
"Gimana bos? Rasanya? Enakan? Enggak percayaan sih."
"Iya enak,pintar kamu pilih makanan,lain kali ajak saya ke makanan yang kamu suka ya."
"Siap bos!"
Regina tersenyum begitu juga dengan Bos,bos langsung mau makan sendiri,di suapin lagi sama Regina.
Selesai makan,Regina melihat ke arah bos,bos juga melihat ke arah Regina.
"Ada apa Re?"
"Bos enggak geli,tadi saya suapin pake tangan saya habis makan."
Bos tertawa sembari pegang kedua wajah,Regina dengan senyum tipisnya.
"Kenapa harus geli? Orang saya sayang sama kamu."
Regina yang mendengar itu hanya menelan salivanya di depan,bos dan membuang muka.
"Bos bicara apa sih,udah ayo balik ke kantor."
"Kan udah selesai ke kantornya,pulang aja."
"Masih ada jam 3 bos,2 jam lagi. Saya enggak mau kalau gaji saya di potong."
"Siapa juga yang berani potong gaji kamu,saya aja sayang sama kamu,mana tega saya."
Regina yang mendengar itu sontak diam tidak,berkata apa-apa kepada bos.
Sampai di apartemen Regina,bos melihat sekeliling dan Regina bingung ada apa.
"Kenapa sih bos? Seram amat liatnya."
"Kamu enggak mau pindah,saya beliin rumah ya? Daripada tinggal di sini,saya enggak tenang tau kamu tinggal di daerah ini."
Regina sontak bingung mengapa,bosnya berkata demikian kepadanya.
"Maksud bos,bicara gitu apa?"
"Gitu gimana?"
"Iya suruh saya pindah? Emang bos tau apa tentang saya?"
"Saya memang enggak tau banyak tentang kamu,tapi saya enggak tega liat kamu tinggal di sini."
Regina merasa aneh dengan bos,akhirnya bos pegang kedua tangan Regina.
"Re,coba deh kamu liat sekelilingnya,enggak ada orang,ini apartemen ada orang apa enggak sih?"
"Bos ini kan masih jam kerja,di tambah orang sini kalau udah kerja ya pulang,langsung tidur mana ada lagi yang keliaran."
Bos hanya tertegun diam sembari melepas tangan Regina,dengan lembut.
"Bos,bos kenapa sih? Kesepian."
Bos menganggukan kepala sembari,tidak berani melihat ke arah Regina.
"Kalau bos,memang kesepian yah cari pasangan lah bos,saya yakin di luar sanah pasti ada yang cocok sama selera bos."
"Saya maunnya sama kamu,enggak mau sama oranglain,emang dari tampang saya,saya se jahat itu ya,sampai kamu enggak percaya,saya suka kamu."
Regina yang mendengar hal biasa,dari perkataan bosnya membuatnya mendekap bos dengan erat.
"Bos,bos itu orang baik ngapain sama saya,saya kan cuman karyawan lagian enggak cocok bos,status kita aja beda."
Handphone Regina berdering dari Heri,Regina sontak turun dari mobil bos,jalan ke arah apartemen.
"Halo sayang,udah tunggu lama ya?"
"Enggk kok sayang,kenapa?"
Regina sontak masak,selesai masak memanggil Heri ke meja makan dan setelah itu Heri jalan,ke arah meja makan.
__ADS_1
"Kamu hari ini,enggak ada makan? Makanan lain sayang."
"Enggak masakan istri aku aja enak,buat apa aku makan di tempat lain."
Regina hanya tersenyum mendengar perkataan Heri,yang kadang Regina senang melihat Heri,makan atas masakanya,mengingatkan dirinya kepada papanya.
Ketika Regina selesai pulang kerja pasti papanya sering,makan di temani oleh Regina.
"Sayang,kamu kenapa?"
"Enggak apa-apa,aku cuman lagi keingat papa aku aja."
"Papa kamu? Kenapa papa kamu "
"Di paling suka kalau aku temanin dia makan,apalagi kalau aku masak."
Tanpa sadar Regina menanggis di depan Heri,Heri merasa tidak tega dengan Regina.
"Kamu mau,ketemu papa kamu sayang?"
Regina yang mendengar itu sontak melihat ke arah Heri,pegang kedua tangan Heri.
"Benaran sayang?"
"Iya pergi aja,aku enggak ngelarang kok,kamu nginap juga boleh,menurut aku,enggak ada salahnya kok."
Regina yang mendengar itu sontak,senang dan langsung mendekap Heri dengan erat.
