
“Aku enggak apa-apa kok,enggak usah pikirin aku sayang.”Heri mencoba sok kuat di depan Regina,setelah itu Regina menghadap belakang.
“Hmm,kamu benaran enggak apa-apa tapi,kenapa aku enggak percaya ya,aku percayanya kamu malah kenapa-kenapa sayang.”
“Aku enggak apa-apa,ini liat aja habis makan,dari masakan kamu langsung sembuh waw makanan kamu hebat ya sayang,aku sampai sembuh jadinya.”
“Apaan sih kamu berlebihan,mana ada kayak gitu coba? Kocak.”
Regina sontak pergi kerja dan mengecup kening Heri,Heri merasa senang karen Regina sangat perhatian kepada dirinya,walau dia tidak enak kepada Regina. Tetap aja Regina selalu memikirkan dirinya,terkadang dia merasa dirinya beruntung memiliki Regina.
.
.
“Pagi pak.”
“Pagi Re.”bos hari ini terlihat lebih cuek dari biasanya,tapi bahagia untuk Regina,karena Regina tidak perlu menjadi oranglain,untuk lebih dekat dengan bosnya,bagi Regina menjadi apa adanya sudah jauh lebih baik.
.
.
“Permisi pak,pulang ya pak.”
“Loh? Re. Kok cepat,ada apa?”
“Enggak kok pak,kan emang udah jam pulang pak,emang mau ngapain lagi pak?”
“Oh ya juga ya,yaudah deh kalau gitu. Hati-hati ya.”
Regina tersenyum dengan bos dan pergi dari hadapan bos,bos merasa kalau Regina semangkin hari,semangkin menghindarinya walau berat untuknya,mau bagaimana lagi adanya begitu.
“Sayang,kamu gimana keadaanya udah baik sayang?” Regina langsung pegang dahi Heri.
“Udah kok,kenapa? Lagian aku enggak apa-apakan,aku bilang cuman kecapean aja,kamu aja yang enggak percaya sama aku.”
“Enggak,aku tetap enggak percaya kamu mau bilang apa,aku tetap mau liat,apa yang aku liat,paham kan!”
Heri tersenyum mendengar Regina yang peduli akan dirinya,Heri duduk di kasur sembari mendekap Regina.
“Makasih ya,kamu udah peduli sama aku,walau aku sering bikin kamu khawatir,tapi kamu tetap sayang aku,apa adanya aku senang banget milikin kamu di hidup aku,kamu gitu juga.”
“Enggak! Kamu nyebelin! Selalu bikin aku kesal dan marah terus.”
Disaat Regina mau pergi,Heri mendekap Regina dari belakang,Regina hanya diam dan senyum,sembari Heri tidur di pungung belakang Regina.
__ADS_1
“Jangan marah dong sayang,aku benaran enggak bermaksud buat kamu marah,benaran deh.”
“Lagian! Siapa suruh suka bikin aku marah,senang ya buat orang marah-marah?”
“Enggak sih,lucu aja kalau kamu yang marah,kenapa ya?”
Regina hanya diam,sembari bingung dengan perkataan Heri,Heri langsung melihat ke arah muka Regina. Pegang kedua wajah Regina.
“Aku janji,enggak bakal buat kamu marah lagi sayang.”
“Janji apa? Cuman bicara doang?”
“Hmm,enaknya gimana?”
“Tuhkan! Kamu mah ah!”
Akhirnya mereka keluar dari kamar,makan bersama di ruang tamu,handphone mereka berdering dari orang-orang yang mereka enggak peduliin sama sekali,handphone mereka di taro di kamar. Tidak ada yang boleh menganggu mereka.
“Kita jahat enggak sih? Handphone di taro di kamar?”
“Kalau menurut kamu? Jahat enggak?”
“Enggak sih,biasa aja.”
“Aku pengen deh beliin kamu cincin lagi,tapi aku bingung kamu suka yang kayak gimana?”
Regina diam,sembari lanjut makan,sambil melihat ke arah Heri,Heri diam aja dan tidak berkata apa-apa lagi.
“Iyaudahlah nanti kalau aku ada uang,pasti aku beliin kamu lagi kok.”
