
Keluar dari ruangan,suasana menjadi canggung tapi karena Heri udah bilang jadi teman,enggak perlu canggung lagi dan harus membiasakan diri.
"Ayo Re,oh ya sini bawaan lu. gua yang bawa ya."
"Makasih ya,maaf gua ngerepotin lu."
"Hmm,enggak apa-apa gua senang kok tenang aja ya."
"Iya,makasih ya."
Jalan ke arah mobil Heri,pegawal Sam yang melihat itu semua,memberi tahu Sam.Sam yang mendengar hal itu membuatnya dirinya mengepal tanganya dan hampir saja tanganya luka,terkena kukunya yang tajam.
"Pak,udah mulai rapat."
"Iya."
Sam pergi rapat,setelah rapat dimulai Sam lebih banyak diam dan merasa malas,dengan rapat tersebut seraya rapat enggak penting,padahal penting untuk perusahaan kedepanya.
.
.
"Maksaih ya Heri,untung ada lu kalau gak ada lu,gua pulang sendiri deh."
"Loh? Sam,gak nganterin lu? bukanya dia selalu posesif sama lu ya? harusnya dia nganterin dong,kalau selalu posesif,ckck emang dasar cowo aneh."
"Iya,suka-suka dia ajalah gua gak ngarep juga kok,gua juga senang kalau dia sibuk,lagian udah tugas dia jadi seorang suami kan."
"Eh? maksud lu.gua gak ada kerja alias gak jelas gitu,jahat lu."
Regina tertawa mendengar itu,gak lama Regina hanya diam sembari ingin keluar dari mobil Heri,Heri juga bantu keluar gak lama pengawal Sam membawa kan baju Regina.
"Bye Heri,hati-hati ya."
"Iya pasti kok,bye jaga kesehatan ya Regina,jangan sampai sakit lagi,kalau sakit lagi gua kasih hadiah."
Regina hanya tersenyum,gak lama Regina masuk ke dalam rumah bibik memberi telepon rumah,kepada Regina dan Regina hanya diam.
"Kamu habis kemana?"
"Pergi sama Sam,kenapa?
"Oh yaudah kalau gitu,senang kan pergi sama dia?"
"Biasa aja sih? kenapa emangnya?"
__ADS_1
Sam sontak mengakhiri telepon Regina bingung ada apa,enggak lama bibik datang ke arah Regina,sembari mendekap Regina.
"Yang sabar ya ibu."
"Iya bik,makasih ya gatau kenapa,akhir-akhir ini saya jadi sering berantam sama Sam,saya juga gak ngerti kenapa dia begitu bik."
"Yang sabar ya ibu,kan hari pernikahan udah mau dekat."
"Benar sih bik,mungkin stress dan banyak pikiran,kalau gitu saya duluan ya bik."
Bibik hanya diam dan tidak mau ikut campur terlalu dalam di karenakan itu masalah tuanya,takutnya nanti bukan selesain malah yang ada jadi tambah ribet.
.
.
Hari pernikahan mereka pun tiba,Sam terlihat tidak bahagia begitu juga dengan Regina,Regina mengenggam lengan papanya dengan erat dan senyum palsu,sembari berjalan ke arah suami yang akan menua bersamanya,sampai di Sam.
"Re,kita harus keliatan bahagia,walau kamu gak bahagia sama aku."
Regina yang mendengar itu merasa sakit untuk dirinya,ia bingung selama ia di berantam di rumah sakit,tentang Heri danĀ juga Ella hubungan mereka semangkin rengang tanpa mereka sadari,enggak lama pernikahan selesai Regina terus duduk.
"Re,jangan duduk terus dong kan gak enak di liatin orang."
Enggak lama,Regina menurut kepada Sam,sampai akhirnya semua tamu selesai,Regina sontak pergi ke kamar hotel sendiri dengan kepala sempoyongan,enggak lama Regina tidur tanpa menganti bajunya.
