
“Heri,kenapa ya? Kayaknya kesal banget sama gua.”kata Regina dalam hatinya.
Handphone kantor berdering menandakan bos memanggil Regina,keruanganya Regina masuk keruangan sembari duduk di depan bos.
“Iya pak,ada apa?”
“Kamu udah selesai semua kerjaanya?”
“Udah pak,ada apa?”
“Makan siang bareng ayo,ada yang mau saya bahas sama kamu.”
Regina langsung menurut kepada bos,setelah masuk ke dalam mobil bos,Regina menjadi gosip orang kantor,karena rumornya Regina bisa berkerja di perusahaan ini,karena bosnya menyukainya.
“Pak.”
“Iya Re,ada apa?”
Regina merasa gelisah untuk berkata kepada bosnya,karena dirinya tidak ingin di pecat dari perkerjaan kesukaanya.
“Kenapa Re? Bicara aja,saya enggak akan marahin kamu kok,tenang aja.”
“Hmm,bapak udah dengar belum rumor saya di kantor.”
“Oh,soal itu kamu enggak perlu dengarin kan kenyataanya kamu enggak begitu.”
Regina tetap merasa gelisah,walau bosnya sudah berkata seperti itu,sambil melihat ke arah Bos.
“Saya,enggak suka pak karena saya enggak merasa begitu sama bapak.”
“Terus? Kamu mau gimana?”
Regina terdiam kembali sembari melihat ke arah kedua tanganya,Bos langsung pegang kedua tangan Regina.
“Saya tau kamu tertekan tapi enggak usah,terlalu mendengarkan perkataan orang,kadang enggak semua orang mengenal kita,melainkan diri sendiri benar enggak apa kata saya?”
Regina lebih tenang setelah mendengar perkataan bosnya,sembari melanjut makan mereka beruda di mobil yang sama.
“Makasih ya pak,untuk hari ini saya beruntung banget,bisa punya bos kayak bapak,saya yakin suatu saat nanti orang yang menjadi istri bapak orang yang beruntung.”
Bos hanya terdiam sambil menghelus kepala Regina,Regina sontak menghindar langsung keluar dari mobil.
.
.
“Re.”
Heri melihat Regina hanya diam,bingung ada apa dengan Regina,mengapa muka Regina terlihat pucat.
Regina langsung mendekap Heri dengan erat,tanpa Heri berkata atau bertanya apapun kepada Regina.
“Kenapa Re?”
__ADS_1
“Enggak.”
Heri sambil memberi teh hangat,kepada Regina. Regina merasa tenang karena ada Heri di depanya,ia tidak mau kalau cintanya harus di bagi-bagi. Baginya Heri sudah cukup.
“Her.”
“Apa?”
“Kalau gua lagi takut,gua boleh minta sesuatu enggak?”
“B-boleh kalau gua bisa wujudin,kenapa enggak? Emang mau minta apa?”
Regina hanya melihat Heri,pegang kedua wajah Heri,sembari mencoba untuk berbicara dengan Heri,Heri menahan Regina.
“Lu mau ngapain sih? Jadi takut gua.”kata Heri yang masih bingung kepada Regina.
“Gua lagi takut,cuman gua enggak bisa jelasin apa ketakutan gua.”
“Kenapa lu bicara begitu? Emnag apa yang bikin lu takut? Kasih tau gua,biar gua bikin perhitungan tuh orang!”
“Enggak,jangan! Gua enggak mau,gua cuman mau lu ada untuk gua,gua gak rela kalau lu di ambil orang lain,maaf gua egois harusnya gua sadar kalau gua bukan siapa-siapa selain,istri kontrak.
Heri yang mendengar itu langsung merasa kesal dengan Regina dan memalingkan wajahnya,sembari salah tingkah dengan perkataan Regina.
“Kenapa lu bicara begitu si Re,enggak suka gua dengarnya.”
“Enggak suka gimana? Emang dari perkataan gua salah.”
Heri sontak pergi dari hadapan Regina,seketika Heri merasa kalau Regina jadi lebih keras kepala di banding awal dia mengenal dirinya,sedikit kecewa namun mau bagaimana,mungkin ada sesuatu hal yang tidak bisa dia ceritakan.
