
“Iya,enggak apa-apa gua ngerti,mau gimana? Kan dia emang masih sayang lu.”Regina mencoba memahami perasaan Heri yang sebenarnya juga tidak suka kepada Ella.
“Makasih ya udah mau maafin gua,gua enggak tau lagi kalau lu enggak mau maafin gua,mungkin gua enggak akan bisa tidur.”
Regina bingung dengan cara bicara Heri dan sontak melihat ke arah muka Heri,sembari menoel hidung mancung milik Heri.
“Kalau waktunya tidur ya tidur,kenapa enggak mau tidur?”
“Enggak enak,ada salah sama istri sah,kan jadi gimana gitu? Suami mana yang mau,bikin istrinya yang cantik marah-marah mungkin,itu suami gila aja ya enggak sih?”
Regina tersenyum sembari memukul kecil dada bidang milik Heri,Heri hanya tersenyum kepada Regina dan pegang kedua wajah mungil Regina.
“Aku janji enggak bakal buat kamu kesal,atau marah lagi sayang,maafin aku ya kalau aku ada salah,aku minta maaf sama kamu ya sayang,aku sayang kamu banget dan banget.”
Regina yang mendengar itu sontak mendekap Heri dengan erat,sampai handphone mereka berdering dan mereka tidak peduli,bagi mereka yang penting mereka sudah melakukan tugas mereka.
“Handphone kita berdering Re.”
“Iya tau kok.”
“Enggak mau angkat?”
Regina mengeleng kepala sembari melihat wajah suaminya,dan mengecup pipi suaminya,Heri hanya diam tidak bisa berkata apa-apa.
“Ada apa? Kok gua di kasih hadiah?”
“Iya,karena lu ngeselin jadi di kasih hadiah.”
“Jadi,kalau gua ngeselin lagi di kasih hadiah lagi dong?”
“Tergantung,liat nanti deh ya.”
Heri hanya tersenyum,sembari di beri hadiah oleh Regina.Regina senang melihat Heri juga senang akan hadiah yang ia beri kepada suaminya itu.
.
.
“Pagi bos.”Regina dengan senyum manis yang habis menang lotre,membuat bos bingung sekaligus senang melihat reaksi Regina.
“Iya Re,ada apa?”
Mereka berdua masuk di lift yang sama,Regina merasa senang banget sampai tidak menjawab perkataan bos dan bos menoel pundak Regina.
“Re.”
“Iya bos,ada apa?”
“Kamu dengar enggak sih? Saya panggil?”
“Iya bos,dengar kok.”
__ADS_1
“Oh saya,kira kamu enggak dengar.”
Regina hanya tersenyum,sembari menunggu lift kebuka di lantai kantornya,setelah selesai akhirnya mereka berpisah bos merasa hari ini Regina berubah,tapi bos tidak mau mengambil pusing,melihat Regina bahagia udah cukup untuknya.
.
.
“Bos.”
“Iya Re,ada apa?”
“Saya udah kirim,semua pekerjaan di email bos,saya mau izin pulang cepat mau ketemu adik-adik saya,maaf ya bos.”
“Baik,kalau gitu mau saya antar enggak?”
Regina mengeleng kepala menandakan tidak usah,bos terlihat khawatir kepada Regina.Regina sontak pegang kedua tangan bos sembari tersenyum,semeringai.
“Bos,jangan sedih,saya ada teman kok,bos tenang aja ya.”
“Hmm,siapa teman kamu?”
“Angkutan umum,jadi bos jangan khawatir okay bos.”
Bos hanya tersenyum mendengar perkataan Regina,setelah itu Regina sontak pergi dari ruangan bos dan bos menghela nafas.
“Hmm,Re-Re kamu itu paling deman ya buat saya khawatir,kenapa wanita ini selalu buat saya dag dig dug terus.”gumaman bos
Handphone bos berdering dari Ella,bos hanya diam merasa malas untuk menjawab telepon itu,selain tidak penting bos juga bingung,ingin bicara apa.
“Lagi apa Sam? Mau ketemu dong,boleh enggak?”
“Hmm,ada apa mau ketemu gua?”
“Lohh? Emang enggak boleh sejak kapan mau ketemu lu doang ada larangan.”
