
“Hai,semua ada apa sih? Kok pada diam aja.”tanya Regina agar tidak ada kesalah pahaman.
“Kamu kemana semalam? Kenapa enggak pulang?”
Pertanyaan dari seorang mama yang khawatir kepada anaknya,takut ada apa-apa dengan anaknya,sedangkan anaknya hanya tersenyum menghampiri mamanya.
“Aku kerja ma,kan mama tau kalau kerjaan aku banyak dan aku sering lembur,karena aku kan udah naik jabatan aku minta maaf ya ma.”
“Bukan karena kamu sibuk sama bos kamu itu kan?”
“Ma,aku sama dia udah mau jadi suami istri loh,masa mama masih benci sama suami aku?”
“Kamu sadar enggak sih,mamanya itu enggak suka sama kamu,mama enggak mau kamu di sia-siain sayang kamu anak baik,kamu layak dapat laki-laki lebih baik dari dia paham kamu?”
“Aku tau ma,tapi aku enggak ada cara lain,maafin aku ma.”
Regina pergi dari hadapan mamanya,setelah itu mencoba untuk tidur dan melupakan masalah hari ini,walau berat.
.
.
“Heri.”
“Ada apa sayang?”
“Sayang?”
Regina bingung dengan cara bicara Heri yang tiba-tiba mengatai,hal yang tidak pantas untuk didengar.
“Sini.”
Heri sedang pegang handphone di tanganya,Regina peka akan hal itu,setelah pergi dari situ Heri mematikan teleponnya.
“Hmm,siapa?”
“Papa dan mama gua.”
“Oh.”
Regina langsung ke dapur dan masak karena lapar,ingin makan hal yang pedas-pedas.
“Ngapain Regina?”
“Mau masak,lu mau?”
“Mau,kalau lu mau masakin gua?”
“Yang pedas,gua lagi mau pedas,kalau lu mau pedas gua bikinin tapi lu tunggu sini,oke.”
Heri merasa ketakutan saat Regina berkata begitu,handphone Regina berdering dari mamanya,lalu Heri hanya diam dan memberi tahu Regina.
“Regina,handphone lu berdering itu lu enggak jawab?”
Regina melihat dari siapa telepon itu berdering,setelah melihat ternyata mamanya dan hanya mencuekan.
“Loh? Kenapa itu mama lu kan yang telepon? Kenapa enggak di angkat?”kata Heri yang meyakinkan Regina untuk mengangkat telepon dari mamanya.
“Bisa enggak sih,jangan ikut campur? Gua enggak suka,maaf.”ucap Regina yang langsung marah kepada Heri,tanpa mendengar apa yang Heri ucapkan.
__ADS_1
Heri terdiam melihat Regina yang marah kepadanya,walau tidak seperti biasanya hari ini,mereka juga berlatih untuk jadi suami istri,semangkin baik tapi tidak untuk hatinya.
“Gua pulang ya.”
“Hmm,hati-hati.”
Regina tau kalau Heri marah kepadanya,walau bagaimanapun ini hanya cinta sepihak yang enggak ada artinya.
.
.
“Heri.”kata Ella yang sedang menanggis rindu akan mantan,kekasihnya.
“Sayang,kenapa sih kamu masih nangisin dia aja.”ucap mama yang tidak tega,melihat anak lucunya menanggis.
“Mama itu enggak tau aku sayang banget tau sama Heri.”
“Mama tanya,emang dia sayang kamu? Kalau dia sayang kamu,harusnya dia cari kamu,bukan tunggu kamu menanggis kayak gini baru dia cari,berarti sama aja dia enggak sayang kamu.”
Ella tetap enggak mau dengar dan keras kepala,sedangkan mamanya hanya bisa diam dan tidak berkata apa-apa karena bagi mamanya,mamanya merasa emang Ella anak yang keras kepala dan susah banget untuk di atur.
.
.
“Regina.”
“Hmm?”
“Hari ini,kita enggak usah latihan dulu deh.”
“Kenapa?”
“Lu enggak nanya kenapa? Gua enggak mau latihan?”