"Makasih sayang,beruntungnya aku punya kamu."
"Lagian aku,enggak pernah,ngelarang kamu untuk dekat sama orangtua kamu,kenapa kamu ngerasa aku ngelarang kamu."
Regina hanya tersenyum sembari melihat ke arah bawah,dan dinaikan dagu oleh Heri sembari melihat Heri.
"Sesuatu yang bisa buat kamu senang,juga akan bisa buat aku senang,paham sayang?"
Regina menganggukan kepalanya dan mendekap Heri kembali,selesai makan akhirnya mereka berdua di ruang tamu.
"Hmm."
"Kamu kesepian enggak sih? Kalau aku kerja."
"Kesepian."
Regina sontak melihat ke arah Heri,begitu juga dengan Heri yang kaget di liat oleh Regina.
"Kenapa enggak bilang Her?"
"Aku liat,kamu senang sama kerjaan kamu,aku ngerasa enggak perlu ngelarang kalau kamu senang."
"Tapi aku kan istri kamu,aku pasti dengarin kamulah."
Heri tersenyum sembari merangkul Regina dalam pelukanya,yang hangat sambil di kecup di kepala.
"Iya sayang."
.
.
"Her,aku berangkat kerja ya."
"Iya sayang."
Saat Regina membuka pintu,sontak muka bahgia Regina berubah jadi takut.
"M-m-mama."
Heri yang bingung,langsung meluhat ke arah keluar dan ada mama.
.
.
__ADS_1
"Her,mau sampai kapan kamu main-main sebagai suami istri,kayak gini."
"Emang kenapa sih ma aku salah terus di pandangan mama,lagian siapa yang main-main aku benaran menikah dengan Regina kok."
"Kamu pikir,mama orang yang bisa kamu bohongin."
Mama memberi surat kontrak nikah,Heri kaget dan berkata kepada mama.
"Mama dapat ini darimana?"
"Enggak penting mama dapat dari mana? Ini apa!"
Heri hanya diam dan bingung bagaimana,ingin menjawab mama sedangkan Regina. Hanya diam tidak bisa berkata apa-apa.
"Ma,dengar dulu,ini itu enggak yang seperti mama kira kok."
"Kamu Re! Pintar ya maanfaatin anak saya,udah berapa habis uang anak saya kamu telan,kamu senang ya liat anak saya menderita."
"Ma,ini enggak ada salah Regina,ini salah aku jadi mama jangan salahin Regina.
Regina yang tidak tahan,sontak merapikan baju-bajunya dan pergi dari hadapan mama dan juga Heri.
"Sayang kamu mau kemana sih? Kita kan suami istri."
Mama menahan Heri untuk mengejar Regina,Regina bertemu dengan bos dan bos membawa Regina kerumahnya.
"Kamu kenapa sih Re? Ada yang mau kamu ceritain sama saya?"
"Maaf pak,urusan pribadi."
"Baik kalau begitu saya juga,enggak bisa paksa kamu."
Bos mengambil minuman teh hangat selagi membuat Regina tenang,selagi Regina tenang.
"Ini Re,teh hangatnya."
"M-makasih bos."
"Kalau gitu anggap aja rumah sendiri saya,mau ke kantor ya."
Regina menahan tangan bos,bos sontak melihat ke arah Regina. Bos mendekap Regina dengan erat.
"Maaf ya Re,kalau saya terlalu ikut campur urusan kamu,enggak seharusnya saya banyak tanya."
"Bapak enggak salah kok,masalah saya aja yang rumit."
Bos tersenyum semeringai,melihat ke arah muka Regina.
"Re,kamu udah makan? Mau saya masakin enggak?"
"Boleh."
"Mau apa?"
"Apa aja."
Bos berpikir mau masaka apa untuk Regina,Regina tersenyum melihat ke arah bos.
"Andai aja bos suami aku,pasti aku jauh lebih bahagia." Gumam regina.
Selesai memikirkan menu,akhirnya dapat juga pasta cream chesse beef.
"Ini Re,makan semoga kamu suka ya,aku tau sih kamu suka makanan kaya bumbu,tapi saya enggak bisa."
Regina tersenyum sembari mengeleng kepala,kepada bos.
"Enggak apa-apa bos,saya bisa makan apa aja."
Bos yang mendengar itu sontak bahagia dan Regina makan dengan lahap.
"Enak bos,enak banget beruntung banget yang jadi pasangan bos."
Bos sontak mengambil kedua tangan Regina dan mengecup bibir manis Regina.
__ADS_1