenapa sih masih kaku aja ke aku sama calon istri sendiri, jangan gitu ah! nanti aku makin sayang sama kamu Heri."


tok tok tok


Terdengar bunyi pintu dari luar yang ingin masuk ke dalam ruangan Heri, spontan Heri mematikan teleponnya tanpa berbasa-basi.


"Masuk!"


.


.


"Permisi pak Heri, ini untuk berkas yang kemarin-kemarin pak, udah saya selesaikan untuk 2 minggu kedepannya, apa ada pekerjaan lain untuk saya."


"Kamu tadi enggak dengarkan, saya telepon sama Ella?"


Regina merasa bingung dengan perkataan Heri seperti itu, setelah itu Heri langsung mengabaikan dan berkata lain.


"Ya udah kita lupain aja soal itu, enggak penting juga untuk diingat, Oh ya saya mau ingetin kamu, hari ini saya ada meeting sama klien, tolong siapin berkas saya ya, soalnya sekertaris saya lagi libur hari ini. katanya ada urusan mendadak gitu, saya juga enggak ngerti."


"Baik pak Heri, ada lagi yang bisa saya bantu pak?"


"Untuk saat ini enggak ada, tapi nggak tahu untuk satu jam ke depan atau dua jam lagi."


"Baik pak kalau gitu saya persiapkan dulu ya, kalau memang ada yang harus saya siapkan saya akan ke ruangan bapak lagi."


Regina sontak langsung bergegas pergi dari ruangan Heri, Heri merasa Regina lebih diem hari ini, Ada apa dengan dirinya?


.


.


"Regina!"


Panggilan dari arah jarum jam 10.00, pria ganteng berjasa rapi rambutnya sedikit berdiri dan berdandan rapi.


"Kamu jangan angkat-angkat kayak ginian, nanti kamu makin pendek. Eh maksud saya, kamu nanti makin mungil Jadi kamu jangan angkat-angkat biar saya aja."


"Tapi ini kan pekerjaan saya pak, bapak kan atasan saya,kalau misalkan saya suruh bapak saya kurang ajar sama bapak."


Heri hanya tersenyum dan terbawa suasana,oleh suasana tersebut sambil melihat ke arah Regina.


"Kata siapa kamu harus suruh saya? kamu bisa minta tolong sama yang lain dan enggak mesti tunggu saya."


"Oh saya kira harus minta bantuan bapak, makanya saya jawab enggak bisa. Soalnya kalau bapak kan atasan saya, kalau saya minta tolong sama bapak sama aja saya kayak-"


"Kayak apa? kamu itu ada-ada aja, udah sini saya bantuin,tapi lain kali jangan lagi ya,soalnya saya sibuk dan saya juga punya kerjaan enggak cuman ini aja ngerti kan kamu."


Regina hanya mengganggukan kepalanya di hadapan Heri, Heri yang melihat keimutan dari Regina membuatnya tanpa tidak tahan melihat Regina terlalu lama.

__ADS_1


.


.


"Udah, kamu bisa kerja tugas Yang lain kok, lagian kayaknya ini udah selesai juga dan saya juga udah harus mesti pergi rapat sama klien."


"Semangat ya pak, semoga menang dan hasilnya menjadi lebih baik."


Heri yang mendengar itu merasa terbantu, tidak lama hp-nya berbunyi lagi dari Ella.


"Sayang aku udah di bandara, aku ke kantor kamu ya soalnya aku mau ngasih kamu sesuatu, terus sama mau mengobati rindu."


Heri, hanya diam dan tidak berkata apa-apa lalu tetap pergi ke rapat bersama klien.


.


.


"Pak Heri, tunggu pak!"


Arah teriak dari jarum jam 8, yang mendekati ke arah Heri, yang membuat Heri jantungnya berdegup kencang dengan tidak teratur.


"Ada apa? Regina."


"Kalau nanti Ibu Ella, telepon saya dan kalau misalkan datang ke sini saya harus jawab apa."


"Saya, kira kamu mau ikut untuk nemenin saya pergi rapat."


"Hah? kenapa jadi saya ikut,bapak rapat?"


.


.


"Iyaudah, kalau kamu nggak mau ikut kerjanya yang bener ya dan jangan terus-terusan bercanda."


"Saya, enggak pernah bercanda pak dan selalu serius, mana berani saya bercanda saat kerja, yang ada nanti hasilnya bercanda juga."


Heri, hanya menghalus kepala Regina, sambil pergi dari hadapan Regina,Regina balik ke kerjaannya.


Tidak terasa aku waktu sudah malam dan waktunya untuk pulang, berpapasan dengan Ella.


"Malam Ibu Ella."


"Malam,kamu sekertarisnya pak Heri ya?"


Regina yang mendengar itu bingung,sambil melihat ke arah Ella.


"Bukan gitu-"


"Udah enggak penting juga,Heri mana ya? saya telepon gak di jawab-jawan? dia masih kerja kan di atas."


"Pak Heri,ada rapat di luar sama klien,Ibu Ella."

__ADS_1


"Yah! padahal saya udah banyak bawa oleh-oleh,kamu mau gak? ini saya bagi beneran gratis,habis sih Heri itu kerja terus,calon istrinya gak di peduliin ckck capek banget deh."


Regina hanya tersenyum palsu mendengar,Ella membicarakan tentang calon suami yang tidak mengangapnya dan lebih mencintai perkerjaanya.


"Ini,buat kamu jangan bilang Heri ya,dia suka marah kalau aku baik sama,sekertarisnya oh ya,aku boleh minta nomor kamu."


"Nomor kantor Ibu Ella?"


Ella yang mendengar itu hanya senyum terkekeh,mendengar perkataan Regina.


"No pribadi kamu dong,ngapain nomor kantor?"


"Kurang kerjaan banget."


Regina bingung,gimana cara menolaknya karena,nomor pribadi gak boleh di sebar.


"Ella!"


Suara lantang dari arah jarum jam 12,pria ganteng dengan rambut sedikit berdiri dan tetap rapi,walau sudah keluar seharian.


"Sayang!"


Ella langsung peluk pria itu,siapa lagi kalau bukan Heri,di depan Regina. Regina hanya diam dan permisi untuk pulang.


Heri yang melihat muka Regina,seperti Regina sedih melihat dirinya di peluk oleh Ella.


"Kamu itu apaan sih! bisa gak,gak kayak gitu kalau lagi di kantor? malu di liat sama karyawan aku."


"Sayang,kamu kenapa sih?"


"Kenapa apaanya?"


"Kenapa mangkin ganteng,kalau marah?"


Heri merapikan kemejanya dan mengapak jasnya tidak sengaja,di hadapan Ella. langsung pergi begitu saja.


"Sayang! tungguin aku dong!"


.


.


"Regina pulang,ma."


"Kok malam sayang." tanya mama dengan nada cemas dan sudah mengantuk,menunggu anaknya seharian.


"Iya ma,di kerjaan banyak kerjaan,makanya aku pulang jam segini,,mama udah makan?"


"Udah sayang? Kamu udah makan?"


"Belum ma,lapar ini mau makan kebetulan aku beli kue dan nasi,mama mau?"


Mama hanya tersenyum,sembari menemani anak pekerja kerasnya itu,makan di meja makan,sembari merapika rambut Regina,mama peluk Regina.

__ADS_1


Regina sontak kaget dan melihat ke arah mamanya,bingung ada apa dengan mamanya,yang hari ini lebih lembut,walau mamanya tiap hari lembut tapi berbeda dengan hari ini.


__ADS_2