“Enggak,buat apa?”
“Loh? Kenapa?”
“Gua senang kok,jadi habis masakin buat lu,gua bisa pulang dan main sama adik-adik gua.”
“Oh,yaudah kalau gitu.”
Heri seperti agak menyesal,karena tidak ada latihan,tapi Regina yang peka langsung menghampiri Heri.
“Yaudah ayo,sini gua bantu.”
“Hah? Bantu apa? Enggak jelas lu,Regina!”
“Bantu latihan jadi suami istri,tapi bohongan.”
Regina yang selesai masak,langsung memanggil Heri untuk makan,setelah di meja makan Heri hanya diam.
“Lu kenapa Her?”
“Enggak,gua merasa senang aja kenal sama lu.”
“Senang kenapa? Ada-ada aja padahal,gua enggak apa-apain coba.”
__ADS_1
“Lu enggak perlu ngapa-ngapain juga gua udah senang,ada lu di hidup gua.”
Regina hanya menghela nafas mendengar perkataan Heri,walau sebenarnya Regina cinta benaran kepada Heri.
“Gua pulang ya!”
Heri menahan tangan Regina,untuk Heri setelah itu Regina bingung,ada apa dengan Heri. Regina melihat ke arah Heri.
“Kenapa?”
"Jangan pergi Regina,gua butuh lu."
"Butuh kenapa?"
Akhirnya mereka mencoba latihan serius kali ini,setelah serius mereka berdua kecapean dan tertidur di sofa sampai pagi,Regina mengecek handphone kaget udah pagi.
"Regina."
"Hmm."
"Gua sayang sama lu."
Regina hanya mengeleng kepala dan tidak peduli dengan perkataan Heri,sampai diruah kedua orangtua Regina curiga dengan apa yang di lakuin Regina semalaman sampai enggak pulang.
"Kamu kemana semalam? jawab mama dengan jujur,jangan ada yang kamu tutup-tutupin."
"Abis dari rumah Heri ma."
"Mama udah bilang,kenapa kamu masih ke tempat dia sih,kamu itu enggak tau kapok ya? apa kamu enggak jerak sama sifat mamanya ke kamu."
Regina hanya diam dan mencoba mempatuhi mamanya,memang dasarnya Regina sudah lebih dulu mencintai Heri,sebelum Heri mengajak nikah pura-pura.
"Kak,mau makan?"
"Duluan aja,kakak mau mandi dan tidur."
Mama hanya mengeleng kepala enggak habis pikir dengan anak sulungnya itu yang sudah di maanfaatkan,masih saja tetap di pertahankan.
"Pa."
"Iya ma,ada apa?"
"Kenapa Regina,sekarang keras kepala ya?"
"Kamu jangan banyak nuntut dia makanya,dia itu udah lelah sama hidup dia kamu gituin lagi,tambah lelah lah dia,kamu kira enggak capek kayak gitu."
Mama hanya diam dan merasa salah cerita kepada papa,ternyata papa juga enggak ngerti dari arah bicara mama,sebenarnya.
"Heri?"kata Regina yang tiba-tiba rindu akan dirinya.
Regina mendapat pesan dari Heri yang membuatnya tersenyum semeringai dan membuatnya,buru-buru berangkat. mama dan papa hanya diam sambil tidak bisa berkata apa-apa.
"Ma,pa aku pergi ya."
"Ketemu laki-laki itu lagi."
Regina hanya diam dan tidak bisa menjawab memang,Regina ingin bertemu dengan calon suami pura-puranya itu. bergegas pergi dari hadapan mama dan papa.
"Hai."kata Regina dengan senyum semeringainya menyapa Heri.
__ADS_1
"Hai,kamu udah makan? makan ayo aku lapar."ucap Heri yang membalas senyuman semeringai Regina.
Regina tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil sedangkan mama dan papa melihat dari arah ke luar jendela melihat ke dekatan mereka.mereka pergi ke arah kafe untuk makan setelah sampai di tempat makan,Regina terlihat diam dan tidak semangat,tidak seperti tadi pas di jemput di rumah.