
“Sebentar ya,dari mama aku,enggak apa-apa kan kalau aku tinggal bentar.”
“Iya enggak apa-apa kok,aku juga enggak masalah.”
“Makasih ya Re,makan dulu aja. Sembari tunggu aku.”
“Ok.”
Heri pergi dari hadapan Regina dan menjawab telepon dari orang,yang paling dirindukan Heri.
“Halo ma,ada apa ma?”
“Kamu lagi apa?”
“Lagi mau makan,mama apa kabar?”
“Kamu tinggalin apartemen mama dan kamu kembali kerumah ini,mama enggak rela kamu sama wanita itu.”
Heri yang mendengar itu sontak marah dan kesal maksud,mamanya bicara tentang Regina seperti itu apa.
“Maksud mama,bicara tentang Regina seperti itu apa ma? Heri enggak ngerti maksud mama.”
“Wanita itu hanya ingin uang kamu! Kamu beri aja dia uang dan tinggalkan dia.”
“Enggak bisa ma! Aku cinta sama dia,kalau mama mau pisahin aku sama dia,enggak akan dan aku enggak mau!”
Heri langsung mematikan telepon dan berjalan ke arah Regina,sambil mendekap Regina dengan erat sampai Regina tidak bisa nafas.
“Her,kenapa sih? Gua enggak bisa napas ini,gara-gara lu dekap terlalu erat,gua juga butuh nafas kali.”
“Maaf,gua terbawa suasana lagi kesal,sama mama gua.”
“Mama?Kenapa mama lu?”
“Dia suruh gua tinggalin lu dan balik kerumah,,aduh mama itu kenapa ya? Dia enggak tau apa,kalau kita udah nikah.”
Regina langsung pegang kedua tangan Heri dengan erat,sambil melihat mata Heri yang hanya tertuju kepada Regina.
“Her,aku tau mama kamu enggak suka aku,tapi aku harap kamu jangan sampai nyesal,kayak aku.”
“Maksud kamu nyesal apa? Kamu nyesal nikah sama aku? Iya! Kamu enggak suka nikah sama aku,maksudnya gitu?”
“Hmm,enggak Her,kamu jangan salah paham dulu! Maksud aku itu baik,aku cuman enggak mau kamu kayak aku,kamu tau kan hubungan aku sama mama aku enggak sebaik,kamu sama mama aku itu maksud aku! Bukan maksud apa-apa! Makanya kamu jangan mikir enggak-enggak dong! Kecewa aku sama kamu!”
Regina pergi dari hadapan Heri,karena tidak habis pikir dengan Heri yang berpikiran seperti itu kepada dirinya.
__ADS_1
“Re,ma-”
Regina langsung membanting pintu kamarnya dan itu membuat Heri sakit hati serta,kecewa kepada dirinya yang sudah jahat kepada Regina,harusnya ia tidak melakukan seperti itu.
“Re,sekali lagi gua minta maaf ya,mungkin susah untuk memaafkan gua,tapi gua enggak ada maksud gitu,sekali lagi gua minta maaf.”
Regina yang mendengar itu hanya menanggis terisak-isak dan merasa tidak kuat bertahan hidup dengan orang yang di cintai sebelah pihak.
.
.
Regina keluar dari kamarnya dan melihat Heri tidur,di balik pintunya sambil Regina menahan badan Heri agar tidak jatuh ke lantai.
“Her,kok badan lu anget?”
Regina langsung mencoba mengangkat Heri untuk bangkit berdiri sambil menaruhnya,di atas kasur pribadinya.
“Ini,dia ngapain sih? Kenapa bisa kayak gini.”
Regina mau mengambil kompres untuk dirinya,setelah ambil Regina mencoba masak bubur untuk Heri,setelah masak bubur akhirnya Heri bangun dengan kepala yang masih pusing dan sakit.
“Lu udah sembuh?”
“Hah? Emang gua kenapa?”
Heri masih tidak mengerti dari perkataan Regina,setelah itu Heri ingin berjalan ke arah meja makan dan terjatuh.