Regina juga merasakan yang sama pada Heri,Heri terus menjauh ketika Regina ingin lebih dekat denganya,apa cara Regina salah sehingga Heri,merasa takut kepada Regina,mengapa Heri merasa kalau Regina ada sesuatu yang ditutupi,walau ia tidak pernah cerita.
.
.
“Pagi Re.”
“Pagi Her.”
Regina menjadi seperti biasa,walau Heri tau Regina,pasti masih merasa kesal kepadanya. Sembari duduk di meja makan Heri terus memantau Regina dengan menaruh tanganya di dagunya.
“Ini makananya,aku pergi dulu ya kalau ada apa-apa,kasih tau aku ya.”kata Regina dengan nada dinginya kepada Heri.
“Tunggu.”Heri sontak,langsung menahan Regina dengan nada suaranya,Regina melihat ke arah Heri.
“Apa?”
Heri jalan ke hadapan Regina,Heri langsung peluk Regina dengan erat,walau dirinya tidak tau ada masalah apa dengan Regina.
“Maaf,kalau semalam sifat gua,bukan seperti yang lu inginkan,karena menurut gua,gua mau tau alasan yang jelas. Kalau enggak jelas jadi bingung.”
Regina hanya diam,sontak menanggis berderai air mata,setelah itu Heri melepas pelukannya pegang kedua pundak Regina.
__ADS_1
“Re,lu boleh cerita apapun ke gua,tapi gua enggak bisa menjamin bisa membantu semuanya,tapi lu harus tau kalau gua selalu di samping lu,kalau lu butuh gua pasti gua ada kok.”
“Makasih ya Her.”
Heri merasa lega,mendengar Regina merasa bahagia dengan perkataanya barusan,Regina melihat ke arah Heri dan menyilangkan tanganya ke leher Heri.
“Her.”
“Hmm.”
“Makan malam di luar ayo?”
“Ayo,mau kemana?”
“Terserah,maunya kemana? Ikut aja.”
Regina tersenyum melihat ke arah Heri,Heri langsung berpikir untuk pergi dengan Regina kemana,setelah selesai akhirnya mereka makan bersama.
“Iyaudah,aku ke kantor duluan ya Her,sampai jumpa nanti malam.”
“Oh ya,kamu mau aku jemput,atau enggak?”
“Boleh aja,kalau kamu mau jemput aku,malah aku senang banget,kalau kamu jemput aku,seriusan sih,senang banget,tapi kalau kamu enggak bisa enggak apa-apa,aku enggak bisa maksa kamu juga kan.”
“Hmm,kok kamu bicaranya gitu,jangan gitu dong.”
Heri langsung mendekap Regina kembali,Regina merasa bersyukur mengenal Heri dan menjadikan dirinya sebagai suami,Regina seraya seperti wanita yang beruntung memiliki Heri.
.
.
“Re.”bos yang langsung telepon Regina lewat telepon kantornya.
“Iya pak,ada apa?”
“Kamu keruangan saya sekarang.”
Regina sontak keruangan bos,tanpa basa-basi setelah sampai diruangan bos,Regina menghela nafas dan merasa takut ada apa-apa.
“Iya bos.”
“Sini,duduk. Ada yang mau saya bicarain sama kamu.”
Regina merasa gemetar dan cangung,dirinya bingung apa ketahuan ya kemarin bohong,demi mau berduaan dengan Heri,tapi kok bisa kan Herinya udah di umpatin kenapa tetap keliatan.
“Re.”bos tersenyum kepada Regina,seraya tidak ada masalah serius,kenapa di panggil.
“Iya pak.”
“Kamu kenapa? Takut banget,saya enggak ada apa-apa kok,saya panggil kamu hanya mau nanya keadaan kamu,gimana urusan kamu? Udah selesai apa masih ada?”
Regina merasa tersindir walau awalnya perhatian,tapi lama-kelamaan menjadi sindiran secara halus untuk Regina,Regina hanya bisa tersenyum tanpa harus membalas,sindiran tersebut walau bagaimanpun itu bosnya,yang memberi tunjangan hidup.
__ADS_1