Bos langsung mengeleng kepala dan merasa lelah,dengan wanita yang satu ini,sesampai dirumah orangtua Regina. Regina tidak sabar bertemu semuanya.
“Kakak.” Selly dan Tiara sontak peluk kakanya.kakanya begitu bahagia saat adik-adiknya sehat,lebih terawat di banding dulu.
“Ayo kak,masuk.”
Regina masuk ke dalam rumah,Regina melihat ke arah mama dan menghampiri mama,sembari berlutut di depan mama tersenyum.
“Ma,apa kabar?”Regina mencoba mengajak mamanya bicara,walau dirinya tau mamanya tidak suka,semenjak dirinya menikah dengan Heri.
“Maafin Regina ya ma,kalau Regina ada salah.”Regina selalu mencoba untuk berbicara dengan mamanya,karena dirinya tidak mau ada masalah dengan mamanya.
Regina sontak pergi dan ditahan oleh mamanya,Regina melihat ke arah tangan sembari itu mamanya peluk dirinya.
“Regina!” tangsisan mamanya yang suda rindu akan Regina,hanya mamanya tidak mau jujur kepada Regina,bagi mamanya gengsi untuk mengaku.
__ADS_1
Papa yang melihat itu ikut senang,akhirnya mama sudah bisa memaafkan Regina,walau mama tidak mau jujur seengaknya papa sudah tau bagaimana sifat istrinya.
Kedua adiknya bahagia melihat kakak dan mamanya rukun kembali,walau kemarin sempat ada masalah yang terjadi,kedua adiknya harap itu tidak akan pernah terjadi lagi.
“Maafin Regina ya ma.”
“Enggak usah minta maaf sayang,ini salah mama enggak seharusnya mama marah dan ngelarang kamu menikah dengan siapapun.”
Regina hanya tersenyum ketika mamanya bicara begitu kepadanya,setelah selesaimendekap erat akhirnya mama melihat ke arah Regina,dengan sekeliling tubuh yang membuat Regina bingung.
“Kenapa ma?”
“Kamu enggak di apa-apain kan sama Heri?”
Regina tersenyum dengan terkekeh sembari pegang kedua tangan mamanya dengan erat dan mencium punggung tangan mamanya.
“Enggak ma,tenang aja Heri enggak sejahat itu kok.”
“Kalau dia apa-apain kamu,kasih tau mama ya biar mama marahin dia.”
“Ok ma,siap.”
Regina yang rindu akan omelin mamanya,sekarang bisa ia dengar lagi,ia harap tidak ada orang lain yang bisa menjauhkan dirinya dengan mamanya.
“Ma,makan ayo Regina beli makan buat mama,papa dan adik-adik juga.”
“Makanan apa?”
“Bentar Regina ambilin ya.”
Regina menyiapkan makanan untuk di makan dan di bantu oleh kedua adiknya yang baik. Selalu membantu Regina.
“Makasih ya adik-adik kakak yang baik nan cantik.”
Kedua adiknya hanya tersenyum,sedangkan Heri yang masih kerja di ganggu oleh Ella.
“Halo.”
“Sayang,lagi apa?”
“Lagi kerja,kenapa?”
Ada yang mengetuk pintu rumah Heri,Heri bingung siapa? Kalau andai Regina untuk apa mengetuk pintu. Saat mengintip ternyata Ella.
“Sayang,kok enggak di buka pintunya?”
“Kamu ngapain kerumah aku?”
“Emang kenapa? Enggak boleh.”
Heri mematikan telepon tersebut,sedangkan Ella terus mengebel pintu rumah Heri,Heri hanya diam dan masuk ke kamar mengunci pintu. Ella yang di luar merasa kesal kepada Heri.
__ADS_1
“Mau ngapain lagi itu cewe? Ckck takut lama-lama sama dia.”gumam Heri dalam pikiranya sehingga Heri tertidur sangking lelahnya memikirkan tentang Ella.
Regina pulang dengan senyum semeringai,sampai di apartemennya bersama suami,bingung kemana tumben tidak ada suaranya padahal Regina rindu,saat ke kamarnya malah di kunci Regina tambah bingung lagi.