Regina bergegas menghampiri Heri dan langsung membantu Heri ke meja makan,saat di meja makan Regina mengambilkan bubur untuk Heri.
“Ini makan,lu jangan jalan-jalan dulu deh kalau enggak kuat,nanti takut kenapa-kenapa.”
“Baru kali ini lu peduli sama gua,tapi gua senang,makasih ya.”
“Hmm,maunya sih enggak,tapi di rumah ini kan cuman ada gua nanti,di bilang gua enggak peduli lagi.”
Heri hanya tersenyum mendengar perkataan Regina,Regina bingung ada apa dan tetap lanjut makan.
“Lu kenapa? Tidur di depan pintu gua?”
“Enggak usah di bahas deh,gua enggak mau lu sakit hati lagi,gua capek kalau liat lu nangis.”
“Hmm? Sebenarnya apa yang gua maksud kemarin,enggak gitu lu salah tangkap maaf kalau nada bicara gua emang aneh.”
Heri mencoba untuk berhentiin Regina,tapi karena Regina lebih semangat,akhirnya Regina mendekap mulut Heri dengan tangan mungilnya.
__ADS_1
“Her,biar gua jelasin maaf ya sebelumnya.”
Heri hanya mengeleng kepala,setelah mengeleng kepala Heri melihat ke arah Regina dan Regina menghela nafas.
“Jujur selama gua nikah sama lu,gua emang terlihat baik-baik aja,tapi sebenarnya gua kacau banget,tapi ini bukan karena lu.”
“...” Heri hanya diam dan tidak bisa bicara,karena masih di dekap oleh Regina.
“Gua itu sayang sama mama gua,gua sayang banget sama semua keluarga gua,adik-adik gua udah paham kenapa gua nikah sama lu,tapi mama gua paling enggak terima sebenarnya papa gua kemarin mau datang,tapi mama gua bilang enggak usah dan disitu hati gua sakit dan terpukul banget,hanya gua gabisa ceritain ke lu karena gua tau,lu juga ada masalah lain,gua enggak mau semuanya di limpahin ke lu,karena lu juga orang.”
Heri yang mendengar itu merasa bahwa dirinya sudah jahat kepada Regina,harusnya dia memikirkan perasaan Regina sebelum mengambil tindakan.
Heri langsung mendekap erat Regina,sambil Regina menanggis dengan terisak-isak dan semangkin kencang suara menanggisnya. Heri hanya tersenyum melihat Regina berhasil meluapkan semuanya.
.
.
“Udah jangan nangis nanti tambah jelek,emang mau tambah jelek?”
“Rese lu!”
Regina tersenyum dan Heri mengusap air mata Regina,sambil mendekap kedua tangan Regina dan mengecup punggung tangan Regina.
“Re,gua tau semua ini berat tapi gua harap kita bisa lewatin semuanya dengan baik ya.”
“Iya,pasti kok,kan kita udah sejauh ini,gua juga percaya kok sama lu,makasih ya udah memberi gua kepercayaan,gua enggak nyangka orang sebaik lu,memilih gua?”
“Emang kenapa?”
“Masih enggak nyangka aja,jadi suami dari seorang Heri.”
“Berlebihan ah! Udah lanjut makan.”
Mereka berdua kembali lanjut makan,setelah lanjut makan keadaan Heri,jauh lebih baik dari sebelumnya,Heri sadar enggak semua berjalan dengan baik dan lancar dengan adanya Regina,semua bisa mewujudkan segalanya.
“Her.”
“Hmm.”
“Besok gua pergi kerja ya?”
“Libur boleh enggak sih? Masih kangen sama lu.”
“Apaan sih,kayak suami istri beneran aja,kan kita cuman pengantin pura-pura jadi udah ah! Dramanya,berlebihan tau.”
__ADS_1
Heri langsung mengecup pipi kanan Regina,Regina hanya diam dan tidak bisa marah kepada Heri,secaranya dirinya juga menyayangi Heri bagaikan,suami sendiri walau memang kenyataan hanya suami pura-pura lalu bisa di tendang kapan aja.