“Hmm,aku enggak minta kok,kenapa kamu beliin kamu kerjaninan tau enggak,mending kamu simpan aja uangnya buat yang lebihh berguna,kenapa harus beliin aku cincin.”
“Karena kamu istimewa sayang.”
Regina yang mendengar itu langsung mencubit kedua pipi suaminya,suaminya hanya menahan ketawa sembari pegang kedua tangan istrinya.
“Ih,sakit sayang,nanti aku pipinya ngelebar gimana? Emang mau punya pacar yang pipinya melewer-lewer gendut gitu?”
“Mau aja,emang kenapa? Lucu kok.”
Heri tersenyum dan mendekap Regina,Regina bingung ada apa sampai akhirnya Heri melihat ke arah Regina,tanpa ragu.
“I love you Regina.”
Regina yang mendengar itu dari mulut suaminya hanya bisa menahan senang dan ketawa untung gak kayang.
__ADS_1
“Apaan sih! Tiba-tiba begitu.”
“Dih! Kenapa sih? Emang enggak boleh,ada peraturan enggak boleh ya?”
“Enggak sih,cuman aja aku bingung aja kenapa kamu bicara kayak gitu sayang.”
“Kenapa harus bingung,emang kamu enggak tau kalau aku tipe yang sangat bucin.”
Regina yang mendengar itu ketawa dan sontak menepuk kedua pundak suaminya,sembari menyentil hidung mancung suaminya.
“Sayang,kalau orang bucin mana ada bicara-bicara kayaknya cuman kamu doang deh,padahal aku pribadi enggak pernah loh bilang kalau aku bucin.”
“Kan emang kamu enggak bucin,kamu aja ada cowo lain di belakang aku,enggak mau ngaku lagi. Jangan sampai aku cari sendiri ya siapa cowo itu.”
“Cari aja,dia bos aku kenapa emangnya? Kamu mau marahin bos aku?”
Heri yang mendengar itu hanya diam,tidak bisa berkata apa-apa bagi Heri,untuk apa bicara yang tidak penting daripada nanti berantam dengan Regina.
“Iya sayang,aku minta maaf,aku enggak tau kalau itu bos kamu,tapi aku heran deh kenapa dia romantis banget? Harusnya kalau seorang bos itu biasa aja dong,kenapa dia enggak? Kan aneh sayang.”
“Iya dia suka sama aku,aku enggak bilang punya kamu,tapi aku tetap sayang kamu,jadi kamu jangan mikir enggak-enggak.”
Heri yang mendengar itu langsung lemes dan tidak nafsu makan,Regina sontak kaget akhirnya Regina membantu Heri.
“Sayang,kamu kenapa sih tiba-tiba begini,tuhkan udah aku bilang kamu msaih sakit tapi tetap aja kamu anggapnya gak kenapa-kenapa. Kadang aku kesal deh sama sisi kamu yang sok kuat begitu.”
Heri hanya diam,tidak dapat berbicara apa-apa,Regina membantu Heri tidur di sofa sembari itu Regina mengambil makanan Heri di meja makan.
“Ini,aku suapin ya makan biar enggak sakit.”
“Aku enggak nafsu makan karena kamu bilang,kalau bos kamu suka kamu sayang,bukan karena apa-apa.”
“Haha,kamu cemburu sama bos aku sayang? Kan aku udah bilang,aku sayang kamu kenapa masih cemburu.”
“Walau bagaimanapun aku juga cowo sayang,aku kalau enggak cemburu aneh berarti,aku enggak sayang kamu.”
Heri berkata seperti itu kepada Regina,membuat Regina berpikir,enggak pernah sesekali dirinya melihat Heri seserius ini,ada apa dengan Heri apa itu benaran perasaanya selama ini.
“Maaf.”
Heri melihat ke arah Regina,merasa tidak enak kepada Regina,karena sudah kasar kepada Regina,bagi Heri tidak seharusnya dia seperti itu kepada Regina.
“Aku tidur duluan.”
Heri hanya diam tanpa menahan Regina sedikitpun,tapi mau enggak mau dirinya mengejar Regina sembari mendekap Regina dari belakang,jujur Regina kaget dan tidak menyangka Heri akan seperti itu.
__ADS_1