
"Kenapa pak? ada yang salah? atau saya kelamaan di dalam."
"Enggak,kamu keren."
"Hmm,keren kenapa pak?"
"Enggak,kamu selalu percaya sama adik kamu,padahal adik kamu berantam sama temanya,tapi kamu enggak langsung percaya kalau saya pribadi,pasti udah marahin adik saya."
Regina tersenyum mendengar perkataan Heri seperti itu,langsung melihat ke arah Heri tanpa sengaja,tangan Regina mendekap tangan Heri.
"Iya pak,saya percaya kalau adik saya tidak seperti itu pak."
"Kok bisa? kalau andai adik kamu begitu gimana?"
"Saya tau karakter adik saya,walau dia cuek sebenarnya hatinya lembut dan enggak akan bakal berani seperti itu."
Heri yang mendengar itu merasa berdegub kencang jantungnya,entah mengapa hanya dengan wanita ini Heri bisa seperti patung,apa ini yang di namakan cinta sejati apa cinta sementara.
"Pak,kenapa pak?"
"Enggak apa-apa kok."
"Mau kemana lagi pak?"
"Ke kantor,nanti keenakan kamu makan gaji buta,kamu senang saya yang rugi."
Regina hanya tersenyum mendengar perkataan Heri,Heri bingung kenapa Regina tersenyum mendengan perkataanya,sambil memicingkan matanya ke arah Regina.
"Kenapa kamu senyum,ada yang lucu dari perkataan saya."
"Enggak kok pak,pak Heri bisa ngelucu juga ya."
Heri yang mendengar itu hanya diam saja dan tidak banyak bicara,setelah itu Heri langsung menancap gas,ke arah kantor.
.
.
"Saya duluan ya pak."
"Iya."
Heri parkir mobilnya di basment kantor bias,lalu di hampiri oleh tunangannya Ella,Heri yang awalnya bisa bernafas lega tiba-tiba ada yang mendengkap lenganya dengan erat.
"Heri sayang."
"Apaan sih! ganggu banget gak puas kamu rendahin aku,terus mau ngapain lagi."
"Rendahin apaan sih sayang,mana ada? lah emang aku bicara apa?"
"Nah pikirin dulu,kamu bicara apa baru cari aku."
__ADS_1
Ella menahan tangan Heri,Heri menepis dengan kasar sampai Ella jatuh,Heri pergi dari hadapan Ella,Ella merasa tidak terima dan langsung memberi tau papanya.
"Heri."
"Iya om."
"Hari ini di kafe kantor kamu jam satu."
Heri bingung ada apa? tumben banget papa Ella telepon dirinya,jam satupun tiba akhirnya papa Ella dan Heri bertemu di kafe dekat kantor.
"Iya om,ada apa om."
"Kamu apain Ella? kenapa dia sampai menanggis seperti itu."
"Saya enggak apa-apain dia om dan saya juga gak berani menyentuh dia."
"Kamu mau kerja sama kita batal,saya hanya minta kamu untuk bahagiain dia bukan buat dia menanggis."
Heri yang mencoba menjelaskan malah di bikin malu oleh papa Ella,mesiram air kopi di muka Heri,membuat semua gempat melihat ke arah Heri,Heri langsung berdiri menatap mata papa Ella dengan tajam.
"Saya batalkan pernikahan saya sama Ella,saya juga akan membantal kerja sama dengan om,terimakasih."
Heri pergi dari hadapan papa Ella,papa Ella yang melihat itu merasa kesal,Heri pulang ke rumah dan langsung di tampar oleh papanya.
"Kamu ya! bikin papa malu,sadar kamu!"
Mama mencoba meleraikan papa dan Heri,tapi papa yang masih mengebu-gebu kesal dengan Heri,membuat Heri keluar dari rumah dan tinggal di apartemenya.
"Iya pak Heri,ada apa?"
"Ke alamat ini ya,sekarang saya butuh kamu."
Regina bingung ada apa dan kenapa Heri membutuhkan dirinya,selesai kerja Regina pulang tepat waktu dan berpapasan dengan Sam.
