
“Selamat ulangtahun ya sayang.”
Regina tersenyum,sembari berlari mendekap bos dengan erat,bos merasa senang melihat istrinya senang.
“Makasih ya sayang,kok kamu tau aku ulangtahun?”
“Tau dong,apa yang aku enggak tau tentang kamu,wanita kesayangan aku ya kan.”
“Wah,makasih ya sayang,aku senang banget,sekali lagi makasih loh sayang.”
Bos mendekap Regina dengan erat,setelah mendekap akhirnya bos pegang tangan Regina,ke arah acara.
“Doa dulu,baru tiup lilin ya.”
“Hmm,udah tiup tadi,sekarang tiup lagi dong.”
“Iya dong sayang,emang kenapa sih?”
"Iya enggak apa-apa sayang,aku cuman mau rayain bareng kamu,emang gaboleh?"
Regina yang mendengar itu hanya diam dan melihat ke arah bos, bos senyum ke arah Regina.
"Boleh kok, cuman kadang saya malu aja kalau dilihatin."
"Kenapa harus malu? Kan saya calon suami kamu, Emang ada yang boleh ngetawain kamu, atau bikin kamu malu gitu."
Regina yang mendengar itu sama dengan tidak bisa berkata apa-apa kepada bos.
"Ya emang cuman bos deh, yang punya kuasa tinggi dibanding orang lain."
"Nggak juga sih, saya nggak ngerasa saya punya kuasa tinggi kok atas orang lain, cuman kalau orang itu berani enggak hina kamu sama dengan mereka berani juga dengan saya."
Regina yang mendengar itu hanya bisa diam,sembari tersenyum dan meniup lilin.
"Makasih ya sayang,selalu hadir dalam hidup aku,aku enggka tau lagi,kalau enggak ada kamu. Di hidup aku,aku harus kayak gimana lagi."
"Kamu bicara apa sih sayang,aku yang bersyukur punya kamu,bukan kamu yang bersyukur punya aku."
Regina mendekap bos dengan erat,bos tersenyum kepada Regina,seraya dunia milik berdua.
"Sayang."
"Hmm."
"Makan ayo,aku lapar lagi liat makananya."
Mereka ketawa sembari mengambil makanan,setelah mengambil akhirnya mereka makan.
"Sayang,aku jadi ingat deh pertama kali kita kenal."
"Emangnya gimana waktu pertama kali kita kenal."
"Emang kamu nggak ingat ya,, kok Aku sedih kalau kamu nggak ingat dan aku jadi ngerasa aku sendirian doang yang inget."
"Nggak gitu, aku kan ngerasa duluk aku sibuk banget sampai aku nggak tahu gimana kita ketemunya gitu."
"Seenggaknya kamu ingat kek, tentang aku gitu jangan lupa, tapi kenyataannya kamu malah lupa."
__ADS_1
"Ya udah coba kamu ceritain lagi, siapa tahu aku ingat."
Regina hanya tersenyum semeringai,kembali menjelaskan mengapa mereka bisa kenal dan dekat seperti sekarang.
"Kamu ingat nggak?"
"Ya aku ingat kok, nggak nyangka ya kita udah lama ternyata udah setahunan, sebelum setahunan aku udah suka sama kamu."
"Mungkin,jodoh."
Keduanya ketawa lagi ada hal yang bisa dibahas lagi, setelah itu akhirnya handphone Regina berdering, dari Heri mantan suaminya.
"Siapa yang telepon kamu Re?"
"Heri."
"Mau ngapain lagi dia telepon kamu? Bukannya kemarin udah terakhir ya atau masih kurang."
"Nggak tahu terus aku boleh jawab atau enggak nih teleponnya?"
Bos sontak pergi dari hadapan Regina,tetapi di tahan oleh Regina.sembari bos duduk manis di sebelah Regina.
"Kenapa Her?"
"Selamat ulang tahun ya re,aku harap di ulang tahun kamu tahun ini, kamu mendapat hal yang lebih baik dari sebelumnya."
"Makasih ya semoga doanya baik juga ke kamu."
"Kamu lagi apa re? Sibuk nggak? Kalau nggak sibuk aku pengen ngajak kamu jalan sekalian, ngerayain ulang tahun kamu Itu pun kalau kamu mau sih."
Bos yang sedari tadi menahan amarahnya hanya diam,dan Regina tidak tega melihatnya,sembari mengecup pungung tangan bos,agar bos terasa tenang tidak terlalu marah,dengan Heri yang selalu mencari kesempatan dengan Regina.
