
“Gua minta maaf ya,sama kejadian kemarin? Lu marah ya sama gua Her.” Regina merasa tidak enak kepada Heri yang baru menjadi anak baru,karena sikap Regina yang terlalu berani membuatnya menjadi takut.
“Enggak,gua marah sama diri gua,karena gua enggak berani sama lu,harusnya gua tetap menghargai lu,kan lu teman pertama gua di sekolah ini,enggak seharusnya gua acuhin lu seperti itu.”
Regina yang mendengar itu terdiam dan tidak bisa membalas apa-apa,dengan tersipu malu Regina langsung memukul kecil Heri.
“Apaan si,bicara apa sih? Gua kan cuman bercanda aja,kenapa lu anggap serius banget.”
Heri langsung mendekap kedua tangan Regina dengan erat,sembari melihat muka Regina dengan tatapan tajam penuh keseriusan tanpa ada yang di sembunyikan oleh Heri.
“Gua serius,kalau lu bercanda gua tetap serius,Re.”
Regina merasa senang saat Heri memanggilnya dengan sebutan “Re” entah mengapa,nama seperti itu yang selalu Regina inginkan,walaupun namanya memang tidak terlalu sulit di ingat. Tapi Regina selalu senang kalau orang memanggilnya dengan sebutan “Re.”
“Kenapa Re? Gua salah ya?”
“Enggak.”
“Hmm,terus kenapa lu diam? Gua bingung,kenapa lu diam?”
Regina sontak mengajak Heri pulang,tanpa sengaja Heri juga mengajak Regina kerumahnya,Regina kaget melihat rumah Heri yang sangat bagus da membuat kemukau.
“Kenapa Re?”
“Enggak,rumah lu bagus ya? Gua enggak heran sih,kenapa lu selalu banyak hal-hal aneh yang gak pernah gua liat,ternyata lu orang punya enak ya,jadi orang punya.”
Heri awalnya bingung kenapa Regina berkata demikian kepadanya,sembari mengajak Regina duduk di sofa yang empuk milik Heri.Regina nampak bahagia setelah duduk di sanah.
“Haaa,nanti udah kaya beli sofa kayak gini ah! Suatu saat nanti,pasti bisa kalau gua kerja keras.”
Heri yang mendengar itu masih tidak mengerti,apa yang di maksud Regina,setelah itu Heri duduk di sebelah Regina sembari melihat muka polos Regina yang merasa nyaman dengan sofa Heri.
“Re.”
“Iya Her,ada apa?”
“Lain kali? Kalau gua kerumah lu boleh enggak?”
Regina bingung dengan perkataan Heri,yang gak habis pikirnya kayaknya Heri satu-satunya yang mau datang kerumah Regina dari sebanyak orang,mungkin karena Heri orang baru dan dirinya ingin mengolok-olok Regina.
“Boleh,tapi gua yakin kalau lu udah kerumah gua,pasti lu enggak bakal mau kerumah gua lagi.”
__ADS_1
Heri mangkin merasa tertantang dengan perkataan Regina,sembari mba membawa minuman dan makanan untuk dirinya dan juga Regina.Heri terus melihat ke arah Regina.
“Kenapa Her? Gua kayak orang kampung ya?”
“Hmm,enggak kok,gua lagi mikir aja.”
“Mikir apa?”
“Lu orang berada kan?”
Regina tertawa mendengar penjelasan Heri kepadanya,sebenarnya dari nada bicaranya tidak ada bermaksud menyinggung melainkan memang benaran bertanya,bukan mau menyepelehkan atau menghina Regina.
“Besok kerumah ya,biar bisa menilai sendiri.”
Heri hanya menganggukan kepala dan melihat ke arah Regina,yang polos dan juga tidak di buat-buat sikapnya,bukan ingin berteman karena melihat Heri itu siapa? Tapi lebih ke arah siapa Heri.
