
Regina masih melamun begitu saja,dengan hari ini dan kejadian di lift barusan seraya hidup ini penuh dengan melamun,walau sebenarnya Regina tidak ingin melamun.
Handphone Regina berdering dari adik-adiknya,yang membuat dirinya semangat untuk menjawab telepon itu.
“Halo Selly dan Tiara,kalian apa kabar?” Regina sudah rindu sekali dengan kedua adiknya yang masih kecil dan kadang mereka butuh untuk main bersama kakaknya.
“Baik,kakak sendiri gimana? Baik enggak? Suami kakak baik kan? Kak Heri. Kalau enggak baik kasih tau aku kak,biar aku marahin.”
Kadang sifat kedua adiknya Regina,bisa mencairkan suasana hati Regina yang terkadang butuh untuk banyak berbicara dengan adik-adiknya,yang tidak bisa di jelaskan namun terkadang butuh juga untuk di dengar.
“Kakak lagi apa?”
“Lagi kerja sayang,ada apa?”
“Kak,besok aku kelulusan di sekolah? Kakak enggak mau datang,sama kak Heri juga boleh.”
Tiara yang mendengar itu merasa kesal,baginya Heri sudah merebut kakaknya dari mereka,Regina selalu mencoba untuk menyempatkan ketemu adik-adiknya.
Tanpa sengaja bos mendengar percakapan Regina,dengan kedua adiknya bos merasa hubungan Regina dengan adik-adiknya sangat manis dan juga harmonis,terkadang bos suka mikir kalau dia menjadi adik Regina,apa yang terjadi ya.
.
.
“Re.”bos memanggil Regina dari arah pintu dengan mengetuk kaca pintu luar ruangan Regina.
Regina yang melihat itu langsung menghampiri bos,seketika hampir saja terpleset karena tidak nyaman dengan heels yang digunakan Regina.
“Kamu kenapa sih,hari ini hampir jatuh terus? Kamu kurang keseimbangan ya Re?” bos merasa khawatir dengan Regina,Regina yang merasa di khawatirin seperti itu membuatnya ingin sering-sering jatuh,heh sadar udah ada Heri juga.
“Makasih ya pak.”Regina merasa bersyukur memiliki bos seperti Sam,walau Sam hanya peduli kepadanya tetapi Regina,tidak mau salah paham apalagi salah tingkah,walau hati kecilnya terkadang dia berimajinasi bahwa bos,adalah masa depanya.
“Makan ayo?” bos mengajak makan Regina,walau sebenarnya pekerjaan Regina masih banyak dan tidak bisa di tumpuk lagi,tapi karena bos pengertian bos makan,bersama Regina di ruangan Regina.
Regina merasa tidak enak dengan keadaan seperti ini,di tambah rumor yang mangkin tidak sedap tiap harinya,seketika handphone Regina berdering dari Heri.
“Heri,siapa tuh? Pacar kamu Re?” bos menanya seakan-akan Regina miliknya dan tidak boleh di miliki oleh siapapun,selain bos.
__ADS_1
Regina bergegas pergi dari hadapan bos,sontak menjawab telepon dari Heri,Heri yang merasa suara Regina bisik-bisik membuatnya mengerti dan paham,memang dirinya tidak ada jalan lagi untuk Regina.
Dimatikan begitu saja teleponya oleh Heri,Regina bingung ada apa dengan Heri,seketika Heri menjadi dingin dan bukan menjadi dirinya lagi,Regina balik ke hadapan bos.
“Kamu belum jawab pertanyaan saya,Heri siapa?”
“Bukan siapa-siapa bos.”
“Yakin?”
“Hmm.”
Bos yang mendengar itu merasa senang,walau sebenarnya dirinya tau kalau Regina sedang bohong,namun mau bagaimana kenyataanya seperti itu dan tidak bisa ditutupi juga.
“Bos.”
“Iya.”
“Bos,enggak malu mangkin hari rumor kita mangkin aneh-aneh loh? Bos gak ada niatan mau marah gitu?”
Bos hanya tertawa tanpa menjawab apapun,Regina yang tau sikap bos yang terlalu santai,kadang membuatnya kesal dengan bos yang apa-apa cuek dan tidak mau tau,walau itu dampaknya kena dengan Regina.
