Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
46.Masa lalu yang menyeramkan


__ADS_3

“Regina! Kamu dengar enggak saya bicara apa?” bos marah dengan suara lantang,sampai semua orang mendengarnya dan melihat ke arah ruangan.


Regina yang sadar akan hal itu sontak,bangun dan menghadap ke arah bos melipat kedua tangan,meminta ampun kepada bos.


"Maafin saya bos,saya gak akan menggulang lagi."


Bos yang melihat itu hanya tersenyum,tak bisa berhenti senang melihat tingkah Regina di depanya.


"Hmm,udah saya maafin tapi jangan begitu lagi ya."


.


.


"Sayang,aku pulang."


"Kamu habis darimana aja sih,padahal aku udah bilang loh,kalau misalnya kamu itu ke mana-mana kabarin aku,kenapa enggak kabarin."


"Iya maaf sayang aku tau aku salah,aku minta maaf ya."


Sifat Heri berubah seketika,karena Regina lebih menghabiskan waktu bersama bosnya di banding dengan,dirinya.


"Sayang."


"Apa."


"Kamu cemburu ya,aku sama bos aku?"


Heri hanya diam termenung dan tidak menjawab perkataan istrinya.


"Sayang,aku lagi nanya loh,kok kamu cuekin sih? Enggak apa-apa jawab aja kalau emang cemburu enggak apa-apa kok,aku juga senang."


Heri yang melihat reaksi Regina membuatnya kesal,karena ia sembarangan memberi liat muka imutnya kepada oranglain.


"Jangan begitu di depan orang,nanti orang bisa salah paham."


"Salah paham apaan sih sayang,kamu itu lucu banget deh,mana ada salah paham. Ngaco."


Heri sontak pergi dari hadapan Regina di tahan Regina serta Heri,tidak bisa kemana-mana tanpa seizin Regina.


"Mau kemana? Kan bicara kita belum selesai."


"Emang kamu mau bicara apalagi sama aku,aku udah capek lagian enggak ada yang bisa kita bahas."


Regina menghela nafas melihat tingkah Heri yang kadang mengemaskan,untuk dirinya pribadi.


"Kenapa kamu imut banget si,Heri."


Heri yang mendengar itu sontak membelokan matanya,seraya matanya ingin keluar dari tempatnya.


"Kamu bicara apa tadi."


"Enggak,aku mau bersih-bersih dulu,kamu udah makan?"


"Udah,kenapa."


Regina mengerutkan dahinya sambil berpikir,haa makan apa emang Heri bisa masak? Masak apa.


"Makan apa?"


"Kenapa sih mau tau banget,lagian bukan urusan kamu juga kali."


Regina yang mendengar itu bukan marah,malah tambah sayang sama Heri. Pegang kedua wajah Heri nan tampan.


"Cie cemburu,tapi aku suka."

__ADS_1


Regina mengecup pipi Heri. Heri yang awalnya mau marah enggak jadi,karena Regina selalu pintar mengambil hatinya.


"Curang,kenapa aku selalu kalah sama kamu."


Regina tersenyum sembari mengalungkan tanganya di leher Heri,yang sedang melihatnya dengan setulus hati.


"Enggak curang,itu namanya sayang,gimana sih kamu."


“Hmm,kenapa aku sayang kamu? Kalau aku enggak sayang kamu,aku sama siapa ya?”


Regina hanya diam dan tersenyum,sambil menghindar dari Heri.Heri bingung ada apa dengan Regina,sembari mendekati Regina.


“Mungkin,kamu akan sama Ella?”


“Kenapa tiba-tiba bahas Ella? Bingung aku sama kamu.”


“Hmm,emang gaboleh aku bahas dia?”


Heri mengeleng kepala menadakan tidak boleh,setelah itu Heri sontak pegang kedua tangan Regina,sembari Heri berkata lagi kepada Regina.


“Sayang,enggak pernah ada cewe lain di hati aku,apalagi di pikiran aku,yah mentok kamu doang,siapa lagi yang mau ngisi ye kan.”


"Pasti kamu bohong sama aku,mana mungkin Cowok seganteng kamu nggak punya pacar atau nggak cewek lain."


"Kan kamu tau,cewe yang aku suka hanya kamu,enggak pernah ada cewd lain,sayang."


Regina hanya menganggukan kepalanya,setelah itu Heri hanya diam sembari mendekap Regina.


"Sayang,udah ah jangan nanya hal yang aneh-aneh,intinya aku enggak pernah ragu untuk sayang kamu,mungkin kamu pernah ragu untuk sayang aku."