“Makasih ya,gua udah di kasih kesempatan untuk kerumah lu,walau gak ada orangtua lu,tapi gua harap gua bisa ketemu mereka.”
“Mereka gak bakal ada di sini,gua emang dari kecil hidup mandiri gua cuman di temanin sama supir dan juga mba,jadi tenang aja kalau lu butuh gua,ke sini aja rumah gua terbuka lebar kok buat lu.”
Regina yang mendengar itu tersenyum sembari berlari,untuk mendekap Heri.Heri terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa kaget tanpa mengucapkan apapun.
“Hmm,makasih Her gua sayang banget sama lu,gua pengen selalu jadi teman lu selamanya,boleh kan?”
“Bye Her,sampai jumpa besok.”
“Bye Re,kabarin gua kalau udah sampai.”
“Caranya?”
Heri bingung untuk kesekian kalinya,dengan perkataan Regina.Regina yang awalnya udah pergi jauh langsung jalan ke arah Heri kembali dengan mengerutkan keningnya.
“Gua enggak ada handphone Her,gimana gua bisa hubungin lu dan gua juga enggak tau cara pakainya,maaf ya gua emang gak suka akan hal itu bukan gamau kabarin,tapi makasih kalau udah peduli gua juga senang lu udah peduli sama gua,bye Her.”
Regina sontak pergi dari hadapan Heri,Heri merasa tambah aneh mengapa wanita sebaik Regina tidak memiliki handphone,apa ia memiliki keluarga yang sangat apa-apa. Tidak boleh sampai-sampai enggak boleh menggunakan handphone.
.
.
“Makasih ya pak,oh ya pak bentar pak.”
__ADS_1
Regina membeli nasi bungkus untuk pak supir,karena sudah berbaik hati mengatar Regina pulang sampai kerumah,setelah selesai beli Regina melihat ke arah pak supir dengan senyum manisnya.
“Pak,maaf ya saya cuman bisa kasih ini,semoga bisa mengenyangkan dan makasih juga pak,udah antar saya biasanya saya pake angkutan umum juga bisa kok pak.”
Pak supir yang melihat kesederhanaan sikap Regina,membuatnya takjub biasanya anak zaman sekarang apa-apa harapin orangtua,tapi berbeda dengan Regina apa-apa mandiri.
“Iyaudah pak,kalau gitu saya masuk ya,bye pak.”
Regina masuk ke dalam rumah yang tidak begitu bagus,tetapi hidupnya sangat benar-benar baik,mungkin selama ini Regina sudah menahan banyak luka di dalam dirinya,hanya saja demi keluarga dirinya mampu berjuang sampai sekarang.
.
.
“Pak,udah antar Regina sampai rumah?”
“Sudah bos,saya mau pulang dulu.”
“Baik pak.”
Heri masih bingung,kenapa muka pak supir seperti kaget,setelah mengantar Regina apa yang terjadi mengapa pak supir tidak ingin memberi tahu tentang Regina kepada Heri.
.
.
“Pak,sarapan ayo.”
“Udah bos.”
“Sini aja bareng saya di meja makan,ada yang mau saya tanya juga.”
Pak supir langsung duduk di depan Heri,sembari menyeruput kopi hangatnya di depan mata,Heri yang sedang sarapan roti dengan selai coklat serta susu hangat di depanya.
“Pak,kemarin bapak antar Regina sampai rumah kan?”
“Iya bos.”
“Sampai dia masuk ke dalam rumahnya kan?”
Pak supir menganggukan kepala,tiba-tiba handphone pak supir berdering dari nyonya dan bapak besar,orangtua Heri. Mulut pak supir terbungkam gara-gara deringan tersebut.
__ADS_1
“Aneh,pasti ada yang enggak beres? Tapi apa ya.”
Heri masih mencari tau,apa yang dirahasiakan pak supir dan kenapa pak supir,tidak mau memberi tau dirinya tentang Regina.