Sam mencoba membangunkan Regina,untuk malam pertama mereka,tapi apa boleh malam pertama mereka salah satu dari mereka,malah tidur dan kebesokan paginya Regina,merasa lebih baik tapi Regina terus mual-mual,Sam bingung kemana larinya Regina,enggak taunya Regina pingsan di toilet.
"Sayang!"
Sam sontak memanggil dokter pribadinya,untuk cek keadaan Regina,enggak lama Regina selesai di cek dokter hanya tersenyum,Sam bingung ada apa.
"Dok,istri saya gimana?"
"Istri bapak baik-baik aja dan dia kecapean,tapi bayi di perutnya sehat."
Sam yang mendengar itu sontak kaget,enggak nyangka kalau Regina hamil,tapi mengandung anak siapa? apa bersama Heri,saat Regina pulih Sam duduk di tempat yang jauh dengan Regina,Regina tersenyum sembari menghampiri Sam.
"Eh,kamu ngapain?"
"Hmm,samperin kamu,kamu kenapa ke sini? ada apa?"
"Kamu itu bicara apa sih? aku itu suami kamu,kalau aku bukan suami kamu,ngapain aku datangin kamu,kamu berharap Heri yang datang dan bukan aku ya?"
Regina hanya diam sembari menjauh dari Sam,Sam yang mendengar itu sontak hanya menanggis,ternyata benar anak di kandungan Regina,anak Heri bukan anaknya,hanya terlalu berharap banyak.
__ADS_1
"Kenapa gak jawab Re!"
"Pft,berisik bisa gak sih,sehari aja gak berantam,capek gua berantam terus,lu suka berantam ya,kalau lu suka yaudah lanjutin tapi jangan sama gua,gua udah cukup mual dan muak dengan semua ini,kalau emang pada akhirnya kita sering berantam buat apa juga kita nikah!"
Sam yang mendengar itu sontak kaget,melihat ke arah Regina,Regina yang tidak perduli tidur dan tidak mau melihat ke arah Sam.
"Kata dokter,kamu hamil! apa benar? kamu hamil anak siapa?"
Regina bangun dari tidurnya sontak menampar Sam kiri dan kanan,Sam hanya diam sembari melihat ke arah Regina yang rapuh.
"Kamu kira aku wanita apa? yah anak kamulah,emang anak siapa lagi?"
"Hah? iya."
"Iya kalau kamu gak mau ada penerus gapapa,aku gugurin aja anaknya."
"Eh! kamu bicara apa dia itu darah daging aku kenapa kamu bicara begitu."
Regina diam dan mengabaikan Sam,Sam mungkin memang keterlaluan tapi Regina,juga tidak memberi tahu kalau dirinya sedang mengandung anaknya.
"Halo ma."
"Halo sayang,kamu lagi apa?"
"Regina lagi isitrahat aja kok ma,ada apa ma?"
"Kamu sakit sayang."
Regina hanya tersenyum,sedangkan Sam yang melihat dari jauh,merasa tidak tega dengan Regina,apa selama ini dirinya sudah jahat sekali dengan Regina dan apa yang ia khawatir kan selama ini tidak pernah terjadi.
"Iya ma,Regina juga sayang mama."
Bip
Dokter menghampiri ruangan Regina,Regina tersenyum kepada dokter Sam yang melihat itu,merasa cemburu dan di saat minta keluar Sam tidak mau,Regina hanya mengeleng kepala sudah mengerti apa alasan suaminya seperti itu,enggak lama dokter selesai periksa Regina.
"Ibu,lain kali lebih di jaga ya kesehatanya,jangan sampai janinya jadi korbanya."
"Iya dok,maaf ya dok."
Sam bingung kenapa Regina minta maaf sama dokter dan bukan sama suaminya,yang selalu ia buat marah,karena laki-laki yang gak bisa moveon dari masa lalunya.
"Baik kalau gitu saya keluar ya ibu Regina,jaga kesehatan agar bayi tetap sehat dan bisa hamil normal."
"Iya dok,makasih ya."
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangan Regina,Sam kepo dan banyak konsultasi kepada dokter,Sam yang mendengar itu hanya diam dan merasa depresi sendiri,masuk keruangan Regina yang sedang makan bubur.