"Eh,maaf."
"Iya enggak apa-apa."
Regina yang terburu-buru pergi,ke tempat Heri tidak mempedulikan siapa yang ada di sekitarnya,pikirnya hanya orang tidak sengaja dan ingin buru-buru pulang karena harus bertemu dengan adik-adiknya.
.
.
Tok Tok Tok
Pintu dari luar apartemen Heri,Heri membuka pintu begitu juga dengan Regina,yang langsung masuk ke dalam apartemen Heri.
"Ada apa pak? panggil saya."
Heri memberi berkas dokumen untuk Regina baca,awalnya Regina bingung ini apa dan membuka berkas dokumen tersebut,Regina kaget dan hampir saja bola matanya mau keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Kontrak Nikah,Hah! ini gak salah pak? tunggu-tunggu maksud bapak apa sih? saya masih enggak ngerti."
"Jadi gini,saya itu lagi ada masalah keluarga dan keluarga saya,gak akan biarkan saya kalau tidak menikah dengan Ella,saya harap kamu bisa bantu saya."
"Pak,bapak kan tau,kalau saya itu cuman manager di perusahaan bapak,saya gak akan bisa bersanding dengan bapak."
"Kata siapa? saya udah suka sama kamu lama."
"Terserah bapak deh! intinya saya gabisa dan gamau."
Regina merasa tertekan berkerja dengan Heri,rasanya kayak di beri beban yang berat 1000kg yang,gak akan bisa tandingi.
Heri yang melihat Regina marah besar seperti itu,membuatnya merasa khawatir dan akan di jauhi oleh Regina,walau bagaimanpun caranya,ini cara yang paling efektif untuk sekarang.
"Kamu tenang aja,akan ada bayaranya kok."
"Pak,saya bukan seperti wanita yang bapak kira! saya emang cari uang untuk keluarga saya,tapi uang gak bisa membeli segalanya! ngerti pak!"
Heri merasa dirinya salah bicara,setelah itu Heri berlutut di depan Regina,Regina yang sedang menanggis sontak berhenti melihat sikap Heri yang lembut kepadanya.
"Saya tau,ini terlalu buru-buru apa kamu udah ada,calon untuk masa depan kamu?"
Regina hanya diam dan tak bisa menjawab perkataan Heri,karena Heri merupakan orang yang dituju,Regina senang bisa menikah dengan Heri walu kontrak,tapi apa rasanya menikah dengan pura-pura tanpa cinta.
"Jadi gimana? kamu mau enggak."
"Beri saya waktu pak."
"Mau berapa hari?"
"Selama saya pikirkan."
"Duh,saya enggak bisa minimal tiga hari kalau bisa,lebih cepat karena semangkin cepat,semangkin baik."
Regina yang mendengar itu kaget dan merasa tidak mungkin dalam tiga hari,dirinya bisa menjawab dari pertanyaan Heri yang membuatnya sulit berpikir.
"Baik pak."
"Kamu boleh kerjain perkerjaan kamu lagi kok,sembari saya cek-cek kalau ada yang kurang."
Heri hanya diam dan bingung sambil melihat ke arah Regina,Regina bergegas pergi dari apartemen Heri,sembari menjemput Selly,Selly bingung ada apa dengan kakaknya.
"Kak."
"Hi sayang,gimana sekolahnya seru gak?."
"Hi kak,biasa aja kak kayak biasa,kakak sendiri gimana kerjaanya?pulang ayo kak,atau mau ke kafe dulu?"
"Yah sama kok,biasa aja jenuh ya makanya kakak jemput kamu,biar terobati jenuhnya.boleh,ayo ke kafe dekat sekolah Tiara ya,biar sekalian kan udah lama kita enggak kumpul."
"Baik ka."
__ADS_1
Regina terus termenung,sambil mengingat perkataan Heri dengan mata jahatnya,yang membuat Regina merasa kalah dengan tatapan sendu yang banyak mengandung arti.