Regina melihat ke arah Heri,Heri tersenyum sembari pegang dagu runcing milik Regina.


"Jadi kamu raguin aku,karena aku pernah raguin kamu gitu."


"Aku enggak bilang gitu,aku cuman bicara yang sebenarnya kok,kalau aku salah ya aku minta maaf sama kamu sayang."


"Imut,aku enggak marah kok,cuman kamu lucu aja."


.


.


"Halo bos,ada apa?"


Heri udah bete pagi-pagi melihat istrinya telepon dengan lelaki lain.


"Iya bos,sebentar lagi saya akan ke sana,baik bos. makasih."


Regina menghampiri Heri yang lagi cemberut,Reginta tersenyum menghampiri Heri.


"Cemburu lagi? Ini kerjaan loh sayang bukan main-main ,kalau aku main-main pasti aku udah di omelin sama kamu."


"Emang dari tampang aku,ada ngomel ya?"


Heri pergi dari hadapan Regina. Regina menjadi serba salah melihat Heri marah kepadanya.


.


.


"Pagi Re."


"Pagi pak."


"Kamu kenapa? Sakit? Kok pucat mukanya."

__ADS_1


"Enggak pak,kecapean aja."


Bos sontak pegang dahi Regina. Regina hanya diam tak bisa berkata apa-apa kepada bos,yang sangat perduli kepadanya.


"Kamu normal kok,terus? Kamu kenapa."


"Iyaudah kalau emang kamu sakit,kamu boleh kok pulang daripada kamu paksain."


"Makasih pak,saya enggak apa-apa kok pak,beneran."


Bos hanya tersenyum mendengar Regina berkata seperti itu,sembari jalan ke ruangan masing-masing.


"Saya keruangan saya ya pak."


Bos hanya mengangukan kepalanya kepada Regina. Regina tersenyum melihat reaksi bos yang seperti itu kepadanya.


"Kenapa ya bos hari ini ganteng banget,bos jangan bikin saya susah milihlah." Gumam Regina kepada bos untung,bos enggak bisa baca pikiranya.


.


.


"Saya antar pulang ayo,Re."


"Enggak usah bos,enggak apa-apa saya bisa sendiri kok dan kalau ada apa-apa saya bakal,kabarin bos."


Bos tetap tidak mendengar Regina,melainkan malah mengendong bos dan Regina kaget.


"Bos,apa-apaan sih semua orang liat kita! Emang bos enggak malu? Di liat oranglain."


"Saya enggak pernah malu,kalau soal menyangkut kamu,yang penting kamu selamat. Itu tujuan saya jadi plis jangan bantah."


Regina hanya diam tidak bisa berkata apa-apa. Melihat bos begitu peduli denganya,gimana enggak klepek-klepek sama bos kayak gini.


Sampai di mobil bos keduanya hanya diam,tanpa berbicara apapun,keduanya pun sontak melihat bersamaan.


"Bos,jangan pernah begitu lagi ya."


"Begitu gimana?"


"Iya begitu di depan orang,malu tau,emang bos enggak malu apa?"


"Saya enggak pernah malu sih,kalau menyangkut kamu,malah saya enggak tau malu gimana dong? Bantu."


Regina yang mendengar itu tersenyum tanpa membatah apapun,bos merapikan rambut Regina yang berantakan.


"Saya cuman enggak mau,kalau kamu kenapa-kenapa karena kamu,berarti banget untuk saya Re."


"Segitunya bos? Kenapa gitu."


Bos menyentil hidung mungil milik Regina,sembari Regina menutup mata.


"Ih bos! Sakit."


"Itu pelan Re,mana ada saya kasar sama kamu,ngenaykitin kamu aja enggak pernah ada di benak saya."


Regina kadang berpikir,dirinya melakukan ini perbuatan salah apa benar ya,secara dirinya sudah menikah,tapi masih aja dapat perhatian dari pria lain yang lebih baik daripada suami sendiri.


"Re,kamu kenapa? Tuh kan bengong terus emang ada yang konslet dari otak kamu Re."


Regina tertawa mendengar bos berkata seperti itu,setelah itu mereka memilih pulang,sampai di apartemen Regina.


"Makasih ya bos, udah baik dan perhatian sama saya."


"Hmm sama-sama cantik."

__ADS_1


"Iyaudah bos hati-hati ya,aku masuk bye."


Regina masuk ke dalam apartemen,sedangkan bos hanya senyum sembari mengerakan mobilnya.


__ADS_2