Regina yang mendengar itu dari bosnya,mana ada karyawan yang enggak suka dengan sikap tegas dan adil dalam mengambil keputusan,Regina langsung menundukan kepalanya.
“Bos.”
Bos langsung ingin menghelus kepala Regina,hanya di tahan perlahan,Regina jalan menghampiri bos dengan menundukan kepalanya sembari dalam dekapan Regina.
“Saya,minta maaf ya bos,semuanya berantakan karena saya.”
Bos yang merasa Regina tidak ada salah,malah kesal mendengar Regina berbicara seperti itu.
“Kamu bicara apa sih? Kamu enggak ada salah apa-apa,jadi kamu jangan mikir macam-macam paham enggak kamu?”
Regina terus menanggis,tanpa memikirkan perasaan bos,bos yang melihat itu tidak bisa berkata apa-apa hanya menghela nafas.
.
__ADS_1
.
Sampai di apartemen Regina,Regina hanya diam dengan pandangan kosongnya,bos mencoba tersenyum kepada Regina.
“Re,udah ya jangan sedih lagi,ini bukan salah kamu,kamu tetap bisa kerja seperti biasa kok,saya juga enggak masalah saya emang sayang kok sama kamu.”
Regina yang mendengar itu sontak melihat ke arah bos,bos hanya merasa salah tingkah sembari melihat ke arah luar jendela.
“Udah malam Re,enggak mau keluar dari mobil.”
Regina spontan mengecup pipi bos,bos terdiam dan tidak bisa berbicara apa-apa,Regina keluar dengan lari yang kencang,bos yang melihat itu tidak bisa mengejar,seketika kakinya terhenti begitu saja.
“Re,ada apa?”Heri bingung melihat Regina yang hanya diam di belakang pintu,dengan muka pucat.
Regina jalan ke arah Heri,Heri bingung ada apa,tiba-tiba Regina mendekap Heri dengan erat,Heri merasa sakit walau sebenarnya dirinya ingin melepaskan,tapi entah mengapa dirinya lebih memilih menahan daripada melepaskan.
“Kamu kenapa sayang?”suara lembut Heri yang terngiang di kuping dan juga kepala Regina,yang membuat Regina mangkin merasa bersalah kepada Heri.
Regina menatap Heri dengan dalam dan Heri tetap tersenyum,sembari merapikan rambut Regina yang berantakan habis mendekap dirinya dengan erat.
“Aku tau kamu capek Re,bersih-bersih gih terus istirahat,aku udah makan jangan pusingin aku ya.”
Regina hanya diam dan merasa bersalah kepada Heri,menundukan kepalanya serta Heri lantas menghelus kepala Regina.
“Tenang aja,ini bukan salahmu Re,ini salah aku,aku yang terlalu bergantung sama kamu,harusnya sesuatu yang sederhana bisa aku kerjain sendiri,tanpa kamu jadi kan,kamu juga enggak mudah capek sama aku,lagian kamu itu istri aku bukan pembantu.”
Regina spontan mengecup kening Heri,Heri hanya diam dan merasa ini seperti mimpi,kalau memang mimpi bisa berhenti saat ini aja.Regina langsung bergegas ke kamar tanpa bicara apa-apa.
Heri yang masih melamun dengan sikap Regina,membuatnya tidak habis pikir dengan Regina,walau Regina memiliki orang yang benar-benar ia suka,mengapa ia selalu memberi Heri harapn.
“Regina,Regina kamu mau aku terus bergantung sama kamu ya.”
Heri menghela nafas dengan berat,sembari mengerjakan pekerjaanya dengan cepat agar dirinya bisa istirahat dengan baik dan benar.
.
.
__ADS_1
Keduanya hanya diam tanpa ada bicara apa-apa,Heri langsung melihat layar laptop,sedangkan Regina memasak untuk dirinya dan juga Heri,tanpa sengaja tanganya terluka karena kejadian kemarin sama bos.
Heri spontan mengobati luka di tangan Regina,Regina yang melihat itu membuat dirinya semangkin bingung siapa orang yang ia tuju,kenapa dia seraya ingin keduanya.