Bos yang mendengar itu tersenyum dalam hati,walau terkadang dirinya merasa jahat,namun bagaimana. Kalau tidak dengan cara itu pasti Heri akan terus berusaha,sampai ia merasa menang,karena orang seperti itu tidak akan kenal capek dan juga lelah.
"Hmm yaudah kalau gitu Re,aku enggak bisa maksa kamu,intinya yang terbaik untuk kamu."
"Makasih,kamu juga."
Telepon mereka berakhir di situ aja,Regina melihat ke arah bos dan mendekap kedua tangan bos,sembari tersenyum menghelus kepala bos,yang kayak anak kecil karena tidak tahan kepada sikap Heri.
"Bos aku enggak ada hubungan apa-apa kok,sama Heri seriusan deh."
"Emang aku ada bilang apa? Kan aku diam aja?"
"Aku ngerti,diam kamu,ada maksudnya sayang."
Bos hanya menghela nafas seraya dirinya tidak ingin berkata,lebih lanjut.
.
.
"Pagi sayang."
Bos jalan ke arah pintu keluar,ditahan oleh Regina agar bos tidak pergi.
"Sayang,kamu mau kemana sepagi ini."
__ADS_1
"Aku mau kerja,aku sarapan di luar aja sayang,duluan ya."
"Enggak! Aku enggak mau,aku mau kamu di sini."
Bos hanya menghela nafas dan mengalah kepada Regina, sembari jalan ke arah meja makan.
"Ini sayang,aku masakin kamu makanan,kesukaan kamu."
"Hmm."
Akhirnya mereka makan,sembari itu bos hanya makan dengan tidak nyaman.
"Sayang,enggak enak ya masakan aku?"
"Enak kok,emang aku ada bilang gak enak?"
"Enggak sih,lagian kenapa juga deh,kamu kok aneh banget sih hari ini?"
"Yang aneh itu kamu sayang,bukan aku."
Setengah makan bos pergi dari hadapan,Regina karena merasa Regina aneh.
.
.
"Bos kenapa sih? Marah-marah aneh."
Setelah itu Regina merasa kesal sendiri,dan bingung mau kemana.
"Enaknya ke mana,yah capek sama bos."
Mantan suaminya, akhirnya menelpon dirinya.
"Halo kenapa."
"Lagi apa? Ganggu nggak? Kalau nggak ganggu jalan yuk, Aku bosen di rumah."
"Kenapa sih masih berusaha banget ngajak aku jalan, bukannya kamu udah ada Ella ya."
"Aku emang udah ada dia, tapi aku nggak suka sama dia, Aku sayang sama kamu."
Regina ya mendengar itu hanya diam saja,,tidak bisa berbicara apa-apa karena memang,sifat mantan suaminya seperti itu.
"Maaf aku nggak bisa ketemu kamu, lagian kita udah janji juga kan untuk aja jangan ketemu satu sama lain."
"Aku nggak pernah janji kok, tapi calon suami kamu aja yang menjanjikan sendiri padahal dia sama kamu belum jadi suami istri, sedangkan aku sama kamu kan dasar jadi nggak masalah dong kalau misalkan aku diajak istri aku sendiri jalan."
"Bicara apaan sih lu? Kita itu udah nggak ada hubungan apa-apa dan kita juga Udah cerai jadi suami istri dari mana."
Heri hanya ketawa mendengar perkataan Regina, setelah itu akhirnya Regina mematikan teleponnya dan tidak ingin berbicara lagi dengan Heri.
"Kenapa sih orang di dunia ini gila-gila semua capek deh, masih kangen sama bos dan bos kenapa sih ngeselin banget hari ini."
Sembari itu bos di kantor hanya diam dan tidak bisa melakukan apa-apa karena kepikiran tuh soalnya Regina.
"Regina lagi apa ya sekarang? Kenapa aku marah sama dia, padahal kan dia sama Heri nggak ada apa-apa Dan kenapa aku harus cemburu coba, padahal kan dia memilih aku tapi aku tetap aja nggak bisa percaya sama dia, mungkin aku suaminya bodoh kali ya makanya susah untuk mendapatkan hati dia kembali."
__ADS_1
Dari sekian lama akhirnya memikirkan cara untuk kebaikan dengan istrinya sendiri, sampai akhirnya bos memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal dan mempersiapkan segala sesuatu untuk istrinya.